Jangan Pernah Berjanji pada Anak

Jangan Pernah Berjanji pada Anak

Minggu malam itu saat harus pulang dari rumah Simbahnya, Luna memberontak menolak pulang. Entah ini sudah ke berapa kalinya dia tidak mau pulang. Di rumah Simbah memang ada kakak sepupunya, yang bikin dia betah sekali main di sana. Padahal sebenernya mereka sudah kumpul main bersama sejak Sabtu siang, lalu Minggu siang juga sudah ngelayap main ke rumah tetangga dan berantakin isi rumah. Tapi seharian lebih main bersama, seperti kurang banget buat dia.

Karena dia susah sekali diajak pulang dan selalu membantah dengan seribu alasan, seperti, “Mau habisin kerupuk ini dulu.” Padahal kerupuknya banyak dan enggak mungkin bisa habis dalam waktu satu jam atau dia bakalan batuk-batuk saat tidur malam. Akhirnya kami memberinya iming-iming untuk mampir Indomaret saat pulang. Luna boleh beli es krim di sana.

Tapi iming-iming itu gagal. Luna sudah terlalu sering diberi iming-iming semacam itu. Sepertinya es krim sudah tidak menarik lagi buatnya.

Sempat saya berpikir untuk membiarkannya main dengan sepupunya, sambil menunggu saat-saat ngantuknya. Tapi saya ingat, Luna bukan anak yang gampang ngantuk. Main sendirian aja kalau diturutin bisa baru tidur jam 10 malam, apalagi kalau ada temennya. Bisa-bisa kami pulang kemalaman dan nyetir sambil nahan ngantuk di jalan.

Sementara itu Luna masih terus menolak pulang. “Luna mau bobok sini aja,” katanya. “Oke, boleh. Tapi ibuk sama bapak mau pulang ya,” jawab saya. Dia melarang, “Jangan. Ibuk sama bapak bobok di sini juga.” Dan suami saya membalas, “Ibuk sama bapak besok mau kerja, jadi sekarang harus pulang.”

Lalu menangislah dia keras sekali, “Ibuk sama bapak enggak usah kerja. Bobok di sini aja sama Luna.”

Tiba-tiba saya teringat, boneka Sofia dan Elsa yang dimainin Luna saat nganterin Eyang Utinya belanja batik di rumah teman saya, Mbak Dea. Luna pernah bilang, dia pengin punya boneka Sofia seperti itu. Dan memang bonekanya lucu banget sih. Saya aja lihatnya suka. Jadi saya cuma bilang, “Besok kalau ibuk sama bapak punya uang ya.. Kita beli boneka Sofia kayak gitu.”

Akhirnya demi membujuknya supaya mau pulang, saya jelaskan ke dia, “Ibuk sama bapak harus kerja. Kalau enggak kerja nanti enggak punya uang. Kalau enggak punya uang, ibuk enggak bisa beliin boneka Sofia kayak di rumah bude Dea. Luna pengin punya boneka Sofia kan?”

Dia mengangguk.

Yes! Akhirnya berhasil. Luna mau pulang meski tetap dengan pemberontakan dan pemaksaan yang pantes untuk scene penculikan anak.

Saya dan suami sempat taruhan, bahwa Luna akan tertidur saat baru sekitar 2 kilometer perjalanan. Tapi ternyata salah besar. Dia masih bertahan melek, sekalipun es krim yang dibeli di Indomaret sudah habis dimakan. Dan akhirnya baru tertidur ketika sebentar lagi sampai rumah.

Esok sorenya sepulang kerja dia tiba-tiba membongkar tas saya dan mencari BONEKA SOFIA. Menangislah dia karena tidak mendapatkan yang diharapkan. Padahal maksud saya kemarin adalah beli bonekanya enggak besok juga kalik. Akhir bulan gini lagi seret-seretnya uang, akibat pengeluaran tak terhingga kemarin libur natal.

Tapi Luna enggak paham juga. Bahkan di hari kedua, dia masih juga mencari boneka Sofia di tas saya. “Luna suka Sofia..,” tangisnya. “Iya. Tapi besok kita belinya bareng-bareng, kalau bapak sama ibu sudah punya uang,” jelas bapaknya.

Perlahan sepertinya Luna paham, karena esok harinya dia tidak meminta lagi. Hanya pagi harinya tiba-tiba dia tanya seperti ini, “Bapak punya uang enggak?” “Buat apa uangnya?” Jawabnya lagi, “Buat beli boneka Sofia.” -____- “Kalau buat beli boneka uangnya Bapak enggak cukup. Besok aja ya, kalau udah cukup.”

Kayaknya dia lagi nyari pihak yang punya uang lebih banyak, buat beliin boneka Sofia. Padahal sama aja. Sama-sama enggak punya uang. :))))

Baca juga: Children Book Review: Sofia The First Storybook Collection

Jangan Pernah Berjanji pada Anak

Ini bukan pertama kalinya Luna menagih janji dari kami. Ketika dulu dia ngambek enggak mau ke daycare dan kami menjanjikan nanti pulang daycare naik odong-odong. Sorenya saat dijemput, dia benar-benar ingat dan menagihnya. Pernah juga dia enggak mau pulang (lagi) dari rumah Simbah, dan kami mengiming-iminginya dengan “Nanti pulangnya kita beli kembang api.” Tapi ternyata yang jual kembang api di kanan jalan semua. Males nyebrang, dan akhirnya sampai rumah tanpa beli kembang api. Lalu esok paginya, dia ingat dan benar-benar menagihnya.

Sepertinya kami harus belajar untuk lebih hati-hati ketika menjanjikannya sesuatu. Apalagi dia tipe pengingat dan penagih. Besok kalau Luna besar, jangan pernah ada yang hutang ke dia ya.. Atau dia akan meneror kalian untuk membayar hutang. Hahahaha.

Meski berkali-kali menjanjikan sesuatu dan ditagih sama anak, kami masih selalu menggunakan cara ini ketika membujuk Luna sesuatu. Kalau ada menakuti-nakuti anak supaya dia mau nurut, menurut saya mengiming-imingi anak masih lebih bermartabat. Ya, asal yang dijanjikan realitis dan bisa dicapai. Juga kita ingat bahwa janji adalah untuk ditepati bukan supaya anak nurut.

Enggak mungkinlah ya, saya janjiin Luna “Besok ibuk beliin pesawat jet biar bisa pergi ke Disneyland langsung untuk ketemu Sofia.” Sist, duit dari mana, sist…

 

Anyway, ada yang jual boneka Sofia dan Elsa yang lucu? Boleh dong kasih ID toko onlinenya. Sebentar lagi saya gajian dan mau langsung pake untuk beliin Luna boneka Sofia. :)

11 thoughts on “Jangan Pernah Berjanji pada Anak

  1. Kaya keponakan saya mba, kalau udah dijanjiin gak ditepati bakalan nagih sampai kapanpun. Sebenernya bukan janji juga tapi dia selalu mengartikan ucapan saya dengan janji, mungkin karena kalau sama saya apa aja dituruti. Tapi sekarang saya kapok iming2i dia klo sekedar untuk membujuk.

  2. Aku pun sampe sekarang masih inget janji ortuku waktu kecil buat beliina aku balon kalo aku mau diurut. Eh setelah diurut, balonnya ga pernah ada hihi. Janji k anak itu efeknya jg besar. Kl jd kebiasaan dan selalu ingkar ngeri juga kayak aku gini. Sampe gede masih diinget hiks

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)