Jogja Bukan Kota Wisata

Jogja Bukan Kota Wisata
source: http://dutawisata.co.id

Bagi saya Jogja itu bukan kota wisata. Gimana saya bisa bilang kota wisata, kalau saya mengais rejeki di kota ini setiap hari.

Macet dimana-mana. Ribuan motor melaju kencang, semuanya buru-buru supaya tidak terlambat sampai tujuan. Ratusan mobil memenuhi jalanan, menunjukkan eksistensinya bahwa kota ini dipenuhi oleh orang-orang mampu, tidak kalah dengan ibukota.

Lantas bagaimana saya bisa menikmatinya dengan santai, seperti yang orang-orang selalu elu-elukan, “Hidup di Jogja itu santai…”

Santai mbahmu koprol! Kami ini diburu waktu kerja, janjian ketemu klien di ujung selatan sementara kantor di ujung utara, dan nanti harus balik ke rumah di ujung barat. Belum lagi kebutuhan hidup di Jogja yang semakin meningkat. Dengan menjamurnya mall di sini, menuntut kami untuk berpenghasilan lebih. Paling tidak, supaya tetap bisa jajan dan nongkrong kekinian, tanpa ngutang dan tanpa jatuh miskin.

Tidak semua orang di Jogja berbicara dengan logat medok kental ala FTV (kecuali saya). Karena meskipun kami sering disebut “orang Jawa” oleh orang-orang ibukota (padahal Jakarta itu di Pulau Jawa, berarti orang Jawa juga kan..) atau sering disebut berasal dari “daerah” (padahal selama kota itu ada di permukaan bumi, pasti ada di suatu daerah). Nyatanya di sini sangat banyak didapati anak-anak muda atau keluarga muda yang logatnya jauh dari medok ndeso, tapi dekat dengan bahasa gaul ala ibukota.

Dan tidak di segala penjuru kota Jogja kita bisa melihat sepeda onthel, apalagi becak dan delman. Naik bus umum aja susah. Fyi, bus umum di Jogja tidak semudah zaman saya masih sekolah dulu. Paling gampang naik bus TransJogja, tapi itu pun harus rela membuang waktu karena menempuh jalur yang memutar.

Rumah saya ini di rute jalur antar provinsi, Jogja arah Purwokerto. Dan tiap melewati rest area, saya selalu heran melihat deretan bus study tour anak sekolah yang tidak pernah sepi. Lalu jika ingin main ke kota, dan melewati jalan Pasar Kembang, saya makin heran lagi, tidak pernah sekali pun saya tidak melihat orang antri mau foto di bawah papan nama jalan “Jl. Malioboro”.

Hahaha.. seumur-umur, saya malah belum pernah foto di bawahnya.

Jogja Bukan Kota Wisata
source: http://jogja.tribunnews.com

Apa sih, menariknya Jogja? Bagi saya, Jogja tidak lebih dari kota yang membuat saya menyandang gelar Sarjana dan menafkahi saya sekeluarga. That’s it. Itu aja. Itu tok til.

Lama-lama saya bisa tidak menikmati kota ini.

Mau pindah kota, tapi kota inilah yang memenuhi semua kebutuhan keluarga saya. Juga, saya masih tidak rela waktu bersama keluarga terbuang gara-gara harus berangkat kerja subuh. Semacet-macetnya Jogja, jarak tempuh 30 kilometer, masih bisa dijangkau dalam maksimal 1 jam.

*

Ini tanda DARURAT STAYCATION.

Saya harus menjauhkan diri dari segala rutinitas harian yang menyita energi dan pikiran. Lupakan cucian setumpuk, masak-memasak, deadline kerjaan.

Karena saya harus liburan.

Cuma staycation yang bisa irit di ongkos. Saya tidak perlu mengeluarkan cost untuk transportasi kereta atau pesawat. Tinggal isi bensin, werrr.. setengah jam kemudian sampe di hotel (kalo enggak kena macet, hahaha). Dan cuma staycation yang bisa bikin saya recharge energi serta semakin mencintai kota sendiri. Supaya bisa ikut merasakan bahwa Jogja itu memang kota wisata, karena saya bisa menikmati berwisata santai di sini.

Naik becak dan turun di Pasar Kembang untuk berfoto di bawah tulisan “Jl. Malioboro”, naik delman sambil bikin vlog ala SkinnyIndonesian24 di sepanjang jalan Malioboro, atau nongkrong mesra sama suami di cafe ala Legian Bali, di jalan Prawirotaman, dan berakhir dengan tidur nyenyak di Adhisthana Hotel.

Adhisthana Hotel Review
source: traveloka.com

Lalu esok paginya, bangun tidur langsung sarapan tanpa perlu masakin keluarga atau mikir, “Hari ini kita makan apa ya?” Dan setelahnya, lanjut berenang sama anak di kolam renang yang cozy. Juga yang terakhir, tidak boleh dilupakan. Berfoto di segala penjuru hotel yang sangat instagramable. Langsung upload ke Instagram, biar semua orang tahu kalau kami sedang staycation di hotel kece. Dan diposting ke blog, cerita staycation bareng keluarga di hotel ramah anak.

Adhisthana Hotel Review
source: traveloka.com

Yes, buat saya staycation tidak lagi sebuah tren kekinian atau cuma buat gaya-gayaan, tapi KEBUTUHAN.

Karena saya harus mencintai kota Jogja yang kemarin baru saja berulangtahun ke-256. Saya juga harus me-recharge energi positif terhadap kota ini, supaya semakin produktif dan kreatif dalam bekerja dan bisa menghasilkan buah-buah karya yang bisa membanggakan kota ini.

Dan yang paling penting, saya HARUS staycation, supaya tetap merasakan bahwa Jogja memang Kota Wisata, di mana seribu pesona tersembunyi di baliknya.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam #PUTRIJALANJALAN giveaway yang berlangsung selama 3-30 Oktober 2016

23 thoughts on “Jogja Bukan Kota Wisata

  1. Dari judulnya langsung dalam hati jawab, bener-bener. Bagi saya, jogja nggak cuma kota wisata, melainkan juga kota pendidikan dan kota budaya. Tapi entahlah, skrg lebih ke kota mall dan kota hotel. #eh. Semoga Jogja tetap dirindu dan nyaman bagi siapapun ya mak.

  2. Sering juga ke jogja tapi jarang jalan-jalan. Jadi ya sedikit banyak bisa merasakan ya Mba rasakan. Tapi pernah sekali tuh, jalan-jalan jauh, pas ada teman yang mau jadi tour guide. Baru kesan akan jogja berubah seketika ketika itu.

  3. Di kotaku semuanya masih serba Jawa, medok banget malah.. Sepertinya para produser FTV itu harus segera pindah ke kotaku supaya mendapatkan nuansa ndeso yang benar-benar daerah. Hahaha baiklah lupakan.

    ah deskripsimu membuatku ingin segera ke Jogja, berlari ke arah Tugu Jogja. Lha mau ngapain coba =D

  4. Udah pernah tinggal di jogja di tempat kakak saya beberapa hari sebelum berangkat ke jakarta, dan rasanya pengen balik lagi ke jogja, soalnya beberapa hari di jogja waktu itu saya gunain waktunya semaksimal mngkn dan sangat menghibur bagi saya.. hehe..
    Jogja waiting me for comeback again..

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)