Berburu SD di Jogja buat Luna

Berburu Sekolah di Jogja buat Luna

Fyi, tahun ini Luna masih TK, karena usianya masih 6 tahun. Baru akan SD ketika usianya sudah 7 tahun. Alasannya, sudah pernah saya ceritain di sini.

Masih satu tahun lagi melewati TK B, tapi saya udah heboh berburu SD di Jogja buat Luna. Sampe udah nyobain trial class SD segala. Sungguh niat sekali.

*

Sebenernya, sejak usianya 2 tahun kami sudah punya pandangan tentang SDnya besok. Sejauh ini ada 3 kandidat. Dan sudah sejak lama kepoin biaya masuk ketiga sekolah itu. Caranya? Tanya sama temen yang kerja di sekolah itu. Tanya sama temen yang barusan masukin anaknya sekolah di situ. Tanya langsung ke sekolahnya.

Banyak banget cara kita untuk cari tahu biaya sekolah sejak dini. Tergantung kitanya mau aktif atau mager.

Dari info-info itu, lalu pilih sekolah termahal dan hitung kenaikan inflasinya. Berarti angka itu jadi target nabung untuk biaya pendidikan SD-nya. Dengan asumsi, kalau jadinya sekolah di tempat yang biayanya lebih murah, tabungannya pasti cukup.

Selama beberapa tahun ini nabung, target biaya pendidikan SD sudah aman. Tinggal milih, jadinya mau sekolah di mana.

*

Temen-temen sekelas Luna di TK B kebanyakan sudah lulus tahun ini. Dari kekepoan saya, pulang sekolah nongkrong gaul ngobrol sama ibu-ibu yang barusan interview di salah satu kandidat SD. Lalu baru tahu kalau sekolah itu, yang secara grade kualitas tenaga pendidik dan fasilitas adalah yang paling rendah di antara kandidat lainnya. Ternyata biaya sekolahnya naiknya berkali-kali lipat. Melampaui inflasi biaya pendidikan pada umumnya.

Ini yang jadi trigger berburu SD sedini mungkin. Gimana dong dengan sekolah lainnya?

Langsung gercep cari tahu informasi biaya masuk tahun ini di kandidat SD lainnya. Paling enggak bisa lebih kebayang dan membantu untuk segera memutuskan. Apalagi kalau mau sekolah di SD swasta, pendaftaran sudah dibuka sejak Oktober. Enam bulan banget. Untuk masa depannya selama 6 tahun.

*

Kemarin saya sempet nanya di IG Stories, apa saja pertimbangan temen-temen ketika mencarikan sekolah untuk anak. Beberapa respon temen-temen, saya simpulkan dan tanggapi di sini yaa..

1. Lokasi

Masih SD ya.. Location is really matters. Kalau terlalu jauh, artinya harus bangun dan berangkat sepagi mungkin. Belum nanti pulangnya dia harus nahan-nahan kantuk di jalan.

Ini juga yang jadi salah satu pertimbangan. Karena alternatif sekolah yang paling bagus itu jaraknya jauh dari rumah, butuh waktu 45 menit sekali perjalanan. Sudah include dengan trafficnya. Sementara itu, sekolah yang cuma 10 menit perjalanan, secara kualitas tenaga pendidik, pendidikan karakter, dan fasilitas masih jauh dibanding yang lain.

Bingung kan, akutuu..

2. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter untuk anak usia SD itu penting banget. Karena ini yang jadi pondasi untuk masa depannya kelak. Ketika guru menaruh concern yang besar terhadap hal ini (enggak cuma ngejar akademik aja), maka muridnya bisa mencontoh sikap-sikap positif guru ini.

Seperti bagaimana tanggapan guru ketika melihat bullying, judging, atau kekerasan di antara anak-anak. Cuek aja atau menunjukkan empati. Termasuk gimana sikap guru itu sendiri. Ada kasus anaknya temen yang mogok enggak mau sekolah, karena yang melakukan tindakan bullying itu gurunya sendiri. Celetukannya bikin mental breakdown.

Serem banget deh..

Jadi cara cari tahunya gimana? Bisa kepoin dari temen-temen yang anaknya udah disekolahin di situ. Atau mengamati sifat anak-anak yang bersekolah di situ.

Enggak cuma akademik aja yang dilihat. Percayalah, pinter dan cerdasnya anak tidak ditentukan dengan seberapa mahal atau murah sekolahnya. Tapi dipengaruhi sama genetika dan stimulasi orang tuanya.

Tapi kalau karakter, sangat dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Di rumah dan sekolah.

3. Diversity

Sebelumnya saya enggak kepikiran ini. Tapi setelah salah satu temen bilang pengin nyekolahin anaknya di sekolah yang lebih beragam culture dan tingkat sosialnya. Baru deh mikir, iya juga ya.. Supaya anak enggak temenan sama anaknya orang-orang kaya doang. Dan ini bisa lebih membangun mentalnya.

Saya enggak kepikir ini sama sekali. Karena meski dulu sekolah di SMA yang SPP-nya tingkat-astaga-terimakasih-bapak-bisa-bayar-tanpa-telat. Saya sama sekali enggak punya geng yang isinya anak-anak kaya. Enggak ada pembicaraan liburan kemarin abis dari Singapore atau Hongkong. Blass.. Mereka pake sepatu Gosh, sementara saya cuma pake Piero juga enggak ada judging sama sekali. Ada yang bikin sweet seventeen party, tapi ada yang enggak, juga santai aja.

Tapi ternyata ini matter banget ya.. Saya juga enggak pengin nyekolahin anak yang ternyata nanti tiap bikin birthday party, trus saingan hampers. Atau kelar liburan, lalu saling pamer habis liburan di negara mana.

Untuk cari tahu hal ini bisa nyontek cara yang dilakukan mamanya Maudy Ayunda pas mindahin Maudy ke SD yang lebih membumi (menurut versinya). Yaitu nongkrongin kantin sekolah dan tempat tunggu penjemput atau orang tua. Dengerin obrolan mereka. Trus nilai sendiri. Apakah kira-kira kita bisa bergabung dengan mereka, atau justru jadi beban untuk saingan stationery, saingan hampers, saingan liburan, saingan sepatu dan tas, dll.

Di salah SD kedua yang kami survey, saya dateng saat hari KBM berlangsung dan jam pelajaran hampir kelar. Jadi kelihatan itu orang tua para penjemput. Diamati style fashionnya. Kalo biasa aja, ya berarti kemungkinan besar, pergaulan mereka juga biasa aja..

4. Sekolah Swasta, Sekolah Negeri, Sekolah Agama, Sekolah Nasional

Buat saya sekolah swasta itu bukan tentang trend. Tapi balik lagi ke prinsip dan pilihan keluarga masing-masing. Ada yang milih sekolah negeri aja, lebih murah, dan halah semua SD itu sama aja. Ada juga yang milih di sekolah swasta, karena fasilitas jelas lebih komplit dan terawat. Dan ada juga yang memilih sekolah agama, karena bisa melengkapi ajaran dan pendidikan agama yang kita ajarin di rumah.

Saya sendiri punya prinsip dan pilihan untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta berbasis agama. Karena history kami berdua dulu SDnya di sekolah swasta berbasis agama, dan hasilnya bagus. Kenapa enggak dilanjutin untuk anak sendiri?

Jadi plis, jangan ada lagi pertanyaan-pertanyaan kenapa enggak pengin nyekolahin anak di SD negeri. Bukan karena kami “ngaya”. Woy! Nyekolahin anak di sekolah swasta itu bukan perkara gaya-gayaan. Tapi ya prinsip dan pilihan itu tadi.

Lagian, sekolah negeri yang katanya nasional itu. Kenyataannya makin lama makin agamis. Jadi, enggak deh.. Sekolah negerinya disimpen untuk SMP, SMA, dan kuliah aja.

Ohya, sebenernya bisa aja milih SD swasta nasional yang tidak lebih nasional dan tidak terlalu agamis. Tapi biasanya sekolah swasta nasional gini jatuhnya jauh-jauh-jauh lebih mahal, ketimbang sekolah swasta agama. Kalau sekolah swasta berbasis agama, subsidi silang di dalam Yayasan sangat kuat. Makanya sering nemu kan, sama-sama sekola A tapi beda tempat, beda harga.

5. Biaya

Jadi salah satu faktor penting juga. Karena pilihan SD anak pertama bakal mempengaruhi SDnya anak kedua. Biaya USPPnya mungkin bisa aja bayar. SPP di tahun pertamanya mungkin juga enteng. Tapi perlu diperhatikan, SPP itu biasanya selalu naik minimal 10% tiap tahunnya. Tinggal dikali aja, jumlah anak setelah adiknya nyusul sekolah di situ.

Kalau SD negeri seleksi masuknya dari usia. SD swasta, siapa aja bisa masuk asal bisa bayar. Makanya selalu ada sesi wawancara antara orang tua dan guru bagian penerimaan siswa baru. Tinggal pinter-pinternya nego di situ. Kalau mau ngejar SPPnya rendah, tinggiin USPPnya. Kalau mau ngejar USPPnya rendah, biasanya SPPnya jatuhnya agak tinggi.

Ada temen TKnya Luna kembar masuk SD semua tahun ini, dan kakaknya masuk SMP juga. Semuanya di sekolah swasta. Bisa kebayang kan gimana biayanya, 3 anak sekaligus. Tapi karena bisa nego dan meluluhkan hati guru, jadi kena biayanya murah banget. Jauh di bawah rata-rata USPP siswa baru lainnya.

Keberadaan kakak yang masih sekolah di situ, atau udah alumni juga bisa memperingan biaya. Disampein aja pas sesi wawancara. Sayangnya, calon-calon sekolahnya Luna bukan SD kami dulu. Dan dia anak pertama, enggak punya pendahulu. Gimana ya, besok wawancaranya…

*

Masih ada waktu sekitar 5 bulan lagi sebelum bener-bener masukin formulir pendaftaran ke SD. Sampai sekarang sudah mendekati keputusan sih, mau nyekolahin Luna di mana. Cuman Luna-nya yang masih bingung. Katanya, sekolahnya kurang bagus. -___- Fisik banget sih, anakku nih..

One thought on “Berburu SD di Jogja buat Luna

  1. Halo mam. Saya juga sedang dilema dengan calon sd anak saya besok . Kebetulan , sekolah2 yg bagus lokasi jauh dari rumah, .saya jg lebih condong k swasta berbasis agama . Kalau boleh tau, kak luna sekolah dimana jadinya

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)