Haruskah Wanita Rutin Nyalon?

Mari sebutkan satu-satu salon, dokter, dan berbagai tempat kecantikan yang membuat wanita betah berlama-lama di dalamnya. Ada London Beauty Center, Natasha, Larissa, serta banyak salon-salon lain yang menyediakan perawatan wajah & badan yang super lengkap.

Sekarang, mari bertanya pada saya, pernahkah saya menggunakan jasa mereka?

Dengan kejujuran yang sejujur-jujurnya. Saya katakan tidak sekali. Hanya untuk menjajal facialnya saja? Tidak, terima kasih.

Masih cerita seputar liburan saya di Jakarta di Tahun Baru China kemarin. Ketika para wanita berkumpul dan bertemu dengan sahabatnya, pastilah bisa ditebak. Ngobrol ngalor-ngidul seputar, cowok, gebetan, kerjaan, teman kerja, teman-teman lama dulu ketika di kampus, dan satu lagi…. kecantikan.

Untuk yang terakhir itu, saya hanya bisa menjadi pendengar yang baik, tanpa sedikit pun ikut nimbrung.

Inilah kosmetik sederhana saya yang sudah mampu membuat saya terlihat cantik. *dilempar sisir*

Gimana enggak, kalau ketika mereka semua sibuk merawat wajah, rambut & badannya secara rutin di salon ternama. Serta kotak kosmetiknya didominasi dengan produk salon ternama tersebut. Sedangkan saya, sudah sangat puas dengan membersihkan wajah setiap malam dengan produk lokal seharga 8000 rupiah (itupun kadang suka lupa), mengeramasi rambut 2 hari sekali dengan produk biasa, serta paling malas ke salon sekalipun untuk creambath atau facial.

Saya adalah satu-satunya anak perempuan di rumah ini, seharusnya saya dan mama bisa kompakan nyalon bareng dong ya.. Seperti teman-teman saya dan mamanya itu. Tapi ternyata tidak sodara-sodara.

Beruntung saya punya mama yang tidak cerewet urusan fashion & kecantikan. Kami creambath di salon, hhmm… setahun mungkin hanya 2 kali. Facial? Seumur hidup kami cuma mencoba sekali dan setelah itu kapok. Enggak enak banget.

Beruntung lagi, saya punya pacar yang tidak pernah juga meminta saya macem-macem untuk menghabiskan uangnya di salon atau dokter kecantikan. Ujarnya, “Lucu, masa ada sih bapak yang nyuruh anaknya ke salon karena bulan ini belum ke salon.”

Dan sesungguhnya, hal itu ada sodara-sodara.

Tetapi beruntung sekali lagi, itu bukan bapak saya. Karena beliau tidak pernah meminta mama atau saya untuk rajin nyalon. Bahkan ketika saya ribet untuk menurunkan berat badan saya, bapak protes habis-habisan. “Wong badanmu belum segede Suti Karno, ya berarti enggak gemuk.”

Kemarin saya dan mama berandai-andai, jika kami dapat rejeki nomplok, berapa persen ya yang kami anggarkan untuk nyalon?

Cukup 2%, yang terdiri dari creambath seharga 35.000 di salon sebelah. Beli kosmetik sederhana yang aman & enggak bikin ketagihan, serta pastinya tidak lebih dari 50.000 rupiah.

Lalu sisanya?

Kalau mama, langsung menuju supermarket dan belanja bahan-bahan makanan & masakin roti-roti buat kami serumah.

Kalau saya, langsung menuju toko buku terdekat dan memborong buku terbagus incaran saya.

Inilah sebagian buku koleksi saya, sisanya masih numpuk di rak dan siap menerima sumbangan.

>> Siapa yang mau membantu kami mewujudkan pengandaian itu? Langsung japri, nanti saya kasih no.rekening saya. 😉

One thought on “Haruskah Wanita Rutin Nyalon?

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)