Tentang Jodoh

Tentang Jodoh

Kemarin saya barusan nyelesaiin nonton drakor Familiar Wife. Bukan drakor yang baru-baru amat sih, udah tamat tayang di tvN sejak 20 September lalu. Tapi ini drakor terkeren yang saya tonton selama tahun 2018. Ya, meski tahun ini enggak produktif nonton drakor sihh.. Masih kalah sama tahun 2017 yang bisa nyampe 15 judul berhasil ditamatin. Jaman seloo… Sering gabut tipis-tipis. Lol

Highlight dikit ya, Familiar Wife bercerita tentang Joo-Hyuk yang stres punya istri galak banget. Padahal dulu pas masih pacaran, manisss banget. Setelah nikah, punya 2 anak balita, kok berubah. Istrinya jadi kasar, suka teriak-teriak, ngamuk sambil ngelempar barang. Saking stresnya, dia berniat ceraiin Woo-Jin, istrinya.

Suatu malam dalam perjalanan pulang kerja, Joo-Hyuk naik subway dan nolongin sesosok bapak tunawisma yang jatuh. Sebagai ucapan terima kasihnya, si bapak ini ngasih 1 koin 50 sen keluaran tahun 2006. Joo-Hyuk rada heran, tapi yawes dikantongin aja.

Sampai suatu hari, pas lagi stres-stresnya sama kelakuan istrinya, dia nyetir mobil asal kemana aja kaki dan tangan ini membawanya. Enggak sengaja dia sampai di suatu persimpangan, yang anehnya ada gardu tol, padahal selama ini dia enggak pernah nemu gardu tol di situ. Mungkin baru kali yaa.. gitu mikirnya.

Tapi gardu tol itu hanya menerima pembayaran koin 50 sen. Lah, makin aneh kan.. Enggak keren ah, di sini aja udah pake Etoll. Lol

Dia rogoh-rogoh cari koin 50 sen, dan nemu koin yang dikasih sama bapak tunawisma kemarin. Dilemparkannya koin itu, dan… lama dia mengendarai, tiba-tiba kayak ada lorong waktu yang menyedotnya. Joo-Hyuk kembali ke tahun 2006, jaman masih mahasiswa. Dia akan mengubah takdir supaya enggak kenalan sama Woo-jin. Sehingga nikahnya sama orang lain. Dan berhasil! Joo-hyuk happy banget, dia nikah sama adik angkatannya yang populer di kampus.

Segitu aja highlite-nya, kalau dilanjutin tar jadi review drakor.

*

Saya ngerasa drakor ini keren abis karena pesannya dalem banget, tentang hubungan perkawinan.

Jadi gini, pernah enggak sih, kalian berandai-andai.. Kalau aku enggak putus sama A, mungkin aku udah nikah sama dia sejak kapan tahun kali ya.. Kalau aku berani merantau ke kota itu, mungkin aku bisa dapet suami yang better dibanding yang ini ya.. Kalau aku enggak pergi ke suatu tempat, mungkin aku enggak bakal kenalan dan nikah sama suamiku ini.

Atau… Kalau aku nikah sama dia, mungkin udah jadi istri seorang suami yang tajir melintir mungkin ya..

Semua perandaian ini makin kerasa ketika hubungan dengan suami lagi drop. Jengkel, kecewa, marah. Lalu berpikir seandainya-seandainya itu tadi.

Tapi apa iya, kalau kita tidak menikah dengan suami kita ini, maka kehidupan kita dijamin lebih bahagia? More better? Enggak juga kan.. Bisa jadi pasangan lain yang kita pandang bahagia itu, menyimpan masalahnya sendiri. Atau kita bahagia di salah satu sisi aja, tapi di sisi lain ada hal-hal yang tidak menyenangkan.

Seperti Joo-hyuk yang bahagia bisa nikah sama adik angkatannya yang kaya raya, dia punya akses istimewa di kantor, karena ayah mertuanya salah satu pemilik saham kantor itu. Tapi, di sisi lain dia enggak suka dengan sikap istri barunya ini, yang selalu merendahkan orangtua Joo-hyuk yang lebih rendah derajat ekonominya.

*

Gara-gara drakor ini juga, saya jadi kepikiran tentang yang namanya Jodoh.

Dulu, kata ini jadi statement wajib saya tiap nolak cowok atau enggak mau diajak balikan. Lol

“Ya, kalau jodoh pasti enggak kemana. Kita bisa ketemu lagi.”

Trus setelah nikah dan menganggap bahwa suamiku ini adalah jodohku. Ternyata belum tentu juga. Di dunia ini apapun bisa terjadi, perceraian misalnya. Jadi doanya berubah, “Semoga kami adalah jodoh di dunia dan akhirat.” Apapun yang mendera kehidupan ini, ijinkan kami selalu bersama menghadapinya.

Aminin yhaa…

Jodoh itu, mau diputer-puterin kemana pun, emang enggak akan kemana-mana, ketemunya ya dia lagi. Udah jauh-jauh kita pergi ke luar kota, luar pulau, luar negeri, bisa loh.. ketemunya temen lama yang akhirnya jadi suami. Atau misal sudah nikah bertahun-tahun, hingga salah satu pergi dipanggil Tuhan. Eh.. ketemu lagi sama mantan dan balikan lanjut nikah.

Bisa banget ya, Tuhan puter-puterin hidup kita. Kalau dipikir nalar manusia, udah mau menjodohkan kita sama orang itu kan gampang aja, tinggal diketemuin langsung, tanpa harus diputer-puter dulu. Kalau ending nikahnya sama suami kita ini, kenapa pake kita dikenalin dan diijinkan pacaran sama orang lain dulu.

Tapi, pastilah ada rencana-Nya yang kita enggak tahu. Biar kita lebih dewasa memandang suatu hubungan mungkin.. bisa kan..

Di drakor ini juga. Joo-hyuk udah usaha banget jauhin Woo-jin supaya enggak ketemu dan jadi istrinya. Tapi ada aja yang terjadi, mulai dari Woo-jin yang enggak sengaja nemuin hapenya yang tertinggal di minimarket-lah. Sampai ke Woo-jin dipindah kerja ke kantor cabang tempat Joo-hyuk kerja.

Jujur ya, jadi berandai-andai. Seandainya dulu saya enggak kerja di kantor itu, mungkin saya enggak bakalan kenalan sama bapaknya Luna ini. Tapi bisa aja yang namanya jodoh, saya tetep akan bertemu dia di situasi dan setting yang berbeda.

*

Membangun rumah tangga itu enggak bisa cuma modal cinta atau materi, tapi perlu ditambah skill lain. Skill komunikasi dan seni ndableg.

Berkomunikasi afektif, gimana cara kita menyampaikan jujur ketidaksukaan kita tentang habitnya. Dan seni ndableg atau bebal terhadap habitnya yang ngeselin. Demi kewarasan rumah tangga. Karena mana ada manusia sempurna.

Kerasa enggak sih, semakin lama kita mengenal suami, semakin dekat dan intens berhubungan. Maka makin kelihatan habit-habitnya yang ngeselin. Jorok misalnya, atau pemalas.

Sulit banget dikasih tahu, hingga akhirnya kita mengeluarkan skill ndableg. Namaste dengan hal-hal yang ngeselin dari dirinya. Karena di sisi lain, banyak hal yang membuat kita betah dan makin mencintainya.

Kan, enggak ada toh, orang yang diciptakan dengan sifat jelek semua. Berusahalah mencari sifat baiknya, karena itu yang membuat kita akan bertahan mencintainya.

*

Drakor Familiar Wife ini recommended banget, apalagi buat kita yang lagi kesel-keselnya sama suami. Membuat kita bisa lebih namaste, menerima suami apa adanya. Apapun hal menyebalkan yang dilakukan dia, yang membuat kita marah atau kecewa, pasti kita punya peran kenapa dia melakukan hal itu.

Seperti Joo-hyuk, yang baru tahu kenapa Woo-jin jadi pemarah, karena selama menikah dia tidak pernah berbagi peran mengurus rumah tangga.

Pernikahan itu tempat kita belajar banyak hal. Belajar untuk melihat pasangan dari sisi lain. Belajar untuk lebih mencari kebaikan alih-alih kejelekan pasangan. Dan belajar untuk sabar, karena pasangan kita pun bersabar tiap menghadapi kita.

One thought on “Tentang Jodoh

  1. Diawal menikah dulu pernah sih ngebayangin, berandai-andai menikah dengan orang lain. Mungkin pada masa itu aku lagi adaptasi dengan suami. Yang memang butuh waktu. Namun seiring dengan waktu, secara sadar saya, semakin dekat, semakin mengenal dan semakin mencintai suami dengan berbagai kekurangannya. Yang jelas, pasti lebih banyak sifat baiknya.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)