Inilah Pengorbanan Ibu Supaya Anaknya Mau Makan

Inilah Pengorbanan Ibu Supaya Anaknya Mau Makan

Idealnya, punya anak itu kita tetap bisa makan dengan tenang. Duduk sendiri-sendiri melingkar di meja makan dan makan bersama tanpa bergantian shift dengan pasangan. Kita menyuap makan dengan cantik sambil melihat anak tertawa hepi karena belepotan makan sendiri di atas baby high chair-nya.

Tapi kenyataannya, boro-boro bisa makan cantik bersama-sama, dia mau makan aja sudah syukur banget. Dia enggak mainin makannya, melainkan mengunyah dan menelannya dengan cepat juga jadi keajaiban.

Read more

Ibu, Masa Depan Bumi Ada Di Tanganmu

Ibu, Masa Depan Bumi Ada Di Tanganmu

Kerasa enggak sih, hidup makin berubah. Dulu, bisa banget kakek-nenek kita hidup tanpa TV, ditemani malam dan suara jangkrik. Syahdu. Trus turun ke orangtua kita, mereka bisa banget hidup tanpa ponsel. Setiap malam cuma nonton TV berdua, nemenin kita main, tanpa diganggu dengan dentingan notifikasi Facebook, Line, Whatsapp, Telegram, or anything.

Sekarang zaman kita? Bisa enggak hidup tanpa TV? Bisa! Tapi harus punya koneksi internet lancar jaya, jadi bisa streaming acara atau channel Youtube yang disukai aja. Bhuahaha.. sama ajalah. Enggak bisa juga kan, kita hidup tanpa layar yang menampakkan visual bergerak.

Apalagi hidup tanpa ponsel. Bisa mati gaya. Enggak eksis. Cupu. Kudet. Ndeso. Read more

Gaya Komunikasi dalam Keluarga

Gaya Komunikasi dalam KeluargaSemenjak Luna udah lancar bicara, jadi punya PR banget untuk lebih pintar mengatur omongan yang keluar. Bukan karena saya hobi misuh kayak Awkarin atau Young Lex. Biasanya anak remaja hobinya maki, tapi aku mah dari dulu anak baik-baik. Hobinya baca kitab suci.

*oke, yang ini pret banget*

Anak kan copycat orangtua banget ya. Enggak cuma tingkah laku kita aja yang ditirunya, tapi juga omongan. Kadang saya suka heran, kok dia bisa tahu kata-kata tertentu. Padahal ternyata saya sendiri yang sering enggak sadar ngomong itu. *plester bibir* Read more

10 Common Parenting Mistakes

10 Common Parenting Mistakes

Saya bukan ibu yang sempurna. Bukan ibu idealis yang gigih menyuarakan keidealisan sehingga orang lain harus mengikuti. Karena setelah mengenal dunia, menurut saya “Sempurna” itu hanya milik Tuhan dan Andra and The Backbone.

Benernya nih, saya pun berusaha untuk ideal loh. Tapi kadangkala ada kondisi yang memaksa saya tidak sempurna. Soalnya jadi ibu sempurna itu berat Kak… Beneran.

Gagal sedikit, langsung stres. Dan yang nge-judge lingkungan, padahal keluarga mah santai-santai aja. Trus hal itu bikin kita nyalahin anak, nyalahin suami, nyalahin keluarga. Malah enggak sehat juga nanti jadinya.
Read more

Melepas Gelar Batita

Melepas Gelar Batita

Saya sudah tidak punya anak batita lagi. Tepat di hari ini, si mantan batita itu sudah berusia 3 tahun. Dia sudah bisa ngeyel, keras kepala, jago dealing dan lobbying untuk mendapatkan keinginannya, dan sudah jago acting dengan air mata buayanya.

Siapa sih yang menyadari bahwa tiba-tiba dia gede begini. Kayaknya baru kemarin ngeden-ngeden di rumah sakit, sekarang udah ceriwis. Dan yang paling keliatan adalah ketika melihat-lihat album fotonya, dulu dia berambut cepak pendek kayak anak cowok, sekarang panjang lurus berponi. Kalau ganjennya kumat, minta dikucir dua serta sesekali minjem rol rambut ibuknya.

Dulu tidak pernah terbayang bakal punya anak cewek yang secentil ini. Jujur saja, saya mengharapkan anak laki-laki sebagai anak pertama. Tapi Tuhan berkehendak lain, dan saya juga belum kenalan sama kalender cina yang konon katanya manjur itu. Besok kalau sudah program anak kedua, akan saya buktikan kemanjurannya yaa..

Read more

Alasan Kenapa Ibu Harus Bekerja

Alasan Kenapa Ibu Harus Bekerja

Setiap perempuan pasti punya alasannya masing-masing dalam memilih sesuatu. Kenapa memilih hidup lajang, kenapa memilih menikah usia muda. Kenapa memilih menunda punya anak, kenapa memilih tidak punya anak. Kenapa memilih punya anak satu aja, kenapa memilih untuk tidak membatasi jumlah anak. Kenapa memilih jadi ibu rumah tangga fulltime, kenapa memilih jadi ibu pekerja. Kenapa memilih jadi freelancer, kenapa memilih menjadi pekerja kantoran.

Saya ini ibu pekerja kantoran, dan saya punya alasan kenapa memilih itu. Meski di luar sana ada yang nyinyir dan menuduh saya enggak peduli sama anak, atau istri kurang ajar karena meminta suami menjemur cucian di depan.

Tapi enggak ada yang tau kan.. di dalam saya….. tidur-tiduran. Hahaha.. nggaklaahhh… Saya di dalem nyuci piring, masak, atau mandiin anak.

Read more

What Working Mother Want

What Working Mother Want

Lagi rame banget ya Working Mother vs Stay at Home Mother. Mau ikutan bikin rame juga ahh…. Tapi bukan ngomongin baik-buruknya. Itu kan urusan personal masing-masing orang.

Saya mau tulis tentang ini aja “What Working Mother Want”. Karena kami juga manusia, yang punya hati dan keinginan. *apaan sikk…* lol

1. Cuti melahirkan minimal 3 bulan, syukur-syukur bisa 6 bulan.

Kalau enggak salah, AIMI lagi mendorong pemerintah untuk mengesahkan cuti melahirkan 6 bulan kan ya… Demi suksesnya pemberian ASI eksklusif 6 bulan. Walaupun ada pro-kontra, termasuk dari kalangan wanita sendiri, saya sih mendukung 100%.

Ehh… enggak usah ngomongin cuti 6 bulan dulu deh. Masih ada juga loh, kantor-kantor yang cuma kasih cuti melahirkan 2 bulan. Hiksss…. :'(
Read more