Ketakutan-Ketakutan Memakai KB IUD

Ada yang lagi gamang mau pasang KB atau enggak? Kalau mau pake KB, jenis yang mana? Sini, merapat ke tulisan ini dulu.
 Ketakutan-Ketakutan Memakai KB IUD.jpg

Sejak belum nikah dan belum hamil, saya bahkan sudah punya keinginan bahwa besok setelah melahirkan anak pertama langsung mau pasang KB IUD. Enggak pernah kepikiran untuk KB Pil atau Suntik. Selain 2 jenis KB itu adalah KB hormonal yang bisa “mengacaukan” hormon tubuh kita (misal badan jadi bengkak atau muncul jerawat), saya juga enggak di-suggest sama dokter untuk memakai KB itu. Karena saya punya pengalaman terkena FAM (Fibroadenoma Mammae) di payudara kanan ketika usia 20 tahun. Jadi, khawatirnya KB hormonal justru akan memicu FAM itu muncul lagi.

Tapi bukan berarti KB hormonal bikin muncul FAM di payudara loh ya.. Cuman, kadar hormon di tubuh kita kan beda-beda. Dan saya termasuk yang jika terpicu sedikit saja, bisa kelebihan hormon estrogen yang salah satu efeknya bisa menjadi FAM tersebut.

Baca juga: Berjuang untuk Hidup Sehat Bebas Kanker Payudara

Akhirnya, keputusan memakai KB IUD itu sudah bulat. Saya enggak mau muka jerawatan dan badan membengkak efek KB hormonal. Tapi enggak mau juga risiko meleset kalau pakai KB alami atau kalender. Jadi, ketika Luna usia 6 bulan, saya berangkat ke Bidan untuk pasang KB.

Enggak takut dengan benda asing yang masuk ke dalam tubuh?

ENGGAK. Hahahaha…

Awalnya dulu sempet takut dikittttt.. Tapi jujur ya, saya lebih takut punya anak di luar perencanaan, ketimbang pasang KB IUD. #mamakwellplanned

Meski sebenarnya, KB IUD tidak 100% menjamin keamanan, trus enggak bakalan hamil ya.. Tapi ketika saya mencari-cari informasi, KB IUD ini 90% lebih aman ketimbang pilihan jenis KB lain. Bikin saya makin mantap memilih jenis KB ini.

Sebenernya apa sih yang kita takutkan ketika memakai KB IUD?

1. Takut sama alatnya

Saya meminta bidan untuk menutupi alat-alatnya dengan selimut. Jadi jangan tanya ke saya bentuknya seperti apa. Bolak-balik saya kontrol KB dan Papsmear, belum pernah sekalipun lihat alat-alat itu.

Bahkan saya juga membatasi diri untuk enggak buka-buka Youtube gimana proses memasang KB. Alih-alih tahu biar enggak takut, kalau saya itu justru kebalikannya. Mending enggak usah lihat, tapi langsung dijalani.

2. Takut sakit

Saat pertama kali memasang IUD, memang ada rasanya. Bukan rasa sakit, tapi ada rasanya. *bingung jelasinnya* Sedikit linu, tapi bukan linu yang sakit banget kayak gigi ngilu. Dan ternyata rasanya itu cuma pas proses memasangnya. Setelah itu, saya jalan, lari, bungkuk, lompat, tengkurap, termasuk saat berhubungan seks, semuanya biasa aja. Serius!

3. Takut IUD mengacaukan menstruasi

Yang jelas, selama saya pakai IUD, menstruasi tiap bulan selalu lancar. Tidak pernah melewatkan bulan tanpa menstruasi dan periodenya teratur. Awal-awal pasang IUD, memang setiap akan menstruasi periodenya lebih panjang sedikit. Diawali dengan flek yang agak lama, baru menstruasi beneran. Tapi, setahun ini periodenya selalu normal seperti dulu, sekitar 5-7 hari saja.

Ohya, saya cerita sedikit tentang menstruasi pertama setelah pemasangan IUD.

Jadi, saat pasang IUD dulu, saya langsung mengalami flek dan menstruasi. Menstruasi yang banyak dan cukup lama, agak kram perut tapi biasa aja. Dan enggak membuat saya menyerah dengan obat-obatan. Malah sebenernya diresepin obat pereda kram sama Bidan, tapi enggak saya minum, karena kramnya cepet sembuh.

Saat itu saya juga masih bingung, ini kram perut karena ada benda asing masuk ke rahim, atau karena itu adalah menstruasi pertama setelah nifas ya.. Atau mungkin, menstruasi pertama setelah nifas itu datang terpicu karena ada IUD yang terpasang. Hahaha.. enggak tahu deh.. Soalnya, banyak teman cerita kalau baru menstruasi setelah 1 tahun. Lah, saya cuma 6 bulan.

Makanya, setelah pasang IUD, kita disuggest untuk kontrol 1 bulan kemudian. Tapi kalau sebelum itu sudah ada keluhan, misal perdarahan atau perut kram banget sampe susah jalan. Langsung aja, balik ke Bidan atau Dokter-nya.

4. Takut kalau kebobolan, IUD nempel di kepala bayi

Jadi gini, bayi di perut itu kan terlapisi sama air ketuban. Sedangkan saat hamil, IUD akan lepas dari posisi asal, trus berkeliaran di luar air ketuban. Trus gimana ceritanya IUD bisa nempel di kepala bayi, sementara bayi dilindungi air ketuban?

Kalau IUD rawan memicu keguguran, saya baru percaya. Karena mama saya mengalami ini, saat hamil adik saya usia kandungan sekitar 16 minggu. Jadi kronologi logisnya adalah, semakin besar badan bayi, semakin sempit ruang gerak IUD itu. Dan makin lama, besar kemungkinan IUD menusuk air ketuban lebih dini, lalu ketuban pecah, trus terjadilah yang namanya keguguran atau melahirkan lebih dini.

Tapi ada juga tetangga mama yang tetap bisa melahirkan dengan selamat. Dan saat melahirkan, IUD itu akan keluar bebarengan dengan keluarnya bayi. Bisa nempel di tubuh bayi bagian manapun. Tapi, enggaklah trus nempel permanen di tubuh bayi. Mitos ituuu..

5. Takut harus kontrol rutin lewat “bawah”

Kontrol IUD ada kok yang enggak harus lewat “bawah”. Bisa juga lewat USG perut aja. Saya sih, enggak pernah nyobain. Masih lebih sreg dengan cara jadul, lewat “bawah”. Selain bisa lebih memastikan posisi KB-nya, bidan juga bisa melihat kondisi vagina. Misal ternyata keputihan, ya dibersihkan. Misal ada indikasi kenapa-kenapa, dia akan langsung merujuk untuk pap smear.

Baca juga: Pengalaman Pap Smear Pertama

Sedangkan kalau kontrol lewat USG perut, kita cuma memastikan posisi IUD aja, tanpa mengecek yang lainnya..

Ohiya, setelah pasang IUD, kita wajib kontrol 1 bulan setelahnya, untuk melihat apakah ada masalah setelah pemasangan. Setelah itu 6 bulan, lalu 1 tahun sekali.

Wajib kontrol yaa.. Karena meski posisi IUD itu enggak kemana-mana (kecuali kalau lagi hamil), tapi bisa bergeser juga mungkin karena aktivitas tubuh kita. Jadi, IUD bisa meningkat peluang mencegah kehamilan, lebih pada faktor kitanya disiplin kontrol apa enggak.

*

Ada lagikah ketakutan kalian berkaitan dengan pemasangan KB IUD? Boleh loh, cerita.. Nanti saya share lagi, gimana menghadapi ketakutan-ketakutan itu.

Karena seringkali, ketakutan itu justru kita sendiri yang menciptakan. :)

13 thoughts on “Ketakutan-Ketakutan Memakai KB IUD

  1. hai mba noni, thankyou ya udah bahas ini di blog, soalnya butuh referensi pengalaman pribadi pemakaian IUD ini hehe masih belum berani,oya mba, pemasangan IUD ini berpengaruh ke produksi ASI ga ya kira2? galau juga karena masih menyusui huhu :(

  2. Berhubung belum waktunya pasang IUD, jadi penasaran dulu aja yaa :))
    Udah pernah liat alat yang dipake buat masang, emang terkesan agak serem hehe. Bener ga sih katanya abis pasang mens-nya makin banyak dan lebih sakit daripada sebelum pasang?

    1. Awal-awal emang lebih banyak, tapi enggak sampe lebay. Kalo lebay namanya perdarahan dong.. =D Tapi setelah itu, normal baik2 aja. Rasanya sama kayak sebelum pasang KB dulu.

  3. Dulu aku punya tetangga yang IUDnya nempel di kepala bayi, dan akhirnya anaknya digugurin entah karena pertimbangan apa.

    Aku tetep gak berani pasang KB emang karena gak boleh juga sih. KB sendiri aja, meski resiko besar wakaka. Tapi gak masalah karena rencana punya anak banyak dan mudah2an dikasih kekuatan, hihi

  4. Aku pake ini juga. Awalnya malah pengen tubektomi mba, krn aku emg ga pgn punya anak lagi.. Tp suami bujukin iud aja, yo wislah.. Tp ini g bakal mau aku lepas sih :D. Kec udh expired, trs ya pasang lagi..

    Aku g tau gmn rasanya pas dipasang, krn selesai sc lgs dipakein saat itu jg.. So aku g ngerasain dirogoh2 ato gmn :p. Lah biusnya msh ada sih.. Pas diperiksa ama dokter obgyn, jg lwt usg.. Kayaknya br ngerasain lwt vagina pas dilepas ntr =D

  5. Thanks for sharing Mbak Noni.. jadi mantep deh ntar abis lahiran anak pertama mau pake KB apa. So far dari review orang-orang, IUD emang paling oke

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)