Gaya Komunikasi dalam Keluarga

Gaya Komunikasi dalam KeluargaSemenjak Luna udah lancar bicara, jadi punya PR banget untuk lebih pintar mengatur omongan yang keluar. Bukan karena saya hobi misuh kayak Awkarin atau Young Lex. Biasanya anak remaja hobinya maki, tapi aku mah dari dulu anak baik-baik. Hobinya baca kitab suci.

*oke, yang ini pret banget*

Anak kan copycat orangtua banget ya. Enggak cuma tingkah laku kita aja yang ditirunya, tapi juga omongan. Kadang saya suka heran, kok dia bisa tahu kata-kata tertentu. Padahal ternyata saya sendiri yang sering enggak sadar ngomong itu. *plester bibir*

Termasuk dalam menunjukkan emosi dalam bentuk komunikasi atau perbuatan. Luna ini persis saya. Kami sama-sama punya gaya komunikasi yang meledak-ledak. Luna mah masih kecil, jadi sangat mudah dimaklumi. Tapi emaknya? :))))

Baca juga: 10 Common Parenting Mistakes

Saya itu enggak bisa banget membiarkan orang lain peka dan menebak-nebak apa yang ada di kepala saya. Kalau enggak suka atau enggak sreg sama sesuatu, ya udah bilang aja. Semakin ditahan-tahan, malah sakit di dada dan bikin makan ati. Karena makin saya berharap orang lain untuk peka, malah seakan orang tersebut enggak peka-peka. Harus dikomunikasikan langsung, enggak bisa cuma dikode-kode. Kan belum tentu doi lulus ujian sandi Pramuka.

 

Dan gara-gara karakter saya yang sangat ekstrovert dan meledak-ledak ini. Trus jadi inget, dulu banget pas masih partime jadi Gardep Dagadu, ada senior yang ngira saya ini orang Batak. *trus ngaca* Rahang oval gini lohh.. Batak dari mananya? Bahkan banyak juga temen-temen Batak yang lebih lemah lembut dibanding saya. x_x

 

Padahal aslinya saya tahu, komunikasi yang meledak-ledak seperti itu enggak baik juga. Harus banget belajar berusaha menahan diri untuk tidak buru-buru meluapkan kemarahan atau ketidaksetujuan. Selain biar dicontoh sama anak, juga biar bisa belajar untuk menahan diri, mengontrol emosi, dan membiarkan otak untuk berpikir jernih sebelum bertindak.

Bahasa kerennya, berkontemplasi.

 

Kayak yang kemarin dibahas sama Inda Chakim tentang komunikasi asertif dalam keluarga.

Baca tulisannya di sini: Asyiknya Jadi Asertif

Pas kemarin dia ngomongin tentang itu, aslinya saya mikir dalam hati, “Asertif itu apa sih..”

Langsung gagal menyandang gelar sarjana komunikasi. -___-

Jadi, komunikasi asertif adalah kemampuan untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan dan dipikirkan, kepada orang lain, namun tetap menjaga dan menghargai perasaan orang lain.

 

Dari dulu, saya punya pendapat begini.

Sakit itu utamanya dari pikiran. Kalau tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, trus semua-mua dipikir berat, bakal kebawa ke sakit fisik yang lain. Sering denger kan, orang yang sudah mengatur pola makan sehat dan rajin olahraga, tapi kok bisa kena sakit juga. Bisa jadi karena ada hal yang luput, yaitu pola pikir yang sehat. Makanya kita harus belajar untuk mengungkapkan apa yang kita pikirkan pada orang terdekat. Kalau semua dipikir sendirian, berat bok… Sakit sendiri tar.

Kemudian, itu kebawa sampai saya punya anak. Kalau Luna marah, enggak suka mainannya disingkirin, enggak suka pakai baju pilihan ibuk, marah sama kelakuan ibuk atau bapak, ya bilang aja. Jangan terlalu jadi anak penurut dan enggak punya pendapat. Anak penurut enggak selamanya nyenengin, nanti gedenya dia bisa jadi orang yang enggak punya pendirian.

Baca juga:Komunikasi dengan Anak

Pernah nih suatu hari, saya makan sosis sayur Luna. Karena dia cuma mainin sosisnya tanpa dimakan, daripada ujungnya nanti kebuang, mending diselamatkan ke perut ibunya. Dan itu ternyata bikin Luna marah. Dia tarik napas, mulutnya manyun, berusaha menahan tangis dan teriak.

Ibuk: Luna kenapa? Luna marah sama ibuk?
Luna: *ngangguk*
Ibuk: Marahnya kenapa?
Luna: Sosis dimakan ibuk.
Ibuk: Tadi sosisnya kan cuma dibuat mainan sama Luna. Kirain ibuk, Luna enggak mau makan sosisnya.
Luna: *marah, tangannya berusaha buka mulut saya dan mencari sosisnya*
Ibuk: Maaf yaa.. Besok ibuk buatin sosis sayur lagi. Sekarang peluk ibuk dulu.

Dan kami berpelukan bahagia tanpa drama rebutan sosis sayur. The end.

Gaya Komunikasi dalam Keluarga

Tapi enggak jarang loh, efek jauh pola komunikasi asertif adalah dia tumbuh menjadi anak yang ngeyelan. :))))

Dia tahu apa yang diinginkannya dan sangat keras mempertahankan. Begitu pula saya. Luna keras, saya keras. Seringlah kami berantem karena mempertahankan keinginannya masing-masing. Sama anak 3 tahun udah berantem, gimana kalau besok dia ABG buuu…

Jadi seharusnya yang ngalah dan lebih pintar berkomunikasi siapa?? IBUNYAAAAA.

 

Nah masalahnya, jeleknya saya adalah sering ngomong tanpa dipikir. Asal ngotot tanpa dipikir panjang akibatnya. Asal mengungkapkan pendapat tanpa mikir dulu kelanjutannya. Kecepatan otak dan kecepatan bibir tidak seimbang. :))))

Sekalipun saya sudah merasa mengungkapkan pendapat dengan santun dan pilihan kata-katanya pun jauh dari kasar. Tapi dengan berkomunikasi asertif, pasti juga membuka peluang orang jadi sebel sama kita. Entah sebel sesaat atau sebel seterusnya.

Saya sih enggak pernah mikir berapa banyak orang yang sebel sama karakter saya ini. Tiap orang kan punya frekuensi yang berbeda-beda. Bagi yang sebel seterusnya, anggap aja kita enggak satu frekuensi.

Yang penting adalah, kita selalu menjadi pribadi yang menyenangkan ketika bertemu langsung ataupun di dunia maya. Ketidaksepahaman yang kemarin, cukuplah untuk kemarin.

Dan jadi pelajaran, ketika berkomunikasi dalam bentuk apapun juga enggak mesti semua pendapat orang lain dibantah.. Adakalanya kita harus diam, tidak banyak protes, dan mendengarkan pendapatnya.

Baca juga: When Mother vs Mother

 

Jadi kalau komunikasi asertif diterapkan dalam keluarga gimana?

Hahahaha… bingung juga.

Trus ngapain nulis blogpost ini??? *close tab massal*

 

Yang pasti, saat ini saya selalu ingin menerapkan ke anak dan pasangan untuk mengungkapkan emosinya dengan berkomunikasi. Kalau marah, bilang marah. Kalau tidak suka, bilang saja tidak suka. Kalau tidak sepakat, bilang saja dari awal.

Tidak selamanya loh, pilihan orangtua sesuai dengan pilihan anak.

Baca juga: Ketika yang Diinginkan Anak Tidak Dipilih Orangtua

Tapi yang pasti, harus ada alasannya. Semua ketidaksetujuan itu pasti ada dasarnya. Bukan cuma berdasar like-and-dislike aja.

Dan ketika semakin dewasa, anak pasti akan belajar untuk mengungkapkan pendapatnya dengan cantik dan santun. Kalaupun ada yang tidak sepakat, perbedaan pendapat itu sudah biasa, tidak perlu dipikir pusing. Yang paling penting adalah tahu diri dan tahu tempat. Karena berkomunikasi asertif pun harus lihat-lihat situasi, kondisi, dan lawan bicaranya.

Selamat belajar komunikasi tanpa ijazah.

8 thoughts on “Gaya Komunikasi dalam Keluarga

  1. Saya tadinya termausk pendiam, Mbak. Kata mamah saya, sejak punya anak, saya jadi cerewet hehehe. Tapi, memang sengaja. Saya pengen anak jadi terbuka ma saya. Cuma ya gitu juga, deh. Kadang mereka juga suka ngeyel hehehe

  2. Sepakat mba aku paling ga suka yang cuman bisa aliran kebatinan lah opo manknya aku bisa baca pikiran ahhaha makanya aku selalu bilang ke suami ungkapkan meski bisa bikin aku mengeluarkan tangis air mata *agak lebay :p

  3. wah,,, ini pe er buat aku… coz anak aku belum pinter ngomong banget…, waspada jangan ngomong sesutu yang anggak bangat di depan dia…. ntar dibawa kedepan orang kita yang malu..hhahhah

  4. Waaah,,ini jg aku alamin mba, anakku kdg2 pendiem, tp ngga jarang jg bawelnya, he he emang kudu dipelajari biar bisa komunikasi dg baik ama anak, biar anak trbiasa terbuka, jd kita tau apa yg sbnrnya trjadi

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)