#LifeAsEditor: Tentang Buku Anak yang Ditarik Peredarannya

#LifeAsEditor: Tentang Buku Anak yang Ditarik Peredarannya.jpg

Beberapa hari yang lalu akun IG lambe turah share foto buku Aku Bisa Melindungi Diri yang ditulis oleh penulis produktif Fita Chakra (hai Mbak Fita), dan diterbitkan oleh Tiga Ananda, lini Tiga Serangkai. Saya enggak habis pikir, kenapa sih lamtur share beginian segala. Dulu yang saya tahu lamtur itu akun gosip artis. Tapi lama-lama dia kehilangan jati dirinya. Apa-apa dishare dan memotret semua-mua yang menurutnya enggak bener atau sensasional. Udah kayak polisi moral aja. Kzl. Tapi enggak unfol. LOL

Untungnya di hari berikutnya postingan foto lamtur ini langsung dihapus. Enggak tahu gimana ceritanya, tapi syukurlah sudah dihapus. Lagian, yang dia share ini hanya foto 2 halaman buku aja. Jelas tidak bisa merangkum keseluruhan isi buku, dan tidak bisa mewakili isi buku yang sebenarnya.

Buku yang terbit Agustus 2016 ini, sebenarnya sudah ditarik dari toko buku sejak Desember 2016. Entah karena komplainnya siapa, yang jelas bukan karena postingan lamtur atau komentar kita-kita yang bahkan baru tahu buku tersebut sekarang ini.

Untuk menarik buku dari peredaran itu tidak bisa cepat. Berapa coba jumlah toko buku di Indonesia? Dari ujung Sabang sampai Merauke, TB Gramedia sendiri ada ratusan cabang, belum Togamas, Kharisma, Gunung Agung. Ada banyak. Dan itu artinya menarik buku dari toko buku itu butuh waktu yang tidak bisa seminggu juga.

Belum lagi toko buku online yang mungkin masih memasang foto bukunya di daftar katalog. Jelas menyisir itu satu per satu butuh waktu.

Sebagai editor, pernahkah kejadian buku ditarik karena dikomplain orang? Pernahhh.. Hampir dituntut bahkan. Makanya kalau buku sampai ditarik, saya stres berat. Kebayang keselnya banyak orang akibat keteledoran saya. Belum lagi gimana nasib buku-buku tersebut, kalau enggak dimusnahkan. Berapa juta sendiri dibakar sia-sia.

Di hari yang sama saat lamtur posting foto buku tersebut, Penerbit Tiga Serangkai langsung mengeluarkan releasenya di Fanpage-nya.

Membicarakan tentang pendidikan seks itu disadari atau enggak masih dianggap tabu bagi beberapa kalangan, masih jadi isu yang sensitif. Tapi perilaku penasaran anak terhadap kelaminnya itu banyak dijumpai di setiap anak-anak. Dan saya paham kenapa editor punya ide seri ini. Karena kejadian seperti di judul-judul seri ini memang banyak ditanyakan anak-anak.

Ohya, seri ini ada 6 judul buku: Apa Itu Hamil?, JIka Aku Menonton TV, Aku Belajar Mengendalikan Diri, Haruskah Aku Dikhitan, Saat Aku Takut dan Bingung, serta Aku Berani Bilang Tidak.

Pikiran saya kembali ke masa kecil. Saya pernah nanya ke Mama, hamil itu gimana? Tapi lagi-lagi karena ngomongin seks itu masih dianggap tabu, Mama justru mengalihkan pertanyaan saya dengan ngobrolin hal lain. Dan itu bikin saya menjawab sendiri pertanyaan saya tadi, bahwa cewek dan cowok kalau tidur bareng bisa hamil. Berarti aku enggak boleh tidur sama adikku.

Dudul! LOL

See, jadi sebenarnya seri-seri ini bagus dan memang tujuannya baik buat anak. Anak bisa belajar tentang pendidikan seks yang selama ini ditanyakannya dan berkecamuk di pikirannya. (((berkecamuk)))

Selama ini, (mohon diralat ya, kalau salah) yang saya tahu memang jarang buku pendidikan seks anak yang segmen pembacanya untuk anak. Kebanyakan buku pendidikan seks, segmen pembacanya selalu untuk orangtua atau kalau enggak untuk remaja (yang menjelaskan tentang menstruasi, mimpi basah, dll).

Adanya buku ini memang menjadi sesuatu yang berbeda, karena kemasannya anak-anak banget. Dilihat dari cover dan ilustrasinya, itu anak-anak banget. Memang yang disayangkan adalah tidak adanya label Bimbingan Orangtua atau semacamnya. Mungkin itu yang bikin orangtua pada kaget, loh buku anak kok isinya begini.

Baca juga: Memilih Buku Anak

Gini ya, toko buku itu setiap hari selalu menerima buku baru masuk ratusan judul, masing-masing terdiri dari puluhan eksemplar. Saking banyaknya, petugas toko kadang suka enggak ngecek dan baca kategori buku yang tercantum di backcovernya. Apalagi baca sinopsis, sering enggak sempat juga. Makanya, kadangkala mungkin ditemukan buku yang salah display.

Saya jadi inget kejadian bukunya Moammar Emka yang judulnya Tumpang Tindih. Covernya gambar sushi yang ditata di atas tubuh wanita. Eh.. sama petugas toko ditaruh di rak buku resep masakan. Sejak kapan coba dia nulis buku resep. LOL.

Tumpang Tindih - Moammar Emka.jpg

Itulah kenapa ada checker dari masing-masing penerbit dan distributor. Salah satunya buat memastikan buku di toko sudah terdisplay dengan baik dan sesuai belum.

Balik lagi ngomongin buku Aku Bisa Melindungi Diri ini, menurut saya pribadi, kalau segmen pembaca buku ini adalah untuk orangtua, bisa banget kejadian petugas toko salah meletakkan bukunya. Karena covernya anak-anak banget, jadi didisplay di rak buku anak.

Tapi beda cerita kalau emang tujuan buku ini untuk dibaca anak-anak. Berarti penulisan dan ilustrasinya yang musti dikemas supaya tidak terkesan mengendors anak untuk melakukan hal tersebut.

Luna itu, sekalipun tiap dibacain buku dia cerewet banget, sambil lompat-lompat, dan enggak sabar untuk balik halamannya. Tapi ternyata anak-anak seusia dia ini merekam banget apa isi bukunya. Contoh terbaru, saat dia baca buku Liburan Terbaik dari Rabbit Hole, dan esoknya saya ajak dia ke pantai.

Sebelum berangkat, dia memastikan bahwa barang-barang yang dibawa sama seperti yang ada di gambar buku tersebut. Dan dia ingin melakukan hal yang sama seperti anak di buku itu. Sama-sama bikin istana pasir di pantai.

Baca juga: Children Book Review: Rabbit Hole Liburan Terbaik

Jadi, di satu sisi saya ngerti kenapa editor punya ide bikin serial ini. Apalagi berangkat dari fenomena yang banyak terjadi di kalangan anak-anak. Ditambah editor ini bukan editor yang baru kemarin sore loh.. Pastilah, dia udah jago banget tentang dunia perbukuan. Tapi di sisi lain, saya juga paham dengan kekhawatiran orangtua yang takut buku ini justru mengajarkan anak-anak untuk mencoba melakukan yang digambarkan di buku.

Cuman yang saya paling sebel adalah komentar netizen yang pedas-pedas dan asal main kecam aja. Ngatain penulisnya lah, ngatain penerbitnya lah.. Halahh.. udahlah, enggak usah nyinyir begitu. Kalau emang situ enggak suka, ya udah enggak usah beli bukunya. Selesai perkara.

*

Baca buku cerita anak dalam negeri sejujurnya emang agak thrilling. Entah kalimatnya yang pilihan diksi agak rumit, plot ceritanya yang aneh, atau penataan ilustrasinya yang enggak sesuai. Tapi meski gitu, saya tetep suka baca buku cerita anak dalam negeri.

Saran saya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat kita baca buku anak, sebaiknya kita melakukan ini:

  1. Biarkan anak memilih sendiri buku yang ingin dibelinya. Tapi, pastikan kita baca dulu on the spot, buku-buku pilihannya. Bisa cuma skimming atau baca cepat aja, yang penting cek dulu kontennya. Jangan bayar ke kasir, baru baca di rumah.
  2. Kalau buku masih dibungkus plastic wrap, minta petugas toko untuk membukanya. Membuka plastic wrap di toko buku (terutama Gramedia) itu BOLEH, tapi sebaiknya petugas yang membukanya. Jadi kita minta tolong petugas untuk membukakannya, karena biasanya mereka akan melepas stiker barcode dan menempelnya di buku. Saya cukup sering meminta petugas melakukannya, ketika buku yang diincer enggak ada yang sudah lepas segel. Meski ujung-ujungnya enggak beli, ya gak pa-pa. Enggak dosa juga. Kan kita enggak pengin milih kucing dalam karung toh..
  3. Kalau sudah dibeli, sebelum bacain buku itu ke anak, sebaiknya kita baca dulu semuanya secara utuh, komplit. Ini semacam screening kedua, bahwa isi buku dan ilustrasinya memang benar layak dibaca anak.
  4. Udah deh, setelah itu buku bisa dipastikan apakah harus dibaca dalam pengawasan dan pendampingan orangtua, atau anak boleh baca sendiri bebas.
  5. Kalau ada konten atau ilustrasi yang menurut kita enggak pas, kirim email ke penerbitnya dan penulisnya. Pasti itu bakal dibaca, dibalas, dan dijadikan masukan. Bukannya posting ke social media.

Mau enggak mau ya.. Kita sebagai orangtua adalah badan sensor bacaan untuk anak-anak kita. Ada yang mungkin membebaskan anaknya membaca apa saja, tapi ada juga yang cukup strict memantau pilihan bacaan anak.

Kalau saya pribadi, enggak mau terlalu strict, yang penting setiap buku yang dibacanya tidak menimbulkan dampak negatif dalam hidupnya. *efek dulu SMP udah baca Harlequin, tapi puji Tuhan tetap bisa melewati masa remaja dengan selamat.* LOL

 

5 thoughts on “#LifeAsEditor: Tentang Buku Anak yang Ditarik Peredarannya

  1. Semangat yaa para insan perbukuan Indonesia, tetap berkaryaa.. sedih banget kejadian ini, kudu lebih banyak belajar lagi.. Iya, sebelum ngasih ke anak ibunya kudu baca dulu, nggak boleh malas hihihi..

  2. Aku malah tahunya dari share fb teman2 mbak. Dulu teman saya juga bukunya ditarik dari peredaran hanya ada kata kata tertentu yang menurutku biasa..dikira radikal

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)