Tradisi Natal Keluarga

Natal ini saya libur super-panjang. Sepanjang libur lebaran biasanya, sekitar 10 hari. Dan aku senang, hahaha.

Tapi di hari pertama libur udah diawali dengan debat sama suami. Liburan panjang ini mau kemana? Udah arrange schedule mau staycation di Solo, ternyata voucher-nya udah expired sejak 21 Desember lalu. Kirain masih 31 Desember, ternyata aku salah baca. Kzl.

tradisi natal keluarga.jpg

Saya merasa sangat beruntung, sejak kecil hidup di 2 keluarga besar yang sangat heterogen. Keluarga dari mama, sebagian besar beragama Islam dan selalu ada kumpul keluarga besar tiap lebaran. Sama seperti lebaran di keluarga pada umumnya, ada sungkeman dan pembagian fitrah. Kalau dulu saya ngasih ke ponakan-ponakan, tapi enggak ada yang “balik”. Semenjak punya Luna, lumayanlah.. bisa “balik” karena Luna belum mudeng duit. :)))

Kalau keluarga dari bapak, sebagian besar beragama Kristen. Dan tiap Desember pasti selalu ada acara natal dan reuni keluarga besar di kota-kota tertentu. Paling sering di daerah Jawa Timur, karena bapak asli Banyuwangi dan saudara kebanyakan menyebar di sekitaran Jawa Timur. Yang tinggal di Jogja, cuma bapak sendiri. Akibat dulu dipaksa kuliah di Jogja, dan lama-lama keenakan di Jogja. :)))

Tahun 2016 ini, natalan berlangsung di Hotel Bintang Mulia, Jember. Tahun 2015 sebelumnya, di Puncak Ayanna Hotel & Resort, Mojokerto. Tahun 2014, untuk pertama kalinya diadakan di luar Jawa Timur, yaitu di Hotel Bhinneka, Jogja. Masih inget jelas, setengah mati saya sekeluarga nyiapinnya. >.< Tahun 2013, lupa di mana, karena saya enggak dateng. Dan tahun 2012, saat hamil Luna 3 bulan dibawa offroad ke Hotel Surya, Banyuwangi.

Acara selalu di hotel, bukan di rumah salah satu keluarga. Karena enggak bakalan muat. Yang dulunya cuma ada 6 keturunan, sekarang sudah beranak-pinak jadi ratusan orang.

tradisi natal keluarga.jpg
generasi cicit yang baru sebagian

Tradisi natalan dan reuni keluarga besar ini sudah berlangsung sejak bapak saya masih SD. Cerita bapak… Dulu akhir tahun pelajaran, selalu jatuh tiap bulan Desember. Sehingga libur natal pasti selalu panjang, dan anak-anak (termasuk bapak) pasti mati gaya di rumah. Oleh simbah saya, bapak dan kakak-adiknya dititipkan di rumah simbahnya (simbah buyut saya brati yaa) di Suwaru, Malang. Begitu pula saudara simbah lainnya, juga menitipkan anak-anaknya di sana. Senenglah bapak, kumpul bersama sepupu-sepupunya tiap akhir tahun. Jadilah, tiap Desember rumah simbah buyut saya ini penuh oleh cucunya yang liburan kenaikan kelas.

Lalu simbah buyut saya terpikir.. Mumpung Desember, kenapa enggak dibuat natalan keluarga bersama aja ya.. Biar lebih guyub. Biar hubungan kekeluargaan ini selalu terjaga sampai seterusnya.

Awalnya natalan keluarga ini cuma kumpul di rumah simbah buyut, lalu setelah simbah buyut enggak ada, tempat bergilir tiap tahun, pindah-pindah ke rumah anak-anaknya (simbah saya dan saudaranya). Setelah keluarga makin beranak-pinak dan rumah sudah tidak bisa menampung ratusan orang lagi, mulailah acara natalan pindah diadakan di hotel selama 2 hari 1 malam.

Dan hampir sama dengan acara natalan keluarga lain pada umumnya. Natalan di keluarga saya juga pasti ada tukar kado, bagi-bagi bingkisan, nyanyi-nyanyi, kebaktian natal, ajang para cicit menampilkan bakatnya, dan yang paling seru serta khas adalah.. Ada tabur uang. Itu selalu ada.

Kalau sebelumnya Luna masih enggak ngerti serunya tabur uang, dan dia masih anteng-anteng aja digendong kakung (bapak saya) sementara saya dan suami, berburu uang receh yang tersebar. Tahun ini Luna sudah lebih ngerti dan dia jadi nyebelin.

Hahahaha.. Iya nyebelin banget. Dia takut liat orang tiba-tiba teriak histeris dan mengejar receh-receh yang dilempar ke atas. Nangis dan minta pulang ke rumah. Yakali bisa langsung sampe rumah. -___-

Kalau beruntung, di koin ada yang ditempelin kertas bertuliskan angka: 2 untuk 2000, 5 untuk 5000, 10 untuk 10.000, 20 untuk 20.000, 50 untuk 50.000, dan 100 untuk 100.000. Nanti kami semua akan berbaris rapi dan menukarkan koin berstiker tersebut ke budhe-pakdhe yang hari itu sedang menjelma jadi Santa Klaus.

Dan cranky-nya Luna kemarin, bikin perburuan saya terhambat. Tahun ini saya cuma dapet recehan dikit banget, plus 2 koin dengan tempelan angka 2. Brati ada 4000 dan recehan yang kalau dijumlah cuma bisa dipake buat bayar parkir 1 jam di mall. Apes.

tradisi natal keluarga.jpg

Tradisi hari raya di keluarga besar seperti ini yang selalu saya rindukan tiap tahunnya. Meski di keluarga besar ini mayoritas Kristen, tetapi beberapa sepupu saya adalah penganut Islam dan mereka mengikuti acara ini dengan jilbab cantiknya. Ketemu saudara-saudara sepupu, dan melepas rindu setelah setahun cuma jumpa via sosmed. Tidak peduli apapun agamamu, yang penting kita ini keluarga.

Tiap kebaktian Minggu pagi dimulai, mereka tidak ikut dan menunggu di kamarnya masing-masing. Nanti setelah kebaktian selesai dan berganti acara natalan hore-hore, mereka mulai masuk dan ikut menggila di sana.

Saya tidak pernah berhenti bersyukur dilahirkan di keluarga yang amat heterogen ini. Tidak hanya dalam hal agama tapi juga suku. Sekalipun mayoritas Jawa, tapi om-tante saya banyak yang menikah dengan orang Sunda, etnis Tionghoa, Manado, bahkan beberapa juga ada yang sama bule.

Ketika semua disatukan dalam ikatan Keluarga Besar Tarmo Daud, tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan dan memicu perpecahan. Yang ada hanyalah peduli, kasih, dan mencintai.

Asyik ya, kalau terbawa sampai ke lingkup yang lebih luas lagi dalam hal berkebangsaan. Ketika semua disatukan dalam ikatan Warga Negara Indonesia, tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan dan memicu perpecahan. Yang ada hanyalah, peduli, kasih, dan mencintai.

Tapi untuk ke arah yang lebih luas itu, mulainya dari keluarga masing-masing.

Semoga kita bisa membangun keluarga yang rukun, damai, toleran, dan saling menghormati ya…

Selamat natal semuaaaa… Damai Tuhan beserta kita. :)

 

One thought on “Tradisi Natal Keluarga

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)