Perjalanan Menata Hati dan Body

Perjalanan menata hati dan body

Suatu hari, saya pergi ke warung di komplek rumah. Tiba-tiba pemilik warung berkomentar, “Mbak Noni hamil ya?”

“Enggak Mbak..,” jawab saya.

“Oh, tak pikir hamil lagi,” balasnya.

Dengan berusaha terlihat chill, saya membalas, “Mungkin ini lemak sejak jaman hamil belum hilang-hilang.”

Padahal dalam hati aslinya sedih dikomentarin gitu. Karena andai beneran hamil, saya pasti dengan senang hati mendengarnya. Tapi kan, kita tidak bisa mengatur omongan orang, ya.. Sekalipun sudah banyak sekali sosialiasi tentang body shaming, ide basa-basi yang enggak melulu tentang body, semua campaign itu bertebaran di sosial media. Nyatanya, pemilik warung yang saya tahu persis aktif di sosial media, tetap aja berkomentar tanpa disaring.

Jadi, akhirnya saya yang memutuskan untuk berusaha menata hati.. dan body.

Sepulang dari warungnya, saya menimbang badan, dan mendapati berat badan saya ada di angka 59,xx kilogram. Berat yang sama persis seperti dulu saya hamil Luna 9 bulan. Tapi masalahnya, ini saya enggak hamil.

Saya lalu mengingat-ingat lagi. Iya sih, akhir-akhir ini badan rasanya berat banget. Naik-turun tangga kok kayak effortnya luar biasa. Duduk lutut ditekuk juga susah karena keganjel lemak di perut. Hasil cek kolesterol terakhir sudah di ambang batas tertinggi, 202.

Jangan-jangan bener nih, saya harus bener-bener serius untuk diet. Olahraga dan mengatur pola makan. Kata-kata yang saya pikirkan sambil lalu. Karena sungguh, nasi padang dan nasi samgor itu enak sekali.. Cheese tea tiap sore juga bisa bikin konsentrasi.

“Serius ini. Kita harus beli treadmill,” kata Pak Suami.

Selama ini saya selalu menunda-nundanya. Bukan perkara harga dan uang. Tapi ini perkara treamill-nya mau ditaruh di mana.. Rumah kami kecil. Maunya sih, treadmill besok ditaruh di lantai atas. Tapi bahkan rencana merenovasi sekaligus meningkat rumah baru dilaksanakan setelah Lebaran tahun 2020.

Sebelumnya, beberapa hari belakangan dia selalu mengajak saya untuk bangun jauh lebih pagi. Lalu bersama-sama lari pagi keliling komplek. Tapi beneran deh, rasa ngantuk dan nikmatnya bergelung di balik selimut menyandera kami. Sehingga, niat mulia itu hanya berlangsung 3x saja.

Kalau dimundurin agak siangan, kami sudah berjibaku dengan segala tetek-bengek persiapan berangkat sekolah dan kerja. Saya masak, dia nyapu, bangunin Luna, bersama-sama berteriak, “Luna, ayo makannya cepet!” Yang sama-sama keluarga pasangan bekerja tanpa ART tahulah gimana luar biasanya rutinitas pagi.

Akhirnya, olahraga tiap pagi, skip.. Tidak cocok untuk kami.

“Gimana kalau ke fitness center sepulang kerja? Dulu semasa masih single, kan rutinitasmu tiap pulang kerja ngegym.”

Uhm, iya sih.. Tapi.. Satu, sekarang ini rute dari kantor ke rumah, tidak melewati fitness center. Dua, saya baru pulang dari kantor pukul 5 sore. Artinya, saya sudah berpisah dengan keluarga selama 10 jam. Kalau saya harus melanjutkan dengan nge-gym, berapa jam lagi Luna harus merelakan waktunya tanpa ibunya?

Akhirnya (lagi), ke fitness center tiap sore, skip.. Tidak cocok untuk saya wanita kantoran yang tidak rela pergi lebih lama dari waktu kerja.

“Olahraga tiap weekend aja..”

Itu, solusi yang lebih masuk akal. Kebetulan hari Sabtu, Luna masih sekolah. Artinya, tidak ada waktu kami yang terbuang. Dia bisa sekolah, dan saya bisa olahraga.

Saya pun, mengambil kelas Aerobik di dekat rumah. Hanya bisa ikut kelas tiap Sabtu, di antara semua jadwal kelasnya adalah setiap pagi. Harganya murah, senamnya luar biasa. Beberapa followers yang sering mengamati instastory mungkin notice, kalau saya pernah foto pakai sepatu keds, bawa botol air, dll. Itu saya lagi kelas Aerobic.

“Kan tiap Jumat di kantor juga ada olahraga.”

Betul. Tiap Jumat sore selalu ada olahraga di kantor. Dulu Yoga, kemudian ganti Line Dance, pernah Zumba, akhir-akhir ini Aerobik juga. Tapi ya, gitu-gitu aja.. Aerobiknya jauh lebih enteng dibanding kelas aerobik ibu-ibu komplek. Mungkin karena pesertanya semua anak-anak kantor, jadi levelnya dibuat basic yang semua bisa.

“Nah, bagus kan.. Aerobik tiap Sabtu. Senam di kantor tiap Jumat.”

Masalahnya, olahraga seperti itu berminggu-minggu tidak membuat berat badan saya turun. Stabil tetap. Stabil di angka 58-59 kilo. Body saya masih seperti orang hamil. Mungkin kalau ketemu orang lain lagi, masih bisa berpotensi ditanya, “Mbak Noni, lagi hamil ya?”

Jadi enggak heran, kenapa tiba-tiba Pak Suami mengusulkan untuk beli treadmill aja. Supaya saya bisa tetap olahraga dengan waktu yang fleksibel, tanpa meninggalkan Luna, dan dia juga bisa menggunakannya bergantian. Bayangkan, enggak mungkin kan dia ikut saya di kelas Aerobic yang isinya orang-orang lepas jilbab dan pakai sport wears two pieces semua.

Jadilah, akhir tahun 2019 kemarin kami membeli sebuah treadmill. Treadmill elektrik termurah yang ditemukan di OLX. Harga 4juta (include massager) dan baru gress (bukan second).

Mulailah setelah treadmill itu diantar ke rumah, kami gantian menggunakannya. Saya semakin on fire untuk olahraga. Beli karpet yoga di Tokopedia, dan beli sepasang dumble di toko olahraga. Tapi saya enggak suka dikomentarin atau dilihat orang. Jadi, tiap mau cardio treadmill, saya memastikan Luna tidak sedang mengajak teman-temannya main ke rumah, pintu & gorden rumah tertutup rapat, tidak ada orang luar yang melihat.

Pernah suatu hari, ada tetangga datang saya tidak dengar. Lalu teman Luna ini komentar bilang, “Itu mamanya Luna lagi lari di tempat.” Seketika saya bete, dan berhenti cardio. Hahaha.. Agak absurd emang saya tuh.. Komentar begitu aja sudah bikin mood buyar.

Tapi ada penjelasan untuk ini.

Saya punya hak untuk mengantisipasi komentar-komentar yang berpotensi merusak mood saya. Bisa jadi akan ada yang komentar, “Halah, beratnya masih 50kiloan gitu kok.. Gak papa. Ngapain olahraga. Ini saya udah 60kilo santai-santai aja. Yang penting suami terima kita apa adanya.”

Atau mungkin komentar sok tahu, “Jangan cuma cardio aja.. Ikut kelas pilates, zumba, thai boxing, dll juga.. Biar makin maksimal.”

Atau mungkin juga komentar sok bijaksana, “Gimana pola makannya juga? Kalau masih makan gorengan dan nge-cheese tea terus, ya sama aja.”

Saya tahu, semua komentar-komentar terucap atau tersimpan dalam hati itu pasti ada niat mulia. Di sisi lain, saya juga paham, kenapa perempuan-perempuan sering menyembunyikan program dietnya. Bukannya mau nggaya, tiba-tiba bangun tidur badan langsung 48 kilo. Tapi, karena kami sama.. Tidak ingin diserang oleh sesama perempuan.

Ya kan, kami tidak hanya sedang mengelola body tapi juga hati.

Setelah sekian lama, lalu bagaimana hasilnya? Jreng.. jreng..

Next, saya lanjutin lagi ya.. Karena capek juga ternyata, nulis cerita sepanjang ini tanpa jeda. Hahaha..

2 thoughts on “Perjalanan Menata Hati dan Body

  1. saya juga bingung nih, perut buncit seperti sedang hamil. tapi ibu-ibu yg saya kenal ikutan zumba, yoga, dll tetep badannya gempal dan tidak sekurus pada saat masih gadis. jadi saya pikir, olahraga bukan buat kurus, tapi bisa bikin badan kita lebih sehat dan tubuh rasanya lebih fit.

    lalu gak usah dengerin kata orang ya mbak,, netijen emang gitu sukanya julid.

  2. Tadinya aku ikut yoga terus stop karena kejauhan, sekarang olahraganya jalan sore di alun-alun dengan bocah terus senam dengan bimbingan dari tv kabel hihihi, semangat sehaat!

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)