Mengasuh Banyak Anak

Mengasuh Banyak Anak

Kalian pengin punya anak berapa? Satu, dua, atau tiga?

Kalau saya pengin punya anak 2, syukur-syukur bisa cowok-cewek. Tapi kalaupun enggak, ya nggak pa-pa. Rejeki dari Tuhan harus diterima dan dijaga. Termasuk kalau-kalau Tuhan mau kasih saya anak lebih dari 2. Berarti saya dianggap mampu kan.. Baik secara mental juga finansial.

Enggak kebayang deh kalau saya punya anak lebih dari 3. Kayaknya kok repot banget ya… Tiap mau pergi, persiapannya selalu lama karena harus memastikan perlengkapan yang dibawa komplit semua. Balita di rumah enggak abis-abis, trus kapan istirahatnya ya..

Tapi temen saya satu ini anaknya 5. Serius. 5. Lima. L-i-m-a.

Bukan angka yang kecil untuk jumlah anak di zaman sekarang ini. Di saat orang berlomba-lomba menunda punya anak demi bisa traveling berdua sesuka hati. Di saat teknologi KB diciptakan untuk menekan jumlah populasi. Dan di saat orang cuma pengin punya anak sedikit karena biaya merawat dan membesarkan anak itu tidaklah sedikit.

Baru hamil, sudah berapa juta rupiah keluar. Lalu membesarkannya hingga balita, berapa puluh juta sendiri. Belum lagi kalau dia masuk TK, SD, SMP, SMA, dan Kuliah. Berapa milyar sendiri biaya yang harus kita keluarkan demi masa depannya yang lebih baik dari kita.

Jujur aja, saya termasuk orang tipe terakhir itu. Meski percaya pada “ada anak, ada rejeki”. Tapi punya anak itu otomatis tanggung jawab juga bertambah untuk tetap produktif menghasilkan rejeki.

Baca juga: Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Program Anak Kedua

Oke, kembali ke temen saya satu ini. Namanya Nunung Nurlaela, ibu pekerja yang punya 5 anak. Bayangin deh, dia bekerja loh.. tidak full time di rumah. Tapi tetap bisa mengasuh ke lima anaknya dengan baik. Apa itu namanya kalau enggak HEBAT. You’re a supermom, Mbak!

Sini, saya kenalin satu-satu dulu anak-anaknya.

Mengasuh Banyak Anak

Ternyata dari dulu memang cita-citanya adalah punya anak 5. Supaya rumah kerasa rame. Karena Ibunya punya anak 7, dan Mbak Nunung adalah anak keenam. Wow! Kebayang deh, ramenya gimana. Saya yang anak 1 aja udah berasa rame dan rumah selalu berantakan, apalagi kalau anaknya 5.

Mbak Nunung mengaku selama ini banyak yang membantunya dalam mengasuh kelima anaknya. Dengan suami, mereka saling berbagi tugas. Apalagi anak pertama perempuan, juga sudah bisa membantu. *okesip, jadi keuntungan anak pertama perempuan adalah bisa diajak untuk bantu momong adiknya* Ditambah lagi ada mertua dan adik ipar yang deket, sehingga bisa bantu momong serta beres-beres rumah.

Profesinya sebagai dosen di sebuah kampus juga tidak begitu menyita waktunya, karena paling tidak dia harus ngantor minimal 4 jam. Sehingga sisanya bisa melakukan hal lain. Salah satunya menulis buku. Eh, dia penulis buku yang aktif loh.. Banyak buku antologi yang sudah diterbitkannya, dan 1 buku solonya berjudul “Pondok Indah Mertua”.

*

Punya anak banyak itu artinya PR orangtua jadi lebih banyak lagi. Salah satunya adalah perhatian yang terbagi rata. Meski memang diakuinya, anak-anak kadang suka ada yang protes ketika dirasa ibunya hanya mengurusi adiknya terus, tapi tidak memperhatikannya. Duh, sedih ya.. Tapi so far, semua bisa tertangani dengan baik.

Sedangkan PR besar yang lain adalah mengenali potensi dan bakat anak. Seringkali kita yang cuma punya anak satu aja suka enggak aware dengan potensi dan bakat anak. Apalagi yang anaknya banyak. Tetapi menurutnya, sebagai orangtua kita harus perhatian dalam keseharian anak serta sifat-sifat anak. Meski lahir dari rahim yang sama, tapi karakter mereka bisa sangat berbeda loh..

Perhatikan kesukaan anak apa, atau misal di sekolah mereka memilih ekskul apa. Contohnya, si sulung, Najma sangat suka menggambar, craft, dan masak. Maka mereka sering mengajaknya untuk membantu di dapur. Atau.. ketika ada lomba-lomba tertentu, kita bisa support anak dengan mengikutsertakannya dan memfasilitasinya untuk eksplore hobinya ini. Pokoknya, berusaha disupport semampunya.

Baca juga: Saya Sedang Melihat Tuhan

Kunci mengasuh anak banyak menurut Nunung Nurlaela adalah… jalani aja apa adanya, tanpa takut salah atau takut gagal. Serta senantiasa bersyukur. Di luar sana banyak pasangan yang susah punya momongan, jadi ketika Tuhan titipkan kita anak banyak, ya harus disyukuri dan menjalankan tanggung jawab ini dengan sepenuh hati. Tidak usah takut pada rejeki, karena rejeki kita sudah diatur porsinya sama Tuhan.

Kalau lagi stres dan suntuk, komunikasikan saja dengan suami. Bukan berarti semua urusan anak adalah tugas istri. Karena suami juga harus bisa diajak berbagi tugas dalam mengasuh anak. Dan jangan lupa, ibu juga butuh me time atau mommy’s day out. Rehat sejenak jauh dari urusan anak dan rumah tangga, bisa mencharge energi sehingga pulang ke rumah sudah lebih fresh lagi.

Intinya adalah.. ayo punya anak lagi. Kita bisa merencanakan, tapi Tuhan yang menentukan. Dan kalau Tuhan sudah menentukan kita punya anak banyak, ya jalani aja dengan ikhlas. Semua pasti ada jalannya, ada rejekinya, dan ada kekuatannya.

Semangat Mbak Nunung dan ibu-ibu lainnya!

 

 

*abis nulis ini trus brb, bribik-bribik ke suami.. ayo kasih Luna adik* Lol

7 thoughts on “Mengasuh Banyak Anak

  1. Haha… Luna dan ayahnya sudah kepingin, kan Mak? 😀 btw, moga segera sukses promilnya ya…biar Luna ada temannya. pastinya ada kesibukan, kerempongan baru, dan budget juga bertambah hihihi.

    Makasih, Mak Noni…tulisannya kece 😍

  2. Suka liat keluarga yg begini. Udah langka soalnya… Banyak yang terpengaruh iklan KB dan Fair n Lovely soalnya.

  3. suamiq juga pengen punya anak lima mb soalnya dia jg lima bersaudara tapiii akunya msih mikir2 hahha..tapi seru juga sih ya kalau anaknya banyak, ruameee…haha..

  4. OMG….. speechless, dan kagum :D… hebat mbaaa…… aku aja yg 2, punya art dan babysitter, masih aja stress kalo ditinggal ama asisten2 ku ini… tapi memang mba nunung ini dr awal pgn punya anak banyak yaa :).. nah itu kebalikan ama aku mbak.. jujurnya aku g pgn punya anak dulu… even sampe nikah skr, aku sempet bilang suami cuma mau 1, itu juga demi dia… tapi Tuhan memang berkehendak ya, jdinya malah diksh 2 :D.. sepasang pula.. ya sudahlah… diterima walo awal2 sempet baby blues lama..

    mungkin krn dr awal memang ga pengen itu, yg bikin aku ngerasa gampang stress saat ditinggal asisten… memang beda kok ngerjain sesuatu yg atas dasar memang suka dan pengin, dengan yang awalnya memang ga mau tapi harus menerima … padahal keluargaku sendiri dr keluarga besar loh mbak.. mamaku aja anak bungsu dari 13 SAUDARA.. ga kebayang mikirin gmn dulu nenekku melahirkan dan ngerawat anak2nya.. -_-..

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)