Pengalaman Trading Forex

pengalaman trading forex

Sebenernya, saya bukan orang yang pinter banget urusan investment. Jadi, di postingan ini kalian enggak bakal nemuin tips-tips tokcer tentang investment. Ketrigger setelah baca cerita Kevin Aprilio yang terlilit hutang 17 M gara-gara Forex. Trus jadi inget suami, Donnie Aprilia yg pernah trading forex juga. Ini kenapa nama mereka mirip sih & tanggal lahirnya juga sama.

*

Jadi, ini kejadian cukup lama, sekitar 8 tahunan yang lalu, saat kami masih pacaran.

Perkenalannya dengan Forex karena dikenalin temen. Malemnya, cerita ke saya dengan penuh semangat bagaimana forex ini akan bekerja menghasilkan keuntungan yang lumayan. Jadi, Forex adalah singkatan dari Foreign Exchange atau pertukaran mata uang asing. Kalau dalam bahasa indonesia, mungkin tahu istilah Valas (Valuta Asing). Nah, itu sama.

Cara transaksinya adalah menukar nilai 2 mata uang. Misal, dengan modal 10 juta rupiah saya beli sekian USD, lalu jual sekian EUR. Selisih nilai tukar mata uang itu yang jadi keuntungan. Makanya, seorang broker atau pialang saham ini harus ngikutin banget perkembangan dunia. Pergerakan dunia sosial, politik, pasti akan berpengaruh pada ekonomi global. Misal, perang dagang AS dengan China ini, wah.. pasti ada imbasnya juga dengan nilai pertukaran mata uang.

Tapi, suami saya tidak akan berperan sebagai broker, melainkan investor yang akan menanamkan sekian juta rupiah untuk dipertukar-dagangkan oleh brokernya. Brokernya adalah temennya sahabat suami saya. Jadi, sedikit-banyak percayalah.. Dan saya meyakinkan diri dengan membatin, dulu kan si broker ini pernah sekolah di sekolah agama, pasti benerlah ya, orangnya.

Hahaha.. padahal belajar agama tidak pernah bisa menjamin karakter dan attitude-nya seperti yang diajarkan Tuhan.

*

Waktu itu sistem kontrak perjanjiannya seperti ini.

Suami saya invest sekian juta rupiah, lalu dikelola oleh broker tersebut. Sistem pertama, tiap bulan dia akan dapat return 20% tiap bulan dari total nilai investasinya. Sistem kedua, return yang didapat naik-turun mengikuti index kurs forex-nya. Dan karena pengin main aman dengan penghasilan tetap tiap bulan, maka dia memilih jenis return tetap tiap bulan, sekian persen dari modal investasinya.

Hasilnya, nyenengin banget. Setiap bulan selalu dapet pemasukan tetap dari keuntungan forex tersebut. Dari pemasukan tersebut, jadi modal buat nikah. Bisa bikin baju nikah, beliin seragam manten, bayar paes manten, bayar dekor, bikin undangan. Lumayan bangetlah..

Hubungan kami dengan si broker juga normal baik-baik saja. Bahkan, dulu dia satu-satunya yang mau meminjamkan mobilnya untuk kami jadikan mobil pengantin. Dadakan. Dua hari sebelum pernikahan.

Setelah menikah, transferan keuntungan forex masih lancar. Sampai lama-lama mulai seret dan dia menghilang. Tanpa jejak, tidak bisa dihubungi oleh siapapun.

Saya inget banget. Sore-malam itu suami saya pulang kerja, masuk rumah lewat pintu belakang, mukanya kuyu. Dan dia menangis. Ini kedua kalinya saya lihat dia nangis. Kalau bukan masalah yang sangat berat, dia pasti enggak akan nangis.

Setelah diceritain lagi barusan ini, ternyata dia nangis karena merasa kecewa banget perhitungannya salah. Harusnya tiap bulan bakal dapat penghasilan sekian juta. Tapi brokernya tiba-tiba menghilang. Padahal pemasukannya dari bisnisnya sendiri yang sedang dijalankan belum lancar-lancar amat. Ditambah sekarang udah punya istri, lagi hamil pula. Gimana menghidupi keluarganya nanti. Bundet kayaknya pikirannya saat itu.

Setelah itu, dia tidak pernah lagi mencoba menghubungi broker forex-nya. Lagipula, kalau dihitung-hitung duitnya dia enggak murni hilang kok.. Mungkin malah untung juga, meski belum banyak. Kan selama beberapa bulan, transferan selalu lancar.

Jadi ya udah, bukan rejeki aja berarti.

*

Trus, apa suami saya udah kapok trading forex lagi? Hahaha.. Enggak, ternyata. Cuma enggak pernah “menitipkan” uangnya lagi ke broker. Dan enggak pernah pake uang besar. Recehan doang, 100ribu sampe 500ribu, dari uang yang emang tidak teralokasikan untuk apa-apa. Itungannya, modal untuk belajar.

Kontroversi Forex itu judi atau tidak. Menurut kami sih, enggak. Karena Forex itu bisa diprediksi dengan mengamati perkembangan info-info sosial, politik, ekonomi dunia. Sedangkan judi itu, murni untung-untungan, tanpa bisa diprediksi. Cuman, yang membuat beberapa orang loss karena Forex, adalah karena ini:

– Menitipkan investasinya ke broker, ternyata brokernya enggak bisa dipercaya. Makanya, saran buat kalian yang pengin trading forex, mainkan sendiri uang kalian. Enggak usah dititip-titipin.

Jaman dulu memang harus dititipkan. Karena ada minimal dana untuk bisa trading. Padahal uang kita cuma ada berapa sih.. Makanya, ada perusahaan pialang saham yang mengumpulkan uang dari banyak nasabah untuk ditradingkan oleh broker. Broker-broker ini akan bekerja 24 jam di kantor pialang saham tersebut. Karena jam dagang internasional, memang dibuka 24 jam non-stop.

Sekarang, sudah tidak ada dana minimal untuk bisa trading. Dan sudah ada aturan bahwa perusahaan pialang saham tidak boleh men-trading-kan uang dari nasabahnya. Jadi kita harus trading sendiri. Caranya, daftar ke pialang saham tersebut, lalu trading secara online. Jauh lebih aman. Uang kita, kita sendiri yang mengelola.

– Enggak punya target harian. Sama seperti kita bekerja pada umumnya. Pasti punya target penghasilan juga kan.. Nah, kalau sudah jadi trader kita juga harus punya target per hari. Pengin hari ini gain sekian rupiah, ya kejarlah dengan penuh perhitungan.

Tapi, kalau baru sejam target hariannya sudah terpenuhi, berhenti. Enggak usah dilanjutkan lagi. Karena kesalahan selanjutnya para trader adalah..

– Emosi yang tidak terkendali. Gimana sih rasanya, baru sejam trading, targetmu sudah tercapai. Pasti pengin lanjut trading lagi kan.. Niatnya, biar bisa dapet lebih banyak lagi. Tapi ternyata, malah loss.

Lalu, apa yang akan kalian lakukan kalau sudah loss? Pasti akan terus melanjutkan, untuk mengembalikan dana yang sudah loss itu tadi. Tapi malah makin loss lagi. Ini yang namanya trading tanpa perhitungan.

*

Dulu saya pernah simulasi trading forex lewat website. Dikasih dana boongan, lalu dimainkan pura-pura juga. Hasilnya, kayaknya untung deh meski enggak banyak.. Tapi enggak dilanjutkan, karena males banget tauk. Harus memantau perkembangan dunia. Padahal anaknya lebih suka memantau perkembangan instagram.

Sekarang, kami berdua tidak sedang trading forex dan tidak ingin dalam waktu dekat. Karena belum merasa jago, ribet dan belum bisa ngopeni, dan belum ada uang enggak kepakai untuk dipakai trading forex.

Kami belum bisa mempercayakan Forex sebagai sumber investasi jangka panjang. Jadi, lebih ngurusin saham dan reksadananya aja. Yang ditinggal merem udah gain 13%.

Kalo kalian, mungkin ada yang penasaran pengin belajar trading Forex?

 

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)