Cucu dan Kakek-Neneknya

Cucu dan Kakek-Neneknya

Masuk bulan Januari kemarin, hampir tiap weekend selalu sibuk banyak agenda. Entah menghadiri beberapa undangan pesta natalan-lah, anterin Luna field trip atau pentas nyanyi, jagong manten, arisan trah keluarga, dan macem-macemlah.

Yang biasanya dua minggu sekali pasti pulang ke rumah orang tua, tapi bulan ini susah banget nyari waktunya. Ketika saya yang bisa, gantian mereka yang harus ke luar kota. Ngapain dong, pulang tapi Luna enggak bisa quality time sama eyangnya.

Kalo lagi kangen Luna, mama saya sering kasih kode-kode via whatsapp. Mau beliin Luna es krim banyak, salah satunya.

cucu dan kakek-neneknya

Kalo udah gini, kadang saya suka ngerasa enggak enak. Yang dikangenin orang tua saya itu cucunya, bukan anaknya. Tapi rasanya kok sulit banget nyari waktu untuk mempertemukan mereka.

Tapi akhirnya dapet juga waktu ke sana. Di tengah-tengah weekdays, karena mendadak kami berdua ada tugas kerja ke Jakarta. Sebelumnya, hampir enggak pernah tugas kerja ke luar kota dalam waktu bersamaan. Ini berhubung eyangnya kangen, Luna ijin enggak sekolah aja. Nginep di sana beberapa hari, sementara kami tinggal pergi.

Seminggu kemudian, Luna kena demam pertamanya di tahun 2019. Enggak masuk sekolah, enggak les, dan batalin jadwal sama dokter gigi. Lalu siangnya, gantian eyangnya datang ke rumah kami.

Kangen cucu (lagi).

*

Grandchildren are the dots that connect the lines from generation to generation.

~Lois Wyse

Melihat hubungan Luna dengan eyangnya, saya jadi membayangkan hubungan para eyang dengan cucu-cucunya.

Suatu hari, ada temen yang cerita tentang kakaknya yang sudah lumayan lama cerai dengan istrinya. Keputusan pengadilan, hak asuh 2 anak ada di ibunya atau mantan istrinya.

Sebenernya idealnya itu, cerai antara suami dan istri, tapi tidak menceraikan hubungan anak dengan ayah atau ibunya. Kecuali, kalau ayah atau ibunya berpotensi mengancam nyawanya.

Hubungan mantan suami-istri ini boleh aja awkward dan penuh emosi. Tapi ketika harus mempertemukan anak dengan orang tuanya, bukankah sebaiknya diredam emosi-emosi itu.

Dan idealnya lagi, enggak cuma WAJIB mempertemukan anak dengan ayah atau ibunya. Tapi juga dengan kakek-neneknya.

Ya ampun. Sedih banget kubayanginnya.

Lebih-lebih ketika saking kangennya, kakek-nenek ini datang ke rumah mantan menantunya. Bel di pagar ditekan. Beberapa menit kemudian, mereka melihat kedua cucunya mengintip dari balik tirai jendela. Tapi kemudian kedua anak itu ditarik mundur oleh ibunya dan tidak diperbolehkan keluar. Karena di luar ada mantan suaminya, which is itu ayahnya sendiri.

Saking kangennya lagi, neneknya berseru-seru setengah memohon di depan pager rumah, “Kakak.. Ini Nini sama Aki.. Keluar dong..”

Dan pintu tetap saja ditutup.

CRY.

*

Lain waktu, bulik saya menceritakan kesedihannya enggak bisa ketemu lagi sama cucu-cucunya. Cucu pertama dan kedua. Cucu yang sejak bayi diasuh olehnya.

Anaknya bercerai dengan suaminya. Dan hak asuh kedua anaknya, jatuh di ayahnya. Tapi semenjak itu, anak-anak itu tidak pernah bertemu dengan ibunya, apalagi neneknya.

Sedih lagi, ketika bulik saya ini mengirim whatsapp ke mantan menantunya, menanyakan kabar cucu-cucunya. Pesan sampai, tapi tidak dibalas sepatah pun. Bahkan nomor malah dinon-aktifkan.

CRY.

*

Rasa sayang kakek-nenek ke cucu-cucunya itu TIDAK TERBATAS. Saking sayangnya, mereka akan memperlakukan cucunya sangat istimewa. Berbeda dengan perlakuan ke anaknya dulu.

Lebih royal, karena tidak punya tanggungan harus biayain hidupnya. Lebih memanjakan, karena tidak ada tanggung jawab membangun karakter anak. Lebih jarang marahin, karena ketemu juga jarang-jarang, masa cucu berulah dikit mau dimarahin.

Wajar kalau di rumah kakek-neneknya, cucu akan lebih caper, dikit-dikit merajuk, dan manjanya kelewatan. Karena mereka sedang melakukan bonding dengan kakek-neneknya.

Saya ingat perlakuan almarhum kakek-nenek dulu yang royalnya nggak ketulungan, bahkan sering saya manfaatkan. Paling seneng kalau pergi sama mereka, minta apa-apa pasti diturutin. Padahal mereka sudah dilarang-larang sama Bapak dan Mama, tapi ngelesnya, “Kan enggak tiap hari ngasih ke cucu.. Nggak papalah..”

Yes. Misi berhasil. lol

Sekarang pun Luna sama. Sering memanfaatkan moment bersama kakek-neneknya untuk mendapat perlindungan dari omelan saya. Memeluk kaki neneknya sambil berwajah sok memelas. “Utii.. Itu loh, Ibuk jahat.” Pengin gigit rasanya. Lol

Tapi momen-momen seperti ini sungguh berharga. Kakek dan nenek sedang melakukan bonding time dengan cucunya. Melukis kenangan indah di masa kecil cucunya, bahwa pernah punya kakek-nenek yang sangat baik hatinya. Dan mengukir memori bahagia, di masa tua kakek-neneknya, mereka punya cucu yang sangat lucu dan menggemaskan.

Membahagiakan orangtua itu tidak harus dengan materi yang berlimpah, atau uang bulanan yang tidak pernah lupa kita kirimkan. Tapi dengan memberinya kesempatan berinteraksi dengan cucunya pun, bisa jadi obat rindu yang paling mujarab.

Ketika mendengar kabar bahwa anak dan cucunya akan berkunjung, mereka akan menyiapkan segalanya dengan sempurna. Membuatkan masakan kesukaan anaknya, membelikan jajanan favorit cucunya. Dan ittinerary sudah dirancangnya. Jalan-jalan ke tempat ini-itu untuk menyenangkan cucunya.

Lalu coba perhatikan wajah orang tua kita. Ternyata kebahagiaan ini membuat mereka tampak lebih muda dan semakin sehat raganya.

Rasanya, ini adalah bakti kita pada mereka yang tidak terukur materi. Tidak pernah lupa memberi kesempatan kakek-nenek melakukan quality time dengan cucunya.

Sudahkah kalian pulang bulan ini?

11 thoughts on “Cucu dan Kakek-Neneknya

  1. Hai Noni, duh lama banget ya aku baru komentar di Blognya, hiks

    Btw emang namanya Kakek atau Nenek kasih sayangnya kadang melebihi kita orang tuanya. Seneng ya kalau ada yg lebih sayang dari kita ke anak-anak

  2. Wueh tak kira naik kura2 beneran, hehe

    Iya loh, kakek nenek memanjakan si kecil lebih dari ortunya. Bahkan, yg dilarang oleh ortupun, langsung diokein aja deh kalo sama kakek nenek. Dan aku ngerasain atau ngeliat kejadian ini oleh ibuku terhadap anak dari ponakannya hehe

  3. Ibu Bapakku lumayan dekat lah sama cucu2nya. Ya memang enggak sering nemplok, tapi kalau diajak keluar mau2 aja itu bocah. Beda sama aku. Aku gak dekat sama Mbah2 ku. Mungkin karena dulu gak sering dolan kali ya

  4. Huhuhu jadi inget almarhumah nenekku. Tapi memang sih mbak, nginep sama nenek itu bikin hepi, semua serba dimanja….Nanti pas kita yang jadi kakek nenek, bisa gak ya seperti itu juga

  5. Iyaah…
    Kalau telponan aja pakai video call yaa…demi bisa saling tatap antara eyang dan cucu.
    Duh,
    Terharu aku…

    Sungguh berbeda sekali saat aku belum punya anak dulu…

    Sehat-sehat selalu enyang kakung dan eyang utinya Luna.

  6. Bener banget, kakek nenek itu lebih sayang cucu daripada anaknya, alm. Bapa juga dulu sayang banget sama cucu-cucunya, saat ini anak-anak masih suka nanyain kakek, sedih banget ya kalau kakek nenek nggak bisa ketemu cucu karena percerain anaknya.

  7. Duh aku jd sedih tau cerita teman mbak itu
    Ini anak2ku juga jarang ketemu kakek neneknya yg dr ayahnya soalnya jauh jarak dan pesawat lagi mahal2nya huhuhu. Moga2 tahun ini ada kesempatan bawa anak2 nengok kakek neneknya.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)