Berani Melawan Batas

menembus batas

Ya ampun, udah lama banget blog ini enggak keurus. Terakhir kolab #Familife bareng Isti. Dan sekarang ini mau kolab juga. Praktis, udah 2 minggu enggak update cerita lain di luar seri ini. -____-

Jadi ya, tahun 2018 ini adalah tahun yang sangat sibuk. Baru jalan 1 bulan, udah bilang “sangat sibuk”. >,< Untuk update tulisan ini tepat waktu aja sampe lupa karena kesela pekerjaan yang lain. Tapi beneran deh.. Tahun ini banyak sekali peluang dan tantangan yang harus saya hadapi dan jalani. Persis seperti cerita Isti yang lagi belajar nyetir mobil dan renang. Tahun ini saya juga punya banyak hal yang harus dipelajari. Di tengah-tengah (mungkin) keterbatasan, tapi harus bisa melawannya.

Baca juga punya Isti:
Ibu Rumah Tangga Jangan Berhenti Mengembangkan Diri

Tahun 2018 ini, saya mendapatkan promosi jabatan. Padahal ya, di tahun 2017 kemarin abis nangis-nangis di rumah, ngeluh ke suami, mau resign. Trus udah berencana awal tahun 2018 mau resign, karena karir dan jobdesc di kantor kok gitu-gitu aja. Eh.. tiba-tiba barusan terima SK promosi dari HRD. Jabatan naik, tunjangan naik, tapi tanggung jawab dan tantangan juga naik.

Ada enggak sih, jabatan naik, tunjangan naik, tapi tanggung jawab dan tantangan tetap? *maunyaa*

SK promosi ini kayak jawaban dari keluh kesah saya sebelumnya.. Mungkin belum saatnya saya resign. Saya masih harus banyak belajar lagi dengan menerima tantangan pekerjaan yang lebih. Karena saya inget banget pesan bosque di kantor. “Hati-hati dengan rutinitas. Bisa bikin otak dan skill mandeg. Artinya hidupmu perlu dikasih tantangan.”

Nah! Kena lah, dikasih tantangan.

Enggak tanggung-tanggung, tantangan itu bikin saya harus berani memutuskan segala macam hal yang sangat strategis. Ibarat mau berenang, kalau beberapa teman lain ada pemanasannya dulu, saya tiba-tiba diceburin ke kolam yang dalam, tanpa saya sendiri tahu, sebenernya saya bisa berenang apa enggak.

Ngeri, takut, khawatir. Semuanya campur aduk. Mau mundur, tapi yaelahh… ini kesempatan loh. Kesempatan untuk berenang di kolam dalam itu belum tentu dateng tiap tahun. Pokoknya harus diusahakan dengan semaksimal mungkin. Mungkin ada yang tipe pembelajar yang harus dengan teori-teori dulu, tapi ada juga pembelajar yang langsung aja diceburin ke kolam.

Caranya, dengan belajar dari atasan, dari bawahan, dari rekan-rekan divisi lain, dari kompetitor, dari buku, dari pelatihan, dari banyak hal.

Ini seringkali bahayanya jadi karyawan yang udah tahunan. Siapa bilang, orang bekerja itu selalu belajar hal-hal baru. Kalau sudah terjebak rutinitas, berangkat jam 7, lewat rute yang sama, nyalain laptop, ngecek email, ngerjain to do list harian 1, abis itu 2, dst, sampai jam 17.00. Besoknya begitu lagi, trus akhir/awal bulan terima gaji.

Boom!! Jadi sebulan ini belajar hal apa dari pekerjaan?

Sebenernya saya ini tipe orang yang sangat wellplanned. Biasa dan suka dengan rutinitas. Tapi setelah bertahun-tahun begituu teruss.. Serius deh, lama-lama itu sangat membosankan. Trus uring-uringan, dan berniat resign. Hahaha…

Tapi setelah sekarang dikasih tantangan, diceburin ke kolam dalam tanpa saya yakin sebenernya bisa renang apa enggak. Saya enggak jadi kepikiran resign. Justru ini jadi pelecut untuk semangat belajar hal baru. Resign-nya, besok aja.. Minimal kalo saya udah bosen dan ngerasa tantangan-tantangan hal yang remeh.

Baca juga: Balada Ibu Bekerja

Lalu, kabar lain seputar pekerjaan muncul lagi. Setelah melalui seleksi interview yang bikin saya mikir, “Enggak mungkinlah lolos.. Yang daftar banyak, yang diambil separonya.” Eh, ternyata saya lolos menjadi salah satu peserta Mizan Academy. Dan itu artinya, saya harus mengikuti program pendidikan manajemen bisnis dan leadership selama 1 tahun.

Tiap bulan saya bakal ke Jakarta untuk ikut pelatihan selama 2 hari, bersama teman-teman dari unit lain. Lalu setelah pulang, masih ngantongin tugas-tugas mingguan yang wajib disetor. Semua akan berlangsung selama 1 tahun. Bahkan silabus 1 tahun udah tersusun rapi. Persis, kayak kuliah S2 Manajemen Bisnis.

Tapi lebih enteng sih.. Enggak perlu dateng kuliah malem dan enggak bayar. Hahaha…

Di luar positive side terpilih menjadi peserta Mizan Academy yang bikin saya punya peluang lebih besar untuk promosi jabatan lebih tinggi lagi. Sebenernya saya kadang suka males-malesan harus ninggal anak. Duh, ibu mana sih yang mau jauh-jauhan sama anak. Maunya mah, digembol kemana-mana, asal enggak ngerusuhin ibunya kerja. Cuman setelah ninggal anak, trus duduk manis di kursi kereta atau pesawat, langsung biasa aja. Bersemangat untuk berangkat, biar cepet selesai, trus cepet balik lagi.

Lalu sampe rumah trus pusing lagi, mikir kerjaan kantor harus handle sana-sini. Masih harus ngerjain tugas mingguan. Pengin main sama anak tapi badan capek.

Wosshhhaahhh.. Harus melawan batas. Jadi ibu bekerja itu tantangannya lebih besar. Mengatur waktu dan pekerjaan, menyeimbangkan urusan kantor dan rumah.

Baca juga: Saat Harus Meninggalkan Anak ke Luar Kota

Masih seputar pekerjaan *karena hidupku cuma tentang rumah dan kantor*, di akhir bulan Januari, tiba-tiba ada invitation yang masuk di email saya. Intinya, saya dapat tantangan lagi untuk pergi ke luar negeri sendirian! Untuk urusan pekerjaan. Bukan cuma Singapore atau Malaysia yang udah kayak komplek sebelah rumah ya.. Tapi ke negara lain yang butuh visa untuk bisa masuk ke sana.

Pertama yang saya pikirkan adalah seru banget, ini kesempatan, kapan lagi bisa pergi ke sana dibayarin pula. Tapi setelah itu mikir, ya ampun.. ini sendirian banget yaa.. Terakhir ke Kuala Lumpur urusan kerjaan aja ada temennya. Ini sendirian yaa… Hahaha.. *bukan mental solo traveller*. Sekalipun nginep di hotel bintang 5, tapi kalau sendirian tetep aja sepi. Sekalipun singgah di airport besar dan sibuk, tapi kalau sendirian peluang oncemnya bisa lebih besar.

Dan yang terakhir dipikir sekarang adalah, ngurus Visanya. Ya ampun, mana ini paspor ternyata abis pula. Antrian kantor imigrasi di Jogja penuh semua. Harus banget ke kota lain, biar cepet keurus dan cepet jadi, karena jadwal berangkatnya tinggal bentar lagi. Intinya, enggak bisa tenang kalau Paspor dan Visa belum di tangan.

Tapi satu hal yang membesarkan hati dan semangat saya, ini tantangan yang harus dilalui dan dilewati dengan sempurna. Karena kalau tantangan kecil udah berhasil dilewati dengan baik, pasti Tuhan kasih tantangan yang lebih gede lagi untuk kita lalui.

Baca juga: 5 Strategi Bekerja Keras, Menembus Batas

Kalau ada tantangan dan peluang enggak dimanfaatkan, kapan berkembangnya? Kalau setiap batas enggak dilawan, kapan majunya? Seringkali, keterbatasan itu kita sendiri yang menciptakan.

Takut jadi leader karena harus ambil keputusan strategis dan besar. Hanya karena belum pernah menduduki posisi dan kewenangan itu. Padahal, siapa tahu beneran bisa. Yang penting, keberanian dan kemauan untuk belajar.

Khawatir ninggal anak ke luar kota, meski sebenernya udah lumayan sering ninggal. Tapi ini lebih kerasa karena perginya sudah terjadwal semua selama 1 tahun. Padahal ya, support system keluarga kita sangat baik, jadi selama ditinggal anak tetap baik-baik saja. Yang penting, percaya sama keluarga.

Khawatir enggak bisa mengikuti program dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Padahal, belum juga dijalani separoh programnya. Yang penting, ikut semua materi dengan baik dan bisa ngatur waktu.

Takut ke luar negeri sendirian. Hanya karena belum pernah ke sana sendirian. Padahal, siapa tahu di sana orangnya ramah-ramah dan kita cerdas jadi enggak nyasar. Yang penting, pede aja, dengan modal googling dulu sebelumnya.

*

Kok jadi panjang yaa… Padahal niatnya mau nulis pendek aja, karena mau bobok.

Tulisan ini sebenarnya self healing dari segala kekhawatiran dan penguatan diri saya. Dasar anaknya overthinking, kalo kata suami, “over negative thinking.” Sering lebay dari memikirkan sesuatu, padahal pas dijalani ya bisa dan baik-baik aja.

Intinya,

keterbatasan itu ternyata kita sendiri yang menciptakan, dan harus kita sendiri yang melawannya. Karena hidup terlalu berharga jika tidak dijalani dengan belajar banyak hal baik dan baru.

One thought on “Berani Melawan Batas

  1. bener mba… kadang tantangan dalam hidup ini kita perlukan supaya otak tetep aktif, kitanya makin berkembang dan ada variasi dalam hidup :). aku pun tadinya di kantor kerja dalam team, tapi tanpa anak buah. Tau2 tahun kemarin dipindahkan untuk memegang branch dan lgs dikasih team yg semuanya report ke aku. skill leadership masih kurang, skr hrs handle team yang lumayan banyak … tapi itu tantangan :). setidaknya atasan ku ttp baik.. jd aku masih semangat tiap pagi berangkat ke kantor .. :)

    jalanin ajalah yaa….Kalo belum mencoba, kita jg ga akan pernah tau sampe mana limit kemampuan kita :)

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)