Jogjaku Baik-Baik Saja Kan?

Rumah saya, sekitar 23 km dari Merapi, dan 500 meter dari Stadion Maguwoharjo Sleman.

Malam dini hari ini, saya dikagetkan dgn suara gemuruh yg kencang, lebih kencang dr biasanya. Lalu diiringi getaran yang panjang & menggetarkan kaca2 di rumah. Kami sekeluarga bergegas ke luar rumah, dan menengok ke utara. Berjaga-jaga, jangan2 merapi kembali meletus. Tapi kabut pekat menutupi jarak pandang kami. Setelah sedikit mereda, kami kembali masuk ke rumah, tidur dengan pintu kamar terbuka, untuk waspada dan siap lari jika terjadi sesuatu.

Kami kembali dikagetkan, dengan suara “pletik-pletik” seperti hujan rintik2 yg menjatuhi genteng. Tp ini beda. Kami bergegas keluar, dan ternyata.. itu hujan krikil dan pasir. Semakin lama semakin deras dan keras. Kentongan di perumahan dipukul untuk membangunkan para warganya. Kami diminta waspada dan tetap di dalam rumah. Semakin lama, hujan krikil itu menipis menjadi hujan abu.

Sungguh tidak bisa tidur nyenyak. Pukul 3 pagi saya baru bisa memejamkan mata dan pukul 6 pagi sudah terbangun mendengar suara ramai di depan dan suara sirene. Jarak aman diperluas lagi menjadi radius 20 km. Dan mobil2 yang turun melewati gerbang perumahan saya menuju ke Stadion Maguwoharjo untuk mengantarkan pengungsi yang dipindah. Kami diperintahkan oleh Kepala Dusun untuk membuat nasi bungkus dan mengkoordinasikannya untuk dikirim ke sana. Di sana benar2 penuh. Lebih penuh daripada ketika ada sepak bola. Di sana tidak ada tikar dan dapur umum.

Jalan depan rumah yang tertutup abu vulkanik.

Saya semakin kaget, ketika mendengar bahwa Desa Cangkringan di timur perumahan saya sudah diterjang awan panas. Ya Tuhan… Sejauh itu? Desa Cangkringan itu sekitar 6 km dari rumah saya. Dan di sana banyak korban. Padahal sebelumnya, Cangkringan masih di radius 15 km yg sebelumnya dinyatakan aman. Sampai sekarang, hujan abu tipis masih menyelimuti rumah saya dan kota jogja pada umumnya.

Jujur saja, kali ini saya lebih panik & khawatir dibandingkan gempa bumi 2006 lalu. Tapi, tetap harus terus waspada dan berbagi informasi penting dengan teman2 untuk keselamatan kami bersama. Listrik yang padam membuat kami sedikit terisolasi dari informasi berita. Tetapi hp yang nyala memutar radio dan memancarkan berita. Hujan abu yang pekat membuat jalan licin. Semua diminta waspada dan menaiki kendaraan dengan pelan2. Sudah banyak kecelakaan akibat terlalu panik & ngebut di jalan. Jangan lupa juga pakai kacamata & maskernya, bau belerang sangat menyengat menusuk hidung. Lebih baik, pakai jaket atau mantel plus helm dengan kaca tertutup di depan.

Untuk informasi, teman2 yang ingin memberikan bantuan, jangan hanya terkonsentrasi di Stadion Maguwoharjo, karena tempat ini yg sering diberitakan di TV. Tetapi, universitas2 di Jogja mendadak jd tempat pengungsian. Seperti UII, Jakal km.14, Univ. Sadhar, Paingan (timur Stadion Maguwo), Univ Atmajaya Babarsari & Mrican, Seminari Jakal km.7, dan Stadion Tridadi Sleman. Itu semua baru yg di Jogjakarta, yang di daerah Muntilan & Klaten masih ada lagi.

Bagi yg ingin memantau keluarga di Jogja, bisa memfollow twitter @jalinmerapi atau mengecek di google map radius lingkar aman merapi di url ini: http://merapi.combine.or.id/posko/

>>Teman2 semua.. Saya mohon doanya ya.. Untuk keluarga besar penghuni Yogyakarta..

2 thoughts on “Jogjaku Baik-Baik Saja Kan?

    1. Aku rumah, di deket Paingan. tepatnya utaranya Stadion Maguwo. Skrg relatif lebih kondusif.. Semoga beranjak aman ya..

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)