THR Dikemanain?

 photo 1466598274427_zpshtyshtk2.jpg

Assiikk… lebaran tinggal menghitung hari. Dan tiap lebaran, kantor saya selalu kasih cuti bersama yang panjang. Setau saya sih lebih panjang dibandingkan kantor-kantor lainnya. Lebaran tahun ini, total hari liburnya 11 hari, di luar kalau ada yang mau nambah cuti. Dan di hari terakhir kerja sebelum libur, masuknya cuma setengah hari. Haseeekkk..

Sebelum lebaran, kantor juga sudah bagi-bagi THR. Meskipun saya enggak ngrayain Lebaran, tapi pasti dapat THR dan bingkisan lebaran. Dan asyiknya lebaran jatuh di bulan Juni-Juli adalah transferan yang masuk ke kami enggak cuma gaji bulanan dan THR, tapi juga bonus tahunan part 1. Yeiy! Enggak perlu jadi PNS untuk bisa ngrasain gaji ke-14. Justru jadi karyawan swasta transferannya bisa lebih dari 14 kali. Alhamdulilah banget yaa…

Jangan tanya, THR dan bonus yang datangnya bersamaan ini lari kemana. Karena lebaran belum datang tapi saya sudah miskin merana. Tinggal menanti gajian di akhir bulan ini. Hahaha.

Read more

Pintar Mengatur Keuangan dengan 5 Simple Envelope System

 pintar mengatur keuangan dengan 5 simple envelope system.jpg

Weekend kemarin saya dan suami diundang ke sebuah seminar investasi. Jujur yaa… awalnya agak males-malesan, karena jam 1 siang itu Jogja panas banget. Rasanya lebih enak santai di rumah, sambil makan pisang goreng dan nyeruput es kelapa muda. Tapi berhubung sekalian pergi kondangan ke nikahnya teman SD, ya sudah sekalian aja keluarnya.

Syukurlah.. acaranya enggak mengecewakan. Di luar pemahaman saya tentang investasi saham yang masih embuh-embuhan ini, tapi paling enggak saya jadi mudeng dikitlah. Dan enggak ada kata terlambat memulai berinvestasi berapapun usia kita sekarang.

Jadi gini. Kemarin ada satu pernyataan yang menarik banget. Read more

When My Parents Tell Me About Money

 photo ferris wheel quote_zpsbkpcm8rf.jpg

Semua kebiasaan kita, pasti ada kebiasaan orangtua di dalamnya. Bahkan pemilihan merk produk-produk rumah tangga, secara enggak sadar saya pilih yang biasa dibeli mama saya.

Semua karakter kita, pasti ada karakter orangtua di dalamnya. Jadi tiap saya curhat ke Si Bapak, tentang mama yang kadang ngeselin, dia cuma bilang, “Lha kamu itu ya kayak gitu sifatnya. Persis!”

Trus cuma bisa cengengesan. Kalo gitu, berarti saya kesel sama diri sendiri dong. :)))))

Termasuk urusan finansial, saya belajar banyak banget dari orangtua saya. Dari Bapak yang gigih dan pekerja keras, dan dari Mama yang sederhana, hemat, dan pintar atur keuangan.

Melihat saya yang boros dan suka belanja, enggak heran kalau Mama dan Bapak khawatir luar biasa. Gaji pertama dipake foya-foya, traveling ke sana-kemari, beli baju, tas, dan sepatu ter-heitz. Pernah saking khawatirnya, Mama dulu minta saya print buku tabungan, buat cek keuangan saya. :))))

Dan setelah saya menikah, sekalipun mama sudah tidak terlalu cerewet lagi urusan keuangan, tapi mama tetap mewanti-wanti saya untuk mengatur keuangan rumah tangga sebaik mungkin. Sudah punya suami, sudah punya anak, sudah punya keluarga yang lebih besar lagi, sudah punya tetangga yang biaya sosialisasinya lumayan, dan sudah punya tanggung jawab yang lebih besar lagi. Read more

Hidup Lebih Mudah Bersama Bank DBS

image

Selesai lebaran, undangan nikah mulai berdatangan. Minggu ini nikahnya si A, minggu depan nikahnya si B. Siang kondangan nikahnya si C, malemnya kondangan nikahnya si D. Wah, musti dandan cantik nih.. *tebelin alis*

Ah, siapa bilang nikah itu enggak butuh modal. Jelas butuh banget. Kalaupun enggak pake resepsi pasti ngeluarin modal juga kan. Sekalipun resepsi sederhana, pasang tenda di depan rumah, jelas harus ada modalnya.

 

Sesudah nikah, para istri-istri itu memutuskan resign dari kantornya. Mau mengabdi pada anak dan suami, katanya. Sambil kerja di rumah, bikin bisnis sendiri, supaya ilmu enggak mati. Mau jadi mompreneurship, kata mereka.

Tapi, bikin bisnis itu pun butuh modal. Bisa aja sih, jadi reseller tanpa perlu nyetok barang. Tapi kalau mau maju, gantian harus kita dong yang jadi supplier. Nah, barangnya? Butuh modal kan?

 

Duh, menjalani hidup yang kian pelik ini memang butuh modal ya.

Kalau enggak ada modal, ya udah jalan di tempat aja. Masa ya enggak nikah-nikah karena enggak punya duit. Enggak berkembang karena enggak punya modal usaha.

Bisa sih, nabung selama sekian lama. Tapi kalau butuhnya sekarang? Mau kredit ke bank, biasanya kredit itu butuh jaminan, dan itu ribet banget deh kayaknya. Mau pinjem temen atau orangtua, enggak semua mau minjemin atau punya nominal yang kita butuhkan.

Aduh.. masalah kok kian pelik yah..

 

Di dunia perbankan ada yang namanya Kredit Tanpa Agunan atau KTA. Ini merupakan produk perbankan yang sangat memudahkan kita untuk memperoleh dana pinjaman. Sesuai dengan namanya, KTA diberikan oleh pihak bank tanpa syarat yang mewajibkan calon debitur untuk menyerahkan asetnya sebagai jaminan dan agunan dalam bentuk apapun. Baik itu surat-surat penting seperti surat rumah, BPKB ataupun barang berharga lainnya. Jadi, dana pinjaman bisa diperoleh tanpa harus menjadikan aset yang kita miliki sebagai jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit dana pinjaman yang kita perlukan saat ini.

Read more

Tips Menabung versi Noni Rosliyani

save money

Kata orang-orang, anak itu rejeki. Bener banget. Ada yang udah bertahun-tahun nikah masih belum dikasih momongan. Tapi ada yang belum nikah, malah dikasih anak. Jadi, keberadaan anak apapun alasannya, tetap harus disyukuri. Amanah dari Tuhan, harus kita jaga baik-baik.

Dulu, pas masih hamil Luna. Duh, tabungan saya berapa sih.. Sisa dikit deh, abis buat traveling honeymoon. Baru karyawan kontrak juga, belum dapet fasilitas kesehatan. Tapi demi anak. Nabung dikit-dikit. Buat biaya kontrol tiap minggunya dan biaya melahirkan. Saya sih spare uangnya buat lahiran sesar. Untung lahirnya normal, lumayan sisanya buat biaya syukuran.

Itu baru biaya melahirkan. Belum biaya lain-lainnya lagi.

Dan, itu baru anak pertama. Belum kalo nanti Luna punya adik. Entah Tuhan bakal kasih saya berapa anak nantinya. *mendadak panik*

Beneran enggak ada habisnya deh untuk anak itu. Apalagi saya tu maunya yang terbaik buat anak. Jadi, saya kerja keras buat anak saya tumbuh sehat dan bisa mencapai cita-citanya tanpa terhalang biaya.

*Amin ya Allah, semoga kami diberi kesehatan untuk cari uang buat keluarga dan anak*

Sekarang Luna udah 2 tahun (belum sih, masih 10 hari lagi), artinya 5 tahun lagi dia bakal masuk SD. Saatnya biaya pendidikan yang semakin kiamat itu menghantui tabungan keluarga. Dan biar tabungan keluarga itu enggak jebol, saya paniknya mulai dari sekarang.

Lebay yah.. Ketimbang besok blingsatan enggak punya duit buat bayar sekolah anak. Hayoo..

Trus, saya yang masih amatir di bidang keuangan ini, mulai baca-baca tips keuangan di Cermati, dan membagi-bagi uang keluarga untuk ini-itu biar cukup. Sambil disesuaikan dengan kondisi perekonomian keluarga, akhirnya saya nemu formulanya. *balap mobil keles*

Nih, tips menabung dan mengatur keuangan keluarga versi saya.

Read more