What Working Mother Want

 photo what-working-mother-want_zps10rafvy9.jpg

Lagi rame banget ya Working Mother vs Stay at Home Mother. Mau ikutan bikin rame juga ahh…. Tapi bukan ngomongin baik-buruknya. Itu kan urusan personal masing-masing orang.

Saya mau tulis tentang ini aja “What Working Mother Want”. Karena kami juga manusia, yang punya hati dan keinginan. *apaan sikk…* lol

1. Cuti melahirkan minimal 3 bulan, syukur-syukur bisa 6 bulan.

Kalau enggak salah, AIMI lagi mendorong pemerintah untuk mengesahkan cuti melahirkan 6 bulan kan ya… Demi suksesnya pemberian ASI eksklusif 6 bulan. Walaupun ada pro-kontra, termasuk dari kalangan wanita sendiri, saya sih mendukung 100%.

Ehh… enggak usah ngomongin cuti 6 bulan dulu deh. Masih ada juga loh, kantor-kantor yang cuma kasih cuti melahirkan 2 bulan. Hiksss…. :'(

2. Tempat yang nyaman buat pumping, tanpa judging.

Maksudnya adalah kantor yang menyediakan ruangan untuk ibu-ibu ini pumping. Enggak harus ruangan khusus sih.. Minimal ruangan yang bersih dan tertutup.

Kantor saya sendiri enggak ada nursing room. Tapi saya dulu pumping di ruang meeting dan mushola. Tentu pada jam-jam enggak dipakai loh yaa… Tapi kalau dipakai semua, ada temen-temen lain (bahkan termasuk CEO-nya) yang mau meminjamkan ruangannya untuk tempat pumping. Yeay!

Miris deh, lihat ibu-ibu yang terpaksa pumping di kamar mandi. Atau bahkan berhenti menyusui karena enggak dibolehin meluangkan waktu untuk pumping.

Paling miris lagi kalau saat kami pumping, diomongin temen-temen kantor. Dibilang kami mencuri jam kerjalah, atau enggak niat kerjalah. Hishhh…. Dulu pernah dicurhati temen tentang ini. Trus ikutan bete jadinya.

3. Bisa pulang tempat waktu tanpa judging dari teman kerja.

Ketika udah menikah dan punya anak itu yang diurusin semakin banyak. Makanya, ibu-ibu pekerja akan berusaha memanage waktu kerjanya semaksimal mungkin, supaya bisa pulang tepat waktu dan enggak perlu lembur.

Lah, kalau bisa pulang tepat waktu kenapa ditelat-telatin. Dan kenapa juga musti diomongin. Kan jam kerjanya usah abis.

4. Suami yang tahu, bisa, dan mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga bergantian.

Urusan rumah tangga enggak cuma urusan kaum perempuan aja. Hari gini gituhh… Chef aja banyakan cowok. Lol. Besok kalau punya anak cowok, bakal saya ajarin masak dan bersih-bersih rumah. Biar dia tahu bahwa cowok enggak boleh anti sama pekerjaan rumah tangga, jadi bisa makin menghargai perempuan, istri, juga ibunya.

Balik ke ibu pekerja lagi. Ya karena kalau pekerjaan rumah tangga harus dihandle sama istri juga, gimana enggak kami bakal pingsan. Ya kalau ada ART, kalau ARTnya pulang, kalau ARTnya infal doang. Masa ya diluar hari-hari atau jam-jam itu harus istri semua yang ngerjain. Bareng-bareng yuk!

5. Daycare yang terjangkau lokasi, jarak, biaya, dan jam operasional.

Kalau ditinggal kerja, dan memutuskan anak bakal di daycare, tentu pemilihan daycare akan melalui serangkaian diskusi dan pertimbangan. Lokasi, jarak, biaya, jam operasional, dan pola asuh.

Paling bikin galau kalau lokasi, jarak, biaya, pola asuh, udah oke semua. Tapi jam operasional enggak cocok. Atau… biayanya enggak masuk. Bagaimanapun meski kami ini ibu pekerja, bukan berarti kami banyak duit untuk bayar daycare dengan biaya selangit. Lol.

Baca juga: 10 Alasan Kenapa Pilih Daycare

6. Ortu yang paham dan bisa menerima pola asuh masa kini, terutama masalah ASI dan MPASI.

Kalau memilih menitipkan anak ke ortu, kami juga mengharapkan mereka bisa menerima pola asuh anak masa kini. Tentang pemberian ASI, juga pembuatan MPASI no gulgar.

Walaupun pengalaman saya sih, lebih banyak dramanya. Makanya saya lebih milih Luna di daycare ketimbang sama eyangnya.

Baca juga: When Mother vs Mother

7. Nanny yang betahan, enggak main hapean, bisa diarahkan, dan sayang anak kita.

Trus kalau kita milih anak sama nanny di rumah, ya harapannya bisa dapat nanny yang enggak abis mudik terus enggak balik lagi. Enggak doyan nonton sinetron. Tahu bedanya waktu kerja dan pacaran. Mau upgrade ilmu parenting sama-sama kita. Dan yang paling penting, sayang sama anak kita seperti dia menyayangi dirinya sendiri.

8. Temen-temen kantor yang nggak nyinyir, gara-gara pas weekend atau bubar kerja kita enggak bisa gabung main.

Di rumah ada orang-orang yang lebih membutuhkan perhatian kami ketimbang mereka. Lagipula waktu kami muda dulu *((muda))*, kami udah puas hangout tiap Jumat malem, dan nonton tiap Sabtu malam. Kalaupun kami meluangkan waktu untuk me time main bersama mereka, tentu enggak tiap minggu atau bahkan tiap hari jugalah…

Ah, mungkin yang golongan nyinyir begitu, belum menikah dan belum pernah punya anak. Lol

9. Suami dan anak yang dengan bangga mengatakan, “Yes, my mother/my wife is a working mother. But she always care of me, and I’m proud of it.”

Pilihan kami untuk menjadi working mother tentu berdasarkan restu suami dan juga anak. Maka kami akan bangga sekali, ketika di tengah hempasan orang-orang yang memojokkan status working mother, mereka tetap mendukung pilihan kami ini, dan bangga dengan status ibu/istrinya sebagai ibu pekerja.

10. Tetangga & teman-teman SAHM yang enggak sotoy dan menceramahi bahwa kami harus seperti mereka untuk jadi SAHM juga.

Tiap pulang maleman dikit, digosipin, “Ihh… enggak sayang keluarganya itu. Pulang kok malem-malem, kasian anaknya.” Lalu endingnya akan diceramahi baik secara omongan atau status no mention, supaya kita lebih peduli sama keluarga.

Ahh.. sudahlah.. Urusi keluarga kalian sendiri aja. Karena kami yang lebih paham keluarga kami sendiri.

***

Ada yang mau lanjutin lagi? Soookk.. silakan! :)

Akhir kata ((dikira pidatoooo)), buat semua ibu-ibu SAHM dan working mother, love-peace-and gaul yaa… Muaachh…

 

20 thoughts on “What Working Mother Want

  1. mungkin aku jamannya tidak seperti sekarang, sekarang aku malah heran banyak orang nyinyir. tapi aku bekerja , anak2 tetap mendapat kasih sayang malah mereak bisa mandiri, bahkan setelah anak bungsuku berumur 8 tahun sudah gak pakai pembantu lagi. Kita bekerja sama dalam mengurus rumah. Akhirnya anak-anak jadi mandiri. Anak lelakiku gak pernah malu untuk menyapu, mengepel bahkan memasak

  2. Sukses terus yah mba utk working momnya, tapi semua status itu tetep ada aja yang nyinyirin. Jadi live your life and live mine hehe.. Balik lagi ke masing2. Ngga jarang jg ibu di rumah kaya saya dibilang ngga bisa bantu2 suami 😀

  3. Cuma satu mbak yang aku pengen. Cuma satuuuuu… *lebay*
    Bisa pulang pergi ke kantor tanpa harus kena macet yang nggilani. Jd waktu gak akan habis di jalan. Bisa berangkat agak siang dan tetep sampe ktr ontime. Bisa pulang ontime tp sampe rumah masih “sore”. Tapi kayanya kok gak mungkin ya klo liat jalanan jakarta sekarang *nangis*

  4. Yang no 8 itu juga harapan saya sebagai sahm, mbak. Belum lagi disindirin, “Kan seharian udah di rumah, masa iya nggak punya waktu buat kumpul2.” Seandainya mereka tahu kerepotan seharian di rumah itu pasti nggak bakal ngomong gitu ya.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)