Saya Setuju dengan Full Day School

saya setuju dengan full day school.jpg

Baru-baru ini menteri pendidikan yang baru, bapak Muhadjir Effendy mewacanakan program Full Day School untuk jenjang pendidikan dasar SD dan SMP. Lalu mendadak, timeline saya rame bahas tentang ini. Bahkan kalau kalian mau iseng search di google dengan keyword “Full Day School”, maka yang keluar di urutan teratas adalah berita-berita tentang hal ini.

Saya jadi ikutan tertarik untuk bahas tentang ini. Karena berbeda dengan kebanyakan ibu-ibu yang bertebaran di timeline, saya adalah ibu yang pro terhadap Full Day School.

Sebelum pada protes karena saya “berbeda”. Sebaiknya saya ceritain dulu kisah sebelumnya. Jadi sekitar setahun yang lalu saya pernah pasang status kayak gini.

Poin dari status itu adalah saya enggak mau nyekolahin anak ke sekolah yang pulangnya sore alias Full Day School. Saya pengin anak saya pulangnya siang aja, trus sisanya dihabiskan dengan bermain di rumah. Dulu aja tiap jam 3 sore saya selalu main ke luar rumah, maka saya pengin anak saya besok juga begitu.

Setelah nulis status itu, saya ngobrol dengan seorang teman yang seumuran, dan dia cerita kalo dulu ketika SD sekolahnya menerapkan sistem Full Day School. Saat itu, sekitar tahun 90-an awal, ketika Soeharto masih berkuasa dan setiap jam 9 malam tontonan di rumah adalah Dunia Dalam Berita. Jadi, Full Day School sebenarnya bukan wacana baru di dunia pendidikan. Sejak zaman dulu sudah ada, meski baru sedikit sekolah-sekolah swasta yang sudah menerapkannya.

Balik ke cerita teman saya. Dia mengaku tidak pernah merasa bosan atau tertekan dengan sistem sekolahnya itu. Semua dijalani dengan hepi-hepi saja. Tidak ada stres yang kemudian mengganggu prestasi. Inti dari obrolan kami itu adalah, memilih Full Day School itu masalah kebutuhan orangtua, pembiasaan, dan kesukaan anak.

Pembicaraan itu akhirnya sukses bikin saya mikir. Iya-ya… kalo besok Luna sudah SD, apa iya ditaruh di daycare lagi. Udah nggak bisa kali. Daycare di tempat Luna sekarang aja, maksimal cuma sampe TK.

Trus, apa mau pake ART? Padahal sampe sekarang saya enggak kebayang kalau ada orang asing tinggal serumah. Rasanya aneh.. Belum lagi saya enggak yakin juga ART bakal telaten antar-jemput Luna les ini-itu. Apakah ART bisa sabar menghadapi Luna yang ajaib aktifnya? Saya emang ibu yang sering enggak sabar dan nggak jarang juga marahin anak, tapi saya tetep ibu normal yang enggak terima kalo anaknya dimarahin orang lain.

Belum lagi gimana dengan pergaulannya di rumah. Bukannya saya ansos dengan tetangga (meski agak iya juga sih.. huahaha), tapi saya cuma mau memastikan bahwa teman-teman main anak saya nanti juga bisa membawa ke arah pergaulan yang baik.

Akhirnya, semua itu sukses mengubah cara pikir saya. Saya setuju dengan Full Day School. Bahkan sekarang ini, saya sudah merencanakan Luna besok sekolah di SD yang SAYA TULIS di status no mention itu. Huahahaha.. Sukurin. Kemakan status sendiri.

Kenapa saya setuju dengan Full Day School?

Karena saya bekerja. Saya suka bekerja dan aktif di luar rumah, tapi tetap tidak mau melepas anak ke suatu hal yang tidak jelas. Tidak jelas dia di rumah ngapain, sama siapa, dsb. Apalagi ya… zaman sekarang itu godaan yang menyerang anak SD itu lebih mengerikan ketimbang zaman kita kecil dulu. Pornografi, narkoba, bullying, kekerasan.

Bagi saya, lebih baik anak di sekolah sampai sore, tapi jelas dia di sana ngapain, sama siapa, dan yang mengawasi jelas tersertifikasi.

Tapi saya paham. Full Day School tidak bisa diterapkan ke semua sekolah, semua keluarga, apalagi semua anak. Ada keluarga yang ibunya lebih longgar dan bisa antar-jemput anak, dan mereka lebih suka anak di rumah biar bisa main bersama, quality time bersama ibu lebih terjaga. Lalu ada juga keluarga yang sekalipun orangtuanya punya waktu longgar bisa antar-jemput dan nemenin anak main, tapi si anak ternyata lebih suka main di sekolah, dan enggak mau pulang. Trus.. ada juga orangtua yang kayak saya, bekerja di luar rumah full time, tapi pengin memastikan anaknya dalam lingkungan yang aman dan terawasi dengan benar. Dan ada juga orangtua yang bekerja full time, tapi merasa nyaman ketika anaknya pulang sekolah lalu di rumah bersama Nanny yang terpercaya.

Menurut saya, hal-hal yang perlu dipertimbangkan ketika memilih Regular School atau Full Day School adalah.

1. Waktu
Siapa yang menjemput anak ketika pulang sekolah. Siapa yang menemani anak di rumah setelah pulang sekolah. Kalau jawabannya meragukan semua, saya sih, pilih Full Day School yang jelas pasti anak bisa di sekolah sampai kita menjemputnya pulang sore nanti.

2. Kegiatan
Apa kegiatan saat anak Full Day School? Sering kita beranggapan bahwa Full Day School itu seharian mereka bakal belajar. Padahal belum tentu juga loh.. Banyak sekolah yang jam belajarnya tetap sampai siang jam 14.00, lalu sisanya anak tidur siang, ekskul, belajar agama (ngaji, dll), atau bermain di area sekolah. Jadi, tenang bu-ibu.. mereka enggak di-drilling belajar seharian dari jam 7 pagi sampe jam 5 sore. Sekalipun full di sekolah, mereka juga tetap bermain-main hepi.

3. Kenyamanan Anak
Satu yang paling penting adalah bagaimana kenyamanan anak terhadap sekolahnya. Banyak loh, anak-anak begitu menyukai suasana dan kegiatan sekolah, sampai enggak mau pulang. Contoh sederhana lagi, cerita temen saya lainnya yang anaknya ketika sekolah di Regular School tidak betah, bawaannya pengin cepet-cepet pulang. Hingga akhirnya orangtuanya memindahkannya ke sekolah Full Day Scool, dan si anak hepi banget sampe sekarang. Intinya, tidak semua anak benci sekolah dan ngambek enggak mau sekolah. Banyak juga anak-anak yang begitu menyukai sekolah.

4. Fasilitas Di Sekolah
Menyiapkan Full Day School itu tidak mudah, karena artinya harus ada ruangan untuk digelar kasur supaya anak bisa tidur siang, belum lagi tenaga guru yang mumpuni, lalu jadwal kegiatan anak yang jelas dari pagi sampai sore ngapain. Tanyakan semua itu pada pihak sekolah, sehingga kita sebagai orangtua pun merasa aman dan nyaman menitipkan anaknya sekolah di situ.

Lama-lama saya jadi mikir gini… Full Day School itu sebelas-dua belas sama Daycare, ya.. Bedanya, daycare itu untuk anak-anak usia PAUD. Dan Full Day School untuk usia elementary dan junior high school. Mungkin karena sejak Luna bayi saya sudah berani-tega (whatever you called it) menitipkannya di Daycare, jadi saya relatif tidak ada masalah jika besok dia Full Day School.

Baca juga: 10 Alasan Kenapa Pilih Daycare

Akan menjadi masalahnya jika, Full Day School dijadikan Program. Which is, ketika sudah diembel-embeli dengan kata depan “Program” berarti WAJIB dilakukan atau diusahakan oleh sekolah-sekolah lain. Nah.. ini yang saya tidak setuju.

Kalau sekolah biasa (SD Negeri contohnya) dipaksa menerapkan program ini, menurut saya akan kesulitan. Banyak hal yang harus disiapkan, dari fasilitas sampai tenaga gurunya. Makanya, kebanyakan Full Day School adalah sekolah-sekolah swasta.

Saya juga percaya, orangtua zaman sekarang sudah pinter memilihkan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anaknya masing-masing. Yang butuh di sekolah cuma sampe siang, ya pilih aja regular school. Yang butuh di sekolah sampe sore, pasti akan mencari full day school. Yang pengin anaknya dapet pelajaran agama yang kuat, ya cari sekolah berlandaskan agama. Yang pengin anaknya belajar tapi sambil bermain, ya cari sekolah montessori. Yang pengin anaknya sekolahnya enggak melulu di gedung, ya pilih sekolah alam. Sekolah zaman sekarang banyak pilihan..

Dari tadi saya nulis panjang lebar ini, sebenarnya kesimpulannya saya mau bilang ini…

Saya setuju dengan Full Day School, bahkan saya pengin nyekolahin anak di Full Day School. Dan Full Day School sebenarnya tidak semengerikan yang diduga banyak orang sekarang ini. Tapi saya tidak setuju dengan Program Full Day School yang diterapkan serentak ke semua sekolah.

Karena kebutuhan tiap anak dan keluarga itu berbeda. Seperti kebutuhan saya dan kalian, mungkin…

Karena kesukaan anak juga berbeda. Ada anak yang suka sekolah sampai enggak mau pulang, ada anak yang lebih suka main di rumah ketimbang di sekolah.

Karena kesiapan setiap sekolah itu berbeda. Contoh sederhananya SD negeri dan SD swasta. SD swasta biasa dan SD swasta internesyenel.

Semua tidak bisa diseragamkan dengan 1 program yang sebenernya masih wacana ini. Dan karena masalah pendidikan serta akhlak anak-anak tidak bisa hanya diselesaikan hanya dengan Program Full Day School.

31 thoughts on “Saya Setuju dengan Full Day School

  1. aku ra iso komen apa2 untuk sekarang. Karena ga ngalami sendiri masih anak kudu blajar sehartan.

    Yang pasti setiap kebijakan ada pro kontra, tapi mau g mau kan kudu jalani :”) ya apa lagi.

  2. …masalahnya mba anak sy sudah ikut les sana sini musik dan english, terus masuk madrasah juga karena minimnya pendidikan agama di sekolah, kalo fds diterapkan kan jadi kaco semua kegiatan diluar jam sekolahnya….piye hayoo…???

  3. Aku blm punya putra-putri, nikah aja beloman, tp aku harus tetap melirik hal2 sperti ini untuk mempersiapkan metode sekolah yg nanto akan dpilih kalo udh punya Putra.
    Aku sih setuju full day.

  4. FDS sudah diterapkan di Pesantren bahkan td disebutkan mba dulu zaman 90-an sdah ada yg nerapin. Balik lagi si sama ortunya, sama anaknya goals yang mau dicapai apa?
    :)

  5. Suka sama tulisanmu ini mak… Bener semuanya.
    Dan kalau ini diterapkan di SD negri yg kadang ruang kelasnya aja masih tumpang tindih, mau disuruh tidur siang dimana anak2 -_-

    1. Untuk SD negeri, program Gerakan Literasi Nasional yang digalakkan sama mendikbud sebelumnya aja susah jalan. Karena kurangnya bahan bacaan. Sekarang masih disuruh nyediain sarana-prasarana untuk fds. Duhh… susahh..

  6. aku dan adekku dulu sekolah di sekolah yang pake sistem full day school. padahal pulangnya jam 3 atau 4 an tapi untuk usia anak SD cukup menguras energi lo buat kami. sampai rumah kami jadinya bener2 capek banget, padahal masih harus disambut tugas sekolah

    tapi mungkin memang untuk situasi tertentu full day school bisa jadi solusi ketimbang anak sama pengasuh dirumah diajak lihat film sinetron yang nggak mendidik

  7. Kalo saya kurang setuju mba apabila sekolah full day. Saya rada khawatir quality time bersama anak berkurang. Apabila orangtua bisa ikut atau sekedar melihat kegiatan anak langsung disekolah, mungkin saya masih bisa untuk setuju :). Salam kenal ya mba :)

  8. Saat ini saya orangtua yang anaknya ada di dua sekolah dengan sistem berbeda.
    Shoji di sekolah reguler, masuk 07.30 sampai jam 11.00 (TK) udah include pilihan ekstrakurikuler yang disediakan sekolah.
    Sementara Rey saya titipkan ke sekolah fulldayschool, masuk jam 08.00 pulang jam 14.30.
    Saya sendiri pernah ngajar di paud reguler dan paud semi daycare juga pernah. Jadi sedikit banyak ngerti goal masing masing sekolah.
    Kenapa nggak semua FDS atau semua reguler? Kembali pada kebutuhan anak. Shoji lebih suka main di rumah, dan Rey lebih suka main kalau banyak temennya :)
    So far Shoji menikmati waktu bersama teman dan selebihnya lebih asik main sama sodara sepantaran di rumah uti, Rey lebih suka main di sekolah dengan teman teman seumuran. So far sih mereka enjoy.
    So wacana FDS, saya setuju sama mak Noni, saya lebih suka anak terawasi dengan pembimbing yang kompeten di FDS, dan saya juga support untuk orangtua yang lebih bisa meluangkan waktu untuk bisa menemani anak anak dan mendidik mereka di rumah. So, kayanya penerapan FDS pun nggak boleh “dipaksakan” untuk sekolah yang secara fasilitas dan kompetensi pengajarnya belum memungkinkan. Haiyaaahhh…jadi panjang ternyata :)

  9. Disini MI/SD IT sekolah full day, tapi sudah termasuk les,mengaji dll. Banyak orang tua yang lebih suka sich, karena anak2 disini kalau pulang siang suka keluyuran ga jelas. Terus harus cari tempat les/ngaji lagi

    Etapi yang guru sekolah bukan full day pada mengeluh karena jam kerjanya bakalan tambah.

    Semoga ada solusi yang terbaik ya Mbak :)

  10. kalau menurut saya balik ke sekolah dan guru sih mba, sanggup atau engga. karena kalau ruang kelas terbatas juga ga bisa dijalani 😀 . lagian masalah anak keluyuran balik ke anaknya juga. kalau ada sisa waktu gitu mending dibuat ekstrakurikuler aja, jadi kemampuan anak dibidang non-keilmuan juga berkembang, saling balance

  11. masih sebatas wacana kan ya mba, semoga jika benar dilaksanakan.ya harus mempertimbangkan teknis dan detailnya seperti fasilitas yg dbutuhkan, kegiatan dan juga kesiapan guru2nya, mungkin bs pakai guru ekstra atau pelatih dr luar sekolah sehingga guru yang sdh bekerja dr pagi tidak merasa terbebani lagi sampai sore.

  12. ini pengalaman saya bersekolah di Full Day School waktu SD.. tanpa menyebut merek, waktu saya bahagia banget malah bersekolah di sana.. untuk ukuran anak SD masuk jam 7 pagi pulang jam 3 sore itu mungkin ‘penyiksaan’ tapi nggak untuk murid di sana, khususnya saya.. fasilitas memang tidak mewah tapi sistem mengajar di sana membuat kami semua betah di sekolah.. dari jaman SD, saya sudah terbiasa dengan moving class untuk mata pelajaran tertentu.. terus guru-guru di sana sudah open-minded.. buku catatan boleh digambar atau ditulis menggunakan spidol atau bolpen warna warni.. serta berbagai macam kegiatan dan kreatifitas lainnya.. ini cuma berbagi pengalaman.. dan bisa dipastikan saya salah satu orang yang pro terhadap Full Day School hanya saja banyak elemen yang harus dipertimbangkan termasuk membuka wawasan orangtua.. karena meski sekolah di Full Day School saya masih mempunyai banyak waktu untuk bermain di luar, menghabiskan waktu dengan kedua orangtua saya dan tidak jadi ansos.. terima kasih..

  13. skr ini aku blm bisa bilang setuju yg mana mba… walopun kalo berat, lbh condong ke full day school :).. anakku msih 3.5 thn juga sih… alasan full day school sama kyk mbak, krn aku dan suami kerja… ada sih babysitter ama ART, tapi ttp kayaknya lbh bnyk manfaat kalo anakku di sekolah.. aku sndiri dulu sekolahnya full day… dan kita juga diksh jam istirahat siang yg bisa dipake utk tidur kok… trs baru deh belajar tambahan ato mengaji sesuai jdwal… dan semuanya dibuat fun…

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)