Membahagiakan Orang Tersayang

Membahagiakan Orang Tersayang

Bulan April ini orang-orang yang dekat dengan saya lagi ulangtahun. Mama, bapak, dan suami. Wohooo… I spend all my life with Aries people. Yang menurut ramalan zodiak sifatnya agresif, enerjik, impulsif, berjiwa pemimpin, tidak sabaran, egois, cepat emosi. *anaknya dulu tiap baca majalah, rubrik pertama yang dibuka adalah Zodiak*

Tapi kenyataannya yah, semua itu salah besar. Orang yang paling tidak sabaran dan impulsif itu ya saya sendiri yang zodiaknya Libra.

Pelajarannya: Dik-adik, jangan percaya ramalan zodiak atau shio ya. Percayalah pada Tuhan sadja.

*

Tiap menjelang ada yang ulangtahun, kebiasaan yang WAJIB dilakukan adalah…

Apa hayo…

Nyiapin kado? Nyiapin dana untuk traktir? Nyiapin pesta?

No.. no.. no..

Yang tepat adalah buka dompet, ambil semua SIM yang kamu punya (kalau dulu sih, KTP juga), lalu cek masa berlakunya.

Banyak orang yang kalau ulangtahun fokesnya cuma mikirin traktiran, kado yang bakal diterima, dan pestanya. Sekian bulan kemudian baru inget, kalau expired date SIMnya udah lewat. *berkaca pada kejadian nyata diri sendiri*

Dulu sih, masih enak. Asalkan enggak lewat dari 2 bulan, masih bisa diperpanjang. Sekarang, telat 1 hari aja harus apply dari awal lagi. Ikut tes lagi, yang konon lebih sulit dari zaman dulu kala. Lah, dulu aja tesnya udah berat, meski tidak seberat patah hati, tapi cukup menguras emosi. Tes nyetir motor kelok-kelok di antara deretan balok kayu. Tes nyupir mobil yang harus injek setengah kopling di jalan nanjak. Dan semua buatku berkeringat karena kepanasan.

Akibat pernah terlambat perpanjangan SIM itu, tiap mulai memasuki tahun baru saya punya kebiasaan baik. Nandain di kalender, semua tanggal-tanggal penting. Expired date SIM semua orang di rumah, pajak semua kendaraan di rumah, termasuk tanggal hosting blog ini harus dibayar.

Cerdas kan!

Oke, balik lagi ke para orang-orang Aries itu.

Di keluarga dulu, seinget saya enggak pernah ada kebiasaan makan-makan bersama tiap ada yang ultah. Sesempetnya aja, sebisanya, dan seadanya kalo lagi ada rejeki. Ngasih kado pun juga bukan barang wajib. Bahkan kadang-kadang saya sering lupa kalau mereka ultah. Payah emang!

Tapi setelah punya keluarga sendiri, kuingin mematahkan kebiasaan itu. Kalau ada yang ultah, ya harus ada makan bersama, itung-itung syukuran masih dikasih usia sampai detik ini. Enggak harus di hari yang sama, tapi juga jangan sampai kelewat lama. Jadi, gimana caranya dari awal sudah dianggarkan budget untuk makan-makan. Untung kami bertiga ultah di tanggal muda semua. Sebelum duit lari kemana-mana, bisa dipakai makan-makan bersama.

Selain makan-makan, sebisa mungkin saya ingin memberikan sesuatu buat mereka. Entah kue ultah mini-lah, atau kado yang kalo sempet dibungkus, kalo enggak dikasih bareng sama notanya. Udah keluarga juga, uang milik bersama.

*

Jadi saya kasih apa ke suami di ultahnya ke thirty something ini?

Jeng.. jeng..

Membahagiakan Orang Tersayang

Smart watch yang sudah lama saya idam-idamkan dia memakainya. Kayaknya kok keren dia pakai jam model begini.

Sebenernya dia emang enggak terlalu kepengin punya smart watch. Buatnya jam tangan biasa aja udah cukup. Tapi sebagai istri yang selalu ingin suaminya tampil trendy, penginlah punya barang inovasi terbaru masa kini.

Dan tanpa memedulikan dia penginnya apa, saya langsung aja beliin smart watch ini.

Sungguh, kuadalah istri yang berbudi pekerti.

*

Dengan penuh bersemangat, sehabis gajian saya langsung beli jamnya. Saya simpen baik-baik di laci meja kantor, tanpa dikunci. Untungnya seisi kantor enggak ada yang tahu saya nyimpen barang berharga di sini.

Karena dia ultah di hari Sabtu, jadi hari Jumat saya masukkan jam itu ke dalam tas. Niatnya besok Sabtu saya akan kasih dia. Atau mungkin Sabtu dini hari. Kebiasaan, cuma di hari Jumat doang saya berani begadang karena besoknya enggak harus bangun pagi.

Di Jumat malamnya, karena harus mengambil sesuatu di tas (yang saya lupa apa itu). Entah kenapa saya ngerasa dia liat ada seonggok kotak jam di situ.

Lalu dengan ekspresi datar tanpa romantisme ala Dilan dan Milea. Langsung aja saya kasih kado tanpa dibungkus itu di H-1 ultahnya.

“Kamu udah liat ada kotak di tasku. Jadi kukasih aja.”

“Lah, aku enggak lihat sama sekali kok.”

Pamali ngasih kado sebelum ultah, katanya. Tapi saya maksa untuk dia buka kotaknya. Karena sesungguhnya diri ini yang lebih penasaran. Penasaran sama wujud smart watch, jam tangan yang katanya pinter, bisa buat sms-an, telponan, whatsapp-an, bahkan foto-foto.

Dan mengalahlah dia demi memenuhi hasrat istrinya yang hedon ini.

*

Ekspresi pertama lihat smart watch adalah katrok maksimalita. Saya baru tahu kalau jam tangan ini ternyata harus dicharge ya. Bisa diset mati sendiri di waktu tertentu. Bisa diisi simcard, bahkan bisa buat angkat telepon, kalau sudah disinkronkan dengan smart phone.

Wow! Daebak!

Enggak salah kado pilihanku ini. Kusungguh istri yang brilian!

Membahagiakan Orang Tersayang

Sampai tiba-tiba…

Smart watch itu mati dan enggak bisa nyala lagi. Dipencet lama enggak nyala, dicharge seharian enggak nyala.

Jeng..jeng..

Nyesel seketika saya beliin dia jam tangan merepotkan macam ini. Mosok kasih kado barangnya cacat.

Akhirnya dengan penuh keberanian diri, saya kontak lagi CS online shop-nya. Padahal kuyakin dia sudah lupa, karena saya belinya udah 2 minggu yang lalu, tapi jamnya kan baru dicoba hari ini. Ada rasa deg-degan juga, takut kalau message enggak direply. Karena dulu pernah ada pengalaman buruk beli jam tangan secara online. Mereka salah kirim warna dan CS OS-nya enggak meladeni komplainku barang 1 kalimat pun.

Kesel kan..

Sekarang masih masalah lagi dengan smart watch yang enggak bisa nyala. Duh! Enggak mau lagi beli-beli jam tangan via online. Enggak ada yang bener semua.

Tapi untungnya kakak CS OS yang ini membalas keluhanku dan memberikan solusi sederhana yang tidak pernah kuduga bakal sesederhana ini.

Yaitu… lepas baterainya, trus dipasang lagi.

“Baterainya di mana?” tanya saya.

Ya, di belakang jam-lah. Mosok di strapnya. Kadangkala (seringnya) emang suka oncem emang istrinya Pak Donny ini.

Dan hasilnya setelah baterai dilepas lalu dipasang lagi, akhirnya…

Berhasil! Jam tangan bisa nyala lagi.

Kusenang hatiku. Enggak jadi retur. Enggak perlu mere-mere sama OSnya. Dan enggak jadi kapok belanja jam tangan via online. *anaknya mudah inkonsisten*

*

Sekarang, smart watch itu selalu melingkar di tangannya setiap mau bepergian. Bahkan udah di rumah pun kadang masih suka dipake. Entah lupa, senang sama jamnya, atau cuma pengin menyenangkan hatiku.

Yang penting ku pun senang karena sudah membahagiakan orang yang kusayang di hari lahirnya.

Ternyata, menyenangkan orang lain bisa semenyenangkan ini. Itu ya, kenapa ulang tahun ritualnya bagi-bagi kado atau kasih surprise. Karena kalau yang ulangtahun bahagia, kita yang ada di dekatnya pun ikut bahagia.

Dan doaku untuk dia yang sudah memasuki usia thirty something ini adalah…

Semoga Bapak Donny Aprilianto diberi umur yang panjang untuk bisa mendampingi anaknya hingga dewasa, dan menemani istrinya sampai nenek-nenek. Diberi kesehatan dan tubuh yang bugar. (ingat kolesterol, infused water okra yang kubuatin tiap hari wajib diminum!) Diberi kelancaran pekerjaan dan rejeki, demi liburan ke luar negeri. Dilimpahi berkat dan jadi berkat bagi sekitar, lewat iman dan pelayanannya setiap hari.

Aminn..

3 thoughts on “Membahagiakan Orang Tersayang

  1. Dulu pas pacaran aku paling seneng bikin kejutan ultah buat suami 🙂 . Kdg aku simpen di dlm lemari pakaiannya, supaya besok pagi pas ultahnya, mau ambil baju sblm kantor, udh kliatan ada kado. Pernah juga ksh kejutan ke kantornya :D.

    Tp pas udh nikah, malah jarang bgt ksh kejutan begitu hahahaha.. Baca ini aku jd pengen bikin acara kejutan buat ultahnya thn depan :p

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)