Terapi dan Stimulasi untuk Tumbuh Kembang Anak

Terapi dan Stimulasi untuk Tumbuh Kembang Anak

Saya yakin, semua ibu mempercayai bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga sepenuh hati. Bahkan sampai melepas anak untuk menikah pun, nurani ibu pasti akan terus menjaganya, memastikan dia bahagia dan baik-baik saja bersama keluarga barunya.

Apalagi kalau anak masih benar-benar usia kanak-kanak, pasti ibu akan memastikan semua kebutuhan pokok anaknya terpenuhi. Kerja pagi sampai sore, demi masa depannya yang lebih baik. Melepas karir impian, demi menemaninya sepanjang hari. Bangun pagi buta, demi menyiapkan makanan untuk menjamin asupan gizinya.

Tidak perlulah saya sebutkan satu per satu semua pengorbanan ibu. Karena bentuk pengorbanan setiap ibu pasti berbeda-beda, tapi tujuannya sama. Demi anaknya.

Di setiap doa kita, pastilah terselip nama-nama mereka. Masa depan mereka yang lebih baik, kebahagiaan mereka yang menyertai, pendidikan mereka yang terjamin, kesehatan mereka yang terjaga, dan tumbuh kembang mereka yang sempurna.

Seperti teman saya satu ini, Kartika Nugmalia atau yang akrab disapa Aya. Bunda dari Shoji, Rey, dan Aisha ini juga selalu memastikan semua kebutuhan anaknya terpenuhi. Dia percaya bahwa kesehatan kunci masa depan anaknya. Dan saat ini dia sedang melalui proses ikhtiar untuk tumbuh kembang anak-anaknya yang sempurna.

Dua kali seminggu, tiap Selasa dan Jumat, Mbak Aya menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk terapi 2 anaknya, Shoji dan Aisha, kemudian dilanjutkan konsultasi dengan dokter anak. Shoji (5 th 3 bln) yang akan mulai masuk TK sebentar lagi, memiliki speech delay atau keterlambatan bicara. Sedangkan Aisha (8 bln), memiliki global developmental delay atau keterlambatan motorik.

Berawal ketika di usia 22 bulan Shoji mendadak diam seribu bahasa, semenjak kelahiran Rey, adiknya. Mengucapkan “Ayah” yang biasanya dilakukan pun dia enggan. Dan ketika screening awal di klinik tumbuh kembang anak, Shoji tidak merespon ketika diperdengarkan balon meletus. Begitu pula saat konsultasi dengan dokter THT, Shoji tidak merespon saat dokter mengetuk-ngetukkan pulpen juga tidak mencari sumber suara. Maka, dilakukanlah tes BERA (Brainsteem Evoked Response Auditory) untuk mengevaluasi syaraf pendengaran seseorang. Dan syukurlah, hasilnya pendengaran Shoji normal. Keterlambatan bicaranya adalah karena faktor psikologis, dan dibutuhkanlah terapi wicara untuk mengejar ketertinggalannya.

Lain lagi dengan Aisha. Awalnya Mbak Aya merasa aneh ketika di usia 3 bulan, Aisha tidak mengangkat kepalanya, padahal kakak-kakaknya di usia 4 bulan sudah mulai berguling. Pada saat itu sempat ada permakluman, karena riwayat Aisha dengan BBLR (berat badan lahir rendah) dan sempat kritis sehingga harus opname selama 14 hari serta mengonsumsi antibiotik. Tapi saat usia Aisha 6 bulan, dia masih belum bisa duduk dan tidak nyaman kalau didudukkan. Saat itulah Mbak Aya dan suami langsung konsultasi dengan dokter. Sempat pula, Aisha menjalani tes pendengaran OAE (Oto Acoustic Emissions) dan tes ASSR (Auditory Steady State Response), hasilnya kemampuan mendengar Aisha masih diambang normal. Sehingga kini PRnya adalah mengejar keterlambatan motoriknya dengan terapi.

Cerita tentang Shoji dan Aisha bisa dibaca di sini.

Terapi dan Stimulasi untuk Tumbuh Kembang Anak

Saat mendengar cerita Mbak Aya, saya tertegun. Mba Aya begitu jeli memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Padahal di luar sana, banyak juga loh.. orangtua yang tidak aware dengan kemampuan anaknya. Anggapan bahwa “entar juga bakal bisa sendiri kok” biasanya lebih dominan sehingga membuat terlalu santai.

Memang sih, tahapan perkembangan antar anak tidak bisa disamakan satu dengan yang lain. Ada yang 10 bulan sudah bisa jalan, ada yang harus bersabar sampai 15 bulan baru bisa lancar jalan. Ada yang 2 tahun sudah ceriwis, tapi ada yang 2,5 tahun baru mengeluarkan kata-kata ajaib. Ketika anak belum bisa ini-itu, ada orangtua yang sudah panik dan khawatir berlebihan. Tapi ada juga yang kelewat santai dan tidak melakukan stimulus apapun.

Kata Mbak Aya, dalam perkembangan anak ada semacam standar tertentu. Kalau tertinggalnya sudah terlalu jauh dan (istilahnya) sudah masuk dalam area red flag, orangtua harus benar-benar notice. Misalnya, bayi seharusnya sudah mulai babbling di usia 4 bulan. Nah kalau sudah usia 16 bulan tapi tidak bisa babbling, berarti kita harus waspada.

Mengesampingkan hal-hal tersebut, tanpa memberinya stimulasi dengan anggapan “nanti anak bisa sendiri” bukan solusi yang tepat. Ingat loh..kita punya PR untuk mengejar ketertinggalan mereka. Karena usia anak makin hari makin bertambah. Kasian dia juga kan.. kalau sosialisasinya terhambat karena keterlambatan tumbuh kembangnya.

Dengan background selama 5 tahun menjadi guru Paud dan TK itulah, Mbak Aya menyadari ada “sesuatu” pada anaknya. Murid-muridnya, di usia sekian kok sudah bisa ini-itu, sedangkan anaknya kok belum. Rasa penasaran sekaligus khawatir itu kemudian ditanggapi dengan cepat. Dia mengonsultasikan anak-anaknya ke Psikolog, Dokter Anak, dan melalui serangkaian macam tes, kemudian rutin terapi.

Buat kita yang tidak punya background apa-apa, sebenarnya bukan suatu halangan. Caranya banyaklah baca, sering cari tahu, perhatikan dan catatlah dengan rutin setiap detil perkembangan anak – syukur-syukur punya baby milestone book, dan jangan malu tanya sebanyak-banyaknya ke dokter, psikolog, guru, sekaligus pengasuhnya.

Kepekaan orangtua itu memang tidak datang seketika setelah anak lahir. Tapi kepekaan bisa diasah berjalannya waktu dan pengalaman yang menyertai dalam membesarkan anak.

6 thoughts on “Terapi dan Stimulasi untuk Tumbuh Kembang Anak

  1. Kalau ibu luna sih tulisannya udaaaah ajib.
    Alurnya mengalir sepertinya riak air sungai, syahdu, mendayu, namun ada kekuatan luar biasa di balik itu.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)