Merencanakan Liburan Keluarga Tahun Depan

merencanakan-liburan-keluarga-tahun-depan.jpg

Sama seperti blog, setiap pasangan (suami-istri) pasti punya “niche”-nya juga. Misalnya, ibu-bapak mertua saya, suka banget jalan sehat dan nonton konser Koes Plus-an. Dimana pun dan siapa pun yang mengadakan jalan sehat, pasti ikut. Dan jam berapapun konser Koes Plus-an itu berakhir, pasti nonton.

Ada juga temen saya yang sama-sama suka lari. Berdua ikutan running competition di mana pun, sampai ke luar kota, bahkan luar negeri. Trus, ada juga yang sama-sama pecinta kuliner. Tempat kuliner baru pasti enggak luput untuk dikunjungi dan direview bersama. Dan, ada juga yang suka travelling. Seperti Dua Ransel, pasangan Dina dan Ryan yang hobi jalan-jalan keliling dunia.

Saya dan suami baru nikah 3 setengah tahun, belum nemu “niche”-nya apa. Suami yang hobinya musik, ngajak nonton, ya ayok. Saya yang sukanya ke acara seni, ngajak suami ikutan, ya ayok juga.

Dan seakan warisan dari bapak, yang enggak betah diem di rumah lama, saya pun juga begitu. Tiap liburan, bawaannya pengin jalan-jalan aja. Entah di dalam kota, atau keluar kota. Jadi setelah menikah, saya sering membisiki suami untuk meng-acc proposal liburan keluarga.

Tapi bedanya saya dan bapak, saya ini orangnya sangat well planned. Bahkan jauh-jauh bulan sebelum libur, saya sudah merencanakan itinenary liburan dengan matang. Seperti di akhir tahun ini, saya udah lirik tanggal-tanggal merahnya, hitung cutinya, dan survey harga tiket pesawat, kereta, sampai voucher hotelnya.

Ini yang biasa saya lakukan saat merencanakan liburan keluarga tahun depan. Read more

Bali itu Pie Susu

Tanggal 1 Januari. Itu artinya, persis 6 bulan lagi saya dan suami akan memasuki usia pernikahan ke-3. Dan Aluna juga akan memasuki ulang tahun ke-2. Yey!!

Tanggal 1 Juli memang merupakan tanggal membahagiakan dan mengesankan buat kami bertiga. Tanggal 1 Juli 2012, saya dan suami diikat dalam janji suci pernikahan. Setahun setelahnya, 1 Juli 2013, Aluna, buah hati tercinta kami lahir di dunia. Jadi, wajar dong kalau di hari itu saya pingin banget merayakannya eksklusif dan hanya bertiga. Mumpung belum punya anak kedua. Hihihi…

Di hari istimewa itu, saya pingin banget mendapat kado yang bisa dirasakan bareng-bareng. Ya, karena itu hari kami bertiga, jadi kadonya juga harus untuk 3 orang. Tapi tetep aja ya, yang menentukan emaknya. Hahaha…

Tanggal 1 Juli 2015 besok, saya pingin dapat hadiah liburan bertiga, ke Bali. Saya pernah ke Bali. Suami juga pernah. Tapi ke Bali bertiga, itu yang belum pernah. Jadi persiapannya harus dari sekarang dong… 😀

Saya pingin kejar-kejaran sama Aluna (dan bapaknya) di tepi pantai Kuta. Saya pingin foto-foto bertiga di GWK. Saya pingin ngenalin Aluna ke spesies kera di Sangeh. Saya pingin belanja-belanji di Pasar Sukowati. Saya pingin merasakan udara pegunungan di Ubud. Dan saya pingin membeli dan merasakan langsung makanan khas Bali yang lagi hip, Pie Susu! Read more

Akhir Tahun Tanpa Libur Tambahan

Akhir tahun 2014 mau ambil cuti ah… Atau mending cuti natalnya aja dipanjangin ya? Uhmm… Pilih yang mana ya.. Cuti tahun baru atau cuti natal.

Tapi, semua keinginan itu sirna sudah. Gara-garanya, jatah cuti saya sudah habis-bis permisah. Malah udah minus 4. Alhasil jatah cuti 2015 besok udah kepotong 4, belum lagi cuti bersama dari pemerintah ada 2, trus cuti bersama tambahan dari kantor buat lebaran ada berapa tuh. Silakan ditotal sendiri, jatah cuti saya tahun 2015 tinggal berapa. Kayaknya enggak ada 5 deh.

Haduh.. Apes-apes.

keep-calm-although-cuti-dah-habisNasib buruh itu, selain harus pinter-pinter kelola keuangan, juga harus pinter-pinter kelola hari libur. Mana yang perlu cuti, mana yang hanya butuh ijin masuk terlambat atau masuk setengah hari.

Eits tapi, minusnya jatah cuti saya ini bukan berarti manajemen cuti saya jelek loh yah.. *enggak terima dikira begitu*. Tapi karena 2014 kemarin, saya sering menghabiskan waktu di rumah sama Aluna, karena dia sakit. Huhuhu… Maklum yah, newbie mommy. Anak panas sedikit aja udah panik. Dan memilih untuk enggak masuk kerja demi nungguin anak dan nyusuin dia seharian.

Kapan yah, UU Ketenagakerjaan memperbolehkan ibu pekerja menggunakan “Surat Ijin Sakit” anaknya sebagai surat ijin ibunya juga. Kalau kita sakit, trus masuk kerja bawa surat keterangan ampuh dari dokter itu, kan jatah cuti kita enggak akan berkurang tuh. Nah, kalo anaknya sakit? Otomatis emaknya ikutan rempong dan memilih untuk enggak masuk kerja juga kan..

Plis, Pak Hanif Dhakiri, dengarkan jeritan hati ibu pekerja ini… *mulai lebay* Read more