I Am HOPE, Harapan yang Tidak Pernah Padam

I Am HOPE, Harapan yang Tidak Pernah Padam

Kanker adalah penyakit mematikan nomor 2 di dunia. Siapapun yang mendengarnya pasti akan terduduk lemas. Denial. Marah. Mempertanyakan nasib pada Tuhan. Hingga akhirnya pasrah dan berjuang.

Itu yang saya lihat dulu dari raut wajah orangtua, ketika mereka mendengar bahwa Bapak terkena kanker kelenjar getah bening. Berbagai pengobatan dilakukan demi Bapak tercinta sembuh, sehat, dan bisa aktif bekerja lagi. Hingga akhirnya kami menyerahkan semua penanganan pada dokter, operasi dan kemoterapi.

Semua doa dan harapan digantungkan. Berdoa supaya Bapak segera sehat dan bisa main badminton lagi, supaya Bapak yang saya kenal sebagai lelaki yang kuat tetap dikuatkan menghadapi segala penyakitnya, supaya Bapak bisa merasakan menggendong cucu, supaya Bapak bisa mendampingi ketiga anaknya saat wisuda kelak, semoga Bapak yang hobi traveling bisa jalan-jalan bareng keluarganya, dan semoga kami sekeluarga dimampukan dari segi finansial untuk membiayai semua biaya pengobatan.

Kanker sendiri sudah mencekik kami, apalagi melihat deretan tagihan yang harus kami bayarkan. Saya yang saat itu masih kuliah semester akhir, memutuskan untuk tidak menerima uang saku lagi tiap bulannya. Bekerja paruh waktu setiap hari, buat anak yang belum juga sarjana, pastilah gajinya tidak seberapa. Tapi saya tidak mau uang saku itu justru membebani orangtua.

Saya cuma pengin membantu keuangan keluarga yang sudah habis banyak demi pengobatan Bapak. Semuanya hanya untuk Bapak sehat, Bapak bisa nemenin besok saat saya wisuda, Bapak bisa mendampingi saat saya menikah, Bapak bisa menggendong cucu-cucunya, Bapak bisa nemenin saya yang juga suka jalan-jalan, Bapak dan saya bisa tanding badminton lagi.

Ya Tuhan… bahkan saat saya menuliskan ini, air mata ini sudah menggenang di pelupuk mata. Padahal kejadian itu sudah 10 tahun silam. Dan rasa syukur tidak pernah berhenti kami panjatkan karena kami bisa melewatinya dengan baik. Bapak sehat dan keuangan keluarga bisa kembali pulih.

Bracelet of HOPE

I Am HOPE, Harapan yang Tidak Pernah Padam

Rangkaian pengalaman hidup itu membuat saya berpikir, sebegitu mahalnya biaya pengobatan kanker. Bagi yang tidak mampu, hanya bisa tergolek pasrah, putus harapan, dan menyerahkan hidup-matinya pada Yang Di Atas.

Saya rasa itulah yang kemudian terlintas di pikiran Janna Soekasah Joesoef, Wulan Guritno, dan Amanda Soekasih. Harapan selalu ada bagi siapa saja. Harapan untuk sembuh, harapan untuk sehat, dan harapan untuk hidup.

Maka untuk membangkitkan solidaritas dan budaya menyumbang di antara masyarakat dan menyebarkan harapan di segala aspek kehidupan, dibuatlah gelang yang terbuat dari sisa kain pelangi jumputan dari desainer senior, Ghea Panggabean. Pelangi adalah simbol harapan. Sehingga dengan terciptanya Gelang Harapan atau #BraceletofHOPE, semoga semua harapan positif kita, terutama pejuang kanker dan keluarganya, menjadi nyata.

Kegiatan penggalangan dana yang disebut Journey of HOPE difasilitasi melalui website www.gelangharapan.org. Hanya dengan membeli gelang harapan seharga Rp100.000, kita akan membantu saudara-saudara kita untuk tetap memiliki harapan sehat dan bebas dari kanker.

Gelang tersebut didesain untuk siapa saja, pria ataupun wanita. Dan semua hasil penjualannya 100% akan disumbangkan untuk penderita kanker.

Film I Am HOPE

I Am HOPE, Harapan yang Tidak Pernah Padam

Dari serangkaian aksi dan kegiatannya, 3 perempuan tersebut melanjutkan niatnya untuk menggarap suatu film yang mengangkat kisah seorang perempuan dalam melawan penyakit kanker. Film drama tersebut berjudul I Am HOPE yang akan dirilis 18 Februari 2016 mendatang.

Film ini diproduksi oleh Alkimia Production dan disutradarai oleh Adilla Dimitri, serta dimainkan oleh aktor senior seperti Tio Pakusadewo dan Ray Sahetapy, juga aktor muda berbakat Tatjana Saphira dan Alessandra Usman.

Film I Am HOPE berkisah tentang perjuangan Mia (diperankan oleh Tatjana Saphira), gadis muda usia 21 tahun. Mia divonis dokter menderita kanker. Di situasi tersebut ada seseorang Maia (diperankan oleh Alessandra Usman) yang terus memberinya semangat hidup dalam setiap tantangan menjadi seorang pejuang kanker.

***

Yuk, dukung gerakan Peduli Kanker dan ikut ambil bagian dengan membeli gelang harapan dan menonton film I Am HOPE di bioskop mulai 18 Februari 2016.

Dengan memakai gelang harapan, kita tidak hanya menyumbang tapi juga menyebarkan harapan baik bagi para pejuang kanker dan keluarga. Karena apapun cobaan yang menimpa hidup kita, bukankah Tuhan selalu mengajarkan kita untuk tidak pernah berhenti berpengharapan?

10 thoughts on “I Am HOPE, Harapan yang Tidak Pernah Padam

  1. Harapan itu bak tarikan nafas kita. Kuatnya semangat untuk menarik nafas, sekuat itu pula harapan kita. 🙂

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)