Jangan Pernah Meminta Orang Lain Memahami Anak Kita

jangan meminta orang lain memahami anak kita

Malam minggu kemarin, saya mengalami kejadian yang menggemaskan. Gemas sama anak orang lain. Gemas juga sama orang tuanya. Saking gemasnya, saya sampe keluar ruangan dan memilih menghirup udara luar. Seringkali, rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput sendiri kan.. Anak orang lain lebih menggemaskan dibanding anak sendiri. Hahahaha…

Jadi, hari Sabtu malam kemarin saya sekeluarga pergi ke Rumah Sakit untuk mengonsultasikan sesuatu. Kirain antriannya enggak panjang, ternyata panjang dan lama banget. Untungnya di RS itu ada area indoor playground, jadi Luna enggak bosen-bosen amat. Dia main perosotan dan ayunan gonta-gantian sama anak lain, sambil ngemil wafer yang saya bawain.

Lalu, Luna berlari ke arah kami duduk dan bilang, “Tadi adiknya itu minta waferku.” Saya enggak begitu menanggapi. Tapi belum sempat Luna balik lagi ke playground, anak kecil yang dimaksud Luna jalan mendekati Luna dan minta wafernya. Oke, kita kasih nama anak ini, Chubby yaa…

Chubby ini anaknya lucu. Pipinya tembem. Dipakein jilbab, makin bikin pipinya terlihat chubby menggemaskan. Usianya, tebakan saya sekitar 1,5 tahun. Keliatan dari jalannya yang masih agak sempoyongan, tapi udah lumayan lancar. Chubby belum bisa ngomong, cuma au-au, ba-ba, pa-pa sambil menunjuk sesuatu.

Ketika Chubby minta wafernya Luna pun, enggak pake ngomong, langsung tunjuk dan berusaha meraih wafer yang masih digenggam Luna. Sebagai orang tua yang gampang gemes sama anak yang chubby. Otomatis, saya langsung ambil wafer di tas dan membaginya sama dia. Enggak tegalah saya biarin anak sendiri makan di depan dia, sementara Chubby cuma lihat sambil nahan diri pengin makan juga.

Orang tuanya si Chubby (terutama si Ayah, karena si Ibu lagi sibuk gendong adiknya), sempat menghampirinya. Dia mengajari Chubby untuk bilang “Terima kasih”. Tapi dicuekin, jadi ayahnya yang mewakili bilang “terima kasih” ke saya. Ya.. wajar ya.. Anak kecil seusia itu, kalo diajarin belum tentu mau niruin.

Di fase ini, saya masih membatin tentang Chubby. “Anaknya lucu banget. Beranian sama orang lain.”

Trus langsung inget-inget Luna yang dulu saat seusia Chubby, dia pemalu banget dan takut sama orang lain. Jadi, orang lain pun takut deketin dia. Saya dulu suka kesel, karena ada anak lain yang mudah bergaul sedangkan Luna susah. Kan, jadinya Luna enggak lucu untuk diajak main sama orang lain.

Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan rumput sendiri. LOL

Baca juga: Luna, Lebih Berani Yuk!

Selesai wafer pertama yang saya kasih habis, Chubby balik lagi deketin saya dan nunjuk-nunjuk tas. Tanda dia minta wafernya lagi. Dan berhubung wafer tinggal sebiji, saya patahin wafernya dibagi jadi dua. Satu buat Luna, satu buat Chubby. Sudah habis. Saya enggak punya persediaan snack lagi di tas.

Dan saat wafernya habis dimakan, Chubby balik lagi ke saya minta wafer. Saya bilang sudah habis, tapi dia kayak enggak percaya atau mungkin enggak paham. Dia berusaha pengin membuka tas saya. Sampe saya tunjukin bungkus wafer kosong, baru dia ngerti dan pergi menjauh..

Orang tuanya ngapain? Duduk dan mengawasi anak dari jauh. Sambil sibuk dengan hapenya. Tidak berusaha mendekati anaknya, atau mengingatkan anaknya untuk enggak minta-minta lagi, atau memberi pemahaman lainlah.. Cuma duduk, lihat dari jauh, dan sibuk lagi dengan hapenya.

Lalu saat si Chubby melihat Luna lagi minum susu UHT, (lagi-lagi) tangannya berusaha meraih kotak susu UHT yang lagi diminum Luna. Saya bilang, “Kakak cuma bawa 1 susu aja..” Baru ayahnya Chubby berjalan mendekati anaknya dan menggandeng si Chubby untuk mengajaknya menjauh.

Lama.. lama.. saya duduk sambil merhatiin Chubby yang mondar-mandir di lorong kursi tunggu. Dasar saya tabiatnya suka mengidentifikasi orang diam-diam lewat pengamatan sotoy. Saya perhatiin ya.., si Chubby ini selain anaknya beranian, dia juga mudah tertarik sama sesama anak kecil. Tiap ada anak kecil, dia akan mendekatinya. Memegang sesuatu benda yang menarik perhatiannya. Seperti pas ada anak pake sepatu keds lampu warna-warni, si Chubby tiba-tiba jongkok dan pegang sepatunya.

Dan dia juga.. mudah tertarik dengan makanan yang dimiliki orang lain.

Jadi, ada anak lain yang lagi disuapin nasi ibunya. Nasi loh ya, bukan snack. Nunggu antrian yang masih panjang, sementara anak lapar, ya wajarlah sambil nyicil nyuapin anak makan malam. Eh, tiba-tiba si Chubby ini deketin si anak itu dan berusaha meraih makanannya. Akhirnya, sama si ibu anak itu, si Chubby disuapin nasinya.

Selesain satu suapan, si Chubby balik lagi, mulut membuka, minta disuapin lagi. Sama ayahnya, Chubby sempet ditarik, “Jangan.. nanti kakaknya enggak kenyang.” Dan ibu si anak itu bilang, “Enggak, enggak papa kok..”

Analisis sotoy saya, itu jawaban peres. Soalnya kalo saya di posisi si ibu, bakal bilang gitu juga. Masa ya bilang, “Iya, anak saya jadi enggak kenyang nanti kalau anakmu minta-minta makanan anak saya terus.” LOL. Enggak mungkin lah ya…

Sementara itu, antrian yang masih panjang mulai membuat Luna gelisah. Snack, susu, dan air putihnya habis pula. Sama suami, Luna diajak ke kantin RS, belanja snack wafer (lagi), sekotak susu UHT (lagi), dan sebotol teh. Selesai berbelanja, Luna menghampiri saya sambil menunjukkan seplastik belanjaannya dengan girang. Dia meminum teh botolnya dulu, bergantian dengan kami.

Dan tiba-tiba si Chubby berjalan mendekati Luna lagi dan berusaha meraih teh botolnya. Karena Luna enggak mau berbagi teh botolnya, dia ambil sebungkus wafer. Saya langsung membukanya, dan membaginya (lagi) dengan si Chubby.

Chubby yang saat itu lagi makan gorengan, hasil perburuan minta snack ke anak lain. Langsung meletakkan gorengannya di atas kursi Luna, dan meraih wafernya. Lebih enak wafer dibanding gorengan kan yaa.. Tapi-tapi, enggak gitu-gitu amat sih, trus gorengan ditaruh sembarang di atas kursi orang lain dong.. Kalau Chubby enggak mau buang tempat sampah, kenapa orang tuanya enggak ambil sendiri gorengannya. Kan, dengan begitu bisa ngajarin si Chubby tertib dan tahu sopan santun.

Saya percaya, perilaku anak-anak yang mungkin kita nilai “tidak sopan”, sebenarnya mereka tidak pernah bermaksud untuk bersikap seperti itu. Tinggal bagaimana kita, orang dewasa, khususnya orang tuanya, mengajari dan memberi contoh, bagaimana cara berperilaku sopan yang sesungguhnya.

Di fase ini, saya mulai kesel. Tapi bukan sama Chubby-nya sih.. Lebih tepatnya, kesel sama orang tuanya. Kok bisa? Membiarkan anaknya minta-minta makanan ke anak-anak lain. Dan membiarkan anaknya meletakkan gorengan yang enggak habis dimakan itu, di atas kursi anak lain. Bahkan sampai saya dan Chubby pulang, gorengan itu masih tergeletak di atas kursi itu tanpa dibuang oleh orang tuanya.

Mungkin orang tuanya enggak lihat, kalik…

Lihat banget. Karena tiap dia habis menerima snack dari Luna (atau anak lain), dari kursinya ayahnya teriak, “Bilang apa? Bilang terima kasih ya..” Lalu dia melanjutkan lagi sibuk dengan hapenya.

Karena lama-lama gemas sama perilaku ayahnya. Plus, saya makin lama makin pelit. LOL. Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari ruangan, cari angin, dan nongkrong di kantin. Sambil makan semangkuk Pop Mie, kami berdua berlanjut membahas si Chubby. Kalau tadi di dalem kan, bahasnya sambil bisik-bisik ya.. Ini bebas dengan suara keras.

Suami saya terlihat kesel sama ayah si Chubby. Katanya, “Ini itu enggak bisa. Tetep ayahnya yang salah. Kalo aku jadi dia, udah dari tadi anakku tak ajak keluar cari snack sendiri. Trus gantian, anakku tak suruh berbagi sama anak orang lain yang tadi pada ngasih snack. Sekali-dua kali masih nggak papa, gemesin. Tapi lama-lama, kalo didiemin terus jadi kayak enggak punya rasa sopan santun atau pekewuh..”

“Dan aku, mending anakku pemalu ketimbang malu-maluin minta-minta terus ke orang lain.”

LOL.

Kalau saya, enggak mau dua-duanya.

Baca juga: 10 Kebiasaan yang Harus Diajarkan ke Anak

Saya jadi inget saya cerita yang sempet viral di timeline FB saya. Kondisinya berbeda ya.. Tapi benang merah tentang sopan santun dan rasa pekewuh-nya sama. Saya screencap aja ya tulisannya.

Horor kan yaa.. pake bawa-bawa pistol.

Ada lagi video yang pernah viral juga, kejadiannya di luar negeri. Mungkin kalian pernah lihat videonya, tentang anak yang sedang antri kasir (kayaknya) sambil membawa trolinya. Trus dia dorong-dorong trolinya ditabrak-tabrakin ke orang di depannya. Berkali-kali orang di depannya ngasih tahu si anak, tetep aja dilakukan lagi. Sementara ibu si anak asik aja main hape, cuek bebek. Trus saking keselnya, orang itu nuangin air di atas kepala si anak itu.

Ini juga horor. >.<

Dan menurut saya, semuanya berakar karena orang tuanya yang enggak peka, enggak memberi contoh konkret tentang sopan santun, dan enggak punya rasa pekewuh ke orang lain.

Baca juga: Percuma Pintar Tapi Tidak Peka

Sama seperti kejadian kami dan Chubby tadi. Enggak bijak banget kalau kami menyalahkan Chubby yang enggak tahu sopan santun dan mintaan. Karena dia masih kecil. Balik lagi tentang pendapat saya di atas: setiap anak tidak pernah bermaksud berperilaku “tidak sopan”.

Cuman yang disesalkan adalah sikap orang tuanya yang masa bodoh sama tingkah anaknya. Iya sih, anaknya memang lucu. Tapi kalau lama-lama dibiarkan, jadi enggak lucu lagi, trus berubah jadi ngeselin.

Mungkin si orang tua ngerasa, “Halah, cuma minta makanan doang kok..”

Iya, “makanan doang”. Lagian saya juga bukan orang yang pelit bagi-bagi makanan ke anak lain. Lha wong, anak yang enggak minta aja, pas dia lagi main sama Luna, saya suka tiba-tiba ngasih makanan ke dia. Cuman.. kalau mintanya berkali-kali, rada ngotot (sampe buka-buka tas), dan enggak cuma ke saya tapi ke orang lain juga.

Jujur aja, itu lama-lama ngeselin. Dan justru terkesan orang tuanya anak itu yang pelit. Males repot beliin snack, gampangin karena nanti dikasih snack sama orang lain.

Wosssaaahhhh…

Rasanya kemarin keputusan yang bijak untuk keluar dari ruangan dan memilih nongkrong di luar, menjauh dari si Chubby, sampai dia pulang duluan. LOL. -_____-

Karena ini tuh kayak kamu cuma punya sebungkus Indomie sebagai perlengkapan tempur ngelembur tengah malam. Tapi tiba-tiba ada temen yang minta Indomie-mu. Bilangnya cuma sesendok aja. Ternyata sesendok yang mie-nya digulung-gulung tebel. Kezel kann…

Besoknya, kamu bikin Indomie diem-diem, dan menyelinap masuk ke kamar, biar enggak ketahuan lagi sama temen. Karena berpotensi bakal diminta lagi. LOL.

Baca juga: Mana Tipe Pola Asuhmu?

Saya banyak belajar dari pengalaman bersama si Chubby, termasuk pengalaman orang lain yang viral di FB itu.

Memang yaa.. orang tua itu pegang peranan penting banget dalam perkembangan karakter anak. Tingkah laku anak ke orang lain yang mungkin awalnya biasa aja, bisa meningkat jadi sedikit ngeselin, lalu lama-lama naik jadi bener-bener ngeselin, adalah ketika orang tuanya enggak peka dan enggak punya rasa pekewuh.

Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memahami anak kita dan dengan entengnya bilang, “Namanya juga anak kecil..”

Tapi sebagai orang tua kita bisa menunjukkan itikad baik, rasa pekewuh, dan rasa sopan santun dalam menghormati orang lain. Jadi paling enggak, ketika anak kita bikin ulah yang ngeselin, orang lain bisa jauh lebih memaklumi. Karena kita terlihat pekewuh dan sudah berusaha untuk mengajari anak rasa sopan santun.

Penutupnya, mau mengutip yang ditulis Susilaningtyas Dyah Kartikawati di cerita viral di atas,

Jangan sampai hal buruk menimpa (anak) kita hanya karena masa bodoh dengan hal-hal yang menurut kita sepele.

22 thoughts on “Jangan Pernah Meminta Orang Lain Memahami Anak Kita

  1. Maknoonns, malah ngikutin ceritamu ini seperti dejavu. Pernah mbatin yang beginian. Kl saya masih analisis cethek sama panda krn blm ngalami ndidik anak. Tapi bisa jadi bahan obrolan seputar pola asuh anak. Tfs yaa ceritnya dan masukan2 lainnya yg informatif. Salam buat Luna ^_^

  2. Wkkka, aku ngalamin, everyday di rumah Depok. Ortu sebenarnya udah ngingetin kayaknya ya, tp mereka anggap wajar hal tersebut, lama-lama jadi kebiasaan si anak. Tiap pagi, anak tsb muterin komplek yang udah dibuka pintunya, main, lama-lama ikut sarapan. Gpp sih kalay 1-2x, tapi kalau sering? Hedeh mumet aku, padahal kan ga setiap saat masak banyak to. Kalo aku yang ngalamin kejadian di atas, mungkin udah qbilang sama Bapaknya, “anak Bapak kayaknya laper, coba dibeliin snack atau diajak ke kantin aja , Pak.” :))

  3. Ih gemes ama ortunya, anakku aja sudah terbiasa ditawari makanan org lain pun nggak mau Nerima kecuali dipaksa apalagi sampe minta ke anak lain, gemes lagi ikut makan suapan org lain, hii, aku kalo kepaksa nyiapin anak lain dgn alat makan yg sama paling anak adekku sendiri, bukannya pelit saat nyuapin sambil maen dan anak lain minta ya nggak bakal tak kasih, kalo lagi sakit ketularan gimana. Kasian Luna wafernya sampe abis.

  4. namanya juga anak-anak… kalimat itu yang sering kita dengar .

    Ya memang mereka itu anak-anak, yang menganggap bahwa semua yang dilakukannya itu benar sampai ada orang yang memberitahu bahwa itu salah.

    Nah disinilah kadang kesalahan itu sering terjadi…. orang tua terlalu permisif dengan anggapan bahwa mereka masih anak-anak jadi semua harus dimaklumi…

    eh aku kok bingung ya baca komenku sendiri wkwkwk…semoga mba Noni paham maksudku…

  5. Kyaaaaaaaaaa, ikut gemes sama ortu kayak gitu..
    Btw malah kalau anakku makan dikasi org mereka udah terbiasa liat au dulu, diijinkan apa gk, ini malah dibiarkan :(
    Moga2 aku bisa ajarin anak2 jaga sikap dan sopan sama org lain…

  6. Emang bener sih utk ga nyalahin anaknya, kan dia msh anak2, jd blm tau itu bener atau salah. Jd balik lg deh ke ortunya. Jadi ikutan gemes sama ortunya, kayak yang lain hehe.

    Ngomong2 yg cerita di FB, serem juga ya pake ditodong pistol, tapi lagi2 ini ortunya jg ngegemesin, membenarkan tindakan anaknya yg salah. Anaknya kan mungkin ga tau kl itu ga salah ya.

    Eh ini menurutku aja sih ya … 😀

  7. Orang tuanya atuh yang harus disalahin karena sibuk dengan gadget dan tidak memerhatikan anak anaknya bahkan perhatian cuman dari jauh aja.

    Seharusnya mah sebagai orang tuabharus sediain cemilan buat si anak biar anaknya engga minta minta ke orang

  8. Satu dua kali anak kecil minta itu gak papa.Kalau terus, aneh juga kalau orangtuanya ngebiarin aja. Peran orgtua buat ngajarin anak sopan itu penting bgt ya. Kalau kejadian yg kaya cerita di FB, itu serem….

  9. Dunia parenting emang susah-susah gampang ya, aku pernah nih gara-gara anakku seneng mainan tanah dan di makan aku jelasinlah soal tangan yang kotor bla bla bla . Sekarang kena makanan dikitt aja (misal remahan kue) di tangannya anaku udah heboh kotor kotor, main di pantai juga gagal total karena dia kotoor ga mau kena pasir. Hihihi

    Aku juga lagi belajar supaya bisa seminimal mungkin ga pegang hape kalo lagi sama anak, tapi itu susaaah banget deh ah apalagi LDRan begini. Huhuhu ada saran?

  10. Aku beneran ikutan gemes banget baca ceritanya nih mba.. sering banget aku jg ketemu tipe2 orang tua yang ya gitu deh, yang bikin gondoknya kadang orang tuanya malah tersinggung kalo kita kasih tau..

  11. dan benarlah kalimat yang mengatakan bahwa orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. baca postingan ini jadi seperti mengingatkan diri saya sendiri supaya ntar kalau jadi orang tua harus memberi teladan yang baik ke anak-anak kelak.

  12. Wah sudah nggak gemes lagi yang aku rasain, ini namanya kesel banget tu sama orangtua. Astaga kebiasaan minta jatah ke siapapun itu kok horor banget sih. Kalau kebawa sampai gede gimana? Kasian kaan…

  13. Ceritanya gemesin, dan aku mungkin gk bisa sesabar itu saat diposisi mbak noni.aku suka sama anak kecil tapi kalo anak kecilnya ngeselin maaf maaf kata ya, apalagi kalo udh ngerecokin anak kecil keluarga, tapi biar gimna pun peranan orngtua sih yg sangat penting.

  14. Lagi bener bener mikir keras gimana caranya agar Alma enggak kaya gitu, mungkin caranya, kalau aku mikir bisa orangtuanya ngasih makan atau bawa makanan langsung ya, jadi enggak usah minta-minta. Aku kalau jadi mbak juga kesel pasti. Huhhh

  15. Baca ini sampai habis awalnya lucu mendengar kisah chubby, eh berani ya.. soalnya ponakan saya juga pemalu .
    Haha tapi lama lama sebel juga.

    Sama kok bukan sebel sama chubby nya.
    Tapi sebel sama orang tuanya.

  16. wah mirip ama yg saya alami tapi ini anak mbak ART yg berusia 2 thn, jadi saban hari ketemu. Siapapun di rumah kl duduk di meja makan si anak akan maksa minta duduk semeja, pdhal ibunya repot dan sdh ditegur ditarik ga boleh. Kalau ada org makan apapun, dia minta agak maksa biarpun ibunya sudah cubit ga boleh, tetep kekeuh dia minta dengan wajah datar. Saya lihat ibu bapaknya sdh cukup mendidik dgn terus blg ga boleh minta sama org trus dibuat mainan, tp si anak kekeuh maju tak gentar. Saya sempat berush ajarin pas ibunya sibuk di ruangan lain dgn terus menolak berkata: ga, kamu dikasi dibuat mainan, ga dikasi lagi. Alhasil sepanjang saya makan dia akan terus sundul2 badan saya dengan badan nya sambil terus ulang2: tak tak tak tak tak….. dgn wajah datar tanpa henti… 😦 kl kasus yg gini saya ga salahkan ortunya krn sdh bener2 tegas saya tau sendiri, apa jgn2 anaknya mmg tambeng?

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)