#MyLifeAsEditor 2: Kenapa Harus Kartini?

Ikutan OOTD Kartinian, biar kekinian.
Ikutan OOTD Kartinian, biar kekinian.

Kenapa ya harus Kartini? Padahal wanita lain juga banyak. Bisa jadi ada yang lebih pintar, bisa jadi ada yang berpikir kritis juga, bisa jadi ada yang ide-idenya lebih brilian. Iya ya, kenapa harus Kartini?

Jawabannya cuma satu. Karena Kartini menulis.

Dia menuliskan semuanya dalam bentuk surat. Pemikirannya, kegelisahannya, gugatannya, ide-idenya, mimpi-mimpinya, cita-citanya. Semuanya.

Bukan karena dia menulis status sepanjang 160 karakter. Bukan karena dia menulis status demi pencitraan dan popularitas. (saya yakin, jaman itu belum tren orang gila popularitas, pencitraan, dan kekinian.) Dia menulis karena dia ingin mengungkapkan semuanya pada sahabat-sahabatnya di Eropa.

Jangankan menulis, berpikiran maju pada jaman itu saja sudah melawan kodrat.

Beruntung banget ya kita, hidup di jaman sekarang, di Indonesia yang sudah lebih demokratis, dimana menulis sudah jadi kebebasan setiap orang tanpa melihat jender. Menulis blog dibebaskan, menulis buku diperbolehkan, bahkan menulis status hampir setiap hari dilakukan.

Tidak perlu susah-susah menulis surat dan mengirimkannya ke sahabat-sahabat kita layaknya Kartini. Tinggal ketik, duduk manis, upload atau send, maka tulisan kita akan terkirim dan dibaca ribuan orang.

Tapi sayangnya dengan banyaknya fasilitas yang memudahkan itu, tidak semua orang mau menulis. Mereka lebih memilih menulis status pendek-pendek alih-alih menulis tulisan panjang yang lebih terabadikan dan dibaca jutaan orang.

Alasan itu rata-rata tidak pede dengan tulisannya, sehingga hanya disimpan di draft sampe lumutan. Tidak pede dengan pemikirannya karena takut dikomentarin negatif. Tidak konsisten menulis, sehingga akhirnya mood hilang dan ide itu terbang terlupakan. Dan yang lebih klasik, tidak punya ide, padahal ide itu gratis bisa ditemukan di mana-mana asal kita peka menangkapnya.

Menulis itu merekam sejarah. Menulis itu bisa berkata lebih banyak dan dalam ketimbang ucapan. Dan tulisan itu bisa mengubah segalanya.

Selamat hari Kartini teman-teman.

Semoga kita bisa konsisten menulis dan bisa merekam sejarah dunia lewat tulisan.

 

 Cuma curhatan editor yang susah nyari penulis berkualitas dan tidak asal copas. Dan cuma curhatan editor yang susah nyari penulis dengan tulisan bagus, punya semangat baru, dan selalu tepat waktu.

Kebaya Challenge di kantor.
Kebaya Challenge di kantor.
Mempertahankan pake kebaya di jam kerja sampe siang panas gini, perjuangan banget. Meskipun ada AC yang semriwing adem, tapi gatel cingit2. *garuk*
Mempertahankan pake kebaya di jam kerja sampe siang panas gini, perjuangan banget. Meskipun ada AC yang semriwing adem, tapi tetep aja gatel. *garuk2*

4 thoughts on “#MyLifeAsEditor 2: Kenapa Harus Kartini?

  1. Suka banget mbak sama alasannya kenapa harus Kartini? Karena beliau MENULIS..!!! NOTE….!!!

    Semoga bisa lebih produktif lagi. Jujur, moody memang bikin lama2 semangat menulis hilang #curcol xixi 😀

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)