Melahirkan Normal atau Caesar?

Melahirkan Normal atau Caesar?

Melahirkan partus normal atau caesar selalu jadi mommy’s war tiada henti. Sama seperti pilihan untuk memberi anak ASI atau susu formula. Memakaikannya pospak atau clodi. Memberinya MPASI homemade atau pabrikan.

Emang yaa… ibu-ibu selalu punya bahan untuk perdebatan. Menganggap bahwa pilihannya adalah yang terhebat, hingga mengesampingkan bahwa sebenarnya ada story tersembunyi di balik setiap pilihan ibu-ibu lain. Cerita yang selama ini tidak pernah disampaikan dan dijadikan pembelaan. Karena berbeda itu bukan dosa. Tidak menjadi sempurna itu bukan kesalahan. Setiap orang punya hak menentukan mana yang baik bagi dirinya dan keluarganya.

Baca juga tulisan Isti: Lahiran Caesar atau Normal

Saat hamil Luna dulu, saya berharap banget bisa melahirkan normal. Setiap hari saya berdoa dengan 2 pokok doa yang tidak pernah saya lewatkan. Kiranya Tuhan memberikan anak yang sehat tumbuh kembangnya dan saya bisa melahirkan normal. Malah saya lupa berdoa supaya diberi ASI lancar. Fokusnya cuma ke lahiran normal.

Karena menurut saya saat itu, melahirkan normal itu keren! Di antara sekian banyak orang di sekitar saya yang melahirkan caesar, pokoknya saya harus bisa melahirkan normal!

Saya gelisah ketika obsgyn waktu itu, dr. Danny Wiguna, mengatakan bahwa bayi saya overweight di perut. Saya takut kalau bayinya terlalu besar, nanti saya susah melahirkan secara normal. Mulailah saya diet dan mengurangi asupan gula. Sambil saya menghubungi beberapa saudara sepupu dan menanyakan berapa dulu berat badan ponakan saya saat dilahirkan, dengan cara apa dia dilahirkan, normal atau caesar.

Dan saya “menginterview” semua kakak sepupu perempuan saya yang sudah melahirkan. Serius!

Karena saya enggak punya kakak perempuan, jadi sepupu perempuanlahyang saya tanyai. Demi mencari pembenaran, bahwa bayi besar ini adalah keturunan, dan melahirkan normal juga seharusnya keturunan. Kebetulan, semua sepupu saya (saat itu) bisa melahirkan anak-anaknya yang “besar-besar” dengan partus normal.

Apa jadinya aku, kalau melahirkan caesar? Pokoknya harus normal. Biar keren. Biar enggak dibully!

Ketakutan buatan sendiri yang sebenarnya tidak pernah terbukti. Karena ketika kakak sepupu saya melahirkan anak keduanya baru-baru ini, dengan proses caesar, toh tidak ada satu pun yang membully-nya.

Saya semakin gelisah ketika iseng ke obsgyn lain, eh.. malah dibilang, “Minus matanya tinggi gitu, yakin bisa melahirkan normal?” Paniklah saya seketika, dan dengan rujukannya saya meluncur ke dokter mata untuk cek retina. Kemudian dokter mata tersebut menjelaskan bahwa tidak ada hubungannya antara melahirkan normal dengan retina sobek. Yang kemudian statementnya tersebut, diiyakan oleh dr. Danny Wiguna idolak.

Enggak lagi-lagi saya iseng balik ke obsgyn lain itu. Niatnya cari alternatif obsgyn yang biaya RSnya lebih murah, tapi ternyata kok enggak pro-normal.

Kegelisahan saya menjadi-jadi, ketika saat Luna usia 36 minggu, dr. Danny mendapati detak jantungnya melemah. Lehernya terlilit tali pusat. Menjelang tengah malam itu, saya meluncur ke RS untuk rekam EKG. Kalau masih lemah, harus segera caesar saat itu juga. Sebelum EKG, saya disarankan suster jaga untuk makan malam dulu.. Soalnya sejak selesai hypnobirthing, saya belum makan malam.

Ehh.. bener, ternyata detak jantung Luna melemah itu, karena saya belum makan malam. Setelah makan, hasil EKG normal. Esok paginya, EKG lagi dan normal. Termasuk USG 4D hasilnya juga baik-baik aja. Memang ada lilitan di leher, tapi tidak terlalu mengganggu.

Lolos sudah saya, dari peluang melahirkan caesar..

Hingga tepat 3 hari menjelang HPL, tiba-tiba ketuban saya pecah. Airnya banyak sekali di atas kasur, yang atas inisiatif pribadi, esoknya kasur itu dicuci sama adik saya yang paling kecil. Hahaha.. Laff yu Om Diga. Denger-denger air ketuban itu baunya amis. Entah deh.. saat itu seisi rumah panik dan enggak ada yang iseng bauin kasurnya.

Saya dengar-dengar, kalau air ketubannya pecah itu harus melahirkan secara caesar. Karena ibaratnya, “pelumas” untuk melahirkan normal sudah enggak ada, yang berarti itu bakal bikin lebih sakit. Dan tindakan caesar itu untuk menyelamatkan bayi, karena “pelindung”nya sudah enggak ada, jadi harus segera dikeluarkan.

Tapi, syarat dan ketentuan berlaku. Tidak semua kejadian air ketuban pecah itu, lantas langsung tindakan caesar. Kebetulan saat itu, dari pecah ketuban, kontraksi, hingga bukaan lengkap tidak terlalu lama, 4 jam. Sehingga, akhirnya.. Luna bisa lahir dengan proses normal, tapi saya harus berkali-kali ngedennya, dan episiotomi yang entah itu membuat berapa jahitan di bawah sana. Soalnya setelah melahirkan normal, saya tidak seperti yang orang-orang ceritakan di sana.

Katanya, kalau normal, bentar aja udah bisa ngapa-ngapain. Bisa duduk, jalan, bahkan bawa barang-barang berat. Kalau saya, ya ampun…. tersiksa banget. Jalan aja kakinya rapet kayak pake jarik. Duduk, harus super pelan. Mandiin Luna di ember bawah dan harus jongkok, o… tidak bisa. Harus ember di atas meja, karena saya anti jongkok. Batuk juga ditahan-tahan, karena takut jahitan jebol tiap kali batuk. Dan tidur, enakan tidur tengkurap, karena pantat enggak menyangga badan.

Intinya, saya merasakan banget tersiksanya area bawah itu, setelah melahirkan normal. :(

Baca juga: The Art of (wanna be) Mother

Setelah melalui serangkaian proses naik-turun perasaan untuk bisa melahirkan normal tersebut, sebenarnya saya punya kesempatan untuk bisa jumawa. Saya bisa aja judging ke ibu-ibu lain. Makanya, banyak-banyak berdoa dengan permohonan yang jelas dan supaya dijauhkan dari segala hal-hal gaib lainnya. Makanya, banyak olahraga dan gerak, ngepelnya sambil ngesot bukan pake gagang pel. Makanya, anaknya disugesti sejak dalam perut supaya mau lahir normal. Dan segala deret,”makanya” lainnya.

Tapi, berteman dengan banyak orang, membaca banyak artikel, mendengarkan banyak cerita, membuat saya memahami bahwa proses melahirkan setiap orang itu berbeda-beda, tidak bisa distandarkan, apalagi disamakan. Namanya manusia, kan beda-beda ya.. Mungkin kasus X di ibu A bisa normal, tapi di ibu B harus caesar. Karena sikon dan kondisi manusia itu beda. Dan itulah gunanya profesi dokter, karena dengan ilmunya, mereka bisa mendiagnosa dan menentukan jalan mana yang terbaik bagi pasien.

Saya bukan dokter yaa.. tapi beberapa kasus (dari pengamatan pribadi) kadangkala membuat ibu harus melahirkan dengan proses caesar. Misalnya:

  • Panggul ibu sempit. Kadang, beberapa obsgyn mengecek panggul lewat pemeriksaan dalam. Tapi beberapa dokter tidak melakukan pemeriksaan dalam. Hanya melihat tinggi badan ibu, mereka bisa tahu bagaimana lebar panggulnya. Umumnya, ibu dengan tinggi badan di bawah 150 cm, memiliki lebar panggul yang sempit.
  • Bayi terlalu besar. Dikatakan besar itu biasanya kalau di atas 4 kilogram. Meski ada beberapa kasus ibu yang anaknya 4 kilo, lahirnya normal ya.. Mungkin karena lebar panggulnya memang memungkinkan.
  • Posisi bayi sungsang. Apalagi kalau posisi pantat yang di jalan lahir. Meski ada dokter/bidan yang bisa memutar posisi bayi di perut dengan tangannya. Dibenerin posisinya gitu… Tapi tetap saja ya, posisi bayi sungsang yang dipaksa lahir secara normal itu ada risikonya.
  • Plasenta previa. Plasenta yang menutupi jalan lahir. Ada plasenta yang menutupi keseluruhan jalan lahir, tapi ada juga yang sebagian. Kalau enggak caesar, bisa perdarahan, atau janin kekurangan oksigen dan nutrisi yang selama ini didapat dari plasentanya.
  • Solusio plasenta. Ini kondisi kalau plasenta keluar duluan. Padahal plasenta itu sumber oksigen dan nutrisi untuk janin. Kalau plasentanya keluar duluan, demi menyelamatkan bayi, maka bayi harus dikeluarkan dengan segera, dengan proses caesar.
  • Gawat janin. Misalnya air ketuban udah keruh, atau denyut jantung bayi yang melemah karena kekurangan oksigen. Prediksi saya yaa… Kalau Luna enggak segera dilahirkan dalam waktu cepat, saya pasti berakhir di meja operasi.
  • Janin abnormal. Seperti keadaan hidrosefalus, atau kerusakan genetik lain. Biasanya beberapa dokter menyarankan untuk melahirkan caesar aja.
  • Bayi kembar. Untuk meminimalisir risiko, banyak dokter yang menyarankan untuk melalui proses caesar. Beberapa teman saya yang anaknya kembar juga memilih untuk caesar, ketimbang kalau dipaksa normal nanti malah berisiko bagi salah satu bayinya.
  • Kondisi ibu yang sakit tertentu, sehingga tidak memungkinkan melahirkan normal. Misalnya asma, tekanan darah tinggi.

Kalau kita terus membandingkan dengan keadaan zaman dulu dengan dalih, “Toh, dulu ibu kita, nenek kita, bisa melahirkan anak-anaknya dengan proses normal semua. Masa kita enggak bisa.”

Tapi, sadar enggak sih. Bahwa zaman dulu, tingkat kematian ibu melahirkan dan kematian bayi lahir itu sangat tinggi. Lebih tinggi dibandingkan masa sekarang. Dan karena itulah ilmu kedokteran berkembang. Mereka punya misi untuk menyelamatkan ibu-ibu melahirkan, menyelamatkan bayi-bayi yang akan dilahirkan, dan meminimalisir risiko kematian ibu dan bayi.

Dengan teknologi kedokteran yang ditemukan dan terus berkembang. Kalau dulu kita menjerit kesakitan, menahan sakitnya kontraksi, sekarang udah ada epidural. Every woman loves epidural! Cuman, Rumah Sakit di Indonesia belum jadi standar ya.. melahirkan dengan epidural. Hihihihi..

Dengan teknologi kedokteran juga, melahirkan caesar ternyata tetap bisa melakukan proses IMD. Dan berkat teknologi yang berkembang juga, melahirkan juga bisa di air dengan metode waterbirth yang lagi populer itu.

Zaman dulu dan zaman sekarang itu enggak bisa dibandingkan. Dan kemajuan teknologi yang ada di zaman sekarang ini bukan berarti kemunduran mental. Tapi demi menyelamatkan kehidupan manusia.

Baca juga: Feeling Ibu Tidak Pernah Salah

Ketika ditanya, kok kamu dulu bisa melahirkan normal? Padahal kondisi bayi saat itu, dengan tali pusat yang melintang di leher, air ketuban pecah duluan, berat Luna lumayan gede, dan riwayat dulu detak jantungnya pernah melemah.

Saya juga enggak ngerti, kok bisa yaa…

Tapi dulu, emang saya bertekad banget melahirkan normal. Dan yang saya lakukan saat itu adalah

  • Tiap pagi jalan kaki. Belanja sayur jalan kaki dan sengaja cari rute yang muter, biar lebih jauhan dikit. Termasuk pas di kantor, sesuatu yang sebenernya bisa diselesaikan lewat chatting online, tapi saya milih jalan ke mejanya dan ngobrol langsung. Bisa banget itu bolak-balik kayak setrikaan, dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya. Dan yang saya inget banget, 1 hari sebelum saya lahiran, saya dan suami jalan kaki muterin Stadion Maguwoharjo! Kalau dipikir-pikir lagi, niat banget ya dulu.. Wakakakakakk…
  • Ngepel jongkok. Sebenernya ini karena dulu saya belum punya gagang pel sih.. Hahaha.. Jadi tiap ngepel harus jongkok. Denger-denger, ngepel jongkok bisa memperlancar proses melahirkan normal.
  • Ikut kelas senam hamil dan hypnobirthing. Usia 28 minggu, saya udah ikut kelas senam hamil seminggu sekali. Trus di usia 32 minggu, saya mulai ikut kelas hypnobirthing, privat selama sejam, seminggu sekali. Entah ngefek secara langsung atau enggak ya.. Tapi paling tidak, saya belajar teknik pernapasan, mensugesti positif terhadap diri dan bayi, juga saling memotivasi antar ibu hamil satu dengan yang lain.
  • Senam jongkok-berdiri dan nungging tiap malam. Sebelum tidur, rutinitas saya selalu begitu. Di depan lemari, senam jongkok-berdiri. Trus di atas kasur, nungging selama beberapa menit, mayan lama pokoknya. Karena di usia 36 minggu, Obsgyn dan Bidan bilang, kepala bayi belum masuk panggul. Jadi saya harus ekstra exercise.
  • Berdoa. Ini pasti banget yaa.. Awal-awal kehamilan saya berdoanya spesifik, minta diberi kesempatan melahirkan normal. Tapi lama-lama ketika menjelang melahirkan dan menghadapi beberapa peristiwa tadi, saya jadi membuka diri terhadap kemungkinan melahirkan caesar. Doa saya berubah, pokoknya apapun proses lahirnya, yang penting saya dan bayi ini selamat dan sehat.

Itu bukan syarat paten melahirkan normal yaa… Karena beberapa teman ada yang melakukan hal serupa, tapi berakhir di meja operasi juga. Ya bisa jadi karena, indikasi-indikasi yang udah saya sebutin tadi di atas.

Dan bukan berarti ketika anak pertama saya berhasil melahirkan normal, lantas anak kedua nanti saya akan melahirkan normal juga. Atau sebaliknya, ketika anak pertama melahirkan caesar, belum tentu pupus sudah harapannya melahirkan anak kedua dengan proses normal. Apapun bisa terjadi.. karena kondisi tubuh kita sudah berubah dan bayi yang dikandung kan juga berbeda.

Baca juga: Ibu Hamil Favorit

Obsgyn saya, dr. Danny Wiguna idolak, pernah berkata ke saya.

Yang menentukan proses melahirkan itu adalah 4P. Passage (jalan lahir), Passenger (bayinya), Power (kekuatan ibu membantu bayi lahir, atau ngedennya), dan Psikis (kondisi psikis ibu).

Saya nambahin 1 lagi ya.. Yaitu Pray (doa keluarga tersebut). Tetapi semuanya harus sejalan. Seringkali, kita ngakunya udah berdoa mati-matian, ternyata kenyataannya berbeda. Bisa jadi faktor P yang lain, tidak sejalan.

Dan menurut saya.. Apapun prosesmu melahirkan, tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih baik, atau tidak sempurna. Setiap wanita sempurna dengan proses apapun dia melahirkan bayinya.

:)

 

4 thoughts on “Melahirkan Normal atau Caesar?

  1. Saya juga normal mba lahirannya. Kalau saya 3 hari sama sekali gak bisa jalan ke WC saja minta digendong ke Bapak. Setelah 10 hari barulah bisa jalan normal.

  2. As always.. Love it sama tulisannya Mak Noni.. Terima kasih ya mak, tulisanmu memberikanku semangat untuk melahirkan dengan nyaman bulan depan, insyaAllah.. doakan ya mak :*

  3. Saya dulu juga caesar karena bayi melintang. Padahal segala usaha + doa sudah dilakukan tapi bayi tetep ga mau mapan di jalannya.

    Tapi tetep berharap nanti bisa melahirkan normal meskipun banyak yang kurang mendukung, termasuk bidannya. Ga mau ambil resiko katanya :)

  4. Akupun tiap hari udah jalan kaki, naik turun tangga, renang, sujud yg lama kalo sholat. Tapi kmrn pas kontrol ke dokter kayaknya bakal ada wacana sc krn janinnya sungsang dan terlilit tali pusat. Huhuhuhu. Sempet stres sampe nangis2, akhirnya mulai ikhlas deh ni anak biar memilih jalan lahirnya sendiri :)

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)