Drama Gara-Gara Corona

drama gara-gara corona

Menteri Pendidikan sudah menginstruksikan supaya anak-anak tidak berkegiatan di luar sekolah. Ketuai IDAI juga sudah menginstruksikan supaya anak-anak tidak diajak ke tempat keramaian. Kenapa sih, kita susah sekali mematuhi?!? ujar saya dengan nada bergetar.

Tepatnya di hari Sabtu dua minggu yang lalu, sebelum status Indonesia dinaikkan menjadi tanggap bencana. Hidup saya tidak tenang. Hati gelisah bukan kepalang. Jelas-jelas Nadiem Makarim sudah kasih instruksi supaya anak-anak tidak berkegiatan di luar sekolah, lha kok sekolahnya Luna malah mau ikut lomba drumband tingkat TK se-Jogja.

Makin gemas lagi ketika saya mengutarakan hal ini di grup orang tua murid. Bukannya mendapat dukungan, tapi diminta untuk positive thinking aja. Gegap gempita di luar sana karena pemberitaan media yang berlebihan. Lagian anak-anak sudah latihan, kasihan kalau tidak jadi ikutan lomba. Dan 3 hari sebelumnya sudah ada rapat orang tua murid dan guru (yang saya tidak hadiri) memutuskan untuk tetap berangkat.

Wossaahhh…

Positive thinking, iya. Tapi tindakan preventif itu harus. Media di luar memberitakan ini dengan gegap gempita, bukan tanpa alasan. Karena ini memang kondisi gawat darurat yang butuh perhatian kita semua. Kenapa sih, susah banget menuruti?

Semalaman saya membujuk Luna supaya mau tidak ikut lomba. Tapi susahnyaa Dia menolak sambil nangis-nangis. Bahkan saya sudah membujuk dengan iming-iming mainan. Enggak mempan. Bercerita tentang betapa bahayanya virus corona itu. Malah justru bikin dia takut, tapi tetap tidak mau mengubah keputusan.

Akhirnya, dia tetap akan ikut lomba dengan syarat dan ketentuan berlaku yang berderet-deret panjangnya. Sebenarnya, saya enggak ikhlas. Bahkan pagi di rumah pun saya masih membujukinya. Ya sudah, bermodal doa. Semoga Tuhan melindungi kami semua.

Sampai di sekolah. Sambil menunggu rencana keberangkatan bareng-bareng. Tumben-tumbenan, orang tua murid semua dikumpulkan di ruang kelas.

Rapat darurat ternyata. Sekolah mendapat peringatan dari yayasan. Bahwa tidak boleh mengadakan kegiatan di luar sekolah itu artinya termasuk lomba. Ya iyalah.

Keputusan dipertanyakan lagi ke orang tua murid. Mau tetap lanjut, tapi ada risikonya? Atau batal ikut lomba, tapi anak tetap pentas internal saja.

Beberapa orang tua murid geng positive thinking bersikukuh tetap ikut lomba. Sedangkan saya geng logika preventif bersuara dengan nada bergetar bahwa saya menentang keras keikutsertaan sekolah di perlombaan.

Peluang anak-anak terkena virus ini memang kecil. Tingkat kematiannya juga rendah bahkan di bawah 0,5%. Tetapi mereka ini carrier virus yang besar. Kita tidak tahu, di luar sana mereka akan bertemu dengan siapa saja. Mereka habis dari mana, habis bertemu siapa. Tidak ada yang tahu. Lalu ketika pulang, bukan tidak mungkin membawa virus, padahal di rumah ada kakek-neneknya.

Bukan karena saya tidak bisa berpikir positif atau tidak percaya Tuhan. Tetapi Tuhan sudah memperingatkan kita melalui instruksi dokter dan pemerintah. Kenapa sih, kita masih ngeyel sekali. Kalau kita menyayangi anak dan keluarga, tidak bisa hanya dengan berpikir positif, tetapi harus bertindak preventif.

Kemudian beberapa orang tua yang tadinya berdiam mulai bersuara. Iya, saya setuju dengan mamanya Luna, Iya, saya juga berpikiran yang sama seperti mama Luna.

Hufttthh

Hingga akhirnya diputuskan. Satu setengah jam sebelum pentas. Masih di sekolah. Bahwa Luna dan sekolah batal ikut lomba.

Haleluya. Puji Tuhan. Alhamdulillah.

Saya mengirim whatsapp ke suami yang ada di parkiran dengan tangan bergetar. Hari itu, saya senanggg sekaliii.. Semakin senang ketika diinfokan, bahwa esoknya hari Senin anak-anak diliburkan. Padahal gubernur Jogja belum secara resmi meliburkan anak-anak sekolah. Tetapi sekolah Luna sudah berinisiatif lebih dulu.

Saya memang tidak kalau sudah berurusan dengan anak-anak. Instruksi dari dokter, pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang adalah mutlak harus dilakukan.

Sampai detik ini, Luna tidak pernah keluar dari rumah dan bepergian ke pusat-pusat keramaian. Belanja di supermarket pun saya tidak sanggup membawanya. Pernah sekali ke Indomaret saja. Selain karena itu jauh lebih dekat, antriannya pun tidak kiamat. Sebelum masuk, cuci tangan dulu. Dorong pintu pakai bahu. Tidak sampai 20 menit, langsung pulang.

Buat saya tidak ada urgensinya belanja di supermarket. Hanya sebentuk panic buying yang tidak diperlukan. Dan sebentuk usaha saya menafkahi perusahaan supermarket yang lebih besar dan sudah stabil. Padahal berbelanja di warung kecil sekitar rumah, itu lebih penting untuk membantu usaha mereka.

Selama ini, saya memenuhi kebutuhan pokok dengan belanja di warung dekat rumah. Belanja secukupnya. Gula, minyak, tepung, beras, telur, sayur, frozen food, daging. Ada semua. Tidak perlu jauh-jauh, umpel-umpelan, dan antri panjang. Lebih hemat energi, hemat biaya (jelas harga lebih murah, normal pula), dan sebentuk usaha saya melindungi keluarga.

Sedangkan untuk kebutuhan lainnya. Ada ecommerce yang menyelamatkan. Anw, gara-gara di rumah aja. Selain jadi boros tinta printer untuk ngeprint macem-macem printable. Saya jadi royal banget beliin Luna mainan.

Apa perubahan hidupmu gara-gara di rumah aja?

Semoga kalian dan keluarga sehat-sehat semua ya.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)