Inilah Pengorbanan Ibu Supaya Anaknya Mau Makan

Inilah Pengorbanan Ibu Supaya Anaknya Mau Makan

Idealnya, punya anak itu kita tetap bisa makan dengan tenang. Duduk sendiri-sendiri melingkar di meja makan dan makan bersama tanpa bergantian shift dengan pasangan. Kita menyuap makan dengan cantik sambil melihat anak tertawa hepi karena belepotan makan sendiri di atas baby high chair-nya.

Tapi kenyataannya, boro-boro bisa makan cantik bersama-sama, dia mau makan aja sudah syukur banget. Dia enggak mainin makannya, melainkan mengunyah dan menelannya dengan cepat juga jadi keajaiban.

Urusan makan dan menyuapi anak makan ini, enggak bakal habis dibahasnya. Mungkin bagi orangtua yang anaknya tidak pernah mengalami fase GTM dan selalu membuka mulut tiap disodorin sesendok nasi, pasti tidak akan merasakannya. Tapi bagi kami yang merasa momen GTM ini bisa berlangsung berbulan-bulan. Maka nyuapin anak makan itu bisa jadi nightmare tiap harinya.

Dan inilah beberapa pengorbanan yang dilakukan ibu-ibu yang anaknya susah makan.

Menahan diri tidak makan sambal, supaya anak mau makan sepiring bersama.

Kenyataannya, dia tetap menolak membuka mulutnya, sekeras apapun kita membujuknya. Kita pun menyerah dan mulai memberi sambal di nasi kita. Satu-dua suapan kita telan, tiba-tiba dia berkata, “Ibuk.. aku mau makan.” Dan kita tahu bahwa dia tidak suka makan pedas, sementara nasi sudah tercampur sambal semua.

Putar-putar kota cari makanan kesukaannya, karena minggu lalu dia lahap makan menu itu.

Tapi kita lupa, bahwa seleranya tiap minggu bisa berubah. Setelah menu kesukaannya itu didapat, dia tetap enggan membuka mulutnya. Kalaupun mau menelan, hanya beberapa suapan. Mungkin dia hanya ingin melegakan hati ibunya, yang sudah capek putar-putar kota.

Menahan ego tidak makan makanan kesukaan, karena berbeda selera makan.

Bhay.. restoran favorit saat dulu masih pacaran. Maaf kami tidak pernah kesana lagi, karena anak kami tidak suka menu-menu yang ada di sana. Sekarang jika ingin makan di luar, pertanyaan yang selalu diucapkan adalah “Anaknya mau makan apa?” Atau, “Terserahlah makan di mana, yang penting anaknya mau makan.”

Belanja bahan masakan kualitas terbaik dan mengolahnya seideal mungkin.

Berapalah itu harga salmon? Hajar ajalah, itu sayur dan beras organik. Gajian juga tinggal 2 minggu lagi. Bisalah, kita yang ngalah makan nasi-tempe-tahu tiap hari. Buat anak kok pelit-pelit amat. Demi gizi anak yang lebih baik, maka salmon, sayur dan beras organik harus masuk ke keranjang belanja. Tapi kemudian, anak menolak makan. Kita pun mengunyah salmon yang berasa ngunyah duit, dan memasak sayur organik yang berasa merebus duit lembaran.

Memasak menu yang sama berhari-hari sampai bosan, karena anak cuma mau makan menu itu saja.

Jangan tanya, apa menu makan hari ini, karena jawabannya selalu sama setiap hari. Bukan karena tidak kreatif mengolah menu, tapi karena anak hanya mau makan itu-itu saja. Senin-Rabu-Jumat, Sayur bening bayam. Selasa-Kamis-Sabtu, Sayur sop wortel. Kita sudah capek memasak dua macam menu yang berbeda. Lebih baik, memaksa pasangan untuk mengalah dan makan masakan kesukaan anaknya.

Mengambilkan porsi nasi sedikit, karena merasa anak tidak akan habis banyak.

Ini bukan masakan favoritnya. Biasanya dia tidak akan habis banyak dengan menu masakan ini. Maka kita mengambilkan porsinya sedikit saja. Tapi entah sedang kesambet malaikat apa, dia memakan masakan itu dengan cepat dan lahap. Lalu saat kita ingin menambahnya lagi, dia menolak dengan keras. Menyesallah kita setengah mati. Tahu gitu, tadi ambil nasinya lebih banyak, jadi tidak ada adegan menambah porsi makan.

Mengambilkan porsi banyak karena biasanya dia makan dengan lahap, lalu berekspektasi pasti nanti akan habis.

Kenyataannya, dia tidak mau menghabiskannya. Kita lupa bahwa selera makan anak itu random.Kalau minggu ini bisa lahap makan seakan bisa menelan tanpa mengunyah, maka minggu depan dia bisa menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak menyukai masakan itu lagi. Lalu kembali menyesallah kita setengah mati. Tahu gitu, tadi ambil nasinya dikit aja. Kalau begini, gendutlah kita karena harus memakan makanan sisanya.

Membelikan peralatan makan dengan karakter kartun favoritnya, dan berharap itu bisa menaikkan selera makannya.

Tapi faktanya, dia hanya senang mengoleksinya saja dan tetap malas makan. Kalaupun mau makan, itu hanya bertahan di beberapa hari di awal ketika sedang senang-senangnya punya peralatan makan baru. Karena selanjutnya, dia sudah bosan dengan piring dan sendoknya itu. Lalu, apa kita harus beli peralatan makan baru dengan karakter kartun yang berbeda, supaya dia semangat makan lagi?

Inilah Pengorbanan Ibu Supaya Anaknya Mau Makan.gif

PS: Saya enggak lagi desperate. Dulu sih pernah. Hahaha.. Tapi setahun belakang ini, puji syukur… Luna bukan tipe anak yang susah banget makan. Sehari, minimal 2x makan nasi dengan porsi banyak. Tapi plis jangan tanya, kenapa badannya segitu-gitu aja. Karena saya juga enggak tahu jawabannya.

Baca juga: Jangan Katakan Ini ke Ibu dengan Anak Berbadan Kecil

 

 

10 thoughts on “Inilah Pengorbanan Ibu Supaya Anaknya Mau Makan

  1. Ya ampuuun mbaaa, persiiiisss bgt semuanya kayak anakkuuuu.. huhuhu.. Pernah aku yg jd ngambek jg krna anak gak mau makan.. haha.. Tp kesini2 pasraaah, terserah deh mau mkn apa gak, klo laper jg minta makan.. Mau mkn banyak, bdnnya jg perasaan segitu-gitu ajaa.. 😀 *emakpasrah

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)