Parenting Without Yelling, Possible or Not?

Parenting Without Yelling
Dari awal nulis judul ini, langsung bikin kesimpulan sendiri. Parenting without yelling? Imposibruuuuuu.

Ya itu buat saya sih, yang punya gaya komunikasi meledak-ledak dan bukan tipe calm parent.

Baca juga: Gaya Komunikasi dalam Keluarga

Punya anak usia toddler yang kata orang lain lagi lucu-lucunya sedangkan kata orangtuanya lagi ngeyel-ngeyelnya, rasanya hampir tiap hari saya selalu berteriak ke dia. Saya ngomong biasa aja kayak orang teriak kok. Apalagi menasihati atau marah, makin tinggi kekuatan suaranya.

“Pelan-pelan to sayang, nanti jatuh!”
“Jangan main lama-lama di depan kulkas!”
“Luna dengerin ibuk! Telinganya kemana ya?”
“Ayo, harus clean up dulu mainannya.”
“Tidak usah bawa-bawa mainan, mandinya cepet aja.”
“Ini tu udah siang. Ibuk aja yang kancingin bajunya.”

Dan semuanya berakhir dengan perdebatan. Dia akan membantah teriakan orangtuanya dengan kalimat sebaliknya.

“Luna mau main teriak-teriak!”
“Enggak pelan-pelan. Enggak jatuh kok.”
“Tidak clean up, Luna mau mainan.”
“Mandinya tidak cepet-cepet. Luna mau mainan air.”
“Luna aja kancingin baju!”

Parenting Without Yelling

 

Penginnya ya, bisa menerapkan parenting without yelling. Ngomongnya lemah lembut tanpa intonasi tinggi dan punya stok sabar melimpah. Tapi praktiknya susah banget. Ada aja segala tingkah polahnya yang bikin teriak, bikin reaktif, bahkan mungkin langsung marah seketika.

Meski beberapa artikel menyebutkan dampak buruk yelling terhadap perkembangan anak, seperti rasa percaya diri anak akan berkurang saking seringnya kita teriakin, anak jadi penakut, anak menjadi agresif, dan susah berkonsentrasi. Tapi tetep aja usaha menerapkan parenting without yelling itu enggak gampang. Butuh latihan, butuh ekstra kesabaran, dan butuh konsistensi.

Kadang ketika hati lagi hepi, waktu lagi longgar, tidak ada deadline pekerjaan, rumah sudah rapi, saya bisa banget berubah menjadi ibu yang super sabar dan tidak teriak seharian. Tapi tahu sendiri kan, rumah rapi ketika punya toddler itu momen yang langka. Dan pekerjaan tanpa deadline itu hampir tidak pernah ada.

Parenting Without Yelling
source: kiddycharts.com

Pernah suatu kali, adik saya yang udah gede ini, dia ngomong ke mama, “Untung ya Ma, aku punya Mama yang cerewet. Tiap hari selalu rewel bangunin aku. Enggak kebayang kalo aku jadi anak kos. Bisa bebas, tapi hidupnya mesti berantakan kebablasan, karena enggak ada yang nyerewetin aku.”

Kaget dong. Mama yang cerita ke saya aja kaget, apalagi saya. Beneran statement ini keluar dari mulut adik saya yang terkenal bandel dan rebel itu.

Baca juga: Ketika yang Dipilih Anak Tidak Diinginkan Orangtua

Tapi iya juga loo.. Ibu yang cerewet dan hobi teriak untuk ngingetin anaknya itu, tetep ada positifnya juga buat anak. Paling enggak, anak jadi tahu batas-batas dia boleh melakukan ini dan tidak boleh melakukan itu. Dia tahu, bahwa jika melanggar, maka ibunya akan teriak marah, dan berubah jadi Tyrex. Meski motivasi awalnya, karena takut sama orangtua, tapi lama-lama dia bakal paham juga bahwa perbuatan itu enggak boleh.

 

Cerewet dan yelling itu beririsan. Ibu yang cerewet, biasanya bakal teriak ke anak.

Cerewetnya ibu itu cakupannya luas banget, mulai dari mengingatkannya ini-itu, menasihatinya supaya tidak begini-begitu, sampai ke memberinya pengertian konsekuensi atas sebuah perbuatan.

Intonasi ibu-ibu cerewet itu biasanya mulai dari ndremimil (bahasa Indonesianya apa ya? ngoceh pelan enggak berhenti-berhenti), ngedumel, mengingatkan dengan nada tegas dan keras, sampai marah dengan nada tinggi. Dan saya seringnya semuanyaaa. Huahahahaha…

Jadi kalo ada ibu yang cerewet tanpa teriak ke anak, boleh dong sini dikasih tips-nya.

Parenting Without Yelling

Saya dibesarkan sama mama yang cerewet, mama yang hobi teriak dan pukul-pukul pagar tangga dengan cincin kawinnya untuk membangunkan kami yang masih aja molor di kamar atas. Mama juga selalu mengingatkan kami berkali-kali, seribu kali seribu, jangan ada yang ketinggalan ketika kami mau bepergian ke luar kota. Bahkan sampe saya segede ini, tiap mau balik ke rumah dan packing barang-barang, Mama pasti masih aja riwil ngingetin saya.

Tapi entahlah, setelah saya gede begini (dan setelah jadi ibu) merasakan banget kerennya jadi ibu cerewet. Ibu kalo enggak cerewet dan riwil ngasih tau anaknya, itu enggak keren. Itu artinya, mamaku keren. Hahahahaha

Dan ibu yang cerewet itu ngangenin loh. Teriakan-teriakannya itu loh.. memorable banget.

 

Meski sebisa mungkin, kita bisa membatasi diri supaya enggak berteriak ke anak, parenting without yelling, and be a calm parents. Tapi menurut saya, enggak ada yang salah kok sebenernya dengan parenting with yelling. Asalkan..

  • Tidak mengulang kalimat yang sama terus-menerus.

Naaaa.. Ini yang susahhh. Perempuan gitu loo.. Kayaknya takdir, satu muka bibir semua. Ngoceh tiada henti, dan kalo marah diulang-ulang aja terus. Bahkan kesalahan yang dulu-dulu diungkit lagi. Hahahaha.. Me too.

Tapi buat anak, itu nyebelin. Apalagi kalo sampe anak ngucapin, “Iya-iya. Dengerr.. Tauuu.” Artinya anak udah dalam tahap jengah. Lebih baik stop marah-marahnya, ketimbang beneran pecah perang, anak dan ibu saling teriak marah.

Pernah jadi anak yang begini soalnya. Jadi paham rasanya. Hahaha…

  • Tidak kebablasan melakukan hal fisik.

Ini beneran harus dihindari. Kekerasan fisik itu bisa menyebabkan luka fisik juga luka batin. Kalau kebablasan kejadian hal-hal nyeremin (duh, amit-amit deh..) kita bakal nyesel juga tar. Dan juga, kekerasan fisik bisa menurun ke anak. Besok anak kita bisa melakukan hal yang sama ke anaknya.

Dulu pernah nulis tentang Aturan Menghukum Anak Secara Fisik. Mampir juga yaa..

  • Kekuatan suara enggak lebih dari 120 desibel.

Ambang batas pendengaran manusia itu 120 desibel. Kalo kita ngomong suara normal, kekuatannya 60-70 desibel. Suara konser musik rock, 100-120 desibel. Yakin, mau teriak-teriak ngalahin rocker? Selain sakit di leher, juga sakit di telinga anak.

Di atas 80 desibel aja, teriakan kita udah kedengeran tetangga sebelah. Apalagi di atas 120 desibel.

Parenting Without Yelling

  • Setelah teriak-teriak, akhiri dengan pelukan dan nasihat lembut.

Teriak marah boleh kok.. Tapi supaya anak paham dan enggak sakit hati, akhiri dengan pelukan dan nasihat lembut. Ini bisa menunjukkan bahwa kita menyayanginya. Tadi teriak marah karena kita pengin dia tertib dan nurut.

Biasanya ketika Luna dibeginikan, berhenti nangisnya, dan kami baikan. Trus nurut dia, meski cuma sehari (udah untung tuh sehari). Abis itu berantem lagi, teriak marah lagi, pelukan lagi, baikan, trus berantem lagi, … Gituuu aja siklusnya.

Huahahaha

  • Tidak teriak memarahi anak di depan umum.

Malu tauk. Selain bikin kita terkesan jadi ibu yang galak, anak juga jadi malu. Kesalahan kok diumbar-umbar. Minder dia tar, atau tumbuh jadi anak yang takut sama orangtuanya. Malu juga dia, punya orangtuakok galak bener.

Eh, ini masalah banget lo buat anak ABG. Kalo temen-temennya sampe tahu bahwa orangtuanya galak dan sukanya teriak-teriak, mereka jadi enggak nyaman main ke rumahnya. Repot di kita juga tar.. Kan kita harus jadi orangtuaasik yang bisa menjadikan rumah nyaman termasuk untuk anak-anak lain.

  • Tidak bicara kasar dan merendahkan anak.

Salah satu hal yang membuat yelling itu dilarang. Karena kalau udah teriak marah, kadang kita suka kelepasan ngomong kasar atau merendahkan anak. Enggak cukup dengan ngomelin, lalu kata-kata, Dasar bodoh! Gitu aja lambat, enggak sengaja keluar.

Ini harus ditahan banget. Big no for ngomong kasar dan merendahkan anak. Enggak mau kan, anaknya jadi minder dan enggak pedean. Bisa jadi sasaran bullying tar..

Baca juga: Generasi Anti-Bullying

 

Kalo saya nih, akan berusaha menjadi ibu yang apa adanya. Ketika ada sesuatu yang perlu marah dan teriak, ya gak pa-pa. Lakukan aja.. Asal ada alasan kuatnya dan ada tujuannya.

Lagian, ibu yang sukanya yelling, itu ngangenin kok. Atau ini akunya yang anomali ya…

Hahahaha..

4 thoughts on “Parenting Without Yelling, Possible or Not?

  1. Artikel menarik mak! Me likey! heheheh
    Pada dasarnya emak-emak nih pada cerewet ya 😀 termasuk aku juga.
    Kita teriak pun ada alasannya, entah itu si Kakak bikin kenakalan di luar batas, dipanggil masih asik depan tv dsb. Menurutku sih wajar-wajar saja yelling asalkan nggak yelling makian, yes.
    Nah poin-poin di atas itu, setujah pake banget! Apalagi poin terakhir kalau bisa dihindari karena bikin anak-anak down, efek ke psikologis.

  2. Aaaah aku termasuk yang suka teriak kl kesel banget huhuhu.. Tau sih ngga bagus dampaknya buat anak tapi tapi tapi kadang suka kebablasan, abis itu minta maap karena menyesal 🙁

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)