Manajemen Waktu Ibu Bekerja

 

Manajemen Waktu Ibu Bekerja

Tanda-tanda kehidupan di sebuah rumah diawali dengan seorang ibu yang bangun paling awal dibandingkan anggota keluarga lainnya. Menyiapkan sarapan atau memasak untuk keluarga, bersih-bersih rumah, dan menyiapkan bekal untuk anak, suami, juga untuk dirinya sendiri. Dan jika suatu hari si ibu kelelahan karena bangun kesiangan, maka semua ritme di keluarga itu akan kacau karena semua ikut bangun kesiangan.

Itu yang terjadi di keluarga saya sih.. Bisa jadi berbeda di keluarga kalian masing-masing.

Saya, ibu bekerja full time 8 to 5, yang punya anak satu dan hidup tanpa ART. Setiap pagi selalu diburu waktu dan menempuh perjalanan sekitar 35-40 menit menuju kantor. Setiap pagi pula, harus memikirkan makan apa kita hari ini? Atau kalau lagi males masak, paling enggak saya cuma mikir, “Pagi ini Luna makan apa?” Lalu bergegaslah saya ke warung sayur, mencari sayur mentah dan memasaknya. Atau kalau waktu mepet, tinggal beli sarapan mateng aja buat dimakan sekeluarga. Makan siang kami, gampanglah nanti di kantor. Makan malam, pikirin entar malem aja. Untungnya makan siang dan sore Luna sudah di daycare. Bonus makan malemnya, tergantung mood dan permintaan perutnya.

Baca juga cerita Isti: Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga

Penyesuaian diri pada ritme hidup terus saja beradaptasi. Kalau dulu, pagi saya bisa habis hanya untuk menyiapkan MPASI Luna dan kami ngalah selalu beli makan matengan. Sekarang dia sudah pemakan segala, jadi paling enggak waktu saya bisa lebih longgar untuk menyiapkan makan sekeluarga.

Dulu saya juga sempat stres dengan setrikaan. Demi apa coba, saat Luna masih bayi saya masih selalu menyetrika sendiri semua baju kami bertiga. Mulai dari kemeja, dress, kaos-kaos, dan segala bentuk blouse. Kalau pagi saya habis untuk menyiapkan MPASI, malam saya habis untuk menyetrika baju. Satu-satunya waktu istirahat cuma saat menyusui!

Sampai akhirnya Bu Purba Laundry saved my life. Hidup saya lumayan bebas dari setrikaan, kecuali baju-baju Luna yang masih saya setrika sendiri. Kalau cuma nyuci dengan mesin cuci udahlah yaa.. tinggal mencet, tar kering sendiri.

Dulu, saya hampir tidak bisa melakukan me time. Hidup saya cuma habis di kantor, main sama anak, dan mengurus pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya. Sampai akhirnya saya mikir, apa ya iya.. saya bakal kayak gini terus selamanya. Sebelum punya anak saya masih bisa nonton, baca buku, dan rutin nulis kok. Kok setelah punya anak, 24 jam sehari rasanya cepet berakhir tanpa saya sempat melakukan hal-hal yang sebenarnya saya cintai.

Bukannya saya tidak menyukai hal seperti beres-beres, masak, mainan sama anak, nyuapin anak, dan lain-lain. Saya suka banget! Cuman, sepertinya ada yang salah dengan manajemen waktu saya, sampai enggak punya kesempatan untuk sekadar pacaran sama suami, cuddling time, me time, atau bergaul dengan komunitas,

Baca juga: Mencari Curi Me Time

Sudah pernah ada yang ikutan kuis “The Power of When”? Atau mungkin ada yang sudah pernah baca buku yang ditulis oleh Michael Breus, PhD ini? Melalui bukunya yang fenomenal tersebut, Dr. Breus mengenalkan “Sleep Animal Type”. Yaitu tipe-tipe manusia dari waktu-waktu produktifnya. Setelah tahu kita bisa me-manage waktu dengan lebih baik; kapan waktu maksimal untuk bekerja, untuk bersantai, untuk bersenang-senang, dan untuk beristirahat.

Bukan berarti loh, orang yang suka bangun siang itu pemalas. Bisa jadi memang dia tipe Serigala yang baru bisa on dan produktif tiap malam datang. Atau orang tipe Lion yang bangun sangat pagi, tapidia tidak kuat untuk mengikuti acara-acara di malam hari karena energinya sudah habis.

Saya beberapa kali mencoba ikutan kuisnya, baik lewat buku ataupun websitenya: https://thepowerofwhenquiz.com/. Dan hasilnya semua sama. Saya ini tipe Bear. Bukan tipe yang rajin banget bangun pagi, tapi juga enggak bisa bangun terlalu siang. Saya jauh lebih produktif bekerja di pagi hari ketimbang siang. Makanya, kalau meeting diletakkan di pagi, saya lebih bisa tune in, dibanding meeting siang.

sleep animal

Sebelumnya memang sudah merasa bahwa saya ini adalah tipe orang yang jauh lebih bersemangat dan bisa lebih tune in di awal-awal hari. Mulai saat itu, saya kembali mengatur ritme harian. Bangun pagi dan melakukan semua pekerjaan penting serta pekerjaan yang tidak saya sukai di awal-awal hari.

Seperti, menyetrika di pagi-pagi hari. Hahaha.. Saya benci banget menyetrika baju. Tapi masih punya kewajiban menyetrika baju-baju Luna. Kalau saya menyetrikanya di siang hari, bisa dipastikan muka saya bete berat dan marah-marah mulu. Entah ngeluh panaslah, ngeluh tumpukan setrikanya banyak banget, atau bahkan ngeluhin suami yang enggak tanggap bantuin.

Menyetrika itu “difficult task” buat saya. Dan kalau pekerjaan tersulit sudah selesai di awal hari, maka sepanjang hari saya bakal hepi terus..

Sama juga, pagi hari sampai di kantor saya langsung melakukan pekerjaan-pekerjaan penting yang membutuhkan kerja keras otak untuk berpikir. Meeting, diskusi menyelesaikan masalah, membalas email komplain, dan lain-lain. Lalu nanti siangnya, tinggal mengerjakan hal-hal teknis yang lebih enteng aja.

Malam harinya, save the best for the last!

Melakukan me time seperti baca buku, nonton film dan drakor, maskeran, atau menulis. Semua dilakukan di malam hari setelah Luna tidur. Lebih santai tanpa ada gangguan. Lagipula, saat malam datang, ide-ide di kepala keluar semua dan siap dituliskan.Kerasa loh, tulisan yang ditulis di pagi dan malam, rasanya kok lebih menarik dan mengalir yang ditulis malam hari, ya…

Jadi, tulisan ini ditulis malam atau siang hayooo… LOL

*

Sampai sekarang saya masih terus belajar me-manage waktu. Perubahan kecil dalam hidup kita, sesederhana warung sayur dekat rumah sudah tutup, ternyata itu bisa mengacaukan rutinitas harian kita. Makanya, manajemen waktu itu bukan dilakukan di awal-awal pernikahan atau setelah anak lahir, tapi setiap hari.

Saya pribadi pengin bisa lebih disiplin rutin bangun pagi, tidur tidak terlalu larut, memaksimalkan waktu petang bersama keluarga, tanpa melupakan me time favorit.

Karena bukan berarti, jadi ibu bekerja itu waktunya terpenjara di kantor, tidak bisa berkomunitas, tidak bisa mengekspresikan diri, dan tidak punya waktu untuk family time. Sangat bisa kok! Tergantung gimana kita mengelola 24 jam setiap harinya.

14 thoughts on “Manajemen Waktu Ibu Bekerja

  1. Etapi ga juga denk, dulu aku tuh suka pengen beresin kerjaan sebelom jm 12 teng, pabole buat bossnya yg suka ngulur miting dan aneka rapat heuuhhh, akhirnya meski aslinya kerjaan dah klar, tetep ae pulangnya telat

  2. Aku tipe wolf.wkkka.malam hari jg ngerasa lebih produktif, meski harus tetap boci dulu. Haha. Semangat ya Mama Luna..nih aku ngerjain tesis brgkt jm9 plg sore/malam aja udah jarang ngeblog, tepar ciinn..hiks. salut buat working mom!:)

    1. Hiks, boci itu enggak ngaruh terlalu besar buatku. Kalo udah ngantuk, siangnya udah boci, tetep aja bisa tidur cepet. -__- Sebaliknya, kadang enggak boci, kalo udah niat, malemnya tetep bs produktif juga.

  3. Bener banget, ibu itu bangun paling pagi tidur paling larut. Eh, saya juga paling males urusan setrika baju. Kalau lagi kepepet, cuma baju sekolah dan baju yg buat pergi yg disetrika. Daster-daster mah biarin aja.
    Keren mak, dirimu kerja kantor tanpa art masih sempet me time dg ngeblog dll.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)