Menghadapi Si Terrible Three

Menghadapi Si Terrible Three

Dulu saat masih belum punya anak, saya sering membatin gemas plus jengkel tiap lihat ponakan yang keras kepala dan suka membantah. Rasanya pengin ngomelin dan menyuruhnya diam. Tapi, lah.. siapa saya. Emaknya juga bukan. Jadi saya cuma bisa diam dan berdoa, semoga besok anakku lebih mudah diatur.

Ternyata, itu cuma halusinasi belaka. Anak saya sama persis dengan kakak sepupunya ini. Sama-sama keras kepala, sama-sama kalau ngomong selalu teriak dengan suara cemprengnya, sama-sama aktif kayak belut, dan mereka sama-sama cewek.

Saya pernah nanya ke mama, “Anak seumuran Luna ini, emang begini pa ya, tingkahnya?” Dan katanya, “Emang iya, wajar. Tapi anakmu ini lebih keras kepala dibanding kamu kecil dulu.”

Ampun mamaaaa.. dosa apakah aku pada dirimu. *kraii..*

Kalau dipikir-pikir, Luna semakin keras kepala sejak di usia 3 tahun. Meski dasarnya dia emang sudah keras kepala, tapi di usianya ke 3 tahun ini, keras kepalanya makin menjadi-jadi. Susah diarahkan, maunya sendiri, tantrum, suka melawan, membantah, dan drama queen banget dengan air mata buayanya.

Wohoo.. Welcome to the terrible three, mom!

Fase yang lebih horor dibanding usia 2 tahun, apalagi 1 tahun. Dan ini fase yang membuat rambut rontokmu semakin bertambah.

Kadang saya suka stress sendiri, kenapa anakku begini. Susah banget dikasih tahu. Baru mau dimarahin, baru mau lo ya.. Dia selalu menjawab duluan, Ibuk yang ngeyel. Luna yang marah. Trus akunya enggak jadi marah, karena gemas. Huhuhuhu.. Gimana cobaa..

Tiap dia tidur adalah momen yang paling manis. Dicium-ciumin terus, gemas, dipuji-puji, “Anakku lucu ya..” Karena cuma saat tidur doang, dia terlihat syahdu tanpa melawan.

Jadi kalau ada orang yang bilang, “Seneng. Usia segitu lagi lucu-lucunya yaa..” Saya cuma membatin, “Lucu kalau kamu tidak menghadapinya setiap hari dan sepanjang hari.” Bhuahahahaha..

Menghadapi Si Terrible Three

Sekarang ini Luna sudah melewati setengah lebih dari fase terrible three. Sebentar lagi dia bakal masuk ke fase terrible four, trus five. Masing-masing usia pasti punya tantangannya sendiri-sendiri, karena perkembangan sosio-emosional anak juga pasti berkembang. Dan berhubung saya baru di tahap terrible three, jadi yang akan saya share sekarang adalah cara saya menghadapi si terrible three, berdasar pengalaman pribadi.

1. Konsisten

Mendidik anak sejak bayi kuncinya konsisten, yes. Kalau mau anaknya tidurnya enggak kemaleman, ya konsisten mengajaknya tidur tepat waktu, tiap jam 9 selalu kondisikan seisi rumah untuk tidur. Kalau mau anaknya rajin merapikan mainannya sendiri, ya konsisten untuk mendisiplinkan mereka wajib clean up.

Untuk yang tidur tepat waktu, oh yes, saya bisa konsisten. *tepuk dada* Luna selalu tidur maksimal jam 9. Kondisi-kondisi tertentu yang bisa bikin dia tidur jam 10 ke atas, misal ada acara sampai malam. Itu pun enggak tiap hari.

Untuk yang disiplin clean up, udah mayan bisa konsisten. Sekarang drama clean up sudah hampir berkurang. Berkali-kali tiap dia mau numpahin mainannya, saya selalu bilang ke dia, “Nanti selesai main yang clean up Luna ya..” Dan kalau selesai main dia menolak clean up dengan banyak alasan (biasanya capek sama sumuk), agak dikerasin dan disiplinkan bahwa apapun alasannya, pokoknya HARUS clean up mainan dulu.

Kuncinya konsisten, buibu.. Biar anak tahu, bahwa begini yang namanya disiplin.

Baca juga: 7 Cara Mengajak Anak Merapikan Mainan

2. Fokus

Saya mengamati, bahwa Luna akan mulai berulah tiap saya tidak fokus menemaninya bermain. Entah karena saya sambil nonton TV, baca buku, ngobrol sama suami, atau yang paling sering.. sambil pegang HP. Dia lalu akan cari perhatian, misal dengan ngomong sambil teriak-teriak, lompat-lompat trus jatuhin badan saya (sakitt euyy.. beratnya udah berapa juga..), merebut HP dengan kasar, atau iseng aja melempar mainannya.

Dan kalau udah begini, saya harus fokus sama dia, fokus menemaninya bermain, fokus quality time tanpa menyambi-nyambi yang lain. Apalagi udah ditinggal seharian kerja, saya makin merasa berdosa kalau malam hari masih disambi pegang HP. Baik itu sekadar balas whatsapp, atau cek group.

3. Beri Kesibukan

Jujur deh, anak itu nyebelin saat dia enggak punya kesibukan kan ya.. Makanya banyak anak yang rewel saat diajak ke sebuah acara yang memaksanya untuk duduk diam, tenang. Itu benar-benar membosankan. Trus dia berulah, ribut, dan cranky.

Makanya enggak heran banyak orangtua yang beliin mainan banyak ke anaknya, biar dia bisa sedikit asyik sendiri dan tenang. Makanya juga ada yang namanya busy book, biar bikin anaknya sibuk mainin. Dan makanya ada sensory play yang seru-seru, karena akan membuat anak tenang enggak lari-lari, panjat-panjat.

Beneran deh, aktivitas-aktivitas ini perlu banget dikasih ke anak. Ketimbang kasih gadget dan nonton TV, mending sibuk mainan.

Baca juga: DIY Ide Main Anak

Menghadapi Si Terrible Three

4. Turunkan Desibel Suara

Luna ini suaranya cempreng dan keras banget. Dan kata suami, suara saya juga enggak kalah nyaringnya. Bhuahahaha… Tapi kalau di rumah enggak ada kami, sepi kan…. *wink*

Karakter Luna ini, meski dia keras kepala tapi hatinya lembut. *anak sendiri dipuji-puji* Dia enggak bisa dibentak dengan suara keras dan tinggi. Kalau dibegitukan, dia bakal makin memberontak, makin menyebalkan, trus nangis. Dan saya makin marah.

Tapi kadang saya suka kelepasan, susah menahan diri untuk enggak teriak dan mengingatkan. Bahkan ya, untuk meminta dia menutup kulkas aja, dia ngeyel, saya teriak. Dan berakhir dengan dia nangis, saya marah. Huhuhuhuhu….

Abis itu dikasih tahu suami, kalau Luna itu enggak bisa dibegitukan. Datangin dia, kasih tahu dengan suara pelan tapi tegas. Dan dia bakal nurut.

Kartu As-nya Luna itu bapaknya. Hahahaha..

5. Pelukan Setiap Saat

Saya suka banget dipeluk Luna. Misal di kantor tadi lagi capek, lagi bad mood. Saya akan bilang ke dia, “Luna, give me a hug.” Dan dia akan memeluk saya. Unch..unch.. enak banget dipeluk dia ini. Rontok semua rasa capeknya.

Apalagi kalau saya meluk Luna, dia pasti bahagia juga. Tiap mau berangkat kerja, peluk.. Tiap pulang kerja, peluk.. Tiap nonton iklan Bebelac di TV, peluk dan cium.. *ahh.. aku suka banget iklan ini* Dan tiap mau tidur, peluk.. Peluk dan ngusap2 dada ibunya dulu, baru bisa tidur. LOL

Pelukan diberi saat kita memujinya, bahwa yang dia lakukan barusan itu hebat, maka dia akan bangga setengah mati. Pelukan diberi setelah menghukumnya, supaya dia paham bahwa sekalipun kita memarahi dan menghukumnya, kita tetep sayang dia. Dan pelukan juga dikasih saat menasihati dia, biar dia nurut dan enggak memberontak.

Anak 3 tahun itu enggak bisa dilawan dengan sama-sama keras. Dikasih pelukan aja, dia bisa lebih kalem.

6. Tingkatkan Selera Humor

Hidup enggak usah spaneng-spaneng amat, sis.. Kadangkala, saking stresnya sama pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai, atau tekanan kerja di kantor. Trus bikin kita jadi enggak punya selera humor. Anak ngajak main, kita mengelak alasannya capek. Anak becanda sedikit, kita enggak apresiasi dengan ketawa dan senyuman. Atau bahkan anak berulah dikit aja, kitanya udah marah kayak Tyrex.

Santai ajah.. Rumah berantakan, biarin.. Anak mainan sampai baju basah, biarin.. Anak menyeletuk lucu atau tiba-tiba keluar kamar dengan kostum anehnya, ayo ketawaa.. Jangan langsung dimarahin karena barusan dia berantakin lemari.

Kalau kita pengin hidup anak kita selalu happy, ya kita juga harus selalu happy.

7. Carilah Me Time

Buat saya, me time itu penting. Me time itu bukan buat gaya-gayaan, atau excuse kita supaya bisa escape dari kesibukan di rumah. Eh, tapi apa yang salah dengan escape sebentar dari rumah, tanpa suami dan anak? Me time membuat kita jadi ibu yang lebih waras. Ketimbang di rumah marah-marah mulu, susah ketawa, ngomongnya teriak-teriak, males meluk anak. Mending istirahat dulu, jauh-jauh sama anak dan suami.

Dan me time itu enggak musti keluar rumah, pergi belanja sendiri atau nonton bioskop sendiri. Maskeran di kamar sendiri sambil nonton drama korea, itu bisa banget jadi me time. Tutup kamar, nyalain laptop, ngetik, curhat di blog, juga me time. Tutup kamar mandi, bubble bath dan luluran, itu juga me time.. Atau masuk dapur, bereksperimen resep baru tanpa direcoki sama anak, itu juga me time.

Me time itu bisa membuat kita lebih waras dan menikmati proses si terrible three ini.

 

Punya anak itu beneran ujian sabar. Sekalipun kadang suka stress dan marah-marah, tapi rasanya saya pengin waktu berjalan lambat. Saya ingin menikmati perkembangan balita-nya sekarang ini. Dan menganggap bahwa setiap ulahnya itu memang sedang lucu-lucunya.

Terrible three itu belum seberapa. Tapi saya belum sanggup bayangin anak ada di fase-fase yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan ini. *lirik ibu-ibu yang punya anak ABG*

8 thoughts on “Menghadapi Si Terrible Three

  1. Hihihi… Ini mah anakku jg mba :D. Dia masuk ke terible four sih skr :p.. Yg nyebelin sih dia cuma nurut ama papinya :p. Kadang ama aku dia nurut, tp setelah aku ancem kadang. Kayak abis main, trs g mau beresin, aku seringnya suka ngancem kalo ga mau beresin, mami buang semuanya.. Baru deh dia nurut :D.

    Ga bgs sih memang.. Tp aku memang kurang sabar kalo ngadepin anak -_-

  2. ternyata bkn saya aja yg ngalamin ya hehehe anak saya bln dpn 3 tahun oalah tantrumnya makin menjadi-jadi skrg sampe emaknya rasanya mau ikutan tantrum juga :p

  3. Pelukan setiap saat. Ini penting banget… ^_^
    Diberi pelukan atau memberi pelukan, sama-sama bikin hati hangat.
    Tp karena blm sy msh single, jd pelukan sama teddy bear aja dlu , hihihi

  4. Kemarin aku habis ketemu sama temen lulusan S2 Psikologi pendidikan anak yang pas ditanya tentang fase ini dia menjawab “Alhamdulillah saya nggak ngalamin fase ini,”. Jadi berdasarkan ceritanya anaknya sama sekali nggak mengalami kesulitan untuk berbagi dan nggak ngalamin yang namanya tantrum. Menurut beliau bisa2 saja kok anak tidak mengalami hal-hal semacam ini dengan tidak meyakininya hahahahaha. Tapi kalau ditengok beliau memang luar biasa sabar, telaten, dan lembut. Lagi mau coba sama Pandan nih mau mengubah mindset bukan terrible 3 tapi terrific 3 wakakaka aamiin…

  5. nah itulah aku suka kasihan juga sama mak-mak lain kalau lihat anaknya trantum, tp aku anak dua jarang sekali sperti itu, apa anakku lain dari yang lain. Tapi itu tantangan ya

  6. Hai mbak. I just feel you. Baru saja masuk difase. Kemaren2 mikir dan bersyukur bakal ninggalin fase terrible two, eh ternyata ada yang lebih menantang menanti. Huft.
    Thanks for sharing.
    I feel not alone now.
    😊😊

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)