Mencari Tahu Gaya Belajar Anak

Mencari Tahu Gaya Belajar Anak

Sekarang ini, Luna sedang giat-giatnya belajar baca dan berhitung. Enggak terlalu ngoyo sebenernya, masih usia 5 tahun gini sih.. Dan dia masih akan melewati kelas TK B-nya satu tahun lagi. Tapi kalau lihat pelajaran SD yang nggilani itu, rasanya kok jadi keder sendiri. Kira-kira dia mampu ngikutin enggak ya? Atau pertanyaannya dibalik, kira-kira saya mampu mengikuti dan mendampingi dia belajar enggak ya?

Sebenernya, sejak usia 4 tahun saya mulai kenalin dia dengan huruf, phonetic, dan membaca 1 suku kata. Sekarang di usia 5 tahun, belajar bacanya udah lebih meningkat lagi, mulai ke huruf mati dan dobel konsonan.

Awal-awal ngajarin dia belajar, dengan menggunakan kartu suku kata yang pernah saya buatin free printables-nya di sini. Sekarang sudah mulai kalimat panjang. Dan kalau mood-nya lagi bagus, dia akan baca pelan-pelan 1 paragraf cerita pendek.

*

Kata orang-orang yang sudah melewati fase ini, Ngajarin anak baca itu gampang kok. Cuma 2 bulan, nanti dia bisa sendiri.

Gampang kalau ketika kalian ngajarin baca saat dia sudah memasuki fase sensitive period-nya. Tapi kalau belum masuk ke fase sensitive period-nya, mau belajar sambil jungkir balik, ya enggak bakalan bisa juga.

Cuman, mencari tahu sensitive period-nya itu tantangan besarnya.

Itu kenapa kita perlu banget memberinya stimulasi lewat permainan atau aktivitas, dan terus mendampinginya. Supaya kita bisa lebih peka menangkap fase sensitive period-nya.

*

Seperti di awal-awal saya ngajarin Luna baca. Waduh, sungguh menguras emosi, jiwa, dan raga. Beda-nya huruf b dan d enggak bisa. Apalagi huruf w dan y. Mau jelasin sampai teriak-teriak, juga dia nggak bakalan nangkep.

Kalau udah gitu, langsung ditutup bukunya. Mending main boardgame aja.

Sekarang, setelah sudah mulai bisa baca kata dan kalimat-kalimat pendek, tetep aja lohh.. mendampingi anak belajar itu menguras emosi dan perasaan. Entah dianya yang garuk-garuk kepala-lah, mendadak badannya gatel semua, atau bergerak mengambil sesuatu yang enggak penting, dan tiba-tiba mengalihkan perhatian dengan cerita suatu kejadian di sekolah.

Gustiii.. paringono sabar.

Lalu mencoba mencari pemakluman. Kata psikolog, rentang waktu maksimal konsentrasi anak = usianya. Dia sekarang usia 5 tahun, ya wajar kalau 5 menit duduk manis, sisanya langsung bubar.

 4 Gaya Belajar Anak 

Sambil terus mencari-cari cara belajar yang menyenangkan dan maksimal untuk anak. Ternyata yaa.. gaya belajar anak itu macem-macem. Ada beberapa teori tentang ini, cuman yang paling familiar itu ada empat.

1. Visual

Anak lebih mudah menyerap sesuatu jika melihat. Dia akan memperhatikan gambar atau apapun yang dilihatnya. Mudah terpesona sama ilustrasi, gambar, dan video.

2. Auditori

Anak lebih mudah menyerap informasi dengan mendengarkan. Mereka suka menghafal, mudah merekam apapun yang didengarnya. Lagu ataupun cerita.

3. Taktil

Anak lebih mudah menyerap informasi dengan menyentuh atau merasakan langsung. Makanya mereka bakal betah banget mainan balok dan puzzle.

4. Kinestetik

Anak lebih mudah menyerap informasi dengan melibatkan fisik atau gerakan tubuh. Mereka lebih suka hal yang berbau olah tubuh, seperti menari atau olahraga. Dan enggak betah duduk di kelas lama-lama.

Mencari Tahu Gaya Belajar Anak

Dari keempat gaya belajar ini, saya coba kulik-kulik, mana ya.. gaya belajarnya Luna.

Visual? Bukannya hampir kebanyakan anak emang suka dengan hal-hal visual. Suka dengan story book dan video. Serta mudah menangkap cerita kalau ada gambar atau videonya.

Auditori? Anak mana sih yang enggak suka lagu? Apalagi menghafalkan sesuatu lewat lagu, biasanya akan lebih cepat.

Taktil? Bukannya semua anak memang harus mendapatkan stimulasi dengan menyentuh atau merasakan langsung objeknya. Mengenal rasa dingin dengan menyentuh es batu, atau merasakan pantai dengan diajak traveling ke pantai. Karena pengalaman langsung yang melibatkan panca inderanya, terbukti lebih mudah diserap anak.

Kinestetik? Anak mana yang enggak suka nari? Sesusah-susahnya joget, tapi merekam memori melalui gerakan, akan lebih mudah.

Lalu malah jadi bingung sendiri, gaya belajarnya yang mana ya..

*

Mencari tahu gaya belajar anak itu ternyata susah buuu Padahal ini penting banget supaya ketika mendampinginya belajar, enggak perlu sampai menguras emosi, tenaga, jiwa, dan raga. Kita akan lebih bisa memahami perilakunya, dan bisa mengarahkannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

Tantangan banget enggak sihh.. Karena untuk mengetahui hal itu dibutuhkan ketelatenan dalam menstimulasi dan mendampingi, serta kejelian dalam mengamati setiap detil perkembangan kognitif anak.

 Tes Kognitif untuk Anak 

Udah pada tahu belum? Sekarang ada lembaga yang bisa membantu kita, untuk menyelesaikan masalah itu.

PT Melintas Cakrawala Indonesia, adalah lembaga yang melayani kebutuhan banyak orang tua dan guru, untuk mengetahui kecerdasan anaknya, melalui AJT CogTest. Jadi, AJT CogTest adalah tes kognitif yang terstandarisasi sesuai dengan karakteristik bahasa serta culture Indonesia.

Kemampuan kognitif adalah kemampuan mengembangkan rasional yang terdiri beberapa tahapan: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisas, sintesa, dan evaluasi. Berbeda dengan tes IQ, AJT CogTest ini bisa mengukur secara komprehensif, delapan bidang kemampuan kognitif anak usia 5 18 tahun. Sehingga kekuatan serta kelemahan kemampuan berpikir anak dalam belajar, bisa teridentifikasi secara lengkap dan jelas. Kemudian dengan hasil itu, kita bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak.

Jenis paket Tes Kognitif AJT ada 2:

  1. AJT CogTest Full Scale,mengidentifikasi 8 kemampuan kognitif lengkap yang menampilkan profil lengkap kekuatan dan kebutuhan belajar anak. Biaya sekitar Rp760.000.
  2. AJT CogTest Comprehensive,diperlukan ketika anak membutuhkan data lebih terperinci untuk dianalisis, maka psikolog akan merekomendasikan tambahan tes. Biaya sekitar Rp1.200.000.

Nantinya, #TesKognitifAJT dilakukan oleh psikolog yang sudah mengikuti pelatihan dan disertifikasi oleh PT MCI. Dan hasilnya akan dikirimkan dalam waktu 7-14 hari kerja setelah tes, melalui email.

Kalau masih penasaran lagi tentang #AJTCogTest ini bisa main ke websitenya melintascakrawala.com, kontak CSnya via whatsapp di nomor 087883258354, atau kepoin instagramnya di @melintascakrawalaid.

*

Mendampingi anak itu emang butuh ketelatenan deh ya.. Kita enggak bisa mendiamkan mereka, lalu mengharapkan anak tiba-tiba cerdas aja gitu.. Tetapi butuh stimulasi-stimulasi untuk merangsang kecerdasannya.

Katanya, kecerdasan itu faktor genetika. Iya, tapi itu cuma 40%. Sisanya, tergantung stimulasi dan lingkungan sekitar.

Makanya, penting banget mengetahui gaya belajar mereka. Supaya kita bisa memberikan stimulasi yang tepat untuk mengoptimalkan kemampuannya.

#YukKenaliAnakKita

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)