Untuk Intan Olivia, Dari Aluna Gantari

Untuk Intan Olivia, Dari Aluna Gantari.jpg

Hai Intan Olivia Marbun,

Apa kabarmu di surga? Pasti asyik sekali ya di sana. Damai, tenang, tidak merasakan sakit sama sekali, dan tidak ada orang-orang ribut seperti di sini.

Eh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Luna, Aluna Gantari. Kita seumuran loh.. Lebih tua aku sedikit sepertinya. Hanya tua beberapa bulan. Jadi kamu tidak perlu memanggilku “kakak”. Andai kamu besok masuk SD, kita sepertinya bakal seangkatan.

 

Pagi itu Intan, kami bertiga (aku, Ibuk, dan Bapak) sedang bermain santai sambil membiarkan TV tetap menyala, padahal tak ada satupun di antara kami yang menontonnya. Hingga tiba-tiba Ibuk terdiam melihat breaking news yang memberitakan sebuah gereja Kristen di Samarinda dilempar bom molotov. Mata Ibuk menatap layar TV tanpa berkedip. Sampai-sampai, aku yang memanggilnya berkali-kali dicuekin.

Dari pembicaraan Ibuk dan Bapak, aku baru tahu, bahwa itu adalah gerejamu, Intan. Gereja tempatmu bersukacita memuji Tuhan. Tempatmu dan orangtuamu beribadah rutin tiap Minggunya. Tempatmu besok akan merayakan natal bersama teman-teman.

Sama, Intan.. Aku juga suka sekali ke gereja. Aku selalu menantikan hari Minggu tiba, karena aku akan diajak Ibuk dan Bapak untuk Sekolah Minggu di gereja. Sementara Bapak dan Ibuk beribadah di gereja, aku dan teman-temanku akan berkumpul di ruangan lain untuk bernyanyi bersama, mendengarkan cerita Alkitab bersama, dan mengerjakan aktivitas seru bersama-sama.

Lagu favoritku, “Kingkong Badannya Besar”. Kamu pasti sudah hafal lagu itu, kan..

Kingkong badannya besar, tapi aneh kakinya pendek. Lebih aneh binatang bebek, lehernya panjang, kakinya pendek. Haleluya, Tuhan Maha Kuasa..

Untuk anak-anak seumuran kita, lagu ini sepertinya jadi lagu favorit wajib ya. Apalagi dinyanyikan pakai gerakan, lucu banget. Hahaha..

 

Sama sepertimu juga, Intan.. Karena Sekolah Minggu biasanya akan selesai lebih awal, maka sambil menunggu Bapak dan Ibuk selesai ibadah, aku dan teman-temanku bermain di halaman gereja. Bermain apa saja. Kadang kami memanjat pagar, kadang kami iseng memetik bunga dan daun di halaman gereja. Sambil tangan kiri kami menenteng hasil prakarya tadi saat Sekolah Minggu.

Tapi Intan.. aku benar-benar tidak menyangka, bahwa ada orang jahat yang mengganggu keasyikanmu dan teman-teman. Kalian tidak mengganggunya sama sekali, tapi kenapa dia mengganggu kegembiraan kalian? Aku heran, Intan.. Seharusnya ada BoBoiBoy datang dan menumpas kejahatan. Hingga Ibukku bilang, BoBoiBoy itu hanya ada di TV. Dunia ini bahkan lebih kejam daripada cerita di TV.

 

Aku juga mendengar dari obrolan Bapak dan Ibukku, orang jahat yang mengganggu kebahagiaanmu itu memakai kaos bertuliskan “Jihad”. Bahkan ya, Intan.. Aku tidak tahu apa itu “jihad”. Dan kenapa sih, orang-orang meributkannya. Sampai sekarang, ibukku tidak pernah menjelaskan ke aku tentang arti kata “jihad”. Dia hanya mengajarkanku untuk menjadi orang baik, taat pada orangtua, dan takut akan Tuhan.

Aku bahkan tidak tahu apa itu “agama”. Aku hanya mengimani apa yang sudah orangtua ajarkan ke aku sejak kecil. Mengikuti ritual yang selalu dilakukan orangtuaku setiap hari dan setiap Minggu. Lantas, apa itu salah? Enggak kan, Intan…

Menurutku, semua agama itu mengajarkan kebaikan, kedamaian, dan kerukunan. Bukan menyulut api kebencian dan pertengkaran. Kamu sepakat denganku kan, Intan..

 

Gara-gara kejadian di gerejamu ini, Intan… Aku sempat takut berangkat Sekolah Minggu. Aku sudah merencanakan bolos untuk tiduran cantik di rumah sambil nonton Doraemon. Tapi Ibuk bilang, jangan sampai perbuatan orang jahat ini membuat kita takut. Kita kan, ke gereja untuk beribadah, menjalankan ritual wajib agama kita. Tuhan pasti sedih kalau kita jadi malas ke gereja.

Ibuk juga menenangkanku, katanya nanti ada Pak Polisi yang akan bertugas dan berjaga untuk mengamankan gereja kita. Pak Polisi itu sayang kita, meskipun berbeda agama. Dan aku, sayang mereka.

 

Dari obrolan Ibuk dan Bapakku, aku juga tahu bahwa kejadian ini kemudian menyudutkan pemeluk agama Islam. Sebenernya aku sedih, Intan… Aku tahu agama Islam adalah agama yang indah, agama yang penuh cinta. Bahkan, bunda-bundaku di sekolah itu berjilbab loh… Dan aku sayang sekali sama mereka.

Belum lagi teman-teman kantor Ibukku yang 95% beragama Islam, mereka semua baik sekali. Kemarin aku ulangtahun, mereka memberiku kado lucu-lucu. Mereka juga mengizinkan Ibukku pulang lebih awal, karena harus ke gereja untuk pembekalan persiapan baptis aku. Mereka mengizinkan Ibukku untuk cuti kerja, karena mau ibadah Paskah. Dan mereka akan memberikan parcel isi banyak makanan, setiap hari natal tiba.

Ah Intan… aku sayang sekali kepada mereka. Jahat rasanya kalau kita ikut-ikut membawa agama mereka. Padahal mereka pun berduka sekali dengan kejadian ini.

 

Dan Intan… sepulang kerja hari Senin ini, Ibukku tiba-tiba datang memelukku. Aku melihat mata Ibukku sembab. Bukan karena dimarahi bosnya, tapi karena mendengar berita bahwa kamu telah pergi ke surga. Ibukku inget aku, inget aktivitas kami setiap hari Minggu. Sama persis seperti kalian sekeluarga.

Saat itulah aku sadar, bahwa kesedihan Ibumu adalah kesedihan Ibukku juga. Sekalipun ibu kita tidak saling mengenal ya, Intan.. Tapi seperti lagu Sekolah Minggu yang sering diajarkan..

Dalam Yesus kita bersaudara. Sekarang dan selamanya.

 

Biarlah orang yang menjahatimu itu diurus oleh Pak Polisi. Aku dan kamu, tidak mengenal kata “dendam”. Tuhan itu Maha segalanya. Dia yang akan menyelesaikan semuanya dengan jalan-Nya yang terbaik. Bukankah Tuhan tidak akan meninggalkan umatnya yang percaya kepada-Nya..

 

Selamat jalan ya Intan… Kamu pasti sudah bahagia di surga sana. Kamu disayang semua orang yang mencintai kesatuan negara kita Indonesia. Ayah dan Ibumu pasti sangat mencintaimu, tapi Tuhan lebih mencintaimu dan menginginkanmu untuk meramaikan surga dengan celotehan riangmu.

Kalau kamu ketemu dengan Kakek dan Nenek Buyut-ku tolong sampaikan salamku untuk mereka ya..

 

Lagi Intan, aku ingin menutup doaku untukmu dengan satu lagu Sekolah Minggu ini, yang aku yakin kamu pun sepakat dengan liriknya.

Tuhan, cinta semua bangsa. Semua bangsa di dunia. Haleluya. Kuning, putih, dan hitam, semua dicinta Tuhan. Tuhan cinta semua bangsa di dunia.

Semoga kita semua hidup rukun saling mencintai. Selama-lamanya..

 

Dari yang Mengasihimu,

Aluna Gantari

31 thoughts on “Untuk Intan Olivia, Dari Aluna Gantari

  1. Aluna…pintar sekali kamu, Nak.
    Tante menangis membaca suratmu untuk Intan Olivia.

    Iya Nak, jangankan kalian yang masih anak-anak, bagi Tante dan orang dewasa lainnya, perbuatan orang itu jahat. Jahaaat sekali. Sangat tidak masuk akal. Kenapa Ia melakukannya. Untuk apa??

    Tak habis2 jika Tante memikirkannya.
    Benar yang dikatakan Ibuk Luna, bahwa biarlah pelakunya diproses. Dan Tuhan juga pasti akan membalasnya kan, Luna?

    Sementara itu, semoga kejadian ini tidak akan terulang lagi ya. Semoga Luna dan anak2 lainnya bisa tenang beribadah di gereja.
    Dan semoga, kita semua selalu rukun. Iya, kita semua umat beragama yang tinggal di Indonesia.

    Peluk cium Tante untuk Luna :*

  2. Deep condolences.
    Semoga para penerus bangsa, anak anak kita lebih bisa hidup berdampingan tanpa kekerasan.

    Indonesia butuh lebih banyak cinta…
    Peluk Alunaaaa….

  3. Sedih membacanya, Mbak.

    Semoga kita bisa terus hidup berdampingan dengan damai tanpa ribut tentang perbedaan. Pengalaman membuktikan, perbedaan SARA bukan penghalang kita bisa berinteraksi dengan damai. Saat kuliah saya sahabatan dengan dua orang teman beda agama. Kami masih keep contact hingga saat ini. Di kantor pun atasan saya beda agama, tapi hubungan profesional tetap terjalin dengan baik.

  4. Luna,, :) memang orang yang mengaku dirinya lebih dewasa dari anak-anak namun fikirannya entah sudah berubah menjadi dangkal… Jihad sudah berubah arah menjadi hal-hal yang tidak lebih baik dari sekedar mencuri permen.

    Luna,, semua agama selalu mengajarkan kepada kebenaran,, dan fikiran orang-orang itulah yang sudah menjelma menjadi anakonda. Luna tetap semangat beribadah dan terus menjadi orang baik untuk diri luna, ayah-ibu luna, keluarga Luna, teman-teman luna dan lingkungan sekitar luna..

    Peluk cium untuk luna ….

  5. Nak, apa ya yang bisa tante bilang. Tante kehabisan kata-kata. Tante pun tak kuasa menahan air mata. Tapi Nak, percayalah di luar sana masih banyak orang-orang baik. Kamu tak boleh larut dan bersedih ya. Intan sudah tenang di sana. Dan si penjahat kejam itu sebentar lagi akan mendapatkan karmanya.

    Aluna, hingga kamu besar kelak, teruslah membawa pesan damai. Karena bersamamu dan anak-anak lainnya akan selalu ada cinta. Damai untuk nusantara.

  6. Ketika oknum sudah bermain, maka yang seharusnya tampak indah seperti pelangi menjadi abu-abu dan bahkan gelap seketika. Semoga Aluna selalu sehat ya dek.. Dan semoga negara kita dilindungi dari oknum-oknum pemecah belah bangsa.

  7. Mbak Noni menulisnya dari hati sekali. Sedihnya sampai terasa.

    btw, saya suka kalimat mbak Noni yang ini
    “Aku bahkan tidak tahu apa itu “agama”. Aku hanya mengimani apa yang sudah orangtua ajarkan ke aku sejak kecil. Mengikuti ritual yang selalu dilakukan orangtuaku setiap hari dan setiap Minggu. Lantas, apa itu salah? Enggak kan, Intan…”

    hehehehe :3

    turut berduka ya mbak, yang tabah dan sabar.

  8. Aku merinding bacanya, sedih juga, aku yang juga punya anak kecil seusia, ngerasa marah banget dengan tindakan ini.

    semoga di luar sana, tidak ada lagi yang bernasib seperti Intan. :'(

  9. Turut sedih dengan peristiwa pengeboman yang meninggalkan kematian, terlebih lagi anak kecil.
    Ikut mengutuk teroris yang bersembunyi di balik simbol/ atribut agama. Semoga Tuhan melindungi bangsa ini dari perpecahan krn isu2 SARA aamiin

  10. Luna sayang, jangan takut beribadah sekolah minggu ya. Akan ada banyak malaikat yang menjaga kamu, Nak.
    Kakak sedih baca suratmu untuk Intan, kakak juga ga berharap hal itu terjadi, dek.
    Doakan Intan tenang di Surga ya :’)

  11. Kesedihan yg tak terbendung ketika ada saja yg mengatas namakan jihad utk merusak apalagi sampai timbul korban.

    Semoga kita semua bisa hidup damai berdampingan tanpa ada perbuatan anarki seperti ini.

  12. Aku sedih.. tapi itulah dunia. Aku bahkan sempat mikir, tidak ingin anakku tinngal di dunia spt ini. not to have one of my own. better to adopt, or keep some kids whose parents can not raise them well. someday, maybe. #jadicurhat

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)