Berjuang untuk Hidup Sehat Bebas Kanker Payudara

pink ribbon

Saya masih ingat jelas saat usia 21 tahun dulu dokter berkata bahwa saya kena FAM (Fibroadenoma Mamae). Sebuah benjolan di payudara kanan dan harus diangkat. Entah kenapa, saat itu saya tidak takut dan nervous sama sekali. Justru excited karena akan menginap di rumah sakit untuk pertama kali.

Setelah dioperasi, benjolan yang kata mama sebesar bola-bola daging giling itu diobservasi untuk dilihat apakah itu benar-benar FAM atau tidak, apakah ada akarnya atau tidak, apakah harus ada treatment lebih lanjut atau tidak. Dan syukurlah, tidak ada akarnya, positif FAM, dan tidak perlu ada treatment lanjutan.

Setahun kemudian, gantian Bapak saya yang harus menjalani operasi karena benjolan di lehernya. Tindakan yang sama dilakukan oleh dokter yang sama pula. Diambil benjolannya dan diobservasi. Tapi hasilnya beda. Bapak positif kena Kanker Kelenjar Getah Bening dan harus kemoterapi 1 paket yaitu 6 kali.

Satu hal yang kami syukuri bersama, kankernya belum sampai tahap stadium tinggi sehingga sekarang Bapak sudah dinyatakan bebas dari kanker kelenjar getah bening itu.

Mulai saat itu, saya benci rumah sakit. Saya enggak mau menginap di rumah sakit. Itu artinya saya harus sehat. Keluarga saya juga harus sehat. Sekalipun sudah punya asuransi kesehatan, sehingga tidak perlu pusing-pusing biaya berobat, tapi sakit itu melelahkan. Buat yang sakit, juga buat yang mendampingi.

*

Keinginan saya untuk jauh-jauh sama rumah sakit belum dikabulkan Tuhan. Setahun setelah Bapak perawatan kemoterapi, gantian payudara kiri saya yang ada benjolannya. Kali ini dengan diameter yang lebih kecil. Ketika periksa ke dokter yang sama, beliau berkata hal yang sama pula, “Ini FAM seperti 2 tahun lalu.”

“Lalu setelah kanan-kiri kena FAM, apa terus sudah bebas enggak bakal kena lagi?”

“Ya enggak juga. Saya pernah operasi perempuan muda yang kena FAM sampai 6 kali.”

“Duh, terus solusinya apa ya Dok, biar enggak kena FAM lagi?”

“Kamu beruntung, ini tumor jinak, bukan kanker. Tapi solusinya sama seperti mencegah kanker. Hidup sehat, hindari msg dan makanan berlemak, juga cepet kamu nikah. Terus punya anak dan kasih anakmu ASI.”

Saya ingat baik-baik nasihat itu. Terutama yang “menikah, punya anak, menyusui”. Meski praktiknya baru 4 tahun kemudian saya menikah.

 photo fibroadenoma mamae dan kista payudara_zps8f9ag0c0.jpg

*

Selanjutnya, banyak teman yang tanya, “Kok bisa tahu ada benjolan di payudaramu?”

Ya diraba. SADARI. Periksa Payudara Sendiri.

Di depan kaca, angkat tangan kananmu, dan raba payudara kananmu dengan jari-jari di tangan kiri. Sebaliknya pula, angkat tangan kirimu, dan raba payudara kirimu dengan jari-jari tangan kanan.

Pengalaman saya, paling jelas teraba ketika pemeriksaan itu dilakukan saat mandi dan masih bersabun. Mungkin karena masih licin. Atau, sambil tiduran, dan gunakan jari telunjuk dan tengah untuk merasakannya.

Dan pengalaman 2 kali kena FAM itu bikin saya parno. Lebih-lebih tante jauh saya (adik sepupunya Bapak) meninggal karena kanker payudara, 2 orang teman saya ditinggalkan ibunya yang kena kanker payudara.

Melihat Bapak sakit parah setiap pulang kemoterapi juga membuat saya sedih. Yang saya tahu, Bapak itu sosok yang kuat dan gagah, tapi dia harus tergolek lemah, berjuang melawan penyakitnya, melawan kanker.

Saya takut. Saya enggak mau kena kanker apapun, termasuk kanker payudara.

Saya mengajak teman-teman untuk takut juga. Karena kanker merupakan penyakit mematikan nomor 1 di dunia. Dan kanker payudara adalah penyakit mematikan nomor 2 bagi wanita.

Caranya? Atur pola hidup sehat dan SADARI.

Setiap bulan sehabis periode menstruasi. Bukan cuma buat wanita yang sudah menikah, karena kanker payudara tidak mengenal usia. Bahkan sekarang ini usia penderita kanker payudara semakin muda.

*

 photo fakta kanker payudara_zpst7cb2dm6.jpg

Menghindari kanker payudara itu gampang-gampang susah. Susah karena kita harus punya komitmen tinggi untuk hidup sehat. Hidup sehat yang bukan cuma jadi tren saja. Tren raw smoothies, tren food combining, tren infused water, tren diet mayo.

Kalau tren cuma diikuti sesaat, hanya sekadar untuk difoto dan posting ke instagram, lalu seolah kita sudah hidup sehat. Padahal tren itu butuh komitmen untuk dijalani selamanya. Sekalipun mungkin tahun depan sudah tidak jadi tren lagi.

*

Ada beberapa hal bisa kita upayakan untuk menghindari dan meminimalisir kanker payudara.

  1. Jaga berat badan. Hitung BMI (Body Mass Index) atau Body Index Massa dan jaga supaya tetap stabil.
  2. Hindari alkohol. Mengonsumsi satu alkohol setiap hari bisa meningkatkan risiko kanker payudara sebesar 20-25%.
  3. Konsumsi buah-buahan dan sayuran. Semua jenis sayuran baik untuk perlindungan kanker. Dan buah yang punya kandungan lebih untuk mencegah kanker payudara adalah jeruk, berry, dan cery.
  4. Olahraga teratur. Minimal 30 menit lakukan jalan cepat secara rutin.
  5. Kurangi lemak. Maksimalkan asupan lemak omega-3 terutama dari minyak ikan (salmon, tuna, makarel, sarden). Dan konsumsi minyak tak jenuh tunggal (minyak zaitun, kacang-kacangan, alpukat), karena makanan tersebut punya potensi sifat antikanker.
  6. Konsumsi karbohidrat sesuai porsi. Minimalkan konsumi glikemik tinggi seperti nasi putih, kentang putih, gula, dan produk olahannya. Makanan ini memicu perubahan hormonal pertumbuhan sel dalam payudara. Sebaiknya ganti karbohidrat dengan kacang-kacangan.
  7. Konsumsi produk kedelai. Konsumsi produk olahan kedelai seperti tahu, tempe, dan susu kedelai dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara.
  8. Minimalkan paparan estrogen farmakologis dan xeno-estrogen. Jangan mengambil resep estrogen kecuali ada indikasi medis. Hindari pula estrogen senyawa yang ditemukan pada polusi lingkungan, seperti pestisida dan kimia industri. Disarankan konsumsi produk organik, jika tidak bisa maka cucilah produk non-organik dengan benar.
  9. Berpikir positif dan tidak merokok. Kembangkan hubungan hidup yang hangat dengan keluarga dan teman-teman. Dapatkan tidur yang cukup (7-8 jam setiap malam). Dan stop merokok, karena merokok dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara.
  10. Menyusui. Wanita yang menyusui bayinya setidaknya selama satu tahun dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara.

*

Mengingat saya punya riwayat FAM dan setiap kita punya risiko kanker payudara sebesar 12-13%, hal itu membuat saya semakin takut pada kanker payudara, dan berjuang untuk berkomitmen hidup sehat. Sekalipun kadang suka lupa dan kebablasan, tapi bukankah untuk itulah kita berteman? Untuk sama-sama mengingatkan dan menguatkan. Karena kita sama-sama punya harapan untuk bebas dari kanker payudara.

#finishthefight #gopink #breastcancerawareness

finish the fight REV

 

Sumber:

http://www.citacinta.co.id/seks-&-kesehatan/10-fakta-kanker-payudara

http://bidanku.com/10-langkah-mencegah-kanker-payudara

http://medicastore.com/penyakit/884/Fibroadenoma.html

15 thoughts on “Berjuang untuk Hidup Sehat Bebas Kanker Payudara

  1. semangaaat mbaaa…semoga kita selalu sehat yaa.. Memang kita harus selalu menjaga asupan makanan dan selalu mencoba gaya hidup yang lebih sehat :)

    terima kasih sudah ikutan GAku #finishthefight #gopink #breastcancerawareness yaa..Bon courage :)

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)