Miliki Gaya Hidup Sehat Mulai dari Keluarga

Sadar enggak sih, cara kita makan, pilihan menu yang kita sukai, dan cara kita memandang makanan dimulai dari keluarga sendiri. Misalnya, saya yang enggak suka masakan daging kambing karena orang tua saya dulu enggak pernah menyuguhkan menu itu. Seperti juga cara kita melihat makanan sebagai sesuatu yang harus dihargai sehingga diambil secukupnya, atau benda mati yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan jasmani kita.

Semenjak hidup bersama suami, orang lain dengan latar belakang keluarga yang berbeda, saya makin menyadari hal itu. Bahwa orang tua punya peranan penting untuk membentuk gaya hidup anaknya. Dan semenjak itu pula, saya pengin membentuk habit baik untuk anak saya. Kami pun bertekad memulai cara hidup sehat dari hal-hal yang sederhana.

1. Banyak bergerak

Pernah denger enggak bahwa duduk adalah kebiasaan yang bisa membunuh kita secara perlahan. Apalagi buat saya yang bekerjanya kebanyakan duduk memandang laptop seharian. Selama dua tahun pandemi, anak juga sekolah online yang belajarnya duduk memandang laptop terus-terusan.

Setelah itu, kalau capek hiburannya pegang handphone, lalu selonjoran. Enggak ada bedanya dengan duduk tadi, kan? Sama-sama diem, enggak banyak bergerak.

Jadi, selama pandemi kemarin, gaya hidup kami berubah drastis. Dari yang sebelumnya, bangun tidur langsung mandi dan siap-siap ngantor, sekarang kami punya waktu banyak untuk bangun lebih awal dan jalan-jalan pagi.

Sekitar 4000 langkah dengan kecepatan ringan, sambil ngobrol, enggak akan berasa. Pulangnya, kadang masih dilanjutkan workout atau yoga sederhana via Youtube. Udara pagi itu kan menyegarkan banget ya.. Selain baik untuk tubuh, juga bisa jadi booster semangat menjalani hari.

Untuk Luna sendiri, meski belajar online, hiburannya dia bukan Youtube atau TV. Hingga sekarang, dia aktif latihan taekwondo, hiphop dance, dan gymnastic. Banyak kegiatan yang disukainya dan enggak pernah disesali. Di saat anak-anak seusianya sudah memakai kacamata karena kebanyakan screen time, syukurlah dia lebih suka bergerak ketimbang menatap layar.

2. Lebih banyak aktivitas outdoor

Setelah aktivitas kembali normal, jalan kaki pagi setiap pagi makin sulit lagi dilakukan. Masih ada treadmill sih, tapi tetep lebih seru jogging beneran di luar rumah. Akhirnya, weekend dialihkan ke aktivitas outdoor.

Main ke mall memang menyenangkan dan enggak ribet ya.. Adem dan apa-apa yang kita butuhkan ada. Tapi, ya gitu-gitu aja.

Jadi, mumpung kami tinggal di Jogja dengan aktivitas outdoor untuk keluarga banyak tersedia, sayang banget kalau disia-siakan. Bebas, pilih saja. Main ke pantai, kebun teh, hutan pinus, trekking di hutan dan menyusuri sungai, manjat gunung kecil atau naik pohon tinggi.

Saya enggak pernah meribetkan perkara kecil, aduh anak saya cewek nih.. Nanti kalau item gimana? Nanti kalau kulitnya kebakar gimana? Nanti kalau kulitnya terluka atau tergores gimana? Sudah banyak skincare ajaib yang bisa mengatasinya kok.

Pokoknya ya, sekali melakukan aktivitas outdoor, selanjutnya bikin ketagihan daripada menghabiskan waktu seharian di mall.

3. Makan sayur

Dulu, ketika saya masih kecil, mama sering banget bilang, Kamu tuh, anak cewek harus banyak makan sayur. Hah? Emang cuma cewek doang yang harus makan sayur? Cowok boleh enggak? Kesel rasanya.

Sekarang, setelah punya anak cewek sendiri, saya enggak mau mengucapkan kalimat itu ke Luna. Baik cewek ataupun cowok harus makan sayur. Yang butuh sehat bukan cuma cewek, tapi juga cowok. Jadi, setiap menyusun menu harian, sayur selalu ada setiap harinya.

Buat saya, enggak lengkap menunya kalau cuma lauk dan sambel aja. Ya emang enak sih.. Tapi, jauh lebih enak kalau ada yang hijau-hijau di atas piring. Enggak harus sayuran yang diolah ribet. Sering kali, lalapan sayur atau sayur rebus aja udah enak banget.

Cuman, yang masih jadi tantangan sekarang adalah anak saya ini pemilih urusan makan sayur. Hanya brokoli dan wortel aja yang bisa habis dimakannya, bahkan tanpa nasi dan lauk pun bisa lahap. Sisanya harus penuh drama. Sementara itu, kalau saya yang harus ngalah masak dua menu kan capek juga ya.. Atau masak brokoli dan wortel terus-terusan, bosen. Lol.

4. Makan buah

Buah ini adalah makanan yang paling saya suka. Menu sarapan pagi saya bukan makanan berat seperti nasi kuning, nasi goreng, atau bubur ayam. Makan berat seperti itu bisa mengacaukan siklus makan saya seharian. Tapi, kalau paginya diisi sebotol smoothie, sereal buah, yogurt buah, atau buah potong, aman sudah pencernaannya.

Untuk Luna sendiri, kadang masih perlu sarapan nasi atau roti karena dia membutuhkan asupan karbo yang lebih mengenyangkan untuk suplai kebutuhan otaknya saat sekolah. Ya enggak pa-pa. Setiap orang punya kondisi perut dan tubuhnya masing-masing. Tapi, itu artinya, jadwal makan buahnya ada di siang hari atau malam hari.

Jadi, buah selalu jadi daftar belanjaan saya setiap minggunya. Mata saya langsung seger setiap pesanan buah saya datang di depan rumah. Cemilan yang manis, menyegarkan, dan bikin ketagihan.

Cuman ya itu, kalau enggak dikupasin kenapa enggak ada yang inisiatif makan buah sendiri ya? Setelah dikupas, baru sekejap mata sudah habis disantap sama penghuni rumah. Ckckck..

5. Banyak minum air putih

Saat memulai program diet yang lalu, saya dapet target minum air putih sebanyak 4,5 liter per hari. Beseran, jelas. Baru duduk bentar udah pengin pipis lagi. Lol

Tapi, minum air putih ternyata bisa meredam hasrat lapar saya. Yang sebelumnya, laper dikit ngemil. Ini, hampir enggak ada ruang di lambung untuk kelaperan karena sudah diisi air putih. Dan its work, lho! Dalam waktu 3 bulan, berat saya turun 7 kg.

Setelah sudah enggak diet lagi dan menu makan kembali normal, berat badan saya tetap stabil. Berarti, kemarin dietnya sehat kan.. bukan turun kagetan.

Karena air putih itu punya keajaiban untuk tubuh, jadi kebiasaan ini harus dimiliki semua anggota keluarga juga. Alih-alih bangun tidur nyeruput kopi atau teh, lebih baik menenggak segelas air putih dulu. Baru setelah itu, kalau mau ngopi dan ngeteh untuk booster semangat bisa dilanjutkan.

Mengawali hari dengan minum air putih menurut saya jauh lebih sehat. Tapi harus dilanjutkan seharian. Minimal, saat bepergian kita bawa tumbler sendiri berisi air putih. Banyak pipis enggak masalah, karena saya memercayainya sebagai detoks membuang racun dalam tubuh ini.

 

Gimana dengan kebiasaan hidup sehat di keluarga kalian sendiri? Kalau kata teori kebiasaan, melakukan habit baik ini selama 21 hari berturut-turut akan membuat kita menjalaninya dengan biasa dan otomatis. Jika suatu saat terlewat, akan ada sesuatu yang mengganjal tidak nyaman.

Mau memulai hari pertama kebiasaan hidup sehat ini?

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)