Mengenalkan Toilet Sesuai Jenis Kelamin Anak

mengenalkan toilet sesuai jenis kelamin anak

Long weekend kemarin, di siang hari saat matahari sedang panas-panasnya, kami sekeluarga pergi ke Citra Grand Mutiara Waterpark. Meskipun yang punya panas siap membakar dan meninggalkan jejak belang di badan, tapi yang namanya janji sama anak harus diturutin.

Dari info yang tersebar, di Citra Grand Mutiara Waterpark sedang ada event Snowparty yang berlangsung selama long weekend. Cuma jangan berharap lihat snow betulan ya, yang ada busa sabun menggelembung banyak dan tetap menyenangkan.

Tapi bukan berenangnya yang akan saya ceritain, melainkan kejadian saat di ruang bilas kamar mandi wanita.

Baca juga: Main Air di Citra Grand Mutiara Waterpark

Selesai berenang, biasalah saya dan Luna menuju ke kamar mandi wanita, bapaknya ke kamar mandi pria. Tahu sendiri kan, ruang bilas kolam renang itu macam apa? Pancuran berderet-deret, tempat keramas dan kalo mau bisa jadi tempat sabunan tanpa melepas baju. Sekalipun sesama wanita, kalau sudah dewasa tetap malu mandi diliat orang.

Tapi ada juga beberapa orangtua memandikan anak perempuannya di pancuran itu. Melepas baju renangnya, lalu menyabuni dan mengeramasinya. Ah, masih kecil, sesama wanita pula. Nggak pa-pa.. Itu pikir mereka, juga saya.

Selesai mandi atau bilas-bilas seadanya, kalau mau pipis bisa geser ke toilet. Lalu kalau mau ganti baju pindah ke bilik semacam fitting room tanpa kaca.

Saat sedang berusaha menyisir rambut Luna yang bundet, saya kaget. Kok tiba-tiba ada anak laki-laki di ruang ganti perempuan. Kalau anaknya masih balita atau TK deh, mungkin saya masih maklum. Tapi ini udah gede, dugaan saya sih anak SD yang badannya bongsor. Setinggi saya yang cuma 150an ini, berarti kira-kira kelas 4 atau 5 SD-lah.. Kalau kelas 2 SD, kayaknya enggak deh..

Dia barengan dengan ibu dan adik cowoknya, yang kira2 usia TK. Setelah pembagian baju, mereka bertiga masuk ke bilik ganti yang berbeda, namun kebetulan sebelahan. Ibu dan adiknya barengan, dia sendirian.

Tapi sebelum dia masuk ke bilik ganti, terlihat sekali wajahnya yang tertegun memandang deretan perempuan mandi bawah pancuran. Ada anak perempuan usia SD yang sedang mandi telanjang dan ada ibu-ibu yang pakai underwear doang. Sepersekian detik, dia ndomblong sebelum ibunya menyodorkan baju dan disuruh buruan ganti.

Saya memperhatikan banget, karena heran.

Kok ibunya bisa ngajakin dia masuk ke kamar mandi wanita, ya? Apa mungkin mereka hanya bertiga, tanpa ayah atau laki-laki dewasa, dan si anak cowok ini takut bilas sendirian di kamar mandi pria?

Selanjutnya, saya enggak berani berprasangka berlebihan, apalagi enggak punya anak laki-laki. Selama ini terbiasa urusan pertoiletan Luna selalu bareng ibuknya. Kalau di rumah masih bisa dibantu bapaknya yang untung enggak pernah jijikan kalau disuruh cebokin atau bersihin pup anak. Tapi kalau sudah di tempat umum, ini otomatis jadi tugas saya.

Jadi kepikiran, kira-kira si ibu kebayang enggak ya, efek di otak si anak ketika dia melihat wanita sedang mandi dan telanjang.

Trus jadi kepikiran, khusus kalian yang punya anak cowok. Di usia kapan mengharuskan anak cowoknya ke kamar mandi khusus laki-laki?

Kan ya logis aja, enggak mungkin sampe gede dia bakal mbok-mboken, pipis aja harus ditemenin ibunya. Ya masa, kita nemenin dia pipis di kamar mandi laki-laki.

mengenalkan toilet sesuai jenis kelamin anak

Kadangkala kita mungkin sering menyepelekan, “Ah, masih anak-anak juga. Diajak ke toilet wanita juga enggak pa-pa.” Ya, kalau isi toiletnya cuma berjajar orang antri pipis. Tapi kemarin isinya berjajar orang-orang lagi mandi. Rasanya kok jadi enggak bijak ya.. Ditambah beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa otak laki-laki lebih mudah terangsang secara visual. Duh, jadi ngeri bayanginnya.

Saya jadi inget, dulu pernah ada kejadian tentang pertoiletan. Di suatu hotel, saat kami bertiga ikut seminar finansial, tiba-tiba Luna nyelonong masuk ke toilet pria. Dia pengin masuk ke situ karena penasaran, kok ada orang keluar masuk di situ ya, tapi kenapa ibuknya selalu narik tangannya tiap mau masuk sana. Eh, pas lagi meleng sedikit tiba-tiba dia udah lepas masuk ke toilet pria. Saya langsung kejar masuk, yang untungnya di dalam enggak ada kejadian apa-apa. Tapi beberapa pasang mata seketika lihatin saya. Malu sist… >.<

Di situ saya menekankan berkali-kali ke Luna. Dia adalah perempuan, jadi kalau pipis di kamar mandi perempuan. Kamar mandi perempuan itu yang gambar di depan, orangnya pake rok. Kalau bapak itu laki-laki, jadi pipisnya di kamar mandi laki-laki. Kamar mandi laki-laki itu yang gambar di depan, orangnya pake celana. *ngg… sebenernya pake celana atau enggak pakai sih? kok enggak keliatan celananya? atau celana tapi ketat* #pertanyaanenggakpenting

Dan untunglah selanjutnya enggak pernah ada kejadian lagi dia ngotot masuk ke toilet laki-laki.

Baca juga: Drama Toilet Training itu Sudah Usai

Perkara toilet training, menurut saya tidak sebatas mengenalkan anak pada rasa pengin pipis dan pup, serta kesadaran ke kamar mandi dan pipis di sana. Tapi juga mengenalkan toilet sesuai jenis kelaminnya.

Mungkin ini jadi sederhana di saya, karena punya anak perempuan. Ngintil ibuknya aja beres. Bapaknya enggak perlu repot-repot ngurusin pertoiletannya di tempat umum.

Idealnya memang, ketika anak sudah bisa pipis sendiri, ya dia harus ke toilet sesuai jenis kelamin. Kalau anak laki-laki ya toilet pria. Syukur-syukur kalau ayahnya mau direpotkan urusan pertoiletan anak. Jadi kalau di tempat umum pengin pipis atau pup, si anak laki-laki bareng ayahnya masuk ke toilet pria. Ibunya nunggu santai di luar.

Tapi yang sering terjadi adalah kondisi tidak ideal. Entah si anak yang masih mbok-mboken maunya sama ibu, atau pergi jalan-jalan tanpa ayah, dan enggak tega melepas anak pipis sendiri di kamar mandi pria. Atau, ayah enggak mau ribet, jijik urusan pertoiletan. Ada banyak kemungkinan lain.

Ngomongin idealnya juga, urusan pertoiletan tidak mengenal tugasnya ibu atau ayah saja, tapi jadi tugasnya bersama. Kalau anaknya laki-laki, ya ayah yang mengenalkan gimana caranya pipis. Kenapa bentuk toiletnya beda dengan di kamar mandi perempuan, etc. Kalau anaknya perempuan, ya ibu yang memberi tahu kenapa pipisnya anak cewek harus jongkok. Gimana cara ceboknya, etc.

Mengajari toilet training, serta mengenalkan toilet sesuai jenis kelamin, adalah salah satu bagian dari sex education.

Makanya, saya jadi pengin tahu cerita teman-teman yang punya anak laki-laki. Kira-kira di usia berapa sudah mewajibkan anaknya pipis di toilet pria, dan enggak ngintil ibunya lagi?

Saya pribadi masih memaklumi kalau usia balita, TK, atau kelas 1-2 SD masih ngikut ibunya ke kamar mandi wanita. Dengan beberapa kasus khusus dan banyak kemungkinan yang dituliskan di atas.

Tapi, kalau sudah lebih gede lagi dan masih aja ngikut ibunya ke kamar mandi wanita. Bukan cuma wanita lain yang enggak nyaman, tapi juga anaknya. Dan ini pun bukan masalah kepraktisan aja, tapi efek secara psikologis yang harus kita pikirkan bersama.

Eh, gimana cerita kalian yang punya anak cowok nih..

4 thoughts on “Mengenalkan Toilet Sesuai Jenis Kelamin Anak

  1. Iyess, bener banget. Dari sejak umur 2 tahun, anakku laki-laki kalo ke toilet di toilet cowok sama bapaknya, n yang cewek sama ibunya. Pun sejak umur 2 tahun anakku yang cewek gak boleh mandi bareng adiknya yang cewek.. 🙂

  2. Duuuh ingat waktu si sulung se Luna. Belanja di mall yg besar trus kami misah biar urusan masing2 cepet slesei. Anakku ikut suami. Trus minta pipis. Ya nggak mungkin suamiku masuk toilet cewek. Akhirnya masuklah toilet cowok kan ada yg kamar wc, nggak urinoir semua. Pas masuk, katanya mata anakku ditutup pake tangan biar nggak lihat pas lewat urinoir. Aku dicritain mau ngakak tp nggak tega. Kebayang bingungnya suami waktu itu. Wkwkwk

  3. huaa berasa tertampar nih.anak-anakku cewek semua kadang bagi-bagi ayahnya yang mandiin di kamar mandi cowok. tp ya memang bener sih ya kalau tempat mandinya terbuka gitu semua jadi mikir. kalau kamar mandinya tertutup masih mending lah ya. aku aja di jogja bay sampai mandi lagi di toilet karena risih bilas diluar ga bersih rasanya karena ga lepas baju, malu. thanks ya mak jadi ada pandangan lain

  4. Anakku cowo sih, tp msh 2 thn. Cm aku dan suami udh sepakat dia hrs pisah tidur dari kita, dan hrs punya kamar sendiri, termasuk ngajari ke toilet khusus laki2, pas SD kls 1. Buat kami berdua itu udh umur yg pas. Kalo terlalu lama 1 kamar, toilet jg masih ngikut ibunya, malah ntr jd makin susah ngebiasainnya mba 😀

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)