Ambisi Ibu Milenial

ambisi-ibu-milenial

Sebagai ibu milenial, saya dulu punya keinginan untuk beliin balance bike untuk Luna. Menurut bacaan yang banyak saya baca, dan menurut para parenting influencer yang saya ikuti, balance bike itu baik untuk mengasah keseimbangan anak. Sehingga saat dia nanti belajar sepeda roda 2, akan lebih mudah.

Hingga tiba-tiba, ibu mertua datang ke rumah dengan surprise-nya. Bawain sepeda roda 4 untuk Luna yang saat itu masih berusia 3 tahun. Katanya, abis dapet arisan. Ya wajarlah, kalo dapet rejeki kakek/nenek pasti pengin nyenengin cucunya.

Mau ditolak atau diprotes, jelas enggak bisa dong ya.. Apalagi diterima trus dijual lagi. Aduh, sama sekali enggak pernah terbersit di kepala saya, hanya supaya lebih kekinian atau terkesan ibu milenial.

Akhirnya, keinginan untuk punya balance bike saya kubur. Pakai sepeda roda 4 ini aja juga bisa kok. Lha toh, dulu kita-kita ini belajar sepeda roda 2 awalnya juga dari roda 4 dulu. Dan bisa-bisa aja kan… Selain itu, saya juga enggak terlalu ambisius untuk anak harus bisa cepet bisa naik sepeda roda 2. Lha wong saya dulu baru bisa naik sepeda roda 2 pas kelas 1 SD. Pokoknya terserah dia, sebisanya mau pengin bisa kapan.

Sampai tiba-tiba kemarin Luna minta roda kanan-kiri sepedanya dilepas. Mau belajar naik sepeda roda 2, katanya. Dan kami menurutinya. Meluangkan waktu, mengajarinya sesore, dan ternyata dia beneran bisa. Wawawaaa…. Aku bahagiaa… Dari dulu emang motorik kasarnya lebih cepet, tapi enggak pernah menyangka akan secepat ini.

Dari sini saya menyimpulkan. Bahwa cepat-lambatnya anak bisa naik sepeda roda 2 bukan dari apa jenis sepedanya, tapi tergantung semangatnya dan keinginannya.

Luna-naik-sepeda

Kemudian saya mikir lagi, betapa banyak sekali hal-hal yang saya inginkan. Karena sebagai ibu milenial, rasanya kok kurang sah kalau saya tidak melakukan beberapa hal yang biasa dilakukan oleh teman-teman atau parenting influencer.

Oke, sebelumnya. Yang belum tahu, ibu milenial itu apa.

Jadi, ibu milenial adalah wanita dengan tahun kelahiran antara 1980-2000an yang sekarang ini sedang hangat-hangatnya jadi ibu muda. Ibu milenial sangat akrab dengan teknologi informasi, biasa dan terbiasa pakai internet untuk menunjang kehidupannya sehari-hari.

Sungguh kita banget yess..

Kebanyakan ibu milenial tidak ingin membesarkan anaknya seperti cara mereka dulu dibesarkan. Beberapa ilmu dan pengetahuan baru yang didapat, membuat ibu milenial pengin membesarkan anaknya dengan caranya. Sesuai dengan ilmu dan penemuan baru yang dia baca sekarang ini. Seperti cerita balance bike idamanku tadi.

Makanya, enggak jarang juga kita nemuin crash antara ibu-ibu generasi kita dengan orang tua kita. Perbedaan pola asuh. Saling ngotot bahwa begini loh, cara yang bener membesarkan anak. “Kamu cuma menang banyak baca aja, kalo ibu udah menang pengalaman, gitu dikasih tahu susah bener.” Dan lain sebagainya, contoh crash yang lain.

Meski sebenernya, crash ini enggak cuma terjadi di zaman sekarang aja. Dulu mama saya juga pernah crash sama nenek saya, tentang perbedaan pola asuh anak. Wkwkwkwk… Cuma bedanya, mama enggak se-rebell saya. Soalnya saya merasa punya modal yaitu buku, ilmu pengetahuan, dan informasi yang banyak saya baca di internet.

Baca juga: When Mother vs Mother

Ciri-ciri ibu milenial yang saya amati nih ya..

  •  Wajib menyusui anak , apapun dilakukan demi bisa memberikan ASI ke anak. Kalau dulu, ASI seret ya udah pasrah aja. Sekarang sudah mulai sadar untuk konsultasi ke konselor ASI.
  •  Aktif memberi aktivitas edukatif ke anak , dari mulai yang DIY sampai beli mainan yang murce sampai yang mehong bambita. Bahkan anak masih balita akivitasnya sudah sangat edukatif dan membangun sekali, enggak kayak zaman kita balita dulu yang cuma dikasih Barbie aja udah seneng banget.
  •  Melibatkan ayah dalam mengasuh anak , karena kita-kita ini udah sadar bahwa urusan anak bukan cuma urusan ibu saja. Beda dengan zaman dulu yang ayah taunya cuma kerja dan menafkahi keluarga. Ibu milenial enggak segan-segan membiarkan ayah untuk mandiin bahkan nyebokin anak. Hahaha… saya sih, ini tepatnya.
  •  Sadar bahwa ibu juga manusia , jadi ibu juga butuh me time, hang out bareng sahabat, atau bahkan pacaran sama suami sementara anak dititipkan sementar sama pengasuh atau orang tua.
  •  Kritis , ketika terima suatu info enggak langsung diturutin mentah-mentah, tapi digali informasinya lebih lagi. Googling, baca buku, konsultasi dengan ahli, tanya dengan teman-teman di komunitas. Karena kebanyakan ibu milenial pendidikannya udah tinggi-tinggi, minimal S1, ples internet udah lancar.

Tapi lama-lama saya amati juga, banyak ibu yang sangat berambisi dan memaksakan dirinya untuk menjadi “ibu milenial”. Ketika ASI enggak lancar sekalipun sudah konsultasi, maka akan menyalahkan dirinya berhari-hari dan merasa belum sah jadi ibu. Memaksakan anak bermain dengan mainan-mainan edukatif yang sedang in, yang sudah kita beliin mehong-mehong demi menunjang kecerdasannya. Eh.. ternyata mereka enggak suka. Kita lupa, tidak semua mainan edukatif cocok dengan minat dan kesukaan anak.

Ketika membaca status ibu lain yang memuji-muja suaminya sendiri karena terlibat aktif mengasuh anak, kita lantas kelabakan. Merasa suami kurang sempurna, trus memaksa mereka melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayah-ayah lain di luar sana. Atau bahkan menuntut diberi hak me time, yang tanpa disadari ternyata kita keluarnya kelewat waktu.

Dan saking kritisnya, orang lain merasa kita ini ibu yang arogan. Merasa sok pinter karena baca banyak buku dan tahu lebih banyak berkat Google. Padahal pengalaman jadi ibu belum juga 20 tahun.

Kita lupa, kondisi tiap ibu berbeda, kondisi tiap keluarga berbeda, dan kondisi tiap anak juga berbeda. Berbeda dalam banyak hal. Latar belakang pendidikan, tumbuh-kembang anak, lingkup pergaulan, interest, juga beda tingkat ekonomi.

Baca juga: Tiga Tipe Ibu Muda Masa Kini

Saking kita dipapar sama informasi gaya parenting baru, lantas kita maksain diri beli balance bike, padahal duit cukupnya cuma buat beli sepeda roda 4. Memaksa beli ergo, padahal sebelumnya pakai gedongan jarik juga enggak ada masalah. Ya kalau emang ada duitnya ya nggak masalah. Tapi kalau sampai maksain diri dan maksain anak itu baru jadi masalah.

Tidak memberikan anak balance bike, tidak serta merta membuat anak lambat belajar sepeda roda 2 juga. Tidak menggendongnya dengan ergo, tidak membuat bentuk tubuhnya jelek juga. Toh, zaman kita dulu, apa ya kita bayi digendong pake ergo. Enggak juga kan..

Tidak memberikan anak pushwalker juga tidak serta merta langsung membuat kaki anak jelek. Fyi, zaman Luna belajar jalan dulu, saya enggak pake pushwalker, tapi babywalker yang banyak dihujat orang itu. Soalnya saya kudet, enggak kenal pushwalker, sama petugas toko peralatan bayi juga enggak disuggest pushwalker. Hahaha.. Tapi ternyata dia cepet banget bisa jalan, dan sampai sekarang bentuk kakinya baik-baik aja.

Memberikan dot untuk ASIP anak juga tidak lantas langsung membuatnya bingung puting. Dia tetap minum ASI sampai usianya 2 tahun. Sampai detik ini, saya berkeyakinan bahwa bingung puting atau tidak itu faktor terbesarnya adalah takdir.

Dan termasuk memerah ASI di kantor, saya manual dengan tangan alih-alih dengan pompa elektrik Medela atau merek apalah itu, justru membuat ASI saya lebih banyak keluar dan lebih cepat selesai proses pumpingnya.

Baca juga: What Working Mother Want

Lalu apakah dengan melakukan semua itu, lantas membuat saya tidak sah disebut ibu milenial?

Hahaha.. Aku enggak peduli…

Jadi ibu milenial zaman sekarang itu godaannya buanyak banget. Terutama godaan idealisme dan komoditi ekonomi yang semakin menguras kantong kita. Karena anak itu komoditi yang sangat potensial. Orang tua pasti akan memberikan apapun, semahal apapun, demi masa depan anaknya. Keliatan dari harga TK yang gila bangss… bikin aku mau pengsan. Di sekolah cuma 4 jam, tapi bayarnya sama kayak anak kuliah yang bisa seharian di kampus.

Doa saya sekarang, semoga saya dijauhkan dari hal-hal yang menggoda iman untuk boros dan mudah terpengaruh, akibat follow banyak parenting influencer. Apalagi saya tahu, mereka dibayar untuk itu. Dan belum tentu juga, apa yang mereka gunakan akan cocok untuk saya.

Yang terpenting, konsumsilah sesuatu sesuai kemampuanmu, kalau mampu ya monggo, kalau enggak ya enggak usah maksa. Asalkan, jangan pernah merasa bahwa pilihanmu salah. Karena anak enggak melihat itu. Bagi mereka, waktu yang disediakan orang tua untuknya, jauh lebih berharga ketimbang mainan dan sekolah yang mehong bambita sekalipun.

Selamat hari ibu, para ibu milenial.

2 thoughts on “Ambisi Ibu Milenial

  1. Waktu anak-anak saya masih kecil, sepertinya gak ada balance bike. Tapi banya yang pakai sepeda roda 3. Suami gak setuju. Mending langsung roda 4 aja. Waktu itu alasannya biar gak keseringan beli sepeda hehehe. Tapi kami juga santai, gak mengharuskan anak bisa sepeda roda 2 di usia tertentu.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)