Tentang Stimulasi Anak

 photo 1484668932769_zpsl7id1zd1.jpg

Beberapa waktu yang lalu ada status yang viral di timeline saya. Tentang anak yang tidak pernah dibacakan buku hingga usianya 4 tahun, dan anak itu tidak tahu gambar-gambar dasar tentang buah dan sayur yang biasa ada di buku.

Saya menjadi salah satu orang yang ikut meramaikan viralnya, dengan membagikannya ke grup orangtua murid daycare Luna. Saya pun mengamini tulisan tersebut. Alih-alih menyuruh anak belajar membaca buku, lebih baik bacakan anak buku sedini mungkin usianya.

Pertama kali saya membacakan Luna buku yaitu saat dia masih di perut. Tapi setelah lahir, saya diribetkan dengan pertempuran ASIP dan lelah begandang, sehingga baru mulai kembali membacakannya buku di usia 3 bulan.

Baca juga: Kesalahan Penyebab Anak Tidak Suka Baca

Buku yang saya bacakan ke Luna sangat random. Ada buku cerita peri, barbie, binatang, dan saya juga beli kartu baca. Demi apa coba saya dulu beli kartu baca, di usia Luna yang masih 2 bulan.

Jadi, dulu sebelum punya anak saya pernah melihat video testimoniorangtua yang anaknya bisa baca bahkan sebelum dia bisa jalan. Itu karena anak itu dikasih lihat kartu baca sedini mungkin usianya. Semacam flash card berisi huruf abjad dan kumpulan kata, lalu dilihatin ke anak secara cepat. Saya takjub, dan tololnya langsung membeli flash card itu saat Luna baru bisa babbling.

Ya jelaslah, cuma bayi ajaib yang bisa cepet baca. Luna lebih memilih untuk meremas-remas flash cardnya, menyobek-nyobeknya, dan flash card itu tersebar di segala penjuru rumah. Kalau sekarang, jangan ditanya, sudah habis tak bersisa.

Anyway, di tahun 2008-2010-an flash card ini rame banget di toko buku, bestseller, dan jadi tren parenting. Mengajari anak membaca di usia superdini, sehingga anak bisa cepet bisa baca. Itu orangtua keren pada tahun segitu. Makanya, di sekitaran tahun segitu, buku belajar membaca jadi top 10 di tiap toko buku. Di rak dekat kasir, berjajar-jajar flash card dari berbagai macam bentuk. Masing-masing mencoba meraih hati para orangtua yang tidak ingin anaknya kalah bersaing di dunia yang makin pemilih ini.

Baca juga:Aktivitas Anak yang Melatih Otot Jari untuk Persiapan Belajar Menulis

 

Kembali lagi ke habit membacakan buku ke anak.

Di suatu perjalanan kami bertiga entah kemana, seperti biasa Luna mengoceh dan bertanya, “Ibuk, itu apa?”, “Kok kayak gitu ya?”, “Trus nanti gimana?”

Dan suami saya bertanya ke saya, “Anak yang sampai usia 4 tahun enggak pernah dibacain cerita itu, apa dia enggak pernah nanya-nanya kayak Luna gini ya?”

Iya juga ya.. Bukankah, stimulasi kognitif anak tidak hanya melalui buku. Bisa saja melalui robekan kertas bekas bungkus tempe, bisa melalui papan baliho di jalan, bisa melalui iklan di TV, bahkan bisa juga melalui stiker di mainannya.

Masa anak tidak bertanya? Atau mungkin sudah bertanya tapi pengasuhnya malas menjelaskan, dan orangtuanya sudah terlalu sibuk mendengarkan?

Sejujurnya, saya bukan anak yang tumbuh dengan buku. Di tahun 80-an, orangtua saya sangat mengirit pengeluaran dan buku adalah barang mewah buat kami. Lebih baik memasakkan saya ayam goreng, ketimbang membeli buku. Tapi seingat saya, saya dulu adalah gadis kecil yang banyak tanya, menjadikan TV sebagai sarana belajar sekalipun stasiun TV tidak sebanyak sekarang, dan saya dulu tidak mengenal Disney Channel atau Baby TV. Tapi juga, saya belajar mengenal berbagai macam sayur dan buah, melalui buku resep mama yang tanpa foto melainkan ilustrasi, dan itu menjadi satu-satunya buku yang mama punya untuk mewarnai menu makan harian kami sekeluarga.

Baca juga: Mengenal Metode Reading Aloud

Tanpa menampik bahwa buku adalah suatu hal yang penting bagi perkembangan anak, sebenarnya ada yang lebih penting lagi. Yaitu stimulasi yang diberikan orangtua kepada anaknya dengan sabar. Tanpa sabar, semuanya akan bubar.

Kalau kita lebih memilih membelikan anak flash card, bukankah itu bisa juga jadi sarana mengenalkannya pada berbagai macam benda. Karena beberapa flash card ada ilustrasi di bawah atau belakangnya, Apple untuk A, Bird untuk B, dan seterusnya.

Kalau kita lebih memilih untuk membacakan buku digital ke anak, bukankah sekarang aplikasi sarana belajar untuk anak ada banyak sekali. Saya punya beberapa list aplikasi anak yang wajib ada di handphone, kapan-kapan mungkin saya bagi reviewnya.

Dan kalau kita lebih memilih untuk membelikannya makanan atau mainan dan bukannya buku, sepertinya kapan-kapan perlu dijadwalkan mengajaknya ke perpustakaan untuk meminjam buku barang 1 atau 2 buah.

Karena menurut saya, di usianya yang masih dini, mereka harus dikenalkan pada banyak hal. Dan belajar dengan bermain bisa melalui apa saja dan dimana saja. Bisa di perpustakaan, bisa juga di pasar.

6 thoughts on “Tentang Stimulasi Anak

  1. salam kenal mbak Noni, bagaimana ya jika anak saya usia 2 th lebih suka mendengarkan cerita ketimbang membaca bersama-sama? Apakah kegiatan mendengarkan saya membaca sama saja dengan ikut membaca? karena dia tidak bisa diam kalau lihat buku maunya dibolak-balik haha.. Salam.

  2. noted ini mbak :)
    btw, pas hamil ini salah satu ngidamku adalah baca novel bahasa inggris. yaaa moga moga ntar anaknya pas belajar bahasa asing bisa cepet nangkep yak =D *ngarep* *biarin* *diaamiinin aja*

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)