Tidak Semua Profesi Punya Seragam

Tidak Semua Profesi Punya Seragam

Alkisah ada suatu sekolah yang mewajibkan murid-muridnya untuk memakai baju profesi sesuai cita-cita anak. Semua orangtua kelabakan mencari baju profesi tersebut. Ada yang merogoh kocek dalam untuk membeli seragam pilot, ada pula yang meminjam seragam polisi milik anak tetangga. Padahal anak tetangga laki-laki, sedangkan anaknya perempuan. Enggak masalah sih, yaa… Polwan kan banyak yang pake celana panjang juga.

Semua murid memakai baju profesi yang punya identitas seragam. Polisi, pilot, tentara, pemadam kebakaran, dokter. Profesi idola dan populer saat saya masih kecil dulu. Eh, jadi inget lagunya Susan dan Kak Ria Enes, yang liriknya begini, “Aku kepengin pinter, biar jadi dokter.”

Tapi kemudian saya jadi penasaran, sebenernya baju profesi yang dipakaikan itu benar-benar sesuai cita-cita anak enggak sih? Bener enggak ya, orangtua udah nanya ke anak-anak mereka, “Kak, cita-citamu mau jadi apa?”, “Dik, kalau udah besar mau jadi apa?”

Untuk anak segede Luna yang kalau ditanya apa, jawabnya apa, enggak termasuk ya. Dia lihat kuda aja bisa bilang, “Luna mau jadi kuda.”

Tapi untuk anak-anak yang sudah berusia anak sekolah, which is usia 5 tahun ke atas, mereka pasti sudah bisa mengungkapkan cita-citanya, meski masih berganti-ganti tiap tahunnya.

Melihat kisah tadi, saya kok jadi menduga para orangtua itu tidak ada yang beneran tanya ke anak-anaknya tentang cita-cita mereka. Ketika mendapat perintah dari gurunya, “pakai baju profesi” yang terlintas di kepala adalah profesi mainstream yang ada seragamnya.

Padahal, profesi di dunia ini buanyaakkkk sekali.

Kalau anaknya pengin jadi petani, apa kita larang hanya karena alasan enggak punya seragam. Padahal baju petani malah lebih simpel, tinggal pakein encim/kaos partai putih dan jarik/celana pendek. Pake topi caping, bawa cangkul-cangkulan atau keranjang. Simpel banget bund… Petani juga profesi mulia. Kalo enggak ada petani, kita makan apa cobaa..

Kalau anaknya pengin jadi pengusaha, karena lihat ayahnya yang pengusaha, apa kita larang karena pengusaha enggak punya seragam yang jelas. Pengusaha mah, pake kaos dan celana jeans bawa hape, udah keliatan keren.

Kalau anaknya pengin jadi fotografer gimana? Uhmm.. Saya akan dandani dia pake celana jeans, kaos dan kemeja flanel, membawa tas ransel National Geographic dan kamera mainan. Plis, siapa sih yang enggak pengin jadi fotografernya National Geographic.

Nah, kalau anaknya kayak saya dulu yang pengin jadi pramugari. Mungkin saya akan mendandaninya dengan baju setelan batik aja, lengkap dengan rok panjang dan belahan tingginya. Hahaha, mamak sableng.

Sebenernya sih ya… perintah dari guru sudah jelas, “baju profesi” bukan “seragam profesi”. Baju dan seragam itu sangat berbeda. Tapi sayangnya, ini langsung diterjemahkan oleh orangtua ke profesi-profesi yang punya seragam, yang langsung kelihatan kerjaannya apa. Tidak akan salah, kalau memang anak-anak itu beneran pengin jadi polisi, dokter, atau tentara. Yang salah adalah kalau itu adalah keinginan orangtuanya supaya anak lebih “terlihat”.

Ohya, jadi inget sama program Kelas Inspirasi yang 2 tahun lalu saya pernah bergabung di dalamnya. Misi program yang digawangi oleh bapak Anies Baswedan ini adalah untuk mengenalkan aneka macam profesi ke anak-anak. Saya adalah editor, dengan cara sesimpel mungkin saya ajak mereka mengenal dunia buku dan editing. Ada temen satu tim saya yang seorang web designer, dia datang ke sekolah bawa kertas gulung gede untuk ajak anak-anak pura-puranya mendesign web.

And, fyi.. Editor dan web designer tidak punya seragam. Kecuali ada pembagian dari kantor, yang biasanya cuma kemeja atau kaos.

Balik lagi ke acara baju profesi tersebut.

Jika suatu saat giliran Luna dapat PR untuk pakai baju profesi, saya akan tanya dulu ke dia cita-citanya apa. Kalau dia emang pengin jadi dokter, ya saya carikan seragam jas dokter. Kalau dia pengin jadi penari, saya pakaikan baju adat lengkap dengan selendangnya. Kalau dia pengin jadi kayak Mark Zuckerberg, tinggal dipakein kaos putih dan celana jeans aja. Kalau dia pengin jadi tukang kayu, pakein kaos dan celana lengkap dengan perkakas tukang mainan. Eh, siapa bilang tukang kayu itu enggak keren, negara kita punya tukang kayu yang jadi presiden loh.

Naa.. paling simpel kalau dia pengin jadi Princess Sofia, tinggal cari dress ungu dan pakein kalung berliontin batu akik.

Huahahahaha. Kenapa harus batu akik juga sihh..

Sudahlah.. yang penting kita jadi orangtua yang follow the child dan berpikiran terbuka terhadap aneka profesi keren di masa sekarang ini.

Karena PR besar kita adalah tidak membatasi cita-cita anak dengan seragam.

17 thoughts on “Tidak Semua Profesi Punya Seragam

  1. Suamiku programmer dan nggak pernah pakai seragam, pake celana jeans sama kaos aja gitu. Bahkan Mark Zuckerberg yang tajir melintir aja nggak pernah pakai seragam karena bajunya juga itu-itu aja, hihi. Jadi kalo harus pakai seragam pas perayaan apa di sekolahan, bisa pakai kaos abu-abu sama celana jeans biar kayak Mark Zuckerberg, hihi.

  2. Hahahah..iya nih kenapa selalu ada yang tugas sekolah begini. Keponakan pernah nanya, saya pun mengusulkan supaya dia pakai kemeja biasa tapi bagian nama ditulis nama gurunya. Kalau ditanya ini seragam profesi apa, jawab “saya mau jadi guru seperti bu guru”. Mewek deh tuh gurunya

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)