Tuntutan Anak, Tantangan Orang Tua

tuntutan anak tantangan orang tua

Beberapa minggu lalu saya yang baru tahu kalau anak SD kelas 1 sekarang sudah dapet mata pelajaran IPS. Kayaknya sudah lama ya, tapi sayanya yang oncem baru tahu sekarang. Ya enggak salah juga, saya kan belum punya anak usia SD.

Tapi pengetahuan baru ini sempat bikin saya kaget dan bertanya lagi untuk memastikan bahwa saya tidak salah denger. Iya, anak SD kelas 1 sudah dapet pelajaran yang dulu baru saya dapet di kelas 3, yaitu IPA dan IPS.

“Trus yang diajarkan apa?” tanya saya lagi sambil membayangkan mereka belajar tentang struktur pemerintahan, ketua RT, RW, Camat, Lurah, Bupati, Gubernur, Presiden.

“Ya belum sampe situ ya.. Mereka belajar mengenal keluarga dulu,” jelas teman saya.

Baca juga: Keuntungan Memasukkan Anak ke Sekolah Dasar Usia 7 Tahun

Sejenak saya mikir, gils banget anak sekolah sekarang pelajarannya berat-berat. Jadi wajar juga kalau banyak orangtua yang kelimpungan ketika anaknya kelas 1 SD belum bisa baca, karena tantangan pelajaran yang lebih berat menanti di depan mata. Meski teorinya: jangan cari SD yang mensyaratkan anak didiknya harus bisa baca-tulis. Tapi kenyataannya, kalau saya perhatikan banyak sekolah SD swasta favorit yang tes masuknya adalah baca, tulis.

Dan wajar juga kalau banyak orangtua yang sudah mengenalkan science kepada anak-anaknya yang masih berusia 3 tahun. Saat kita baru belajar tentang sistem pencernaan tubuh melalui pelajaran IPA di kelas 3 SD, anak-anak sekarang sudah mengenal lambung dan kerongkongan di usia 3 tahun!

Tuntutan kurikulum anak sekarang memang tidak seenteng zaman dulu. Mau kita protes sampai jungkir balik pun, selama bukan kita yang duduk di kursi pemegang keputusan, ya mau enggak mau pasrah juga dengan kurikulum yang berjalan sekarang ini.

Kalau banyak orang yang mengatakan, “Kasihan anak sekarang jangan dikasih beban pelajaran banyak-banyak, kodratnya mereka adalah main-main.” Tapi saya kok percaya, orangtua pintar punya banyak akal untuk mengenalkan segala hal yang menurut banyak orang “berat” itu, dengan cara yang lebih fun tanpa membebani anak.

Karena bukan pelajaran dan belajarnya yang salah, tapi cara kita mengajak anak untuk mencintai aktivitas ini.

Baca juga: Pertimbangan Memilih Sekolah untuk Anak

Dulu ketika saya melihat ibu-ibu yang rajin mengajak anak toddlernya bermain dan belajar mengenal science atau bahkan menghafal bendera negara-negara di dunia. Reaksi saya pertama adalah, “Wow! Apa enggak kecepetan itu? Anak balita itu kan tugasnya free play aja.”

Dulu ketika saya melihat anak balita yang udah lancar baca-tulis, reaksi saya bukannya iri, tapi judging “Nafsu amat sih, orangtuanya ini. Anak baru bisa baca kelas 2 SD itu masih kategori wajar juga kok.”

Dan itu dulu… Sampai akhirnya “kemakan omongan sendiri” is being my middle name. LOL

Saya berada di suatu titik yang yakin banget bahwa usia 0-6 tahun adalah tahap golden age. Otak mereka seperti spons yang mudah menyerap apa saja. Kebiasaan baik dan buruk. Serta segala macam ilmu yang akan berguna untuk masa depannya kelak.

Sebelumnya, buku Luna kebanyakan tentang cerita-cerita ringan yang sarat moral lesson. Seperti kebanyakan orangtua lainnya, saya ingin mengajarkan kebiasaan baik kepada anak melalui buku. Dan kalau saya membiarkan Luna memilih bukunya sendiri di toko buku, pilihannya selalu jatuh pada buku princess. Sampai lama-lama saya bosen sendiri. Dunia ini tidak selalu seindah cerita princess.

Mulailah saya membeli sendiri buku-buku anak tanpa mengajak dia. Memperkaya koleksinya, tidak hanya buku cerita ringan, tapi juga buku-buku jenis lain. Buku traveling, dinosaurus, planet-planet, ensiklopedia, anatomi tubuh, science, atlas, belajar calistung, dll.

Karena balik lagi bahwa otak anak usia 0-6 tahun itu seperti spons. Maka saya ingin mengenalkan banyak hal kepadanya, lewat buku. Berharap spons di kepalanya menyerap banyak ilmu, supaya besok ketika dia sekolah, dia akan lebih mudah belajar karena sudah pernah dikenalkan ketika masih balita ini.

Dan lama-lama ketertarikan dia terhadap anatomi tubuh dan negara-negara dunia mulai muncul. Pengenalan saya terhadap ilmu-ilmu yang dulu baru saya pelajari di kelas 3 SD itu, berlanjut ke aneka kegiatan, eksperimen sederhana, dan permainan. Menyusun peta Indonesia, mengurutkan planet, sampai mencocokkan anatomi tubuh.

Apakah ini jadi terlalu cepat atau nafsu banget untuk bikin anak lebih pinter?

Selama saya tidak memaksanya atau membuatnya harus duduk manis belajar hingga lupa bermain, maka berarti dia menikmati semua ilmu yang diserapnya.

Baca juga: Pentingnya Stimulasi Pada Anak Usia Dini

Mau enggak mau kita harus bisa berdamai dengan tuntutan kurikulum zaman sekarang. Jago bahasa inggris aja enggak cukup, karena bisa jadi keahlian bahasa asing lain akan lebih dihargai. Pinter baca-tulis aja juga enggak cukup, karena keterampilan untuk gemar membaca buku jauh lebih penting.

Sadar enggak sih, tuntutan pendidikan anak jadi tantangan orangtua.

Seberapa siap kita mengatasi tantangan ini? Karena mau enggak mau, suatu saat tugas kita enggak cuma nemenin mereka main dan nyuapin mereka doang. Tapi juga nemenin mereka belajar, serta membantunya mengerjakan PR, yang bahkan soal-soalnya pun belum tentu kita bisa jawab.

Membiarkan anak untuk free-play itu gampang. Tapi menumbuhkan anak yang mencintai proses belajar itu yang jadi tantangan. Dan belajar tidak hanya duduk manis di balik meja, tapi lewat aktivitasnya, lewat bermainnya, serta buku yang dibacanya.

8 thoughts on “Tuntutan Anak, Tantangan Orang Tua

  1. Di sekolah Tio, ada kelas khusus science dari kelas satu tapi itu pakai test juga.
    Kalau yang reguler, kelas tiga SD baru dipisahkan berdasarkan bakat dan minat yang diketahui dari hasil tes IQ dan EQ, seperti Tio sekarang di kelas tiga, dapat kelas art, yang semua mata pelajaran dengan metode visual/gambar-gambar dan lebih banyak belajar seni seperti batik, karawitan, murotal, dll.

  2. Anak-anak saya menikmati sekolah disini, secara sekolah disini lebih mementingkan life-skill untuk SD. Kerjaannya cuman maen, olahraga, seni, kerjasama, budi pekerti. Pokoknya tiap hari pasti seru ceritanya pulang dari sekolah

  3. Kalau saya, yang penting anak nyaman di sekolah saja itu sudah cukup. Orang tua jaman now juga harus paham bagaimana mengenalkan Allah kepada anaknya. Misal sering bawa anak ke masjid, dsb.

  4. kalau di sekolah agama mungkin lebih besar lagi tantangannya mak Noni. Karena pelajarannya akan lebih banyak. Yang jadi tantangan kalau pelajaran itu hanya menjadi pelajaran berkisar urusan teori bubar jalan wes. Eman2 bocahe hehehehe.
    duuh apalah aku ini, nggayi ngedumel sendiri di pojokan hahahaha

  5. Huaaahhh kok aku rada takut ya. Takut ga bisa mengarahkan anak utk belajar yg fun, ato ga bisa menjawab apa yg mereka tanya ttg pelajarannya.. Tp aku sadar sih, kita ga bisa melawan zaman teknologi. Makin kesini pasti kurikulum makin tinggi levelnya. Mau ga mau, suka ga suka ortunya jg hrs adaptasi dan belajar lg.. Sama2 belajar dengan si anak

  6. Memang berat tantangannya mbak, baik bagi ortu maupun anak. Tapi menurutku anak zaman now itu beruntung sedari kecil udah dikenalin ilmu-ilmu segala macem. Dulu aku umur 3 tahun manalah tau apa itu ABCD. Lha sekarang, bocah sepiyik udah pada bisa bedain huruf besar dan kecil.

    Yang penting kita nggak merampas masa-masa bermain anak, menurutku masih ok.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)