Ketika Anak Bertanya tentang Jilbab

ketika anak bertanya tentang jilbab

Tinggal di negara yang mayoritas muslim itu, bikin anak-anak kami sering menanyakan hal-hal seperti ini: “Kenapa temennya Ibuk pake jilbab, tapi kok Ibuk enggak?”, “Kenapa kita ke gereja? Tapi temenku ke masjid?”, “Lebaran itu apa?”, “Kok temenku ada yang puasa?”, “Kok doanya orang Islam harus pake baju panjang?”

Termasuk celetukannya seperti, “Masyaallah,” “Alhamdulillah,” “Allahuakbar,” “Assalamualaikum..” Sampai gaya-gayaan ambil selimut dijadiin jilbab.

*

Tiba-tiba saya jadi ingat ketika kecil dulu. Mama lagi baca majalah, saya ikut melihat gambar-gambar di majalah, trus dikit-dikit nyeletuk, “Masyaallah..,” “Ya Allah,” Padahal blas enggak tahu konteksnya sama sekali. -____- Mulut anak kecil emang.

Reflek Mama langsung mengingatkan. Tapi tetep ajalah diulangi lagi. Mana mudeng saya nih. Cuman, lama-lama enggak tahu gimana kebiasaan itu bisa hilang. Mungkin setelah saya bener-bener bisa menyadari bahwa ucapan itu lebih lazim dan lebih sering diucapkan orang Muslim, sedangkan kami adalah orang Kristen.

Sekarang, gantian Luna yang begitu. Geli sendiri.

Apalagi, Islam wave sekarang lebih kerasa ketimbang jaman saya kecil dulu. Jadi triggernya lebih banyak, bukan cuma tentang celetukan aja yang ditiru, tapi juga fashion.

Kayak gini deh, sepertinya 90% orang di Indonesia sekarang ini berjilbab ya. Sampe ketika kenalan sama orang baru, saya bisa menebak agamanya apa dari outfitnya. Pokoknya yang enggak pake jilbab, dia non-muslim.

Ternyata zonk dong. Ada temen baik yang dulu saya kira non-muslim, hanya karena dia enggak pake jilbab dan pas kenalan awal-awal enggak sholat. Ternyata enggak sholat emang lagi halangan aja, padahal sebenernya dia adalah seorang muslim yang taat dan attitudenya baik banget-nget-nget.

*

Di pergaulan Luna dan teman-teman kecilnya, ada anak yang sedikit-sedikit ngomong, “Masyaallah,” “Astagfirullah,” atau “Ya Allah.” Dan pastilah, latahnya nular ke Luna dan temen-temen kristennya. Di rumah, gerombolan anak-anak kecil yang ibadahnya di gereja ini, gaya-gayaan pawai sambil teriak, “Allahu Akbar..”

Geli aja. Bukan panik, apalagi langsung pengin protect anak. Atau pindah ke perumahan eksklusif khusus orang Kristiani. Hahaha.. Emang ada gitu? Yang ada juga perumahan muslim.

Enggak ada sama sekali terbersit kekhawatiran bahwa hal-hal itu membuat kekristenan Luna akan hilang. Karena saya dulu juga begitu, nyatanya gedenya tetep gini juga. Hidup harmonis baik-baik aja dengan banyak teman-teman muslim, dan saya tetap kristen.

Wajar banget kalau anak kecil gampang latah dan copy-paste lingkungan sekitar. Apalagi kami sadar banget kalau tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, ya pasti seperti ini.

Menariknya, latahnya Luna ini, justru bisa pelajaran seru tentang kemajemukan.

Samalah, seperti teman-teman muslim Indonesia yang tinggal di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim. Mereka menjadikan hal itu sebagai pengalaman dan pengetahuan tentang kemajemukan. Tanpa melepas culture dan iman yang selama ini diajarkan di keluarga.

Caranya, tinggal dibekalin aja ilmu tentang agamanya dan melibatkannya di aktivitas keagamaannya sendiri. Seperti ngajak ke gereja tiap Minggu enggak cuma di hari besar aja, sembahyangan di rumah-rumah umat, ikut sekolah minggu, nemenin saya latihan koor, atau berdoa bersama keluarga.

Saya sih yakin, lama-lama dia bakal tahu sendiri tentang konsep agama dan perbedaan-perbedaan ini.

*

Jadi ketika Luna bertanya-tanya tentang jilbab dan islam. Ya, saya jelaskan sebisa yang saya tahu. Misalnya, kenapa orang Islam pakai jilbab? Supaya rambutnya enggak kelihatan, karena menurut orang Islam rambut kelihatan itu enggak sopan.

Lalu, dijelaskan juga. Bahwa bukan orang Islam aja yang pakai kerudung. Gereja katolik orthodox (gerejanya Gading Marten nih..) juga seperti itu. Perempuan yang ikut ibadah pakai kerudung atau disebutnya mantila, tapi enggak pake pun juga enggak papa sih.. yang penting hatinya mengarah ke Tuhan. Biarawati juga pake mantila. Dan Bunda Maria, ibu Yesus juga pakai kerudung dan jubah panjang.

Atau ketika dia menirukan dan nanyain, kenapa orang islam doanya sambil duduk dan gerak-gerak? Karena mereka menghormati Tuhan, caranya sujud, seolah-olah Tuhan ada di depannya. Sebenernya sama aja kan, agama kristen katolik ketika berdoa dengan membuat tanda salib atau berlutut di depan altar juga. Sebagai bentuk penghormatan pada Tuhan, seolah-olah Tuhan ada di depannya.

Dan ketika dia latah meniru-nirukan ucapan “Allahhu Akbar,” “Alhamdulillah,” “Assalamualaikum.” Saya selalu menjelaskan bahwa ucapan itu seperti doa, artinya baik. Jadi, jangan dibuat mainan dengan asal sebut. Nanti kalau ada orang Islam yang denger dan enggak suka, bisa marah juga loh.. Lebih hati-hati aja, ketika mengucapkan doa itu.

Trus kejadian, ketika Halal Bihalal perumahan kemarin. Sapaan dari MCnya jelas, “Assalamualaikum.” Dan saya membalasnya dengan “Waalaikumsalam..”

Luna yang denger langsung berkomentar. Loh.. kok Ibuk ngomong gitu?

Ha.. jadi jelasin lagi kan.. Bahwa ucapan ini memang biasanya diucapin orang Islam, karena di sini paling banyak orang Islam. Tapi kalau ada orang yang menyapa kita seperti itu, ya wajib dibalas.

Dan dia tetep bingung. Hahaha.. Auk ah..

Yang pasti, ini bakal jadi pelajaran panjang yang seru. Seseru ketika anak-anak muslim bertanya ke orang tuanya. Kenapa di gereja, duduknya cowok-cewek boleh bareng-bareng? Kenapa ke gereja, sepatunya boleh dipake? Kenapa mereka enggak puasa seperti kita? Kenapa ada pohon cemara tiap bulan Desember? Dan lain-lain..

Belum lagi ditambah, banyak pertanyaan Luna tentang kebiasaan orang Hindu yang ditemui di Bali kemarin.

Yang di depan rumah itu apa? Kemenyan. Kemenyan itu apa? *langsung berabe googling*

 

Kalau anak kalian, punya pertanyaan apa tentang agama orang lain?

One thought on “Ketika Anak Bertanya tentang Jilbab

  1. beluuum, aku blm ngerasain ini :p. mungkin jg karena anakku tinggal di lingkungan yg memang banyak muslimnya, jd dia masih blm banyak melihat gmn temen2nya yg non muslim :). tp aku berusaha ngajarin dia ttg arti kemajemukan, toleransi , biasany saat traveling. kayak kemarin dulu di Jepang, kita ke salah satu kuil, di mana banyak wrga lokalnya sdg ibadah. di situ aku jelasin itu cara mereka sembahyang.

    pernah jg pas di sibolga, yg mana banyak gereja di sana, lagi2 aku jelasin tempat ibadah masing2 agama itu beda. tp aku tekanin juga, siapapun temen2 mereka, muslim ato bukan, jgn prnh sekali2 membedakan temen2 hnya krn itu. jgn prnh menjelek2kan ttg agama lain. Berharap anakku udh ngerti sih. krn biar gmn mba, aku ga mau juga anakku jd org yg fanatik. ngerii akibatnya

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)