Mengenal Metode Charlotte Mason

Beberapa waktu yang lalu, saya ikutan workshop tentang Metode Pendidikan Charlotte Mason. Jujur aja ya, baru sekitar 6 bulan belakangan ini saya mendengar istilah ini. Lalu, mulailah cari tahu. Tanya-tanya ke temen homeschooler, karena metode pendidikan CM ini dekat banget sama homeschooling.

Juga beli bukunya Ellen Kristi (founder komunitas Charlotte Mason Indonesia) yang judulnya Cinta yang Berpikir. Ohya, juga sempet download beberapa bukunya Charlotte Mason yang asli. Kan, udah public domain ya itu. Jadi, bisa download gratis di www.amblesideonline.org. Tapi karena ditulis dalam bahasa Inggris era Victoria, jadi ya emang agak mendayu-dayu, dan perlu dibaca berulang-ulang supaya nyampe maknanya.

Trus, karena masih penasaran sama esensi utama metode ini, dan buku-buku yang saya baca belum bisa saya tangkap dengan baik. Akhirnya ngerasa, harus dateng ke workshop ini nih.. Ketemu langsung sama mbak Ellen Kristi, yang mempopulerkan metode CM di Indonesia.

Untuk temen-temen yang juga sedang mencari tahu apa itu Metode Charlotte Mason, semoga tulisan ini bisa sedikit membantu mencerahkan ya..

buku charlotte mason
buku-buku karya Charlotte Mason

Kalau beberapa artikel tentang metode CM membahas dari asal mula digagasnya metode ini, saya akan memulai dengan pertanyaan?

Apa yang membuat kalian (juga saya) menyekolahkan anak-anak? Baik itu sekolah di lembaga formal, homeschooling, atau unschooling.

Kebanyakan dari kita saya yakin pasti bakal jawab, “Ya biar dia pinter, jadi orang sukses, lebih sukses daripada orangtuanya, jadi orang bahagia, dan jadi orang kaya. Karena kalau dia kaya (materi terpenuhi) ya dia bisa melakukan hal-hal yang dia inginkan dengan lebih mudah.”

Maka, kita sekarang mati-matian memberikan pendidikan yang terbaik buat anak kita. Mau itu homeschooling-lah, unschooling, atau di sekolah formal sekalipun.

Lalu pertanyaannya dilanjutkan lagi lebih dalam. Saya memilih pendidikan ini karena apa sih? Karena trenkah, banyak orang masukin anak ke sekolah Montessori, lalu pilih sekolah Montessori. Karena isu agamakah, akhirnya pilih sekolah agama, atau karena homeschooling lagi hype juga lantas pilih homeschooling?

Sering kita memilih sesuatu tanpa alasan yang kuat. Hanya karena tren, atau semua orang melakukan itu lantas kita merasa juga harus melakukannya.

*

Setelah punya jawaban, apa tujuan saya menyekolahkan anak. Lalu kembali mikir, “Apa iya, cita-cita mulia saya untuk anak-anak itu jaminan hidupnya akan lebih sukses?”

Mundur sedikit. Tanggal 10 Oktober kemarin, kita barusan aja merayakan World Mental Health Day. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, saya ngerasa gaungnya hari itu lebih kerasa. Ditambah film Joker lagi tayang di bioskop juga kan, ya.. Bullying ada di mana-mana. Orang stres disepelekan. Ibu yang mengalami partum depression syndrome malah dijudge. Orang kerja mati-matian sampai depresi. Dan sebagainya.

Deretan orang-orang ternama memilih bunuh diri saat mereka berada di puncak karirnya. Robin Williams, Chester Bennington, Jimi Hendrix, Elvis Presley, Whitney Houston. Dan barusan aja, personil girlband Korea, f(x), Sulli.

Pasti kita enggak pengin anak kita mengalami depresi sampai seperti itu. Padahal kurang apa lo.. Karir sukses. Duit banyak. Kalo jadi orangtuanya, mungkin mikir, “Nak.. dulu papa-mama nyekolahin kamu 12 tahun biar kamu sukses & kaya. Sekarang kamu sudah dapat semuanya. Trus kamu enggak bahagia. Kenapa sih.. Apa yang salah dengan parenting style kami dulu…”

Memang itu semua terjadi karena banyak faktor. Tetapi, bukan berarti kita tidak bisa mengambil sebuah langkah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa anak kita demi kesehatan mentalnya kelak.

pendidikan charlotte mason
kira-kira pendidikan untuk anak kita sudah provide hal-hal penting belum ya..

Itulah yang jadi sedikit gelitir kegelisahan Charlotte Mason dulu.

Bicara tentang metode Charlotte Mason = bicara tentang filosofi = bicara tentang mengkritisi sistem pendidikan formal. Sekitar tahun 1860, jauh sebelum Maria Montessori merumuskan metodenya di tahun 1900, Mason merasa gelisah sama sistem pendidikan di Inggris. Masuk sekolah jam sekian, dijejali dengan pelajaran macam-macam, anak belum mudeng udah diganti lagi sama pelajaran yang lain, dll.

Enggak jauh beda dengan pendidikan di Indonesia sekarang ini kan? Sudah banyak yang mengkritisi kurikulumnya, tapi ya outputnya gitu-gitu aja..Jadi, selama 12 tahun sekolah itu dapetnya apa?

Apakah kejahatan hilang di muka bumi? Enggak. Apakah kenaikan strata tingkat pendidikan membuat korupsi menurun? Ternyata malah makin naik kan..

Makanya, Charlotte Mason mulai menyusun “kurikulum”nya sendiri. Secara teknis, berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. Dimana satu guru mengampu banyak murid. Lalu, murid yang belum paham dipaksa mengikuti temannya dan pindah lesson karena dikejar target silabus.

Di sistem CM ini berbeda. Setiap anak dipandang unik, mereka adalah pribadi mandiri. Anak bukanlah kertas kosong yang bisa kita coret-coret sesuka hati. Mereka sama seperti orang dewasa, punya kesukaannya sendiri, punya perasaan yang berbeda. Jadi, sayang kan.. kalau sistem pendidikan yang ada saat ini malah membuat mereka semua jadi seragam?

Itulah kenapa metode CM ini jadi terkesan “eksklusif” untuk homeschooling. Karena akarnya ada di situ. Mengkritis sistem pendidikan yang ada. Lalu karena dirasa tidak ada titik terang, kemudian diputuskan untuk keluar dari sistem dan memilih homeschooling.

Padahal sebenernya, CM itu bukan cuma untuk homeschooling. Karena CM sendiri dulu punya sekolah. Dan sepertinya ada beberapa sekolah di Indonesia yang menerapkan sistem CM.

*

Tapi berbeda dengan metode Montessori yang sangat jelas silabus pakemnya. Di CM ini menjadi fundamental habits dalam menjalankan pendidikan untuk anak adalah:

Habit of Obedience, Habit of Attention, Habit of Truthfulness, Habit of Perfect Execution, Habit of Right Thinking, dan Habit of Right Living

Sebenernya kelanjutan workshop ini adalah membahas masing-masing habit dengan lebih dalam. Tapi sayangnya, jadwalnya tabrakan sama jadwal njagong manten temen kantor. Jadi, saya belum bisa jelasin detil semuanya. Mendingan temen-temen baca sendiri aja dari tulisan-tulisannya CM.

*

Tapi intinya yang saya ambil dari workshop Charlotte Mason ini adalah mengingatkan tujuan utama jadi orang tua. Penginnya anak kita jadi gimana sih? Dan cara terbaik apa yang bisa kami lakukan untuk membentuk anak yang seperti itu.

Kalau kita mempercayakan anak ke sebuah sistem pendidikan di sekolah, ya bukan berarti pasrah aja sama sekolah mau kasih apa. Pendidikan kan, bukan cuma urusan aparat sekolah, tapi yang lebih utama orang tuanya. Mau semahal apapun sekolahnya (barusan lagi rame ngomongin biaya masuk TK-SD di Jakarta kan ya..) kalau orang tuanya tidak ikut serta di pendidikan anak, dan anaknya tidak dididik punya daya juang, ya sama aja.

Di sini, juga jadi belajar untuk tidak melulu menjadi follower. Ketika kebanyakan orang tua memilih sekolah A, kasih les anaknya B, kasih stimulasi C, bikin sendiri mainan anak D, dan sebagainya. Enggak bisa serta merta langsung ngikutin. Tapi harus tahu dulu akarnya, tujuannya, dan manfaatnya buat anak. Karena anak kita berbeda dengan anak-anak orang lain.

Dan kayak diingetin, anak bukan komoditas konten sosial media.

 

2 thoughts on “Mengenal Metode Charlotte Mason

    1. Haloo..
      Kalau yang nulis Charlotte Mason, bisa diunduh gratis di url yg ada di tulisan ini. Kalau yang nulis praktisi CM, aku rekomendasiin “Cinta yang Berpikir” by Ellen Kristi.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)