Caraku Mengapresiasi Diri

caraku-mengapresiasi-diri-sari-husada

Menjadi working mother merupakan kebanggaan tersendiri buat saya. Selain saya menyukai pekerjaannya, bagi saya bekerja itu me time tersendiri. Bisa beraktivitas di luar rumah, tanpa suami dan tanpa anak. Saat istirahat kerja, sesekali saya menghabiskan waktu dengan menonton film, drama korea, membaca buku favorit, atau bahkan pergi belanja ke supermaket di dekat kantor.

Bahagia ketika dengan penghasilan yang saya dapat bisa membantu suami untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Paling bahagia saat melihat mata bulat Luna berbinar menyambut saya yang pulang kerja sambil membawakan mainan baru atau sekadar snack favoritnya. Yes, her smile and her cempreng voice are my stress release! Read more

Merencanakan Liburan Keluarga Tahun Depan

merencanakan-liburan-keluarga-tahun-depan.jpg

Sama seperti blog, setiap pasangan (suami-istri) pasti punya “niche”-nya juga. Misalnya, ibu-bapak mertua saya, suka banget jalan sehat dan nonton konser Koes Plus-an. Dimana pun dan siapa pun yang mengadakan jalan sehat, pasti ikut. Dan jam berapapun konser Koes Plus-an itu berakhir, pasti nonton.

Ada juga temen saya yang sama-sama suka lari. Berdua ikutan running competition di mana pun, sampai ke luar kota, bahkan luar negeri. Trus, ada juga yang sama-sama pecinta kuliner. Tempat kuliner baru pasti enggak luput untuk dikunjungi dan direview bersama. Dan, ada juga yang suka travelling. Seperti Dua Ransel, pasangan Dina dan Ryan yang hobi jalan-jalan keliling dunia.

Saya dan suami baru nikah 3 setengah tahun, belum nemu “niche”-nya apa. Suami yang hobinya musik, ngajak nonton, ya ayok. Saya yang sukanya ke acara seni, ngajak suami ikutan, ya ayok juga.

Dan seakan warisan dari bapak, yang enggak betah diem di rumah lama, saya pun juga begitu. Tiap liburan, bawaannya pengin jalan-jalan aja. Entah di dalam kota, atau keluar kota. Jadi setelah menikah, saya sering membisiki suami untuk meng-acc proposal liburan keluarga.

Tapi bedanya saya dan bapak, saya ini orangnya sangat well planned. Bahkan jauh-jauh bulan sebelum libur, saya sudah merencanakan itinenary liburan dengan matang. Seperti di akhir tahun ini, saya udah lirik tanggal-tanggal merahnya, hitung cutinya, dan survey harga tiket pesawat, kereta, sampai voucher hotelnya.

Ini yang biasa saya lakukan saat merencanakan liburan keluarga tahun depan. Read more

[Book Review] 3 Novel Tentang Keluarga

book-review-3-novel-tentang-keluarga
source

Dalam beberapa bulan terakhir ini, kebetulan atau entah kenapa, bacaan saya selalu seputar novel kisah keluarga. Sepertinya kisah keluarga lagi jadi tren kisah novel. Lebih klasik. Cinta tidak lekang zaman. Jauh lebih dalam ketimbang cinta cowok sama cewek.

Buku pertama, Happily Ever After karya Winna Efendi. Cerita tentang Lulu, seorang remaja yang kehilangan ayahnya karena sakit kanker. Dalam perjalanan menemani ayahnya pengobatan hingga detik-detik terakhir ayahnya pergi itu, Lulu kenalan sama Eli. Remaja yang juga terkena kanker dan berobat di rumah sakit yang sama dengan ayahnya. Read more

Hampir Disambar Petir

petir

Jumat sore kemarin saya melalui perjalanan pulang kerja dengan sangat mencekam. Oh oke, mungkin lebay. Tapi beneran, asli. Sepanjang jalan tidak ada waktu untuk berimajinasi, saya hanya berdoa tidak henti-henti.

Jadi tiga hari terakhir ini Jogja sedang diberi hujan lebat setiap sore dan malam hari. Bikin sungai-sungai meluap, sehingga warga di sekitaran bantaran sungai harus mulai nyicil dievakuasi. Salah satu efek yang nyebelin adalah… air pam di rumah saya sempet mati setengah hari. Duhh… nasib kalo air beli.

Kantor saya di utara, rumah saya di selatan. Biasanya hujan di rumah saya ada delay-nya. Jadi saya sering beruntung, meninggalkan kantor yang akan turun hujan, tapi sampai rumah masih kering kerontang. Yes, bebas kehujanan. Barulah setengah jam kemudian hujan turun deras di rumah, sedangkan di kantor pasti sudah reda.

Tapi sore itu tidak. Sepanjang jalan saya kehujanan derassss sekaliiii… Sepertinya hujan turun rata derasnya mengguyur semua penjuru kota Jogja. Banyak jalanan tergenang air. Semua kendaraan berjalan pelan. Saya si anak motor pun bermantel basah dan berjalan super pelan. Read more

Masak Sendiri Itu Seksih

Siapa bilang jadi istri itu harus pinter masak? Harus rajin masak dan harus ramah sama dapur. Sekarang ini dua langkah dari rumah udah bisa beli makan. Mau ramesan, cepat saji, atau menu yang ajaib lainnya. Bahkan ya, enggak usah melangkah pun, makanan bisa dateng sendiri di meja kita. Tinggal duduk manis sambil telepon, langsung dateng deh mas-mas bawa pesenan kita.

Dulu pas masih pacaran, mama saya ngobrol sama calon besan dan bilang bahwa calon mantunya ini enggak bisa masak. Masak nasi yang tinggal ceklek pake rice cooker aja bisa kurang air dan jadi pera, atau bahkan kebanyakan air dan jadi bubur. Gimana kalo masak makanan yang spektakuler lainnya, coba? Jadi, sebelum ibu mertua kaget kalo pas maen ke rumah anaknya besok enggak disuguhin makan sama mantunya ini, mama ngasih tau jelek-jeleknya saya urusan rumah tangga. Dan emang beneran jelek semua. Hahaha… *ahh.. mantu macam apa aku ini*

Tapi kenyataannya gimana? Tak disangka, tak dinyana. Lambat laun saya mulai ramah banget sama dapur. Selain karena rumah cuma seuprit jadi sering bolak-balik dapur, ya.. juga karena lama-lama dorongan pengin masak membuncah dalam relung hati yang paling dalam. #tsah

Tahu Telur Juarak! Dibuat pas Lunski lagi di playgroup.
Tahu Telur Juarak!
Dibuat pas Lunski lagi di playgroup.

Sejak itulah saya memutuskan untuk #beranilebih rajin masak. Alasannya simpel: Read more

Two Become One

step0003

Foto di atas adalah foto wefie pertama yang kami ambil setelah punya anak. Diambil saat Lunski masih berusia sebulan, dan di malam hari sebelum ngeloni dia tidur.

Keliatan gelap ya.. Huks.. Waktu itu masih pake BB yang pernah hits pada masanya tapi enggak ada lightnya. Kalau dari dulu udah jatuh cinta duluan sama Android, pilihan pertamanya mungkin sama henpon Smartfren. Harga terjangkau dan fitur keren. Sayang, cinta pertama smartphone saya dulu jatuh ke yang lain.

Mungkin foto itu tampak biasa saja. Semua keluarga pasti punya foto wefie. Entah difotoin orang lain, atau penuh perjuangan dengan pakai timer ataupun tongsis/tongbro (tolong dong sis.. tolong dong bro..)

Tapi buat kami─terutama saya, foto itu sangat bermakna. Bisa nikah sama suami saya itu aja udah Puji Tuhan banget, apalagi punya anak seaktif (baca: ngglidig) Lunski, jelas itu anugerah yang luar biasa.

Read more

Bali itu Pie Susu

Tanggal 1 Januari. Itu artinya, persis 6 bulan lagi saya dan suami akan memasuki usia pernikahan ke-3. Dan Aluna juga akan memasuki ulang tahun ke-2. Yey!!

Tanggal 1 Juli memang merupakan tanggal membahagiakan dan mengesankan buat kami bertiga. Tanggal 1 Juli 2012, saya dan suami diikat dalam janji suci pernikahan. Setahun setelahnya, 1 Juli 2013, Aluna, buah hati tercinta kami lahir di dunia. Jadi, wajar dong kalau di hari itu saya pingin banget merayakannya eksklusif dan hanya bertiga. Mumpung belum punya anak kedua. Hihihi…

Di hari istimewa itu, saya pingin banget mendapat kado yang bisa dirasakan bareng-bareng. Ya, karena itu hari kami bertiga, jadi kadonya juga harus untuk 3 orang. Tapi tetep aja ya, yang menentukan emaknya. Hahaha…

Tanggal 1 Juli 2015 besok, saya pingin dapat hadiah liburan bertiga, ke Bali. Saya pernah ke Bali. Suami juga pernah. Tapi ke Bali bertiga, itu yang belum pernah. Jadi persiapannya harus dari sekarang dong… đŸ˜€

pie-susu-rasa-susu-original-isi-20-pcs
Pie susu legendaris abis!

Saya pingin kejar-kejaran sama Aluna (dan bapaknya) di tepi pantai Kuta. Saya pingin foto-foto bertiga di GWK. Saya pingin ngenalin Aluna ke spesies kera di Sangeh. Saya pingin belanja-belanji di Pasar Sukowati. Saya pingin merasakan udara pegunungan di Ubud. Dan saya pingin membeli dan merasakan langsung makanan khas Bali yang lagi hip, Pie Susu! Read more