Just Another Phase

just another phase

Dulu, saya sering heran dengan mama, kenapa sih, apa-apa harus disembunyikan dan dilakukan diam-diam. Misalnya, ketika adik saya masuk RS, mama enggak mau cerita-cerita ke tetangga, karena enggak mau ditengokin. Trus ketika saya ulang tahun dan minta dirayakan, mama menyebar undangan 2 jam sebelum acara dimulai, supaya mereka enggak ada yang sempet beliin kado. Padahal apa sih, yang diharapkan anak-anak dari acara ultah, kalau bukan kadonya. Tapi mama beralasan, enggak pengin ngerepotin mereka dengan membelikan saya kado. Kalau mau dateng ultah ya udah dateng aja, enggak perlu terbeban musti bawa kado.

Termasuk ketika anggota keluarga kami ada yang ulang tahun. Biasanya, di Warta Jemaat gereja tiap minggu, akan dituliskan siapa saja jemaat yang berulangtahun di minggu itu. Maka mama akan kelabakan tiap menjelang minggu ulangtahunnya. Kebetulan ultah mama dan bapak ada di minggu yang sama. Lalu mereka akan ke gereja lain, supaya enggak diucapi selamat ulangtahun oleh jemaat gereja. Meski kalau sekarang itu percuma, toh ucapan bisa diucapkan dengan mudah via whatsapp grup komunitas gereja mereka.

Bahkan ya.., ketika kemarin Bapak masuk RS karena operasi ambeyen pun, mama juga enggak mau cerita ke temen-temen gerejanya, karena enggak mau ditengokin. Bahkan saya dipesenin supaya jangan cerita ke mertua, karena enggak mau juga besannya nengokin. Heran.. kenapa sih, emangnya kalau ditengokin. Kan kalau makin banyak yang doain supaya cepet sembuh, doanya bisa dikabulkan Tuhan.

Lagi-lagi mama beralasan yang sama, enggak mau ngerepotin mereka untuk terbeban nengokin. Dan untuk perkara mereka sendiri yang ultah, mereka enggak mau terbeban untuk harus nraktir temen-temennya makan. Padahal, yakin deh… enggak ada yang minta ditraktir makan. Kayaknya, mereka aja yang kegeeran. LOL.

Saya enggak tahu, sejak kapan mama seperti itu. Karena sejak saya mengenalnya, mama memang bukan tipikal orang yang apa-apa diceritain. Pokoknya, kalau semua bisa diurus sendiri, ya akan dilakukan sendiri. Pantang kalau ada kesulitan di rumah, trus buru-buru nelpon suami di kantor. Alasannya, enggak mau ngerepotin suami dan enggak mau bikin beban suami yang lagi kerja di kantor.

Baca juga: Antara Mama, Anang, Krisdayanti, dan Ashanty

Baru-baru ini, saya mulai memasuki fase yang mirip dengan mama. Saya bilang mirip, karena dasarnya saya ini bukan orang yang suka menyembunyikan segala sesuatu seperti mama. Saya jauh lebih extrovert ketimbang beliau. Hari gini gitu ya… Orang yang bersahabat dengan blog dan sosial media, pasti menunjukkan sisi kehidupanya sekalipun cuma sedikit. Entah lewat salah satu sosmed, atau kalau enggak lewat sebuah tulisan panjang di blognya.

Baca juga: Tentang Rejeki

Sekitar 10 bulan sebelum berulangtahun, mendadak saya berkeinginan untuk menyembunyikan identitas kelahiran saya di semua sosmed, terutama Facebook karena itu adalah salah satu sosmed yang paling aktif ngasih greetings. Kalau biasanya greetings itu saya tunggu-tunggu, kali ini saya menghindarinya.

“Ah.. mereka ngucapin kan, karena diingetin sama Facebook. Coba kalau enggak, apa ya pada inget,” begitu pikir saya.

Memang benar, hanya segelintir teman-teman dekat yang mengingatnya. Teman-teman yang dekat, karena khusus dengan mereka saya tidak pernah berusaha menyembunyikan segala sesuatunya. Mereka mencatat dan mengingat ulangtahun saya di kalendernya. Seperti yang saya lakukan juga untuk mereka.

Dan ternyata, segelintir ucapan itu jauh lebih menyenangkan dan menyentuh ketimbang ratusan bahkan ribuan ucapan yang (bisa jadi) hanya formalitas karena diingatkan mesin. Atau mungkin, copy-paste dari pesan-pesan sebelumnya, karena males mikir merangkai kata.

Termasuk seminggu sebelum tiba hari ulangtahun, saya langsung mengajukan cuti dan membatalkan rencana bussiness trip ke Jakarta, dengan alasan: acara keluarga. Merayakan ulangtahun cuma bareng keluarga dekat, termasuk acara keluarga kan..

Tapi namanya HRD ya.. mereka memegang semua CV karyawannya. Jadi 1 hari sebelum saya cuti, kado sudah diberikan. Dan 3 hari kemudian setelah saya masuk, sebagian dari mereka mengucapkan secara langsung. Wah, masih inget aja. Aku terharuu… LOL

Baca juga: Manajemen Waktu Ibu Bekerja

Seminggu kemudian, saya sekeluarga sakit bergantian. Setelah sebelumnya suami kena tipus, Luna demam, lalu disusul saya kena radang tenggorokan. Untungnya, selemes-lemesnya suami, enggak dirujuk untuk mondok di RS. Bisa dipastikan, kalau sampai masuk RS, saya tidak akan memberitahu jagad dunia ini, kecuali keluarga, tetangga, dan teman dekat.

Biasanya kalau sakitnya cuma bedrest di rumah, kemungkinan untuk ditengok kan kecil ya.. Beda kalau mondok di RS. Jangan-jangan saya mulai sama seperti mama, yang enggak pengin ada orang yang nengokin. Sakit apaan sih.. gini doang kok ditengok. LOL. Untung kemarin enggak ada yang inisiatif nengokin di rumah.

Saat gantian saya yang sakit, sampai harus terkapar 3 hari di rumah karena demam dan kepala pusing berat. Bahkan saya enggak pengin jagad raya tahu bahwa saya sedang tidak berdaya menghadapi dunia. Ketika harus memaksa diri menjemur cucian di depan, saya memastikan bahwa tidak ada satu pun tetangga yang lewat dan melihat saya berpakaian tertutup rapat seperti di kutub, padahal cuaca di luar lagi terik-teriknya.

Saat tiba-tiba tetangga depan pulang dari jemput anaknya sekolah, entah kenapa saya tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan meninggalkan ember penuh cucian di depan. Mengintip dari jendela, untuk memastikan dia sudah masuk ke rumah, karena saya sedang tidak mau ditanya-tanyai dan diperhatikan, “Mbak Noni kok enggak kerja? Mbak Noni sakit apa?” Endebrai-endebrai…

Lucu juga kalau diinget-inget. Buat apa coba saya tiba-tiba ngibrit masuk ke rumah dan menghindarinya. LOL

Juga saat saya meminta orang untuk mengambil laundry setrika di rumah. Saya hanya meletakkan 1 tas besar isi baju di teras rumah, dan membiarkannya mengambil tanpa saya harus bertatap muka dengannya. Karena saya tidak mau ditanya-tanyai.

Baca juga: Sakit di Depan Anak

Sebagai makhluk yang dasarnya apa-apa difoto, apa-apa direkam, apa-apa ditulis, dan apa-apa diceritain. Godaan terbesar saat seperti itu adalah Instastories. Mungkin ada yang ngikutin Instastories saya @nonirosliyani? Kalau ada yang sempet lihat, saya sempat bikin stories wajah kucel ketika sedang sakit parah-parahnya. Tapi 5 menit kemudian langsung dihapus. Malu kalau kelihat banyak orang. Untungnya saat itu baru ada 3 orang yang lihat.

Apa coba esensinya? -___-

Tapi balik lagi, saya enggak mau ditanya-tanyai dan diperhatikan berlebih. Tapi kalau misal ada yang merhatiin tanpa saya harus menunjukkan lewat foto atau cerita, baru aku senang… LOL

Baca juga: Aku Enggak Mau Difoto!

Fase saya ini memang enggak persis sama seperti mama. Ya karena dasarnya mama orangnya enggak norak kayak saya. Beliau juga enggak banci sosmed kayak anaknya.

Saya masih sempet cerita tentang suami, anak, dan diri saya sendiri yang sakit. Tapi bukan secara gamblang cerita detil sakitnya. Karena menurut saya pribadi, buat apa? Enggak ada urgensinya.

Saya juga masih sempet pasang status di Instagram saat hari ulangtahun dengan menuliskan “celebrate my day”. Bukan secara gamblang menulis “it’s my birthday”. Ya karena, enggak pengin orang-orang mengingat ini hari ulangtahun saya. Dan tulisan itu hanya diposting di Instagram, karena keaktifkan follower Instagram lebih sedikit dibanding Facebook. Timeline Instagram berlalu lebih cepat ketimbang Facebook. Jadi kemungkinan orang memberi perhatian lewat ucapan akan lebih sedikit.

Baca juga: Drama Follow dan Unfollow

Enggak tahu ini namanya fase apa. Tapi sampai detik ini, saya menikmati semua keputusan saya untuk tidak semua-muanya diceritakan ke jagad raya nyata dan sosmed. Sama seperti alasan mama, enggak mau membuat orang repot-repot untuk menengok dan memberi ucapan selamat.

Saya mau detox pikiran dan perasaan negatif yang sering gemas dengan orang-orang yang mengucapkan selamat tapi asal copas dari pesan-pesan sebelumnya. Saya mau detox dari perasaan berharap berlebihan akan perhatian orang-orang, lantas mengira bahwa saya adalah center of the world.

LOL.

Dan buat saya yang terpenting adalah… saya ingin berbagi keadaan bahagia dan susah ini hanya pada keluarga dan sahabat dekat. Karena mereka selalu ada, di kondisi apapun hidup saya. Tanpa melihat siapa saya, seberapa menguntungkannya berteman dengan saya, atau mungkin seberapa spektakulernya karya saya.

Keluarga dan sahabat yang dekat akan benar-benar tulus ada di samping kita.

Beruntunglah jika kita masih memilikinya.

3 thoughts on “Just Another Phase

  1. Bund, aku mix feeling baca ini. Kurang lebih bisa memahami. Apapun fase dan apapun yg sedang kamu rasakan atau hadapi sekarang, tetap ngats~ :’) *ko aku mbrambangi ya hahahhaa*

  2. Iya ya.. saya juga termasuk orang yang seperti ini. Kalau ada hal yang tidak mengenakan, biarlah saya dan keluarga kecil saya saja. Bahkan pernah, saya kecelakaan Ibu pun nggak tahu.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)