Mendefinisikan Cantik

Mendefinisikan Cantik. Cantik itu tidak harus mainstream. Sekalipun menurut ukuran media seseorang dianggap tidak cantik, tapi kalau dia menghibur, berprestasi, kontroversi, dan punya nilai lebih, bisa banget jadi terkenal. Yes atau yes? :)

Mendefinisikan Cantik

Jadi, beberapa hari yang lalu, instagram @nitajunita85 yang terkenal dengan “Diet ala Eike”-nya, memposting DM-annya dengan salah satu follower. Follower itu bilangnya “ngasih saran” untuk mempermak muka, percuma badan kurus tapi muka gak dipermak, kusam pula. Apalagi (dia lalu kirim salah satu foto di postingan Nita) fotonya dia sok kecantikan.

What????

Tulisan ini kolab bareng Isti. Tapi Isti terlena sama liburannya, jadi lupa nulis. XD
Ditunggu tulisannya besok Jumat yess.. Sebelumnya boleh mampir dulu di blognya.http://istiana.sutanti.com/

Saya langsung stalking ke akun mbaknya yang nge-DM dong.. Yang followernya enggak sebanding sama followernya Nita. Cuma 700an sedangkan follower Nita udah 88K. Jauhhhh… Dan mungkin karena dia males baca bullyan fans-nya Nita, tombol komen di semua fotonya dimatikan. Yah, hak dia juga sih.. Akunnya dese juga.. Cuman ada satu postingannya yang menggelitik, satu hari setelah Nita post DM-an mereka.

“Orang jujur mah banyak hatters nya. Gppa yekan suka atau ga suka itu hak org.”

Iyes, gpp kokk.. Kalau situ terganggu dengan wajah Nita yang menurut situ enggak cantik, ya udah unfoll aja. Beres. Hilang 1 follower dari total follower yang udah 88K enggak sebanding.. Lagian, jujur itu tidak harus dengan nulis kritikan dengan tajam. Apalagi kalau topiknya sensitif.

“Kamu tuh enggak cantik.” Apa bedanya sama dibilang, “Kok kamu gendutan sih sekarang?”

Uhmm.. itu basa-basi yang rada menyakitkan gak sih? Niatnya jujur, tapi bagi beberapa orang itu ngeselin loh. Karena jujur itu harus tahu sikon dan peka. Andai orang lain ngatain hal yang serupa sama aku, gimana perasaanku yaa..

Udah sampai eneg aku dikomentarin, “Luna mau punya adik lagi yaa…” (pasti karena dia lihat lemak-lemak numpuk di perut) “Oh, belum.. kirain. Abisnya Mbak Noni sekarang tambah gemukan.”

“Iya, alhamdulilah yaa.. Sekarang mau jajan makanan apa aja keturutan. Udah bisa bayar, enggak perlu nahan-nahan.”

LOL. Jawaban standar, yang sampai sekarang bisa bikin mulut orang itu tertutup diam.

Padahal udah lama lohh.. follow akunnya @nitajunita85. Dia ngasih semangat untuk hidup sehat dengan diet sehat dan olahraga. Tapi dasarnya aku yang malesan. Bangun tidur bukannya olahraga, malah buka Instagram. Oh my lifeee… >.<

Baca juga: Sebuah Pengakuan Dosa

Cantik itu relatif. Sering kan ya, denger ucapan itu? Menurut saya, artis A itu cantik, tapi menurut kalian enggak. Menurut suami, saya itu cantik, tapi menurut suami kalian, kalianlah yang lebih cantik.

Salah? Enggakkkk…

Karena cantik itu enggak cuma dari seberapa mahal kamu ngeluarin duit untuk perawatan. Enggak harus pakai SK II baru bisa dibilang kulitnya mulus. Dan bukan salah bunda mengandung, atau salah bunda milih ayah, kalau akhirnya kamu ditakdirkan lahir berwajah seperti ini.

Menurut saya, cantik itu ketika..

  • Kamu bisa menghargai apa yang sudah Tuhan kasih ke kamu.
  • Kamu bisa menjaga tubuh yang sudah Tuhan anugerahkan ke kamu.
  • Kamu bisa menjaga pikiran, mulut, dan hati ketika berinteraksi dengan orang.
  • Kamu bisa menjaga jempol ketika berselancar di dunia maya.
  • Kamu bisa mengembangkan potensi diri dan menginspirasi banyak orang.
  • Kamu bisa menghargai orang lain juga, enggak cuma diri sendiri.
  • Kamu bisa bersyukur dengan segala yang kamu punya.
  • Kamu selalu berbahagia dengan apa yang ada sekarang.
  • Kami tidak pernah mengeluhkan kondisimu sekarang.
  • ….

Banyak banget loh, orang-orang yang menurut estetika media itu kurang cantik, tapi followernya puluhan ribuu.. Tapi banyak juga yang cantik menurut media, cantik yang mainstream, followernya dikit. Karena kenyataannya, kita follow seseorang itu bukan karena cantiknya, tapi sosoknya, bagaimana feed-nya, dan seberapa jauh kita terhibur atau terinspirasi dari postingannya.

Baca juga: Drama Follow dan Unfollow

Anw, saya kemarin barusan kena halangan. Pas naik motor di jembatan layang, tiba-tiba benang layangan putus yang melintang di depan muka saya. Sebenernya saya udah pake masker dan kacamata, tapi apesnya kaca helm pas enggak ditutup. Akhirnya benang layangan itu kena di muka, dan karena kecepatan motor agak tinggi (itu jalan raya ring road dan pas sepi), saya susah mengendalikan ngerem motor. Untungnya sih, enggak jatuh.. Tapi benang layangan itu mengiris muka saya. Bawah mata dan hidung. Masing-masing jahit 2.

Kemarin ini barusan lepas jahitan. Muka saya udah enggak perbanan. Tapi jadi punya PR untuk memuluskan wajah yang kata suami, “Kayak Frankenstein.” Trus dia cengengesan. Kzl. Tau sih, dia becanda.. Tapi kadang kzl juga dengernya.

Paginya saya tanya lagi ke dia, “Aku cantik enggak?”. Trus nanya ke Luna, “Ibuk cantik enggak?”

“Cantikkkk…”

Saya tersenyum puas. Sekalipun muka saya ada bekas lukanya, yang dibilang kayak Frankenstein

Baca juga: Suami dan Istri Berdandan

Cantik itu relatif. Tergantung siapa yang memandang.

Cantik itu enggak harus dasteran atau blazeran. Cantik itu enggak harus bau bawang atau parfum Bodyshop terbaru. Cantik itu enggak harus pinter masak atau enggak bisa masak. Cantik itu enggak harus jago bikin alis atau membiarkan alis tumbuh berantakan. Cantik itu enggak harus ngasih anak ASI atau susu formula. Cantik itu enggak ditentukan berat badanmu kepala 4, 5, 6, atau bahkan 7. Cantik itu enggak harus berkulit putih atau cokelat, bahkan hitam legam. Cantik enggak harus berambut lurus, ikal rapi, atau kusut berantakan. Cantik itu enggak harus berdandan serba tertutup atau seksi seperti kurang bahan.

Cantik itu ketika kamu menjadi dirimu apa adanya dan bisa menghormati orang lain dengan apapun pilihannya.

Enggak sirik ketika perempuan lain terlihat kinclong. Enggak sirik ketika perempuan lain pakai daster tetap terlihat tidak lusuh. Enggak nyinyir ketika seorang ibu memutuskan memberikan sufor pada anaknya. Enggak mengeluh ketika suami enggak merestui istri make up-an dan menyebutnya seperti ondel-ondel. Enggak sirik ketika melihat perempuan lain berbadan langsing karena diet dan olahraganya sukses besar. Enggak iri ketika perempuan lain berangkat kerja dengan dandan cantik. Enggak nyinyir ketika perempuan lain facial di Skin Clinic termahal. Enggak nyinyir ketika perempuan muda berdandan cetar ketika jalan di mall dan menggandeng sesosok bapak-bapak.

Karena iri, sirik, mengeluh, dan nyinyir bisa menghapus kecantikan.

Percayalah!

3 thoughts on “Mendefinisikan Cantik

  1. Seriiiinggg…..dulu aku sering dibilang item, dekil, kusam, ndeso, jelek. Beneran komennya menusuk hati banget. Lalu jadinya insecure lho.

    Mbak, semoga lekas pulih lagi ya. Aku bacanya berasa ngilu bayangin muka dijahit. Huhuhu.

  2. Aku sampe penasaran buka ig nya si mba nita itu.. Orang ya kok suka banget ya menghina orang lain. Ntah berasa udah jd yg paling sempurna, ato lupa kalo yg dihina itu ciptaan Tuhan juga.. Ga berani menghina penciptanya sekalian apa :D..

    Duuh mba, itu serem ama benang layangan bisa gores muka gitu.. Kok aku jd inget cerita conan yg lama.. Tp yg itu lbh sadis, benangnya sampe bikin putus leher -_-..

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)