Mengenal Metode Montessori

playing sand outside small

Sebenernya saya tahu kata montessori sudah lama. (di Jogja ada banyak bla-bla.. Montessori School) Sudah tahu juga bahwa montessori itu bukan sebuah brand, melainkan sebuah metode belajar. Tapi persisnya belajar yang gimana, baru tahu ya setelah punya anak ini.

*note: postingan ini bakal panjang, siapin jari yang kuat buat scrolling. :))))

METODE MONTESSORI adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode ini diterapkan terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga penerapannya sampai jenjang pendidikan menengah.

Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri anak dan pengamatan klinis dari guru (sering disebut “pembimbing”). Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik. Ciri lainnya adalah adanya penggunaan peralatan otodidak untuk memperkenalkan berbagai konsep.

─Dikutip dari Wikipedia

Montessori sendiri menjunjung tinggi prinsip FOLLOW THE CHILD.

Tapii… bukan berarti mengikuti kemauan anak trus dia nanti jadi anak manja dan egois loh ya. Melainkan kita mengikuti ketertarikan anak terhadap sesuatu. Trus kita siapkan kegiatan untuk mendukung ketertarikannya tersebut. Misal ya, Luna suka banget main masak-masakan. Trus saya suka ajak dia masak beneran. Metikin sayur, nuangin air ke mangkuk, kadang ngulek juga. Trus, kadang saya suka kasih sampah dapur untuk dia pake mainan masak-masakan.

Kegiatan yang mendukung prinsip tersebut ada beberapa pendekatan. Saya cuma mau nulis 2 aja, karena Luna masih 2 tahun. Besok kalau dia udah 4 tahun ke atas, pasti nambah lagi kegiatan dan pendekatannya.

Nah, dua macam pendekatan itu adalah… Practical Life Skills dan Sensory Play.

Bahas singkat satu-satu yuk buibu…

 

PRACTICAL LIFE SKILLS, anak akan belajar melakukan macam-macam aktivitas yang nantinya bisa jadi bekal kemampuan hidupnya di kemudian hari. Contohnya, mencuci tangan sendiri, mengelap meja, menuangkan air, memindahkan biji-bijian, menjepit baju, menyisir rambut, dll. Kayaknya sederhana banget ya.. Iya, buat kita sederhana. Tapi buat anak-anak usia dini, kegiatan itu nyenengin banget. Dan kalau dia berhasil melakukannya sendiri, rasa kepuasaan dan percaya dirinya akan muncul.

Dalam melakukan Practical Life Skills tersebut dianjurkan menggunakan CHILD SIZE REAL OBJECTS. Jadi anak-anak belajar menggunakan benda-benda yang real. Kayu, metal, keramik, batu, dll. Tujuannya supaya dia tahu sifat masing-masing benda tersebut. Misal dia bawa gelas kaca, trus jatuh dan pecah. Suatu saat dia akan belajar untuk membawanya dengan hati-hati.

Kegiatan atau permainan yang menganut prinsip ini ada buanyak buanget. Termasuk bantu ibu jemur cucian, memasukkan cucian ke mesin cuci, menyiram tanaman, memakai sepatu dan kaus kaki sendiri, dan lain-lain.

 

SENSORY PLAY, permainan untuk melatih dan mengasah kepekaan indera anak (penglihatan, penciuman, perabaan, pengecap, pendengaran). Anak belajar banyak saat dia menyentuh, merasakan, dan mengeksplorasi sendiri dengan indera mereka. Kegiatan ini gunanya mengasah kemampuan kognitif, keterampilan motorik halus dan kasar, kemampuan problem solving, perkembangan bahasa, dan interaksi sosial.

Misalnya ya.. Kapan itu saya aja Luna bantuin masak. Trus, sampah dapurnya saya kasih ke dia buat mainan. Kebetulan waktu itu ampas kelapa. Dia mainan pegang-pegang, remas-remas ampas kelapanya. Trus dia sendokin ampas kelapanya ke mangkuk. Langsung deh practical life skill dan sensory play-nya jalan semua.

Ketimbang ngajarin dia nulis, mending ngajak dia main DIY playdoh, menjumput biji-bijian, bantu menguleni roti, dan meremas ampas kelapa. Selain dia akan terbiasa pada tekstur benda-benda tersebut, juga otot jari-jarinya akan terasah, sehingga dia pada waktunya nanti dia akan lebih siap ketika pegang pensil. Lagian, when she ready to write and read, she will be ready.

 

Merhatiin nggak sih, anak itu suka banget mengulang-ulang sesuatu. Tuang-tumpahin, tuang-tumpahin. Masuk-keluarin, masuk-keluarin. Nyanyi dengan lirik yang sama berkali-kali, kayak kaset dengan pita sepanjang 10 kilo. Nonton youtube dengan video yang sama berkali-kali, sampe emaknya yang bosen.

Jadi, semua kegiatan dan permainan Montessori yang kelihatannya sederhana itu enggak bakal bosen dimainin anak. Yakin deh. Karena saya udah praktikin beberapa permainannya, dan Luna jadi relatif anteng. Perlu dicatet ini, Luna bisa anteng. :)))))

 

Beberapa minggu belakangan ini, saya dan sahabat seru-seruan bikin kegiatan #MontessoridiRumah. Kita saling tuker-tukeran ide main anak. Trus kita share deh di Instagram masing-masing. Mau lihat kegiatan Aluna dan Elwest di rumah? Follow yaa… @nonirosliyani dan @christinsuryani. Hihihihi numpang promosi..

Tujuannya sih bukan buat pamer. Jujur. Bukan! Bukan buat eksploitasi anak juga atau ikutin lomba-lomba apa gitu.. *eh, emang ada ya lomba ide main montessori?*

(Baca: Pentingkah Ikutin Anak ke Lomba?)

Melainkan buat menginspirasi ibu-ibu yang lain. Syukur-syukur diikutin, jadi kegiatan di rumah enggak cuma itu-itu aja.

 

Ohya, ketika gabung untuk meramaikan hestek #MontessoridiRumah, yang harus digarisbawahi adalah tiap anak punya sensitive periods yang beda-beda. Luna dan El, sekalipun usianya beda 2 minggu doang, tapi kegemarannya beda banget. Luna suka main yang kenyal-kenyal, sedangkan El nggak suka. El jago banget menjepit, Luna masih perlu dibantu.

Jadi ya, saya harus follow her dan enggak boleh memaksakan kehendak bahwa Luna harus sepintar dia. Sekalipun lihat anak orang lebih pintar dalam hal tertentu, kadang suka bikin panas-dingin ati ini. Hahahaha…

Next post, mau nulis ide main anak yang menganut metode montessori. Udah banyak berjajar di otak, tinggal ditulis. Besok kalo kelupaan, ditagih aja yaa..

11 thoughts on “Mengenal Metode Montessori

  1. Mbaakk.. Aku juga pernah ikutan #MontessoridiRumah, seru, karena jadi punya banyak ide mau ngapain sama anak. Dan sekarang nyari sekolah yang berbasis montessori karena belum tentu sanggup di rumah terus, huehue..
    Anyway, penjelasannya enak dibacaaa, tfs mbak 🙂

  2. Salam kenal Mbak. Sebenernya pendekatannya simpel ya, trus anak bisa dilibatkan dalam kegiatan kita sehari-hari selama masuk kategori aman. Saya suka ajak anak saya nyuci kaus kakinya sendiri, pas peras-peras kaus kakinya konon bisa melathi kekuatan tangan dan jari he he. Thanks for sharing.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)