Liburan Keluarga ke Bali (Part 2)

Hai.. sudah baca tulisan saya sebelumnya Liburan Keluarga ke Bali (part 1)? Karena ceritanya cukup panjang, jadi dibagi 2 part. Sebelum lanjutin baca yang part 2 ini, lebih baik sih baca part 1-nya dulu. Tapi merangkum sedikit ya.. Di balik drama pekerjaan yang hampir bikin saya reschedule jadwal liburan. Syukurlah, liburan kemarin benar-benar menyenangkan dan nagih. Karena sampai rumah, kami langsung search flight dan Airbnb untuk next trip. Hahaha…

Beruntung banget, punya bos yang bijak dan pengertian. Kalau seandainya kemarin jadi reschedule, yang ada mungkin kami batal liburan ke Bali, karena khawatir gempa. Tapi gempa terjadi saat kami sudah di sana. Gempa terbesar yang pernah saya rasakan di 10 tahun terakhir ini.

Sebelum cerita tentang gempa, cerita sedikit tentang lokasi tempat kami menginap ya.. Selama di Bali, kami menginap di 3 daerah yang berbeda. Kuta, Ubud, dan diakhiri di Nusa Dua. Awalnya, suami agak heran, kenapa saya ngotot banget pengin nginep di Kuta. Karena enggak afdol, kalo ke Bali tapi enggak mampir ke Kuta. Hahaha… mainstream emang. Padahal Bali itu punya banyak tempat yang menarik dan ada banyak pantai lain yang lebih cantik ketimbang Kuta.

Tapi alasan kuatnya, karena udah 10 tahun enggak ke Bali. Jadi pengin lihat penampakan Kuta saat ini. Gimana ramainya jalan Legian dan apa kabar Discovery Shopping Mall yang dulu terlihat keren sekali. Maka di malam pertama, kami langsung jalan kali menuju Discovery Shopping Mall.

Dan setelah masuk reaksi pertama langsung, “Hah, gini doang?”

Dulu, mall yang ada di Kuta ini keren sekali. Besar dan mewah. Tempat pertama saya kenalan sama Centro Dept. Store dan dibeliin bapak swimming suit termahal (hingga sekarang). Tempat saya, mama, bapak, dan adik-adik menghabiskan malam tahun baru sambil nongkrong di deretan anak tangganya. Tapi kok, sekarang kayak kecil dan biasa aja.

Ya karena di Jogja sudah ada banyak mall yang lebih besar dan mewah ketimbang mall ini. Lol

Kecewa, 30 menit doang muter lalu keluar.

Liburan Keluarga ke Bali

Selama jalan-jalan di Kuta, kerasa banget kalau usia enggak bisa bohong. Kami nyari McD sampai ke Kuta Square. Gara-garanya Luna pengin makan yang ada hadiahnya. Oke, finee.. -____- Sebenernya dari hotel sampai Kuta Square enggak terlalu jauh. Tapi pulangnya udah enggak sanggup jalan kaki lagi. Thank to Nadiem Makariem, your online taxi save our feets. Ya mayanlah ya, tadi udah olahraga jalan kaki.

Masih di Kuta. Esoknya, di siang hari yang terik, kami main di pantai. Cuacanya sunny banget. Saya nemenin Luna mainan ombak. Sementara suami saya motret-motret sambil berteduh di kursi payung yang harga sewanya Rp50.000/jam. Tiba-tiba dia lihat sebuah awan garis lurus yang melintang panjang di atas pantai. Iseng and without expectation, dia potret awan garis itu.

Dulu setelah Gempa Jogja terjadi, santer banget info tentang Awan Gempa. Ada yang pernah denger juga enggak?

Awan gempa adalah awan yang berbentuk garis panjang di atas langit. Awan itu adalah pertanda bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gempa. Rada enggak percaya sih, karena pernah juga dulu saya lihat awan garis di atas langit Jogja, tapi enggak ada gempa. Atau mungkin ada, cuma saya enggak kerasa ya? Uhmm…

Mungkin enggak sih, yang dilihat suami saya itu adalah Awan Gempa. Bahkan kami lupa kalau minggu sebelumnya, Lombok habis diguncang gempa. Baru nyadar pas esoknya terjadi gempa besar di Lombok dan Bali. Jadi, apakah yang kemarin difoto itu beneran Awan Gempa?

Liburan Keluarga ke Bali

Oke, lanjut cerita ya… Panjang amat prolognya. Kebiasaan! -___-

Enggak cuma nguplek-uplek di Bali bagian pantai, kemarin kami juga nyempetin main ke Bali bagian pegunungan atau di Ubud. Ini pertama kali saya menghabiskan malam di Ubud. Biasanya kalau ke Ubud cuma numpang lewat doang. Dan ternyata, Ubud di malam hari itu eksotis banget! I love Ubud.

Sekitar pukul 7 malam, kami berburu dance performance di Ubud. Penginnya sih, nonton Kecak Dance di Pura Taman Saraswati, tapi sampai sana kok sepi-sepi aja ya. Kata orang setempat, Kecak Dance enggak tampil tiap hari, ada jadwalnya dan saat itu kami lagi enggak beruntung. Ya udah deh ya, sedapetnya aja. Lagipula ada banyak pura-pura kecil lain yang menyuguhkan balinese dance performance. Yang penting mana yang terdekat dengan tempat parkir mobil.

Beneran deh, susah banget nyari parkir mobil di Ubud. Kalaupun dapet, kita harus jalan kaki jauh banget. Ohya, plus macet parah di jalan sekecil itu. Eh, ini sih enggak usah ditanya ya.. Tapi cukup worth it dengan dance performance yang akhirnya kami tonton. Setelah dance di GWK, ini juga jadi pengalaman Luna nonton balinese dance performance secara langsung.

Kalau di GWK enggak sengaja nonton, kebetulan jamnya pas. Nah, kalau yang di Ubud, emang dari awal kami sengaja berburu balinese dance performance. Tujuannya untuk mengenalkan dan memberi first experience secara langsung ke Luna. Enggak cuma via Youtube aja.

Saat itu kami masuk aula udah penuh banget. Tapi beruntung, Luna bisa nonton di barisan yang cukup dekat dengan panggung. Dia melihat dengan jelas gerakan lincah penarinya, termasuk lirikan matanya yang khas penari Bali. Amazed juga, ternyata dia cukup betah nonton agak lama. Enggak minta pulang, tapi terpukau dan anteng. Yay! Seneng deh, kalau first experience ini menghasilkan kesan yang positif.

Liburan Keluarga ke Bali

Liburan Keluarga ke Bali

Selain nonton balinese dance performance, tempat-tempat lain di Ubud yang kami eksplore adalah:

The Sacred Monkey Forest Sanctuary

Sebelumnya, saya pikir monkey forest itu adalah Sangeh. Hutan yang berisi monyet-monyet. Ternyata bukan. Sangeh letaknya di Badung, kalau Monkey Forest tepat di dekat sentral keramaian Ubud. Kalau di Sangeh harga tiketnya relatif murah, Rp10.000. Cmiiw. Pengunjung di Sangeh mayoritas wisatawan domestik. Rombongan bis study tour, yang kelar dari Sangeh trus mampir ke Pasar Sukawati.

Sedangkan di Monkey Forest Ubud, harga tiketnya Rp50.000 untuk dewasa dan Rp40.000 untuk anak. Mayoritas pengunjungnya wisatawan mancanegara. Beneran bisa dihitung 5 jari deh, jumlah wisatawan domestiknya. Dan enggak ada bus study tour SMA. Ya kalik, bayarin semua muridnya goban, bisa tekor di ongkos.

Liburan Keluarga ke Bali

Selain beda tiket dan pengunjung. Karakter monyetnya juga beda. Halah, kayak udah kenalan aja. Lol.

Maksudnya, dulu terakhir ke Sangeh, monyet di sana cukup ganas. Saya bener-bener enggak bisa pakai kacamata, dan pengunjung bebas kasih makan atau pegang-pegang monyetnya. Serem ugak kan ya, lagi jalan santai tiba-tiba monyet nemplok di pundak.

Tapi di Monkey Forest Ubud, monyetnya kayak lebih bermanner gitu. Saya tetep pakai kacamata dengan aman, bahkan kacamata ditaruh di atas kepala juga enggak bakal disamber. Mereka juga tetap leluasa lari di deket kaki-kaki para pengunjung, tanpa menyentuhnya seinci pun. Paling kitanya yang kaget doang.

Dan aturan di sini, enggak boleh sembarangan ngasih makan ke monyet. Baik itu pisang, kacang, jagung, apalagi kripik kentang. Biarkan tugas memberi makan itu dilakukan para petugasnya aja. Kita mah, tinggal jalan santai sambil menikmati hutan dan motretin pemandangan.

Liburan Keluarga ke Bali

Karena sudah pernah ke dua tempat ini. Saran saya, kalau pengin ngajak anak ke hutan monyet, mending ke Monkey Forest Ubud. Lebih kids friendly!

Antonio Blanco Renaissance Museum

Sebenernya saya bukan pencinta art-art gitu. Tapi enggak tau kenapa, pengin banget main ke museum ini. Agak rasa penasaran juga, kok bisa ada orang bule bikin museum di negara orang.

Harga tiket masuknya Rp30.000, free drink (tapi sampai keluar enggak nemu dimana letak minumannya), free for children under 10 yos, free bunga kamboja yang dipasangin di telinga. Dan ini bikin perkara. Karena gara-gara ribet sama bunga itu, hape saya jatuh dan pecah layarnya. Apes. Malah tombok.

Liburan Keluarga ke Bali

Cerita khusus di museum ini bakal saya ceritain di postingan terpisah ya.. Museum yang berkesan banget dan wajib dikunjungi kalau lagi di Ubud.

*

Ah, enggak kerasa udah panjang juga ya, saya cerita tentang liburan di Bali kemarin.Pulau yang menyenangkan dan ngangenin. Pulau seribu pura, tempat saya mengenalkan agama Hindu ke Luna.

Bali, kapan-kapan kami datang lagi ya..

3 thoughts on “Liburan Keluarga ke Bali (Part 2)

  1. Blom pernah liat awan gempa, bisa kebetulan gitu y

    Aku dong ke ubud mlh ga masuk ke area satupun cm muter2 di pasar seninya doang saking galaunya mau kmn huhu

    Di monkey forest terakhir k sana ga bisa masuk, cm ngadem di depan soale lg haid, aaah kangen baliiii

  2. mbak Noni, mau komen soal ‘awan gempa’. eh itu betulan kah awan gempa? aku beberapa kali liat awan seperti ini. dan yang terlintas di pikiranku adalah : itu sisa asap dari pesawat jet (ulang alik – luar angkasa 😛 )

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)