Jangan Katakan Ini ke Ibu dengan Anak Berbadan Kecil

Jangan Katakan Ini ke Ibu dengan Anak Berbadan Kecil

Berbahagialah kalian yang punya anak gemuk, chubby, dan masuk kategori menggemaskan. Lalu kalian bisa dengan bangga mengklaim bahwa anakku bayi sehat dan menuliskan berat bayi itu di sosial media setiap bulannya. Atau foto-foto bahagia saat anak sedang makan dan lalu komentar, “Oh.. anaknya susah makan sayur ya? Anakku ni makan nggak berhenti-berhenti.. Abis makan nasi sop, trus minta ngemil bolu kukus.”

Selamat ya sist… Cuma bisa menahan iri hati di sini. Kapann… aku bisa posting foto-foto bayi montok yang makan terus tiada henti.

Trus kalian salah? ENGGAKK… Lagipula itu kan akun sosmed kalian. Kami aja yang doyan baperan. Paling kalau lihat langsung skip, scroll cepet ke bawah. Dan kami cuma mau ngucapin selamat, karena berat badan anaknya bisa dibanggakan. Dan turut mendoakan, semoga dengan rajinnya kalian memposting foto menggemaskan anak kalian di sosmed, nantinya akan ada agensi iklan yang tertarik untuk menjadikan bayi kalian sebagai talentnya.

Read more

Seandainya Aku…

Bergegas aku masukkan ponsel ke dalam tas. Mengambil kunci motor dan keluar kantor, tepat pukul 12 siang. Dia pasti sudah menungguku. Kami janjian akan bertemu di restoran itu, seperti biasanya. Untuk makan siang, sekaligus berbagi cerita.

“Kamu tahu? Aku pacaran baru sejak SMP, loh,” ujarnya tiba-tiba setelah mengunyah suapan terakhir nasinya.

“Ohya, enggak pa-pa kan.. Ketimbang sudah sejak SD. Itu namanya dewasa sebelum waktunya.”

“Kamu percaya, cinta pertama itu susah dilupakan?”

“Hmm… agak percaya sih. Tapi bukan berarti tidak bisa dilupakan. Karena kalau aku diajak balik sama pacar pertamaku, belum tentu mau. Hahaha…”

“Kalau aku, aku akan menebus semua kesalahanku dulu. Melakukan sesuatu yang dulu tidak terpikir untuk kulakukan.”

Aku menyesap es tehku. Membatin, sepertinya dia akan memulai makan siang ini dengan curhatannya. Aku baru mengenalnya sejak kuliah, jadi menebak-nebak pacar pertamanya saat SMP jelas itu susah.

“Malam itu tiba-tiba dia meneleponku. Seperti biasanya, paling cuma mau berbagi cerita tadi di sekolah.” Read more