High Heels are My Guilty Pleasure

high heels are my guilty pleasure.jpg

Sebagai kaum cebolista, saya itu penggemar high heels kelas berat. Mulai dari stiletto, wedges, cone shoes, saya punya. Meski untuk mengimbangi langit dan bumi, saya juga tidak lupa menyimpan flat shoes juga sneakers.

Semua kecintaan saya pada high heels, terpaksa vakum selama 9 bulan, karena hamil Luna. Tapi setelah itu, balik lagi ke high heels. Sekalipun nggendong anak sambil pake stiletto itu sakitt.. Tapi, beauty is pain kan… *lalu ganti wedges 8 centi*

Huahahaha, sami mawon.

Ternyata yang senasib sama saya banyakkk… Banyak wanita yang menganggap bahwa high heels adalah suatu bentuk fashion yang bisa menunjang karir seseorang. Suara langkah cethak-cethok, terasa mantap menunjukkan profesionalitas jati diri, bahwa “gue keren, gue bisa”.

Karakteristik seorang wanita dapat diketahui dari jenis sepatu yang mereka gunakan menunjukkan kebenarannya.

Padahal, rata-rata wanita akan merasakan sakit setelah memakai high heels selama 1 jam 6 menit. Makanya, banyak wanita terbiasa melepas high heels saat perjalanan pulang kantor. Hihihi… tunjuk diri sendiri, yang selalu lepas high heels saat harus mondar-mandir ke antar-meja. Tapi kalo ada urusan ke ruangan HRD, ruangan bos, atau nemuin tamu, high heels itu baru dipake.

Persis kata Christian Louboutin, kenyamanan bukan sesuatu yang perlu mendapat simpati. Wanita yang berharap kenyamanan ketika mengenakan high heels, sama seperti sebuah hubungan yang mana salah satu atau mereka mengatakan tidak jatuh cinta, tapi memiliki hubungan yang nyaman. Comfort baginya adalah kata yang buruk!

Wow.

Gara-gara guilty pleasure yang dirasakan jutaan wanita seluruh penjuru dunia itu, bahkan sampai ada yang memberikan ide bisnis untuk membuat dispensable flat yang dijual melalui vending machine seperti minuman soda kemasan. Jadi produknya adalah flat shoes sekali pakai dan tas untuk membungkus high heels-nya. Wuaa… keren ya idenya. Hhmm.. di Indonesia udah ada belum yaa..

Tapi siapa sangka sihh… dulunya high heels itu diciptakan untuk kaum lelaki. Sekitar tahun 1500-an, para tentara berkuda dari kerajaan Persia menggunakan high heels untuk mempermudah mereka mengendalikan kuda. Dengan mengaitkan high heels di pijakan kaki pelana kuda, sementara badannya tetap tegap, dan satu tangan memegang kendali ketika di medan perang. Bahkan kadang mereka hanya menggunakan kakinya saat berkuda, karena tangannya memegang busur panah. Faktanya memang, secara tidak langsung high heels membuat mereka sering memenangi peperangan.

Di buku “Fenomenologi Wanita Ber-High Heels” yang ditulis oleh Ika Noorharini, semua fakta menarik ini diceritakan.

book review fenomenologi wanita ber-high heels.jpg

“Fenomenologi Wanita Ber-High Heels”
Penulis: Ika Noorharini
Terbit: September 2015
Tebal: 129 halaman
Kertas art paper, full color
Self Publishing

Dari buku ini, saya juga baru tahu sejarah high heels. Bagaimana yang awalnya high heels diciptakan untuk kaum lelaki, kemudian beralih ke perempuan. Bagaimana bentuk sepatu high heels pertama yang dikenakan bangsawan Eropa. Serta apa motif, makna, status diri, dan perilaku yang tersembunyi di balik sepasang high heels.

Semakin diperkuat dengan beberapa pendapat wanita-wanita tentang high heels, dan yang menariknya lagi, juga pendapat suami yang istrinya penggemar berat high heels.

book review fenomenologi wanita ber-high heels.jpg

Di luar sepakat atau tidak sepakat dengan mereka, tetapi high heels yang dulunya (era tahun 1800-an) menunjukkan status sosial seseorang, sekarang menurut saya high heels bisa dipakai siapa saja, dari kalangan mana saja. Sudah banyak merek sepatu high heels, dari yang paling murah sampai paling mahal.

Memang sih, darimerek itu kenyamanan-lah yang berbicara. Tapi siapa sih, yang peduli dengan kenyamanan. Pakai high heels sendiri sudah tidak nyaman, parahnya justru selalu nagih. Persis seperti pendapat kaum bangsawan Eropa masa itu, semakin sulit berjalan, semakin kaya seseorang dipandang. Semakin kita sulit berjalan, semakin elegan kita dipandang.

 

Buku “Fenomenologi Wanita Ber-High Heels” bisa didapatkan di; Gramedia, Kinokuniya, serta beberapa online book store seperti Getscoop.com, Bukupedia.com, dan Kutukutubuku.com.

5 thoughts on “High Heels are My Guilty Pleasure

  1. Waaaaah menarik juga ya isi bukunyaaa. Akupun sebenernya ngga tinggi banget, tapi mengagungkan rasa kenyamanan. Karena ngga kerja juga kali ya, jadi ngga butuh-butuh bgt sama high heels. Hihi. Makasi reviewnya yaaaaa

  2. Duluuuu…bela belain nyari yang heelsnya bisa sampe 12 cm wkwkwk
    Sekarang sudah anak tiga, lebih suka pake flatshoes, klopun ber hak paling 3 cm an aja.
    Kalaupun pengen hi heels yang wedges aja hahaha

  3. Sama… sukak banget sama heels… punya high heels, wedges sampai 15 cm, stielletto kalo buat kerja, flat shoes juga punya. Hamil tua vakum heelsnya… hamil.muda masih heels dan skrg gendong anak juga pakai heela..

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)