Merlion, Apa Kabar?

Dosa banget rasanya. Kalau ngakunya blogger. Ngakunya suka nulis. Nyatanya sudah 1 bulan blog ini bolong enggak ada coretan saya. Dan yang mau saya tuliskan ini juga udah hampir 1 bulan terlewat. Duh, makin berdosa deh saya karena belum sempat berbagi di dunia maya lewat tulisan.

Jadi, critanya tanggal 20-22 Mei kemarin saya dan beberapa teman kantor itu “dipaksa” untuk jalan-jalan nengok patung Merlion di negri antah berantah bernamakan Singapura. Nah, dengan sangat terpaksa namun bahagia, berangkatlah kami dengan pesawat merah bernomor penerbangan QZ7138, yang maskapainya baru pertama kali saya naiki. Dari bandara kecil yang labelnya international airport dan satu-satunya bandara di kota saya ini, berangkatlah kami diantar oleh Mr. & Mrs. Boss.

Cusss.. terbang jam 07.35 WIB, sedikit tertidur ditemenin Larc en Ciel dalam bentuk mp3, sampailah juga kami jam 10.45 (di sana lebih cepet 1 jam) di bandara negri itu yang namanya diambil dari nama pohon, yaitu Changi International Airport. Nah, kalau ini bener-bener bandara internasional, karena hanya melayani penerbangan internasional, tidak domestik sama sekali. Lha ya iyalah.. Lah wong, negaranya cuma seuprit gini, 700 kilometer persegi. Baru take off udah landing. Pramugari belum sempet jualan, penumpang udah disuruh turun.

Bersama rombongan tiba di Changi International Airport.

Sampai di sana, disambutlah kami dengan hangat oleh Ibu Joice. Penduduk lokal Singapura, yang jago bahasa Melayu, Inggris, Mandarin, dan Indonesia. Jadi, enggak perlu pusing-pusing deh mencerna omongan dia. Meski logatnya Melayu kental, tapi enggak seperti Upin Ipin deh ngomongnya. Jadi enggak butuh translator untuk nulis artinya di teks bawah.

Sebelum meletakkan barang-barang bawaan di hotel kami yang namanya Fragrance Bugis itu, langsung deh, cusss.. dibawanya kami ini belanja-belanji di Chinatown, Mustofa, Chocolate Gallery, Orchad Road, Ion Orchard, foto-foto sama Merlion, Marina Sand Bay, dan.. sampai di hotel sudah jam 8 malam. Belum capek amat sih.. Cuma butuh mandi dan kemudian lanjut perjalanan sendiri menyusuri MRT.

Duh.. Ini suka kebalik-balik sama kereta cepatnya Hong Kong. Kalau di Hong Kong disebutnya MTR (Mass Transit Railway). Nah, di Singapura disebutnya MRT (Mass Rapid Transit). Tapi, karena namanya sama jadi cara naiknya enggak jauh bedalah.. Cuma kalau di HK ada Octopus Card yang bisa deposit isi ulang, tinggal digesek kartunya bisa naik deh. Nah, kalau di SG musti beli dulu kartu kecil di mesin-mesin yang berderet-deret di MRT Station.

Di depan gedung (lupa namanya) yang katanya mirip microphone. Padahal menurut saya lebih mirip rumah tawon.

Nah, paginya baru deh siap-siap untuk perjalanan seru di Universal Studio. Saya kasih tau yaa.. Saya paling suka jalan-jalan ke taman bermain beginian. Enggak di Dufan-Jakarta, BNS (Batu Night Spectaculer)-Malang, Jatim Park-Malang, Taman Safari Prigen-Pasuruan, dan Disneyland Resort Hong Kong, semuanya seruuuu.. Selalu semangat sebelum ke sana, dan tetep semangat ketika menjelajahi tempat itu.

Pernah denger cerita temen, katanya Universal Studio itu enggak seru, lebih asyik Dufan. Tapi setelah saya membuktikannya, wuaahhhhh.. ini wahana yang paling seru yang pernah saya naiki. Dufan?? Lewaatttt.. Disneyland?? Bablasss… Sumpah deh, kalau kalian ke SG jangan lewatkan untuk main ke sini. Tiketnya kalau hari biasa 66 s$, weekday 72 s$.

Banyak banget wahana yang seru di sana, dan yang paling berkesan adalah Piramida Mesir ini. Jadi, critanya.. Bu Joice bilang, “Menyeramkan sekali main di situ. You must try.” Nah, kami pikir itu seperti rumah setan gitu deh.. yang hantunya mummy-mummy gitu. Udah heboh teriak-teriak pas masuk ke dalam bangunan itu, ternyata oh ternyata.. itu adalah.. Ahhh.. saya enggak mau cerita. Kalian buktikan sendiri. Yang pasti seruuuuu abissss… Jauh lebih menyenangkan dan menegangkan dibandingkan rumah hantu di pasar malem negri kita. Asli!

Nih.. Piramida Mesir. You must try! 😉

Lalu, ada lagi wahana yang namanya Galactica Balastica. Awalnya sih saya, Intan, Ridho, Tandes, dan Wimpy, berniat untuk menaklukkan jetcoaster seru yang rutenya percampuran antara Halilintar & Tornado di Dufan, serta diputernya 7 kali. Ingat, 7 kali sodara-sodara. What’s an amaze vehicle!

Tapiii.. gara-gara sebelumnya udah masuk ke Piramida Mesir yang sangat menegangkan itu, ditambah makan Gado Gado with Chicken yang harganya 9.9 s$ (setara 70.000 rupiah. just for a plate of gado-gado! yang di sini harganya cuma 7000). Takutlah saya, Intan, dan Wimpy. Sayang, kalau Gado-Gado yang harganya naujubilah muahalnyo itu, tumpah. Soo.. yang berhasil menaklukkan wahana ini hanyalah Tandes & Ridho.

Mendengar cerita mereka yang seru. Bagaimana Ridho bisa teriak sambil misuh-misuh, “Jiancukkkk!”. Bagaimana Tandes bisa teriak dengan menunjukkan rasa nasionalismenya, “Indonesiaaaaa.. Merdekaaaa..” Serasa hilang semua beban di hidup ini. Huaahhhh.. iri dehhhh.. Menyesal enggak naik. Hukss.. hukss.. Besok saya akan ke sana lagi, dan menaiki wahana ini. It must!

Ada yang mau naik Galactica Balastica? Besok saya mau naik! Sebelum makan Gado-Gado, pastinya.

Ada lagi, wahana yang seru. Pertunjukan 4D dari Shrek. Lebih serunya daripada pertunjukan 4D Donald & Mickey pas di DL dulu, adalah karena enggak cuma air yang keluar, tapi juga angin, kursi goyang-goyang, dan laba-laba di kolong kursi. Ihhh.. asyik bener deh.. Serius!

Yahh.. masih banyak deh wahana seru di USS ini. Banyak spot menarik untuk dieksplore foto-fotonya dan dicoba permainannya.

Seselesainya dari USS, kami bersiap untuk menonton Song of The Sea. Harga tiketnya cuma 10 S$. Sekali pertunjukan bisa 3000 orang tertampung. Lagunya adem dan menenangkan hati dan badan kami yang letih karena beban pekerjaan, capek teriak-teriak & tegang pas main di USS.

Cerita teman yang tahun lalu nonton Song of The Sea ini, salah satu lagu yang dinyanyikan adalah “Rasa Sayange.” Tapi kemudian diprotes oleh orang-orang Indonesia, karena dijadikan gimmick untuk promo wisata mereka. Jadinya, lagu ini enggak muncul lagi deh di pertunjukan kali ini. Semoga selanjutnya enggak lagi ya.. Negri Merlion kan punya lagu yang enggak kalah bagusnya.

Singapura, oh Singapura. Sunny island, set in the sea..

Singapura, oh Singapura. Pretty flower, bloom for you and me..

Pingin denger lagunya, bertanyalah pada Tuan Google yaa..

Seakan batre ini enggak ngedrop-ngedrop. Sesampainya di hotel, masih juga semangat untuk lanjut jalan-jalan di sepanjang Bugis Street. Menemani & menawarkan jasa memilihkan barang untuk teman-teman pria, dengan bayaran 1 buah burger yang senilai 2 S$. Intan ditraktir Tommy, saya ditraktir Ridho. Lalu beli minuman di mesin ditraktir Teddy, dan ngemil kripik kentang ditraktir Tandes. What a wonderful friends!

Ahh.. sudah pagi lagi. Tidak terasa sudah hari Minggu, 22 Mei. Sudah saatnya kami kembali ke dunia nyata di negri yang tidak ada MRT, yang motor bisa jalan di trotoar pejalan kaki, yang kalau nyebrang di zebra cross tetep bisa ketabrak motor, yang bisa ngerokok di sembarang tempat, yang… (silakan isi titik-titik berikut ini).

Bertolaklah kami dari bandara itu dengan maskapai merah nomor QZ7139, yang kedua kalinya saya naiki dan pertama kalinya yang bisa membuat saya buang air besar di dalam pesawat (wah, artinya saya betah di pesawat ya..). Berangkat pukul 11.10 dan sampai di kota istimewa saya pukul 12.20.

Merlion, saya besok mau nengokin kamu lagi tahun depan sama suami saya! 😉

Sungguh perjalanan singkat yang menyenangkan. Bisa mengakrabkan kami semua. Secara, kami dari kantor cabang yang beda-beda, Jogja, Bandung, dan Surabaya. Serta memberi kesan yang asik tentang negri yang seru ini.

>> So Merlion, how are you today?

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)